
Satu-satunya harapan Vina untuk bisa menenangkan hatinya, hanyalah Tanu. Namun saat dihubungi, Tanu hanya memberikan saran yang tak begitu berarti, bagi dirinya. Vina ingin kehadiran sosok Tanu, datang memeluk dan menenangkan hatinya yang kalut. Tetapi, Tanu menolak. Bahkan Tanu sempat menutup telponnya, tanpa berucap sepatah katapun pada Vina. Hatinya yang masih gundah, belum sempat terobati. Tiada lagi yang bisa membuat dirinya lega.
" Tuhan, ada apa denganku? Kenapa hatiku merasa resah? Dan mengapa, disaat seperti ini, tiada teman yang bisa ku keluh kesahi. Tasya, satu-satunya teman setiaku, tak bisa ku hubungi karena hp dia rusak. Pak Tanu, sedang sibuk mengurusi tamunya. Papa, satu-satunya harapanku hanyalah Papa. Baiklah, akan ku coba hubungi dia. Semoga Papa bisa memberikanku ketenangan."
Vina mencoba menghubungi Wijaya, berulang kali ditelpon, namun Wijaya tak segera mengangkat telponnya. Tubuh Vina lemas, pikirannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
" Ya Tuhan, sebenarnya apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak. Apa aku akan mati? Tapi aku tak merasakan sakit. Ada apa denganku?"
Vina kebingungan, dia mondar mandir di dalam kamarnya. Lalu turun ke bawah, untuk mengambil air minum.
" gluk gluk gluk.." Seperti kerasukan, Vina menghabiskan air putih lima gelas dalam beberapa detik.
" Kenapa, kenapa, aku kenapa?" Vina kebingungan seperti orang yang dikejar setoran dan tunggakan bulanan.
" Tasya, aku harus ke rumah Tasya. Ah, tidak. Pikiranku sedang kacau. Aku nggak berani naik motor sendiri. Apalagi malam-malam begini. Kalau keluar, aku bisa dimarahi habis-habisan oleh Papa."
Tak berapa lama Wijaya menelpon Vina.
" Hallo Papa. Kenapa susah sekali dihubungi! Papa sayang Vina tidak!" Tanya Vina dengan suara keras.
" Maaf sayangku, Papa sedang dapat tugas dari Bos Papa. Ini saja Papa diam-diam lho hubungi kamu."
" Vina nggak mau tahu alasan Papa. Pokoknya Vina ingin Papa segera pulang!"
" Vin, tolong mengerti keadaan Papa. Papa sedang bekerja. Kalau Papa pulang, nanti pekerjaan Papa berantakkan. Dan pasti Bos Papa akan memecat Papa, Vin."
" Papa juga harusnya mengerti Vina. Papa kan orang tuanya Vina. Kapan Vina butuh, harusnya Papa selalu ada. Tapi Papa tidak. Vina selalu sendirian. Vina kesepian Pa!" Vina menangis tersedu-sedu.
" Iya Vin, Papa bisa mengerti maksud kamu. Tapi tolong, sekali ini saja, bersabar menunggu Papa. Papa akan pulang. Tapi tidak hari ini."
" Terus kapan Pa? Vina sungguh sangat kesepian. Tak ada teman tak ada keluarga. Papa ingin membiarkan Vina mati disini tanpa diketahui orang?"
" Kamu bicara apa Vin? Jangan bicara sembarangan. Papa tidak suka."
" Salah sendiri, Papa membiarkan Vina hidup seorang diri."
" Vina, Papa dulu sering memperkerjakan pembantu di rumah kita, dengan alasan agar rumah kita ramai. Tapi apa, berapa kalipun Papa ganti pembantu, mereka semua mencuri."
" Vina tidak butuh pembantu, Vina hanya ingin Papa disini. "
" Tapi Papa tak bisa Vin. Tolong bersabarlah. Tunggu awal bulan ya Vin."
" Pa! Ini saja baru awal bulan. Papa mau pulang awal bulan depan? Kalau begitu tidak usah pulang sekalian!"
" Kok anak Papa jadi galak begitu. Vina, tenangkan hatimu. Jangan memikirkan sesuatu yang buruk. Nanti bawaanya, kamu akan emosi terus."
" Biarkan saja. Ya sudah kalau Papa tidak bisa pulang. Vina minta pamit ya Pa."
Hati Wijaya tergetar, dia sangat ketakutan mendengar kata pamit dari Vina. Keringatnya bercucuran secara tiba-tiba.
" Vina, Papa mohon jangan lakukan itu lagi. Kamu tidak akan tenang hidup disana jika kamu bunuh diri Vin. Papa harap kamu tidak melakukannya Vin. Papa janji, Papa akan jadi orang tua yang baik."
" Baik Pa, jika Papa mau jadi Orang tua yang baik, pulanglah Pa. Temui anakmu ini yang butuh kasih sayang orang tuanya." Vina menangis tersedu-sedu.
" Jangan menangis anakku. Papa akan segera pulang. Papa akan minta Bos Papa untuk Izin pulang dulu, ya."
" Iya, Vina tunggu Pa."
Di sebuah gudang kosong di pinggiran kota, Wijaya bersama Bono sedang mendapatkan tugas mengawal Bosnya. Lima karton berisi obat-obatan terlarang ditukar dengan uang sebanyak satu koper. Saat akan terjadi transaksi, Wijaya berbicara dengan bosnya.
__ADS_1
" Bos, apa saya boleh pulang dulu? Keamanan disini Bos pasrahkan Bono saja. Dia sanggup menjaga Bos sendirian."
" Ada kepentingan apa, memangnya Jay?"
" Anak saya membutuhkan saya malam ini, Bos. Dia memaksa saya untuk pulang."
" Jay, anak kamu sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku tidak mengizinkanmu pergi."
" Tapi Bos, saya merasakan firasat buruk tentang anak saya."
" Itu hanya firasat saja Jay, itu takkan terjadi. Aku yakin itu."
" Tapi Bos.."
" Tidak usah membantah, Jay! Kamu mau melawanku?"
" Tidak Bos, saya tidak berniat seperti itu. Tapi saya mohon Bos, demi anak saya."
" Mana Hp kamu?"
" Ini Bos. Anak saya hanya telpon, dia tidak mengirim pesan. Jadi tidak ada bukti kalau dia membutuhkan saya."
" Aku tidak butuh itu Jay. Aku hanya ingin menyita Hp kamu, agar kamu bisa lebih fokus dalam bekerja."
" Bos, Hp itu satu-satunya cara agar saya bisa menghubunginya. Jangan Bos ambil. Saya mohon Bos."
" Tidak Jay. Hp ini terlalu mengganggumu. Aku akan menghancurkan Hp ini, jika kamu memaksa memintanya. Tapi kalau kamu tak mempedulikannya, aku akan menyimpannya baik-baik. Aku akan memberitahumu, jika anak kamu mengirim pesan." Ucap Bos Wijaya lalu menjauh dari Wijaya beberapa meter.
Wijaya mengangguk. Dengan berat hati dia menuruti permintaan Bosnya. Dia tidak berani melawan, meskipun kemampuannya kemungkinan bisa melampaui kekuatan Bosnya, namun dia tidak memiliki anak buah yang hebat untuk mengalahkan anak buah Bosnya, dan rekan-rekannya.
" Bos, apa anda keberatan dengan sikap Bos kita?" Bisik Bono pada Wijaya.
" Memangnya apa yang terjadi dengan anak Bos?"
" Aku tidak tahu Bon. Dia hanya mengatakan sesuatu yang membuat dadaku sesak."
" Tenangkan hatimu dulu Bos, nanti kita akan pikirkan cara agar bisa bertemu anakmu."
" Kamu benar Bon. Aku harus menemui putriku walau bagaimanapun caranya."
Saat Wijaya dan Bono saling berbisik, Bos mereka datang lalu menyerahkan Hp Wijaya.
" Jay, anak kamu telpon. Ambillah." Bos Wijaya menyerahkan Hp Wijaya.
" Hallo Vin." Wijaya mengangkat telpon Vina sambil berjalan menjauhi Bosnya dan Bono.
" Papa, jadi pulang malam ini?"
" Bos Papa tidak mengizinkan Vin. Maafin Papa ya. Papa sungguh tak bisa melawan Bos Papa sendiri."
" Pa, kalau Bos Papa seperti itu, tinggalkan saja pekerjaan Papa. Lagi pula uang Papa mau buat apa? Kita sudah punya rumah, uang Papa yang milyaran di rumah juga masih ada. Itu cukup buat hidup sampai Papa tua nanti."
" Vin, kamu kan masih mempunyai adik yang harus dibesarkan, di sekolahkan hingga perguruan tinggi nantinya, kan? Makanya Papa bekerja mati-matian untuk mencarinya."
" Papa tak usah bekerja. Vina bisa mencari uang untuk Xena. Tinggal Papa bawa Xena kemari saja Pa, Vina akan menjaganya. Vina juga bisa kok merawat bayi. Papa nggak usah khawatir kalau Xena kenapa-kenapa."
" Masalahnya tidak semudah itu Vin. Baiklah, Papa akan berterus terang padamu. Tapi Papa mohon, kamu jangan marah-marah ya Vin."
" Baiklah Pa. Katakan yang sejujurnya. Apa yang Papa sembunyikan dari Vina?"
__ADS_1
" Sebenarnya, Papa mengikuti sebuah organisasi. Ketuanya Bos Papa. Kami bertugas menjaga Bos kami jika terjadi keributan dalam pertemuan-pertemuan yang sering kami lakukan."
" Pertemuan apa?" Vina penasaran.
" Bos kami pengedar dan pembuat obat-obatan terlarang Vin. Dan tidak hanya itu. Bos kami juga melakukan perdagangan manusia."
" Apa! Jadi selama ini Papa bekerja di tempat yang kotor? Vina nggak menyangka Papa seburuk itu." Vina menangis menyesali perbuaan Papanya.
" Vin, jangan menangis. Awalnya Papa tidak mau nelakukannya. Tetapi Papa sudah tergabung dalam organisasi ini. Papa sudah tidak bisa keluar. Jika keluar, Papa akan mati Vin. Maafkan Papa, Nak." Wijaya turut menangis, menyesali keputusannya bergabung dalam sebuah organisasi berbahaya.
" Jadi uang yang selama ini Papa kirim, dan yang milyaran dalam koper di rumah ini hasil dari pekerjaan kotor Papa? Vina nggak bisa terima ini semua, Pa. Vina nggak terima!" Vina menangis semakin menjadi-jadi.
" Vin, meskipun begitu, Papa ikhlas melakukannya demi anak-anak Papa. Kamu tahu, Papa tidak mempunyai keahlian lain."
" Sudahlah Pa, Vina lelah. Vina tak tahu harus berkata apalagi sama Papa."
" Vin, apa maksudmu bilang begitu?" Wijaya mulai was-was.
" Papa, sekali lagi Vina mau bilang. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Berubahlah menjadi baik. Seperti yang Vina inginkan. Vina ingin saat kita mati, Kita bisa berkumpul bersama lagi di surga. Kita bisa memulai kehidupan baru yang indah Pa."
" Vina, Papa janji. Papa akan memperbaiki diri Papa Vin. Kamu jangan bicara yang membuat Papa serasa tak bernyawa, seperti ini."
" Papa, Vina sayang bangett sama Papa. Janji ya Pa, untuk menjadi baik. Tolong jaga adik Vina yang selama ini Vina rindukan. Vina ingin sekali bertemu denganya, Pa."
" Papa janji Vin, Papa akan turuti semua permintaan kamu. Papa akan bawa xena kerumah. Sudah, kamu jangan bersedih lagi ya."
" Iya Pa, jika Vina tidak bisa bertemu dengannya, Vina mohon. Kelaka jika Xena dewasa, kenalkan Vina kepadanya Pa. Katakan padanya bahwa dia memiliki seorang kakak yang sangat cantik, yang sama dengannya. Katakan padanya, Vina mencintai dan merindukannya Pa."
" Vin, kamu bicara apa?" Wijaya menangis, dia berlari ke arah Bosnya.
" Bos, anak saya butuh kehadiran saya. Saya harus kembali sekarang. Saya mohon dengan sangat, Bos." Wijaya meminta belas kasihan bosnya.
" Tidak Jay. Kamu sudah terikat denganku. Kamu tidak bisa melawan perintahku. Apapun alasannya, kamu harus setia dan tunduk padaku. Itu sesuai dengan perjanjian kita."
" Saya mohon, untuk kali ini saja Bos."
" Tidak Jay! Aku sudah bilang. Kalau kamu ingin kembali ke anakmu, silahkan! Tapi ingat, dalam perjanjian kita. Resiko yang ditanggung saat mengkhianati perjanjian itu."
Vina mendengar percakapan Wijaya dengan Bosnya. Dia sudah tidak punya harapan lagi untuk bertemu orang tua satu-satunya.
" Pa, Papa.. Sudah Pa, jika memang Papa tidak diizinkan pulang. Vina nggak mau Papa kenapa-kenapa."
" Vin, sekali lagi Papa minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Papa tidak bisa menjadi orang tua yang hebat untuk kamu."
" Tidak apa-apa, Pa. Ya sudah, Vina izin ke tempat Tasya dulu ya, Pa. Ada yang ingin Vina sampaikan kepadanya."
" Baiklah Vin, hati-hati di jalan ya." Ucap Wijaya, sambil menangis menjadi-jadi. Dia memiliki firasat yang kuat akan kehilangan putrinya.
" Papa jangan menangis. Jadilah hebat Pa, lebih hebat dari Bos Papa. Supaya Papa tidak disuruh-suruh lagi."
" Iya, Vin. Papa berjanji untukmu."
" Baiklah, papa. Da, papa." Vina menutup telponnya.
" Da, juga Putriku." Wijaya menggenggam hpnya erat-erat. Tiba-tiba saja rasa rindu menyiksa batinnya.
" Vina anakku, Aku janji akan menuruti semua keinginanmu." Ucap Wijaya dalam hati.
......................
__ADS_1