
Leo pergi meninggalkan pertarungan dan membiarkan Reza terkapar. Sebenarnya Reza masih bisa bertarung, namun ia tak yakin bisa mengalahkan Leo dan teman-temannya. Ia merasa sangat putus asa. Berkali-kali ia memukul-mukul tanah di bawahnya untuk mengungkapkan kekesalannya.
" Haaaahhh!!! Kenapa.. Aku tak bisa mengalahkn mereka! Banyak temanku yang sudah mati, tapi dari mereka tak ada satupun yang terluka. Apa yang harus ku lakukan?! Maafkan aku semuanya. Aku tak menyangka semua menjadi seperti ini. Ku pikir hanya aku, Rio, dan teman-temannya saja sanggup mengalahkan mereka. Tapi..aku tak percaya semua ini begitu nyata. Aku kalah! Aku kalah sebelum bisa melukai mereka!" teriak Reza dengan nada lirih karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Sementara itu Rio dan Bary bergabung untuk melawan Dante dan Lucky. Tak ada pilihan bagi mereka selain bergabung dan membantu satu sama lain.
" Lucky, mereka bergabung untuk menyerang kita. Aku merasa kasihan. Apa mereka sudah kehabisan akal. Tentu saja dengan mereka bergabung dan kita juga bergabung, itu hanya sia-sia saja bagi mereka. Sebaiknya kau saja yang melawan mereka. Aku bosan menghadapi manusia-manusia lemah."
" Dengan senang hati, Dante. Tumben sekali kau cepat bosan. Bukankah kau selalu menghabiskan lawan-lawanmu tanpa tersisa, meskipun lawanmu lemah."
" Aku sudah puas... Mereka kuserahkan padamu saja. Aku akan menyusul Leo naik ke atas. Aku rasa disana bisa membuatku merasa nyaman."
" Baiklah, Dante.. Serahkan semuanya kepadaku. Lalu jika aku bisa menghabisi mereka, apa kau tak ikut ambil bagian dalam perusakan desa ini?"
" Eittt.. Jika kau sudah selesai dengan mereka, kau susul kami ke atas. Kita akan bakar desa ini saat menjelang malam. Kita akan pesta kembang api malam nanti bersama-sama."
" Baikah..tunggu aku di sana. Aku akan selesaikan pekerjaanku dahulu."
Dante pun ikut menaiki Bukit menyusul Leo yang terlebih dulu berangkat. Kini tinggal Lucky, Bary, dan Rio di arena pertempuran. Sementaa Reza masih menahan rasa sakitnya yang sangat dalam. Ia mencoba berteriak namun tak bisa. Suaranya seperti tertahan di tenggorokan.
" Ayo kawan.. Kita tentukan siapa yang akan menang hari ini. Jika kalian menang, dan aku kalah, kalian pasti tahu resikonya. Dan jika kalian kalah, berarti aku yang menang. Dan kalian juga akan tahu resikonya. Tidak ada pilihan lain selain menghadapiku. Mau mencoba lari, itu tak akan terjadi. Aku akan mengejar kemanapun kalian berlari. Sepertinya ini hari terakhir kalian melihat matahari. Meskipun besok matahari masih terlihat, itu karena mataku yang melihat. Bukan kalian.. Hahaha.. "
" Kurang ajar! Kau jangan sombong, Penjahat! Aku akan buat kamu menarik omonganmu!" ucap Bary karena merasa jengkel dengan kata-kata Lucky.
" Aku tidak sombong, tapi aku bicara yang sebenarnya. Bagiku menghadapi kalian hanya seperti berburu ikan dalam ember. Mudah bagiku... Hahaha."
" Bary, jangan ladeni dia. Kita fokuskan dulu mata kita. Dan lihatlah dengan baik gerakan-gerakannya. Jika kau bisa membaca gerakannya, kau akan dengan mudah menghindari serangannya. Tapi kau juga harus berusaha mengenai tubuhnya. Setidaknya membuat dirinya terluka saja kita bisa punya kesempatan untuk memenangkan pertarungan ini."
" Aku mengerti..tapi bukankah jika kita menang, mereka yang tersisa tetap tak akan membiarkan kita hidup?"
" Bar, aku tahu mungkin hari ini akhir hidup kita. Tapi kita tak boleh menyerah. Mengurangi satu penjahat saja, itu hal yang sangat menggembirakan. Jadi kekuatan mereka juga berkurang."
" Entahlah, Rio.. Aku tak bisa berpikir terlalu jauh. Yang penting, aku harus menghabisi dia. Teman-temanku mati tanpa tersisa. Aku harus membalaskan dendam mereka."
" Tenangkan dirimu.. Kau tak akan bisa melawannya jika kau tak bisa mengendalikan amarahmu. Kau sendiri belum bisa memenangkan hatimu yang bergejolak. Bagaimana kau akan menang melawan dia."
__ADS_1
" Sudah cukup! Aku tak butuh ceramahmu.. Ini semua karena kalian! Terutama Reza..dia yang membawa orang-orang jahat ke tempat ini hingga ingin memiliki tempat ini. Dia yang seharusnya bertanggung jawab atas semu kekacauan ini!"
" Bar..kau tidak bisa menyalahkan Reza. Lihatlah..dia hampir mati demi membela desa ini. Apa kau tak melihat? Sudahi amarahmu dan berhenti menyalahkan siapapun. Ayo kita serang dia bersama-sama."
Bary menghela nafas dalam-dalam. Ia menuruti kata-kata Rio. Lalu bersama Rio, ia menyerang Lucky yang sedang lengah.
" Bukkkk...." tendangan keras dari Rio dan Bary mengenai punggung dan kepala bagian belakang Lucky.
Lucky tampak terkejut dan terjatuh ke tanah. Dia memaki dan berteriak kesal pada Rio dan Bary.
" Pengecut!!! Beraninya kalian menyerangku dari belakang! Rupanya kalian sudah siap untuk membunuhku! Hahaha.. Tak semudah itu mengalahkan Lucky. Sesuai namaku, aku tak pernah bernasib sial seperti kalian. Hidupku selalu beruntung. Kalian tak akan bisa menang dariku meskipun menyerangku dari belakang!"
" Bar, apa kau sudah sungguh-sungguh menyerang kepalanya? Jika benar, aku yakin seharusnya dia sudah kesakitan. Tapi kenapa dia masih bisa tertawa lebar.." bisik Rio pada Bary.
" Aku sudah sekuat tenaga menyerangnya. Tapi kenapa dia masih sanggup berdiri. Sebenarnya dimana kelemahan dia?"
" Aku juga sudah sekuat tenaga menyerangnya. Tapi kenapa dia seperti tak merasa kesakitan. Apa dia mempunyai ilmu kebal?"
" Kurasa juga begitu.. Lalu bagaimana kita bisa mengalahkannya. Apa kau punya cara?" tanya Bary pada Rio.
Disaat Rio dan Bary berbicara, tiba-tiba sepotong bambu menyerupai tombak meluncur ke arah Bary.
" Jlleeepp..." bambu itu menancap di perut Bary.
Bary tak mampu berkata apa-apa. Tubuhnya seketika merasakan aura yang sangat dingin.
Rio berteriak lalu menyangga tubuh Bary yang hampir roboh.
" Aaaaa...aaaa..." suara Bary tertahan. Dia ingin mengatakan sesuatu namun kesadarannya mulai berkurang.
" Bary.. Katakan, apa yang ingin kau katakan.." tanya Rio dengan wajah panik.
Tak lama kemudian, nafas Bary mulai tersengal-sengal. Sebelum ia hilang kesadarannya, teman-temannya yang telah lebih dulu mendahuluinya, telah menunggu disampingnya sambil tersenyum. Ia teringat semua kenangan-kenangan bersama teman-temannya saat kecil hingga mereka dewasa. Banyak sekali kenangan yang ia ingat. Dalam hati ia berkata, meskipun ia tak sanggup mengeluarkan suaranya.
" Selamat tinggal Desaku.. Aku akan berpindah ke desa baru. Namun kenangan-kenangan yang ku alami di masa lalu, tak akan pernah hilang dan akan selalu aku simpan di dalam lubuk hatiku." ucap Bary.
__ADS_1
" Bary!!! Haaaahhhh!!! " teriak Rio sembari menangis dengan keras.
Ia tak kuasa melihat Bary yang terbujur lemas dalam pelukannya. Air matanya terus mengalir deras hingga pandangannya tertutup oleh derasnya air mata yang terus menggenangi memenuhi kelopak matanya.
" Bary..walaupun sebelumnya kita belum saling mengenal satu sama lain, tapi aku tetap tak terima kamu bernasib seperti ini! Lucky! Kau harus menanggung semua ini. Aku bunuh kamu!!!"
Rio membaringkan tubuh Bary lalu dengan cepat berlari dan menyerang Lucky. Amarah yang sangat besar dalam dirinya membuat serangannya bertambah kuat. Berkali-kali Lucky harus menghindari serangan Rio yang bertubi-tubi.
" Lucky..... Mati lah kamu! Hyaaatttt..." Rio terus mengamuk dan menyerang membabi buta ke arah Lucky.
Tubuh Lucky menjadi bergemetar. Dia bukan takut karena kehebatan Rio, tetapi ia bertambah semangat karena orang yang dihadapinya sangat kuat. Ia pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia juga menambah tenaga dalamnya.
Dalam waktu yang bersamaan, Rio dan Lucky saling melemparkan ajian mereka masing-masing. Hingga terdengar suara bergemuruh. Api amarah yang timbul dari dalam hati Rio, membuat tubuhnya berenergi. Serangannya pun selalu tepat mengenai sasaran. Namun Lucky juga tak mau kalah. Ia mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk menyerang Rio.
Pertarungan antara Rio dan Lucky tak berlangsung lama ketika Rio merasakan tubuhnya kelelahan. Serangan-serangan hebat yang ia lancarkan ke arah Lucky masih belum sanggup untuk menumbangkan Lucky. Malah sebaliknya, Lucky menjadi semakin bertambah kuat. Tak lama kemudian, Rio terduduk lemas dan roboh ke tanah. Matanya berkunang-kunang karena kurang cairan. Di saat Rio lengah, Lucky dengan tanpa dosa menyerang ke arah Rio dengan sangat keras.
" Akhhhh!!!" teriak Rio namun lirih.
Mulutnya mengeluarkan darah segar. Sebuah batu besar seukuran kepala kerbau melayang dan mengenai Wajah Rio. Tak lama kemudian, ia roboh dan mati seketika.
Lucky tertawa lebar melihat Rio mati. Ia sangat puas karena bisa membunuh dua orang yang kuat dengan tangannya sendiri.
Sementara Reza yang masih sekarat, hanya bisa melihat teman seperjuangannya yang tersisa, kini telah mati. Ia lalu mencoba menggeser tubuhnya lalu berniat untuk mendekati Lucky. Ia mencoba untuk menyerang Lucky saat Lucky lemah. Dengan segera ia mengerahkan tenaga dalamnya yang tersisa. Kemudian ia menghentakkan tangannya ke tanah. Angin disertai kabut tipis bergulung-gulung mengarah kepada Lucky.
" Blaaaarrrrr.. Blaaaaaarrr...." serangan Reza berhasil mengenai Lucky.
Lucky terpental jauh sejauh sepuluh langkah dan jatuh ke tanah dengan tubuh gosong.
" Aku berhasil..." ucap Reza sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, mata Reza mulai menyipit. Detak jantungnya mulai melemah. Nafasnya pun mulai tersendat-sendat. Perlahan dia menutup matanya sembari mengucapkan kata perpisahan.
" Selamat tinggal Kakek.. Aku pergi.." ucap Reza untuk yang terakhir kalinya.
......................
__ADS_1
"