
Pada pertarungan lain, Bary kewalahan menghadapi Lucky. Meskipun dirinya dibantu dengan puluhan pemuda yang sudah dibekali ilmu bela diri, tak membuat Lucky terdesak. Malah sebaliknya, Lucky berhasil membuat para pemuda desa mengalami cedera. Tiga pemuda tewas karena hempasan dari tenaga dalam Lucky hingga membuat mereka terbang dan terbanting, mengenai gapura desa.
" Kurang ajar! Kenapa dia kuat sekali. Teman-temanku tewas ditangannya. Apa yang harus aku lakukan, sementara Reza dan yang lainnya sibuk menghadapi musuh mereka." gumam Bary dalam hati.
" Bary, dari kelompok kita tinggal tujuh belas orang saja. Tiga orang tewas, dan kita tidak sempat untuk menyelamatkan mereka. Apa kita akan terus bertahan dan melawan penjahat itu?" ucap salah seorang pemuda.
" Kali ini aku tak bisa memutuskan. Kalian pemuda-pemuda yang masih memiliki masa depan yang baik. Aku tak akan menghalangi jika kalian semua mundur demi menyelamatkan nyawa kalian. Tetapi aku tidak akan tinggal diam melihat mereka memporak orandakan desaku dan menjadikan tempat ini untuk tempat maksiat! Aku tak bisa terima jika itu sampai terjadi!" ucap Bary dengan keras.
" Bary, aku tahu perasaanmu. Aku juga sama sepertimu. Tak akan pernah sudi tempat ini dijadikan tempat yang menjijikkan. Aku akan terus berjuang bersamamu, Bar."
" Terimakasih, Gus. Aku sangat senang, kau tak menyerah dengan keadaan kita. Ayo! kita bangkit dan serang penjahat itu lagi." ucap Agus dengan penuh semangat.
Bary dan Rio berdiri dan kembali berhadapan dengan Lucky. Namun tanpa disadari, beberapa pemuda melarikan diri hingga membuat kelompok Bary semakin sedikit.
" Gus, katamu kita berjumlah tujuh belas. Lalu kenapa kita hanya bertujuh?" tanya Bary ketika ia ingin memberikan semangat pada para pemuda, namun hanya tersisa lima orang saja di belakangnya.
" Apa?! Pemuda pengecut! Kita sampai tak sadar diam-diam mereka melarikan diri. Bagaimana sekarang, Bar? Masih akan terus melawan dia?"
" Hahaha.. Hei kalian! Kasihan sekali nasib kalian. Punya teman tapi pengecut. Mereka kabur begitu saja tanpa memikirkan keselamatan teman-temannya. Pasti mereka takut mati. Apa kalian tak takut mati?"
" Penjahat! Wajar saja jika mereka kabur. Mereka masih muda. Aku tak menyalahkan mereka. Lagipula ini tanggung jawabku sebagai Ketua Pemuda disini. Aku yang harusnya menjaga desa ini. Dengan atau tanpa mereka, aku akan terus melawan kejahatan kalian!"
" Wow...aku sangat kagum dengan keberanianmu. Lihatlah, ketiga temanmu tewas mengenaskan. Dan sepuluh temanmu pergi begitu saja namun kalian masih disini dan menantangku. Memangnya kalian sudah siap untuk pergi ke neraka? Hahaha.."
" Tutup mulutmu, penjahat! Aku tak butuh ocehanmu. Ayo... Kita tentukan siapa yang akan menang di pertarungan ini!"
Tubuh Bary seakan meledak-ledak mendengar kata-kata Lucky. Ia tahu kemampuan orang yang dia hadapi sangat luar biasa, namun ia tak patah semangat. Kata-kata terakhir Lucky membuatnya semakin bersemangat dan emosinya terbakar.
__ADS_1
Ia lalu maju dan melompat bersamaan dengan Agus menuju ke arah Lucky. Dengan serangan yang bersamaan ke arah Lucky, Bary berharap antara dirinya dengan Agus mampu melukai Lucky. Namun perkiraan dirinya lagi-lagi meleset. Ketika Bary dan Agus meyerang Lucky di bagian kiri dan kanan tubuh Lucky. Mendadak Lucky melompat mundur beberapa meter dengan sangat cepat. Ia kemudian menyerang balik ke depan, ke arah Bary dan Agus yang kehilangan keseimbangan, karena menyerang pada daerah kosong. Dan serangan Lucky telak mengenai dada kiri Agus. Sedangkan Bary mampu menghindar dari serangan Lucky.
" Akkkkhh.." kembali terdengar suara pekikan orang yang terkena pukulan yang sangat telak.
" Agus!!!" teriak Bary, lalu melompat ke arah Agus yang terkapar ke tanah.
Darah bercucuran dan mengalir dari mulut Agus. Nafasnya terengah-engah seperti tak sanggup lagi untuk bernafas.
" Bary, sahabatku..aku tak apa-apa. Kau tetaplah bersemangat. Jangan menyerah. Lanjutkan perjuanganmu. Aku percaya, kau tak akan kehilangan harapan meskipun pada akhirnya kau akan berjuang sendiri."
" Gus..aku mohon, jangan tinggalkan kami. Tenagamu sangat berarti bagi kelompok kita. Lihatlah musuh kita, Gus. Dia masih tetap gagah meskipun dari kita banyak yang gugur. Aku mohon, bertahanlah." ucap Bary sembari menangis. Ia tak tahan melihat kondisi Agus yang sudah mulai mendingin.
" Bary... Mereka telah menungguku. Mereka mengulurkan tangan untukku, Bar. Teman-teman kita, dan kedua orang tuaku. Mereka tersenyum kepadaku."
" Gus, aku mohon. Mereka semua sudah mati. Kau hanya berhalusinasi saja, Gus. Bangunlah! Ayo kita serang penjahat itu lagi! Agus!" teriak Bary lagi sembari menggoncang-goncangkan tubuh Agus yang sudah lemas.
" Bary...aku pergi dulu. Aku akan menunggumu di atas sana. Jangan khawatir jika kau tak tahu arah untuk kembali. Aku akan menjemputmu dan menuntunmu. Selamat tinggal, Bar." ucap Agus untuk terakhir kalinya.
" Hahaha..kau marah temanmu tewas? Itu sudah resiko kalian. Siapapun yang berhadapan dengan kami, pasti akan mati. Siapa suruh kalian melawanku, rasakan sendiri akibatnya."
" Kau memang Ba****an! Aku tak akan pernah memaafkanmu! Kau harus mati ditanganku!"
" Wow...suaramu lantang, tapi sayang. Kau hanya besar mulut saja. Seharusnya kata harus mati itu, aku yang katakan. Bukan kamu. Hahaha.."
" Kurang ajar! Ayo kalian serang dia. Balaskan dendam atas kematian teman-teman kita. Serang!"
Bary dan lima temannya yang tersisa, mengepung ke arah Lucky. Mereka berputar-putar mengelilingi Lucky sembari mencari celah untuk menyerangnya.
__ADS_1
" Apa-apaan kalian ini. Beraninya main kepung-kepung saja. Kalian memiliki senjata apa untuk melawanku? Apa kalian pikir dengan tangan kosong mampu melukaiku? Asal kalian tahu, tubuhku ini kebal pukulan. Senjata saja tak mempan melukai tubuhku apalagi dengan tangan kosong."
" Jangan banyak bicara kau, penjahat! Kami tak akan termakan oleh kata-katamu. Sekuat apapun dirimu, kau pasti memiliki kelemahan. Kali ini kami akan mengalahkanmu!" ucap salah satu Pemuda.
" Kau tak percaya padaku? Baiklah..itu hak kamu. Tapi aku sarankan sebaiknya kalian membawa senjata tajam saja untuk melawanku. Yahh...setidaknya kalian ada usaha untuk menyerangku dengan sungguh-sungguh."
Usai berkata, tiba-tiba salah satu Pemuda maju dan menyerang ke arah bagian punggung Lucky. Namun naas, serangannya berhasil dihindari hanya dengan gerakan memutar tubuhnya saja. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, sembari berputar Lucky menyerang satu Pemuda yang berusaha menyerangnya dengan satu tendangan keras ke arah perutnya.
Pemuda itu terhempas ke udara dan jatuh tertancap pada pagar besi milik Harjo. Seketika, Pemuda itu tewas dengan tubuh yang bersimbah darah di perutnya.
Bary dan ke empat temannya yang tersisa hanya melongo melihat teman mereka lagi dan lagi tewas di depan mata mereka.
Tubuh mereka tergoncang, Kaki mereka seakan tak bisa bergerak. Ketakutan yang besar mulai menghinggapi di pikiran mereka.
Namun Bary tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia tak ingin menyerah sementara teman-temannya sudah berkorban demi mempertahankan desa. Ia lalu membujuk teman-temannya yang tersisa untuk terus bersemangat.
Suara lantang dari Bary mampu menggetarkan hati Para Pemuda yang tersisa. Hati mereka yang beku seakan mencair kembali. Mereka kembali menyerang dengan bersamaan ke arah Lucky.
Dengan kondisi tubuh yang sudah lelah dan luka yang cukup parah pada tubuh para pemuda itu, membuat serangan mereka tak satupun yang mengenai Lucky. Bahkan mereka dipaksa menyerah di hadapan Lucky. Lucky menarik tubuh dua pemuda yang sudah tak berdaya di depannya. Ia lalu mencekik kedua pemuda itu dengan kedua tangannya.
Tak butuh waktu lama untuk menghabisi nyawa kedua pemuda itu. Dalam hitungan detik, tubuh mereka kejang-kejang dan akhirnya tewas.
" Hahaha...tinggal tersisa tiga tikus lagi dihadapanku. Hemm..bagaimana, apa kalian masih ingin menyerangku? Ayolah..sayangi nyawa kalian. Biarkan tempat ini menjadi milik kami. Jika tidak melawanku, kalian tak akan mati seperti ini." ucap Lucky sembari melemparkan tubuh dua pemuda ke arah Bary dan kedua temannya yang tersisa.
Melihat kedua temannya mati secara bersamaan, satu pemuda yang tersisa tiba-tiba berlari dan berniat menyerang Lucky. Namun gerakannya terhenti ketika Lucky melemparkan sebatang ranting pohon kecil ke arah lehernya. Kecepatan lesatan ranting pohon yang Lucky lemparkan, mengandung kekuatan yang cukup tinggi. Hingga pemuda itu tak sempat menghindar. Tak berapa lama, tubuh yang tegak berdiri akhirnya tumbang.
" Hai, kalian! Aku sudah peringatkan! Jangan melawan kami lagi! Jika masih ingin melawanku, kalian semua akan mati!" Hahaha..."
__ADS_1
Melihat semua teman-temannya mati, Bary hanya terdiam. Ia tak sanggup untuk berkata-kata. Mulutnya seakan terkunci. Kini ia hanya bersama satu pemuda yang tersisa. Namun harapannya pupus ketika ia mendapati satu pemuda terakhir, meregang nyawa karena pembuluh darah di otaknya pecah, tak sanggup menahan beban pikiran yang sedang dihadapinya.
......................