SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
BERKUMPUL


__ADS_3

Arti merasa lega, orang yang sering dihubungi Rani telah menjawab telponnya. Ia lalu segera mengatakan keadaan Rani dan keluarganya saat ini.


" Apa??? Pak Tanu dan keluarganya dibantai? Kurang ajar!!!" teriak orang didalam telpon yang ternyata adalah Bono.


" Benar, Pak.. kami sedang di rumah Pak Tanu. Jika Anda berkenan,datanglah kemari. Bantu saya mengurusi ini semua. Saya hanya bekas pembantu di keluarga ini. Saya tidak punya apa-apa dan tidak tahu harus bagaimana mengurus ini semua."


" Baik.. saya akan kesana bersama istri saya. Tunggu kami, Bu Arti."


" Iya Pak, saya akan menunggu. Terima kasih sudah mau membantu saya."


" Tidak apa-apa. Pak Tanu dan keluarganya sudah sangat baik kepada kami. Kami belum sempat membalas kebaikannya. Kini semua keluarganya sudah dibantai sebelum kami bisa membalas jasa-jasanya. Kejam!!!"


"Saya juga tidak habis pikir, Pak. Kenapa ada orang sekejam ini di dunia ini."


" Hemhh.. baiklah saya akan datang kesana dan membawa istri saya. Ibu tak perlu panik."


" Maafkan saya Pak. Saya sangat merindukan keluarga Bu Rani. Saya sedih tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Sekarang saya malah menemukan mereka sudah tak bernyawa. Saya sangat menyesal.."


" Sudah, Bu.. jangan ditangisi. Maaf, kalau begitu telponnya saya tutup dulu. Saya harus beegegas kesana."


" Baik, Pak.. terima kasih banyak."


Usai mendapat telpon dari Arti, Bono segera memberitahu istrinya. Ia juga menelpon Bara agar segera datang ke rumah Rani.


" Apa?? Semua keluarga Bu Rani dibantai? Ini sangat keterlaluan! Bono, apa kita akan diam saja dan tak menuntut balas?"


" Bara, semua sudah terlanjur. Apa yang mesthi kita balas. Wijaya adalah orang yang kuat dan licik. Aku yakin, polisi tak akan memperpanjang masalah ini jika tahu siapa dalang dibalik semua ini."


" Tapi ini sangat kejam, Bono.. Kita tidak bisa berdiam diri melihat angkara murka yang ditimbulkan orang gila itu.."


" Bara, kita bukan saudara Pak Tanu. Jika menuntut balas, apa yang bisa kita lakukan. Kita tak punya bala pasukan seperti Wijaya. Jika kita pergi kesana menuntut balas, kita akan dibantai juga."


" Lalu kita harus melakukan apa? Bukankah kamu dulu diberi tugas menjaga keluarga Pak Tanu?"


" Itu benar, tapi aku sudah lama tak mendapat kabar terbaru lagi dari Pak Tanu selama ini. Aku pikir, Mereka sudah dalam keadaan aman. Tetapi, hari ini aku juga merasa sangat bersalah. Aku bisa saja melawan Wijaya, tapi aku yakin dia tak akan mau melawanku. Percuma saja aku melawan."

__ADS_1


" Baiklah, sebaiknya ini kita bicarakan nanti di rumah Pak Tanu. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu."


" Ya, aku juga sudah mau bersiap-siap untuk kesana."


Bono menutup telponnya lalu menyuruh Rika untuk bersiap pergi ke rumah Pak Tanu.


...----------------...


Di rumah Tanu di lereng Puncak Bukit Timur, kini banyak dikunjungi orang. Kabar dukanya keluarga Tanu cepat tersebar ke berbagai tempat. Termasuk di sekolah tempat ia mengajar. Para guru dan sebagian murid mulai berdatangan ke rumah Tanu.


Tampak Tama merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka. Ia memandangi orang yang datang satu persatu. Ia berharap orang jahat yang membunuh keluarganya datang. Namun sebanyak orang yang datang, tak ada satupun yang mirip dengan penjahat yang telah menghabisi keluarganya.


" Tama.. apa yang kamu lihat? Tenang saja, mereka semua bukan orang jahat. Bibi pastikan mereka semua adalah orang-orang baik yang menghormati keluargamu. Mereka datang untuk berbela sungkawa, juga untuk membantu kamu menyiapkan semuanya untuk pemakaman keluargamu nanti." ucap Arti pada Tama.


Tama masih tampak kebingungan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Dia pun terdiam, dan sesekali memandangi kedua tangannya. Ia berharap suatu saat nanti dengan kedua tangannya mampu membalaskan atas kepergian keluaganya.


" Tama, ayo ikut aku. Kita pergi bermain kesana." Ajak Khalid ketika Tama mulai terlihat sangat bersedih.


" Apa aku akan tidur sendiri?" tanya Tama pada Khalid.


" Sekarang kamu tidak punya siapa-siapa lagi. Kamu memang akan tidur sendiri. Tapi tenang saja, aku akan menemanimu."


" Kenapa memangnya?"


" Pokoknya aku tidak mau!!!" teriak Tama.


Khalid merasa kecil hati. Dia tersinggung dengan ucapan Tama. Hampir saja Khalid ingin memukulnya, namun Arti mencegah perbuatan Khalid.


" Khalid... jangan. Dia masih kecil. Jangan pukul dia. Kita seharusnya membuatnya senang. Jangan buat ia menangis."


" Tapi dia tidak mengizinkan kita tidur dirumahnya, Bu. Lalu kita akan tidur dimana?"


" Tenang saja.. nanti Ibu akan coba bujuk Tama. Semoga saja dia mau mendengar kata-kata Ibu."


" Hemm.. baiklah, Ibu."

__ADS_1


Khalid mulai tenang ketika Ibunya menasehatinya. Sementara Tama menyendiri dan duduk di samping kolam ikan disudut rumahnya.


Banyak orang menanyakan tentang dirinya, namun Tama tak mempedulikannya. Ia lebih senang menyendiri dan berbincang dengan ikan-ikannya.


" Ikan.. apa aku boleh tidur menemani kalian? Nanti malam aku tidur sendiri. Kata Bibi itu, orang tuaku dan yang lainnya telah meninggal. Mereka sudah tak bernyawa. Aku sekarang hidup sendiri." gumam Tama sembari memberi makan ikan dengan pakan ikan yang sejak tadi ia genggam.


...----------------...


Tepat pada saat adzan ashar, Bara dan Bono tiba di rumah Tanu. Mereka yang memberi keputusan pada keluarga Tanu kapan akan di kuburkan. Akhirnya disepakati, proses pemakaman keluarga Tanu dilaksanakan setelah shalat ashar.


" Kenapa cepat sekali, ini adalah korban pembunuhan. Kenapa tidak menunggu dulu untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Kita belum tahu siapa pelaku yang tega menghabisi nyawa Keluarga Pak Tanu." ucap Sastro, salah satu pengajar di sekolah Tanu.


" Maaf, Pak.. Pak Tanu dan Bu Rani sudah tak memiliki saudara lain. Tak ada satu orang pun yang akan menuntut atas kejadian ini. Lagipula, kasus ini dilakukan oleh orang yang punya kekuasaan dan kekuatan yang hebat. Kami hanya membantu beliau semampu dan sebisa kami. Tak bisa berbuat lebih." jawab Bono dengan santainya.


" Oh, baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Yah.. itulah hidup. Kita tak tahu kelak akan hidup seperti apa. Aku hanya kasihan, kenapa nasib rekan kerjaku seperti ini. Aku sangat yakin, Pak Tanu dan keluarga Pak Tanu sangat baik pada semua orang. Tetapi kenapa ada orang yang tak menyukainya."


" Mohon maaf, Pak.. pastinya ada orang yang iri dengan keluarga Pak Tanu. Saya merasa orang itu tidak suka dengan kebahagiaan keluarga Pak Tanu yang hidupnya semakin lama semakin baik."


" Ah.. itu tidak benar. Semua orang punya kehidupannya masing-masing. jika hidupnya penuh kemewahan, penuh dengan kekayaan itu adalah anugrah. Tapi jika seperti itu membuat orang lain iri, tak mungkin mereka akan membantai keluarga Pak Tanu. Saya merasa ini ada hubungannya dengan masa lalu Pak Tanu dan istrinya."


" Eh maaf, Pak.. saya tidak berani menduga-duga. Saya juga tidak tahu seperti apa kehidupan masa lalu Pak Tanu. Mungkin saja ada dendam dimasa lalu seperti yang bapak katakan."


" Eh, itu hanya pendapat saya. Tapi saya juga tak mau menduga-duga. Mungkin saja ini kejahatan murni yang tak pernah direncanakan."


" Biar itu menjadi urusan Polisi, Pak. Kami akan meminta Polisi untuk mencari siapa pelaku pembantaian yang sangat kejam ini."


" Iya saya sangat berharap Polisi bisa menemukan pelakunya."


" Iya, Pak.. semoga saja. Mohon doanya untuk keluarga Pak Tanu, Pak."


" Saya akan selalu mendoakan beliau. Selama ini, Pak Tanu sangat baik kepada siapapun. Saya sangat mengaguminya. Namun sayang sekali, sekarang saya tak bisa bertemu beliau lagi."


Ketika Sastro dan Bono berbicara, Bara mendatanginya. Ia mempunyai rencana untuk acara nanti malam setelah pemakaman keluarga Tanu.


" Bono, mengingat Pak Tanu adalah orang yang menghuni Lereng Puncak Bukit Timur sendiri, dia tak mempunyai tetangga. Jika kita melakukan doa bersama, bagaimana jika mereka semua yang hadir disini kita minta untuk jangan pulang terlebih dahulu. Kita bisa memanfaatkan kehadiran mereka untuk ikut mendoakan arwah Keluarga Pak Tanu. Apa kau setuju dengan pendapatku?"

__ADS_1


" Aku setuju, Bara.. Nanti sebelum acara pemberangkatan, kita akan mengumumkannya agar mereka diharap untuk tidak pulang terlebih dahulu."


......................


__ADS_2