
" Novi, bangun Nov." Wira mencoba membangunkan Novi yang masih tertidur di pelukannya.
" Hemh, aduh Pak Wira.." Novi terbangun namun kepalanya merasakan sakit.
" Kenapa Nov?" Tanya Wira kebingungan.
" Kepala saya pusing sekali Pak. pandangan saya berputar-putar." Jawab Novi lirih, karena lemas.
" Apa kita perlu memanggil dokter? Tapi, mana ada dokter yang masih buka jam segini."
" Tidak perlu Pak, saya bisa mengobati sakit saya sendiri."
" Baiklah, kalau begitu mari kita pulang. Aku akan mengantarkanmu."
" Tidak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri." Novi menolak tawaran Wira.
" Ini sudah larut malam Nov, tidak baik seorang wanita pulang tengah malam sendirian." Ucap Wira memaksa.
" Pak Wira tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga diri saya sendiri."
" Novi, aku tak bisa membiarkan kamu pulang sendiri. Aku akan mengantarkanmu." Wira terus saja memaksa Novi menerima tawarannya.
" Pak Wira, saya bukan anak kecil lagi. Saya bisa bela diri. Siapapun yang berani melawan saya, tak akan pernah bisa kabur."
" Kamu jangan sombong Nov. Di luar sana masih banyak orang jahat yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Mungkin kamu tak akan bisa menghadapinya sendiri."
" Pak Wira meragukan kemampuan saya?"
" Aku tidak meragukanmu, tapi kesombonganmu itu akan membahayakan dirimu sendiri." Ucap Wira mencoba memperingatkan Novi.
" Pak Wira, di kota ini ada berapa orang hebat selain Anda?" Tanya Novi tiba-tiba.
" Setahuku hanya aku satu-satunya yang menguasai ilmu bela diri tingkat tinggi. Namun, Wijaya yang datang dari luar kota itu, menurutku dia jauh lebih kuat daripada aku." Ucap Wira gelisah.
" Tetapi dia orang baik Pak, saya rasa dia bukan suatu penghalang. Jadi Anda tak perlu khawatir saya pulang sendirian." Novi mencoba-coba mencari alasan agar Wira tak mengantarkannya.
Wira bingung harus berkata apalagi. Novi memang pandai dalam berbicara. Tak satupun kata yang mampu membuat Novi mau menerima tawarannya. Hingga akhirnya dia kehabisan kata-kata. Tiba-tiba tangan kirinya meraih pundak Novi dan tangannya memegang paha bagian bawah Novi. Lalu dia menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.
" Eh, Pak wira lepaskan saya. Saya tak mau diantar. Biarkan saya pulang sendiri." Novi mencoba memberontak.
" Jangan bergerak, kamu berat kalau bergerak. Bisa jadi nanti kamu terjatuh." Canda Wira namun tetap menggendong Novi.
Novi pun pasrah Wira menyuruhnya diam. Dia mulai merasakan lagi sebuah kehangatan.
" Nah, sudah. Duduklah dengan tenang. Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang juga."
" Pak Wira, maafkan saya, karena telah banyak merepotkan Anda."
" Tak perlu di pikirkan. Anggap saja ini adalah anugerah untukmu."
__ADS_1
Novi tersenyum mendengar kata-kata Wira. Seakan Wira adalah kekasihnya. Begitu banyak kenangan manis ketika bersamanya.
Sementara itu, Wira terus fokus melajukan mobilnya dengan kencang. Dengan mobil sedan hitamnya, dia terus menyusuri jalan sepi menuju rumah Novi.
Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di rumah Novi.
" Sudah sampai rumahmu Nov, Ayo bangunlah." Wira mencoba membangunkan Novi.
" Oh, maaf Pak saya ketiduran. Saya akan segera turun." Ucap Novi lalu segera membuka pintu mobil dan bergegas keluar.
Namun sebelum sempat Novi melangkah keluar, Wira memegang tangan Novi.
Novi pun menjadi gugup. Dia tidak tahu maksud Wira.
" Eh, ada apa Pak?" Tanya Novi sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
" Aku tak memaksamu untuk menjawab sekarang. Dan aku tak memaksamu untuk menjawab iya. Ada yang mau ku tanyakan kepadamu."
" Tanyakan saja apa yang ingin Pak Wira tanyakan. Saya siap menjawabnya Pak."
" Kamu tahu, aku sudah lama menduda. Istriku meninggal karena kecelakaan, yang sampai saat ini aku dan polisi tak tahu siapa yang mencelakainya.
Anakku dua-duanya meninggal karena kesalahanku dan ketidakbecusanku menjaga mereka.
Kini aku hanya hidup seorang diri. Hatiku kosong, tak ada siapapun yang mengisinya.
Novi, apakah kamu mau menjadi istriku?" Tiba-tiba Wira menyatakan keinginannya untuk menikahi Novi.
Lalu dengan perjuangan yang keras, dia mencoba menjawab pertanyaan Wira.
" Apa Bapak serius?" Tanya Novi meminta kesungguhan Wira.
" Aku serius Nov, Aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu sampai ajal menjemputku." Ujar Wira untuk meyakinkan Novi.
" Apa Anda yakin memilih saya? Mungkin di luar sana masih banyak wanita yang lebih cantik dan hebat dibanding saya." Ucap Novi merendahkan dirinya.
" Aku sangat yakin Nov. Apa kamu menerimaku?"
" Maaf Pak, sebenarnya saya tak enak hati kalau menolaknya. Tetapi saya belum bisa mengatakan iya. Berikan saya waktu untuk berfikir dahulu Pak."
Mendengar perkataan Novi, Wira seketika terdiam. Dia mengira kalau Novi akan segera langsung menerima cintanya.
Tetapi apa yang ada di benaknya, berlawanan. Ternyata tidak semudah itu mendapatkan tempat di hati Novi.
" Pak Wira, Pak Wira. Apa kita sudah selesai bicaranya? Saya ingin segera turun Pak.
Wira terbangun dari lamunannya, tak sadar dia masih memegang tangan Novi.
" Eh, maaf Nov. Aku nggak fokus." Ucap Wira lalu melepaskan tangan Novi.
__ADS_1
" Pak Wira jangan khawatir, saya tak akan menggantung anda dalam waktu lama. Besok pagi saat kita bertemu, saya akan segera memberikan jawabannya untuk anda." Melihat kekecewaan Wira, Novi mencoba memberinya harapan.
" Aku akan menunggu jawabanmu Nov. Ak tak ingin memaksamu untuk menerimaku. Jangan sungkan bilang tidak, jika kamu tak ingin menjadi pendamping hidupku." Ucap Wira, yang sebenarnya dalam hati, menginginkan Novi harus menerima cintanya.
" Sudah Pak. Lebih baik Anda segera pulang. Ini sudah hampir jam satu malam. Saya juga ingin segera beristirahat. Saya takut kalau tak bisa berangkat kerja tepat waktu."
" Baiklah Novi, Aku pergi dulu. Jaga kesehatanmu ya. Jangan lupa, kunci pintu yang rapat kalau sudah masuk rumah." Wira berpesan pada Novi lalu pergi melajukan mobilnya dengan kencang.
Novi hanya tersenyum mendengar kata-kata Wira. Sampai dia melamun, dan tak sadar mobil yang di kendarai Wira pergi menjauh, dua puluhan meter darinya.
" Hati-hati Pak menyetir mobilnya." Novi pun juga berpesan pada Wira.
Mendengar teriakan Novi, Wira memelankan laju mobilnya, kemudian membunyikan klaksonnya sebagai tanda menerima dan menyetujui pesannya.
Setelah Mobil Wira menghilang di kegelapan malam, Novi berjalan terhuyung memasuki rumahnya.
Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Seharian memakai pakaian yang sama membuat badannya menjadi gatal. Dia segera melepas pakaiannya dan menyirami tubuhnya dengan air hangat.
Selesai mandi, Novi masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Sambil bercermin, Novi memikirkan jawaban apa yang tepat untuk Wira.
Tentu saja dia tidak mampu menolaknya, namun dia harus memikirkan alasan kenapa dia menerima lamaran Wira.
Setelah beberapa menit berlalu, Novi menemukan jawaban dan alasan mengapa mau menerima lamaran Wira. Akhirnya seusai berfikir keras, mata Novi lelah. Hingga dia tak sadarkan diri, lalu tertidur di samping bawah tempat tidur.
Sementara itu, Wira tidak pulang ke rumah, namun kembali ke restoran. Malam-malam dia membeli semen dan batu bata ke toko bangunan milik temannya, yang tak jauh dari restorannya. Meskipun sudah tutup, Wira berusaha menghubungi pemiliknya.
" Halo, Siapa ya ini? Jam segini kok menelpon?" Gerutu Handono pemilik toko bangunan.
" Halo juga." Sapa Wira dengan lembut.
" Iya, kamu siapa, dan apa maumu!" Handono berteriak keras.
" Aku Wira, pemilik restoran pinggir danau. Han, aku ingin membeli semen dan batu bata di tempatmu.
Detik ini juga aku akan ke tokomu.
" Oh, Wira. Maaf Wir, bisa-bisanya saja aku tak mengenali suaramu."
" Tak apa Han, maklum kalau malam suaraku memang begini."
" Ya sudah Wir, cepatlah datang sebelum aku tertidur lagi. Aku akan membawakan kunci toko dan meletakkannya di atas kotak meteran listrik di samping toko.
Ambil saja berapa yang kamu butuhkan. Jika sudah selesai, kembalikan kuncinya pada tempatnya, dan jangan lupa kunci pintu dengan teliti sebelum kamu pergi meninggalkan toko."
" Beres Han, tenang saja. Aku bukan orang yang ceroboh."
" Oke Wir, Kuncinya sudah aku taruh di atas kotak meteran listrik. Aku mau pergi tidur lagi." Handoyo menutup telpon dan langsung tertidur pulas di kasur empuk miliknya.
" Hemh, baik Han." ucap Wira lalu bergegas melajukan mobilnya menuju toko bangunan milik Han.
__ADS_1
Setibanya di toko, Wira mengambil dua sak semen, dan dua kantong pasir, lalu batu bata merah untuk memperbaiki pagar tembok depan restorannya yang hancur akibat tenaga dalam Novi.
......................