SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MEMENUHI JANJI


__ADS_3

" Rama.. ayo kita mandi. Kakak sudah memanaskan air untukmu." ucap Tama sembari memeluk adiknya yang sudah tak berdaya.


Suasana menjadi sangat hening. Hanya isak tangis Tama yang terdengar. Anak laki-laki yang belum lama menginjak usia dua tahun itu harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Bahkan adiknya yang baru berusia beberapa bulan, juga harus pergi untuk selama-lamanya.


" Rama... kenapa kamu juga terdiam seperti mereka? Apa Kakak jahat kepadamu? Kenapa kamu berubah seperti mereka?" Tama bertanya-tanya, sembari mengelus-elus rambut adiknya.


Tama merasa bingung dengan semua yang ia lihat. Sejenak ia melamun, menyangga pipi kanan dan kirinya dengan kedua tangannya.


" Kenapa semua orang tak mau bicara kepadaku? Ayah.. Ibu.. Kak Bulan.. Kalian dimana? Tolong aku.."


Tama menjadi gelisah. Ia mulai khawatir, orang-orang yang ada di sekeling tempat itu bukanlah keluarganya. Kemudian, ia berlari mengambil handuk dan pakaian dari almari di kamarnya.


" Aku mau mandi agar badanku tidak bau. Ibu pernah bilang padaku, laki-laki tidak boleh bau. Makanya dia menyuruhku untuk mandi tiga kali sehari. Bajuku sudah bau. Aku harus segera melepas bajuku, lalu mandi."


" Rama, Kakak mandi dulu ya. Kamu jangan kemana-mana. Kakak hanya sebentar, kok." pesan Tama pada adiknya.


Tama pun pergi ke kamar mandi dan segera melepas bajunya. Ia masuk ke dalam ember lalu membasuhi seluruh tubuhnya dengan air.


Hingga lima belas menit lamanya, Tama memanjakan tubuhnya dengan berendam di air. Lalu ia teringat bahwa, saat ini hanya dirinya lah yang berada di rumahnya.


" Rama.. maafkan Kakak. Kakak lupa, masih ada kamu disini." gumam Tama lalu beranjak dari tempatnya berendam lalu masuk ke dalam kamarnya.


Dengan susah payah, Tama mengambil pakaiannya. Tempat pakaiannya yang tinggi membuatnya tak bisa mengambilnya. Beruntung ada baju lengan panjangnya yang bergelantung ke bawah. Ia mencoba meraihnya lalu menariknya. Karena baju yang ia tarik, adalah pakaian yang paling bawah, begitu ia berhasil menariknya, semua pakaiannya berjatuhan ke bawah dan menimpa kepalanya.


" Aduh.. Ibu, maafkan aku. Aku telah menjatuhkan semua pakaianku yang telah Ibu tata rapi. Aku janji nanti aku akan menatanya kembali." ucap Tama sembari mengambil semua pakaiannya dan meletakkannya satu persatu, ke atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Setelah selesai, ia pun mulai memakai bedak wangi-wangian seperti saat Ibunya memakaikannya ke seluruh tubuhnya. Lalu ia segera mengenakan pakaiannya.


" Ibu.. aku sudah wangi.. bolehkah aku membawa Rama pergi dari sini? Disini sudah tak ada siapa-siapa. Aku takut tidur sendiri dirumah ini. Rama sekarang tak mau diajak bermain. Dari tadi dia terus tertidur." ucap Tama di depan foto ibunya yang terpajang di meja kamarnya.


Tak menunggu lama, Tama segera membawa adiknya dan menggendongnya keluar dari rumahnya. Dan lagi, dia menggendong adiknya dengan susah payah. Meskipun berat adiknya yang sudah berkurang, namun badannya yang hanya selisih berapa centi meter dengannya, tetap saja membuatnya kewalahan.


Ia melewati dan memandangi orang-orang di sekitar halaman runahnya yang terbaring di tanah. Wajah dan tubuh mereka sudah berubah. Tama sudah tak mengenali wajah mereka.


" Kalian bukan Ibu, Ayah dan Kakak-kakakku. Kalian siapa? Lalu kemana Ibu, Ayah dan yang lainnya?" Tama bertanya-tanya sendiri, merasa kebingungan dengan apa yang ia lihat.


Hari sudah mulai sore, matahari tinggal dua jam lagi akan segera tenggelam. Tama melihat ke atas langit. Ia tak ingin masih berada di tempat itu saat hari sudah mulai gelap. Kemudian dia berjalan menelusuri jalan setapak. Kali ini dia memilih jalan ke arah barat yang belum pernah ia lewati sebelumnya.


" Rama.. apa kau tahu, Kakak sangat merasa kesepian. Kakak takut, bangunlah Rama. Ayo kita bermain. Menangislah. Katakan sesuatu pada Kakak." ucap Tama sembari berjalan menyusuri jalanan di sebelah barat rumahnya.


" Aku tak tahu ini jalan kemana. Mudah-mudahan kita bisa bertemu Ibu, Ayah dan Kakak-kakak kita disana."


...----------------...


" Ibu, kenapa kita harus berjalan kaki? Kemana Bu Rani, bukankah Dia akan menjemput kita?" tanya Khalid pada Ibunya.


" Stttts... sudahlah, lebih baik kita pergi sendiri kesana. Mungkin Bu Rani sangat sibuk. Hpnya pun tidak aktif. Mungkin karena terlalu sibuk, ia tak sempat mencharge baterai hpnya." jawab Arti.


" Tapi kenapa kita tidak naik mobil atau apa Bu? kenapa kita harus berjalan kaki? Rumah Bu Rani kan, kata Ibu masih jauh."


" Kenapa memangnya, Khalid? Semenjak ditinggal Ayahmu pergi, kita terbiasa hidup susah. Kamu tak perlu kaget dan mengeluh. Jika kamu tak sanggup berjalan, Ibu akan menggendongmu. Jangan khawatir."

__ADS_1


" Maafkan Khalid Ibu. Khalid tak mau membebani Ibu. Khalid akan berjalan sendiri menemani Ibu." ucap Khalid lalu memeluk Ibunya.


" Tak apa, Khalid. Kamu tak bersalah. Ibu yang bersalah karena memaksamu untuk hidup seperti ini. Ibu juga sedih karena membuatmu seperti ini. Jika Ibu punya pilihan lain, Ibu tak akan memilih hidup yang seperti ini, Nak." Ucap Arti lalu perlahan ia meneteskan air matanya dan jatuh di pipi Khalid.


" Ibu jangan bersedih. Khalid berjanji, suatu saat nanti akan membahagiakan Ibu. Khalid berjanji akan menjadi anak yang pintar. Pandai mencari uang. Jika Khalid tak bisa sekolah, Khalid akan mencari pekerjaan yang gajinya besar agar bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup kita." ucap Khalid menghibur Ibunya yang sedang menangis.


" Khalid anakku, kau ini masih kecil. Tapi pikiranmu sudah sangat dewasa, Nak. Ibu bangga kepadamu. Tapi, kau ini masih kecil. Kau itu seharusnya tak memikirkan hal itu. Ibu lah yang seharusnya berpikir bagaimana caranya membahagiakanmu. Mencari uang untuk menghidupimu."


" Ibu, Khalid tahu keadaan kita. Khalid tahu, Ayah sudah tak ada. Tak ada lagi yang bisa kita harapkan. Jika Ibu bekerja pada Bu Rani, mungkin hidup kita akan lebih enak. Tapi, Khalid tak mau, Ibu menjadi pembantu terus. Menjadi Pembantu itu capek. Khalid tak mau Ibu kecapekan."


" Khalid.. meskipun Ibu capek, tapi Ibu senang karena masih memiliki putra sepertimu. Rasa capek Ibu hilang karena ada kamu disamping Ibu. Ibu tak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup Ibu, jika Ayahmu sudah tak ada dan kamu belum ada di dunia ini. Pasti Ibu merasa hidup Ibu sangat hampa."


" Syukurlah Ibu, Khalid sudah ada di dunia ini. Jadi, Khalid bisa menemani Ibu. Khalid juga bisa membuat Ibu tersenyum. Jika Khalid tak ada didunia ini, bagaimana nasib Ibu jika ditinggal Ayah pergi untuk selamanya."


" Itu lah yang Ibu khawatirkan, Khalid. Ya sudah, kala begitu kita lanjutkan perjalanan kita, agar cepat sampai di rumah Bu Rani." ajak Arti lalu menggandeng Khalid berjalan menuju rumah Rani.


...----------------...


Waktu semakin berlalu, hari sudah mulai petang. Tama terus berjalan menyusuri jalanan aspal halus yang sepi. Tak ada satu orang pun yang melewati jalan itu.


" Rama, sepertinya sudah mau petang. Aku takut.. tak ada orang disini. Rama, bangun. Ada apa denganmu? Ayolah.. tertawalah.. menangislah.. katakan sesuatu pada Kakak." ucap Tama. Ia tampak ketakutan berjalan melewati hutan yang sepi dan tak ada cahaya lampu sama sekali.


Usai berkata dengan adiknya, suara petir menyambar cukup keras. Tama pun mencari perlindungan. Angin bertiup cukup kencang. Tama merasa sekujur tubuhnya kedinginan. Ia pun menepi dan berteduh di bawah rerimbunan pohon.


Beruntung ia mendapati sebuah gubuk kecil beberapa meter dari tepi jalan. Seandainya tak ada cahaya kilat yang sebentar-sebentar menerangi daerah itu, Tama tak akan tahu ada sebuah gubuk kecil di dekat situ. Dengan tertatih ia berjalan menuju gubuk kecil itu. Saat dia masuk, di dalam gubuk sangat gelap. Bahkan dia tak bisa melihat dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun ketakutannya pada petir, memaksanya untuk tetap bertahan di gubuk itu. Ia meletakkan adiknya di sebuah dipan kecil di dalam gubuk. Lalu ia duduk mendekam di sudut gubuk sembari memeluk tubuhnya sendiri yang merasakan kedinginan.


......................


__ADS_2