SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEHILANGAN SEMANGAT HIDUP


__ADS_3

Hingga pukul 07.00 malam, hujan belum juga reda. Suara gemericik air yang jatuh di halaman seakan-akan menjadi lantunan lagu yang indah. Namun suara petir tiba-tiba terdengar keras sekali.


" Duaaarrrrrrrr.........."


Vina terbangun dari tidurnya.


" Eemmkhh..Hoaam.... " Vina menggeliat meregangkan tubuhnya. Tubuhnya terasa seperti es. Dingin dan kaku. Dia melihat di sekeliling, semua gelap. Hanya ada suara air hujan yang turun dengan derasnya diiringi kilat yang menyambar-nyambar.


" Dimana ini? apa aku sudah mati? Kenapa semua gelap? dimana aku? " Vina bertanya dalam hatinya.


" Pak Tanu.. Vina takut.. Datanglah Pak.. temani Vina.. Vina sendirian di sini... " Ucap Vina lirih. suaranya menjadi serak , tubuhnya panas dingin.


" Papa.... Kenapa Papa membiarkan Vina hidup seorang diri? Vina tidak butuh harta Papa. Yang Vina butuhkan kasih sayang Papa, Kapan Papa akan kembali ke rumah ini lagi?Vina kesepian, Papa." Vina berkata lagi, namun semakin lirih. Dia merasakan pandangannya berputar putar. Hingga akhirnya tak sadarkan diri.


......................


Cahaya matahari pagi yang hangat, masuk ke dalam celah jendela kamar Vina. Hingga sinar hangatnya mengenai seluruh tubuh Vina. Namun tak mampu membangunkan Vina dari tidurnya.


Beberapa menit kemudian, suara dering telpon yang mampu membangunkan tidur panjangnya.


" Hallo.." Vina mengangkat telpon yang sudah berdering berkali-kali.


" Hallo Vin.. " Ucap seseorang di dalam telpon.


" Iyaa.. " Vina menjawab dengan lirih. suaranya serak dan terbatuk-batuk.


" Kamu kenapa Vin..? tanya seorang dalam telpon yang ternyata dia Tasya.


" Enggak apa-apa kok Sya.. " Ucap Vina pelan karena lemas.


" Kamu sakit? Aku ke rumahmu ya?" Sambil menelpon, Tasya keluar dari kamarnya dan mengeluarkan motornya ke halaman depan.


" Enggak usah Sya, aku baik baik saja. Jangan kesini dulu." Ucap Vina melarang Tasya datang.

__ADS_1


" Enggak, kamu kelihatan lemas begitu kok. Pokoknya, aku tetap akan datang ke rumahmu.." tasya menutup telponnya dan segera bergegas ke rumah Vina. Jarak rumah Vina dengan Tasya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kiloan meter. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai ke rumahnya.


Dengan motor barunya Tasya melaju dengan kencang. Dia khawatir pada Vina. Semua tahu kalau Vina tinggal seorang diri. Jadi jika terjadi apa-apa dengannya di rumah, pastinya tidak banyak yang tahu.


Dari sekian banyak teman Vina, hanya Tasya yang paling peduli padanya. Tak heran kalau mereka seperti saudara sendiri. Tasya selalu bermain ke rumah Vina membawakan makanan untuknya, Vina pun kalau berkunjung ke rumah Tasya selalu membawakan oleh-oleh. kebersamaan yang terjalin dari pertemanan semenjak kecil. Hingga sekarang mereka masih berteman baik.


Di rumahnya, Vina masih tergolek tiduran mengenakan pakaian seragam sekolahnya. Hingga pakaiannya kering oleh kehangatan tubuhnya sendiri yang semula basah kehujanan.


Dia bangun, menarik nafas dalam-dalam, namun rasa lemas yang melanda membuatnya kembali berbaring. Sebenarnya Vina sedang tak mau bertemu dengan siapapun, tetapi Tasya memaksa untuk bertemu dengannya. Tidak ada cara lain selain menemuinya.


" Tok tok tok... Vin.. Vina.. " terdengar suara Tasya dari luar rumah.


" Masukk.. pintunya enggak di kunci." Jawab Vina lirih dari dalam kamarnya.


Dalam hatinya dia berkata, " Terserah mau mendengar kataku atau tidak. Kalau mau masuk, masuk saja. Jangan berharap aku turun membukakan pintu."


Tasya mencoba menarik handle pintu rumah Vina, dia kaget ketika ringan sekali dalam membuka pintunya.


" Vin.. Vina... Kamu dimana? "


" Aku di atas Sya.. di kamar..Naik saja. " Ucap Vina lirih lagi.


Namun Tasya tak kunjung naik ke atas. Vina berpikir, "pasti Tasya tak mendengar suaraku. Dan mencari**ku di semua ruang di lantai bawah." Karena tak sabar menunggu Tasya , Vina berusaha menaikkan suaranya.


" Tasya.. Aku di atas, di kamarku. Naik saja ke atas. " Ucap Vina, berharap Tasya mendengar suaranya setelah mengerahkan tenaganya untuk bersuara keras.


" Owh kamu di atas, oke aku naik ya.." ucap Tasya sambil mengomel dalam hati, " Di panggil, di cari kemana-mana, tak tahunya sedang di atas, kenapa enggak bilang dari tadi." Lalu dia menaiki tangga di sebelah dia berdiri.


Sampai di kamar Vina yang tak tertutup pintunya, Tasya kembali mengomel.


" Yaa ampun ini anak... Kamu kenapa? Masih pakai baju seragam kemarin lagi. Enggak mandi ya, jorok banget sih.. "


" Sudah jangan ngomel, aku enggak ada tenaga buat membalas omelan kamu. " ujar Vina lalu mencoba bangun dan bersandar di headbed.

__ADS_1


" Kamu kucel banget, bau, ihhh.. Cewek tercantik di sekolah, kalau bangun tidur itu seperti ini. Aku baru tahu. Kenapa kamu kaya gini? Siapa yang bikin kamu seperti ini coba? Tasya semakin mengomeli Vina.


" Enggak ada Sya. Sudah jangan ngomel lagi.Aku sedang pusing."


" Ini aku bawain makanan. Pasti dari kemarin kamu belum makan kan."


Vina menggelengkan kepalanya lalu berkata " Aku enggak nafsu makan Sya.."


" Kenapa ? badan kamu lemas, aku antarin kamu ke dokter ya."


" Enggak perlu Sya. Aku enggak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat lebih lama lagi. Mungkin seminggu lagi."


" Haa! seminggu? Terus seminggu enggak makan, begitu? "


Tasya melototi Vina , dia sungguh tak habis pikir mengapa Vina bisa seperti ini.


Vina menganggukan kepalanya, " Tasya aku kehilangan semangat hidupku. Rasanya aku ingin tidur selamanya agar terbebas dari perasaan ini."


" Vin... jangan ngaco kamu. Bicara yang baik, jangan asal saja. Aduh ya ampun..hiih. Kenapa aku jadi jengkel sendiri. Tuhan apa yang telah kau lakukan pada teman baikku ini? "


Tasya semakin merasa tidak nyaman dengan kata kata Vina. Dia berkata seolah memberitahukan padanya sebuah pertanda.


Dalam hatinya dia memohon agar Vina segera membaik. Tasya mengelus dada dan berdoa agar Vina mendapatkan orang yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Yang selalu ada untuk dia.


Tasya terus memandangi Vina yang sedang melamun memandang ke arah jendela. Dia tiba-tiba menelan ludah dan tak sengaja mengeluarkan air mata saat melihat Vina yang melamun menangis tersedu-sedu.


" Vin.. Vinn..Vinna.. sudah jangan kaya gini. Jangan sedih Vin. Katakan padaku, apa masalah yang sedang kamu hadapi? Jika memang itu berat, kita tanggung bersama. Jangan di simpan sendiri." Ucap Tasya lalu memeluk Vina, keduanya saling mengeluarkan air mata.


" Syaa... Aku sudah tak sanggup lagi hidup seperti ini. Aku ingin ikut mamaku di surga." Kata-kata Vina semakin membuat Tasya semakin bersedih. Derai tangis mereka berdua di dalam kamar Vina semakin menciptakan suasana mencekam.


Selang beberapa menit, dering telpon Vina terdengar.


Namun Vina dan Tasya sedang larut dalam kesedihan, Sehingga mereka tidak mempedulikan dering telpon yang berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2