SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
TERIAKAN YANG SANGAT DAHSYAT


__ADS_3

Wira menatap tajam kepada Reza. Matanya memerah, menahan api amarah yang sangat besar. Reza adalah cucu Harjo. Dia adalah pemuda yang pernah belajar ilmu kanuragan kepadanya. Sudah lama tak bertemu, Reza menjadi semakin kuat. Yang membuat Wira sangat kecewa adalah, ilmu yang ia ajarkan pada Reza, malah di salah gunakan. Apalagi dia harus bertarung dengan muridnya sendiri.


" Reza.. jadi, ini balasanmu kepadaku? Aku memang telah salah memilihmu. Kenapa aku dulu menerimamu menjadi muridku. Kupikir kau orang yang berbakti, namun kenyataannya, sangat berlawanan. Reza yang dulu ku kenal, telah menjadi berandalan. Aku menyesal telah memberikan ilmuku kepadamu. Setelah kau mendapatkan banyak ilmu, kau akan melampauiku dan membunuhku. Hanya kau yang seperti itu, Reza."


" Hahaha... jadi kau menyesal, Wira? Aku sudah menduga kau tak pernah ikhlas mengajariku ilmu tenaga dalam. Setelah aku bergabung dengan Wijaya, kekuatanku sudah melampaui batasnya. Aku menjadi kuat, Wira."


" Kurang ajar! aku tak peduli kalau kau bertambah kuat, tapi kau tetap bukan tandinganku."


" Hahaha.. jangan sombong, Wira. Bos bilang kepadaku, ilmumu dua tingkat dibawah Bos. Sedangkan aku sudah mewarisi hampir semua ilmu yang dia miliki. Wira, beruntung aku bertemu denganmu. Kaulah orang yang tepat untukku menjajal kemampuanku. Bersiaplah Wira!"


" Jadi, kau menantangku? baiklah.. aku akan melayanimu. Seberapa tangguh dirimu sekarang, Za.."


" Banyak bicara kau, Wira! Hiaaaattt..." Reza melangkah maju melayangkan tinju ke arah Wira.


Wira menghindarinya, lalu melompat keluar dari teras menuju halaman depan rumahnya.


" Disini lebih luas, Za. Kau bisa mengerahkan semua kemampuanmu untuk menyerangku. Ayo... serang aku.."


" Bersiaplah, Wira.. tanah seluas ini akan menjadi kuburanmu. Sudahkah kau mengucapkan salam perpisahan untuk istrimu? kalau belum, aku masih memberimu kesempatan untuk berpamitan dengannya. Hahaha.."


" Reza, hidup mati itu ditangan Tuhan. Kita lihat siapa yang akan mati terlebih dahulu. Aku atau kamu.."


" Banyak bacot! Hiaaattt...."


Reza kembali melompat ke arah Wira dan melayangkan tinju kepadanya, namun Wira berhasil menghindarinya. Ia kemudian menggunakan dua tangannya dan kedua kakinya untuk menyerang secara bergantian.


" Kenapa, Za? apa yang kau serang? aku merasa belum tersentuh olehmu. Orang sebesar ini masih sulit kau sentuh, apalagi kau pukul. Hahaha.."


" Diam kau, Wira! Brengsek!"


Reza mengerahkan separuh tenaga dalamnya. Kali ini, kecepatan serangannya menjadi dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Wira dibuat kewalahan oleh serangan Reza.


" Lumayan juga seranganmu, Za. Pantas saja Wijaya mampu menguasai para mafia diseluruh negara. Anak buahnya saja membuatku kewalahan."


" Hahaha.. aku belum menggunakan semua kekuatanku, Wira. Jangan heran kalau kau akan kalah denganku."


" Kita lihat saja nanti, Za. Ayo kerahkan lagi semua kekuatanmu."


" Kurang ajar... memang, kau sudah bosan hidup, Wira! Terimalah ini... Haaaaa...."


Reza melebarkan jari jemari tangan kanannya, ia lalu menghentakkan tangan kanannya ke tanah. Angin bergulung ke arah Wira.


" Hemhh.. jurus Sapu Angin.. ternyata bocah ini juga menguasainya. Namun jurusnya tak sehebat yang pernah Bono keluarkan untuk menyerangku. Mungkin dia belum terlalu lama mempelajari ilmu itu. Baiklah, aku akan menghindarinya." gumam Wira dalam hati lalu dengan cepat melompat ke arah kiri sebelum jurus Reza mengenainya.


Tepat pada saat Wira turun dari lompatannya, bunyi ledakan keras seperti bom terdengar dan meledak di area Wira berdiri sebelum akhirnya melompat.


" Duaaaarrr.. duaaarrr...duaaaarr..."


Kepulan asap tebal menyelimuti hingga menutupi pandangan. Reza berdiam diri menunggu kepulan asap lenyap. Tiba-tiba Satya berteriak pada Reza.


" Reza... dibelakangmu!" teriak Satya sembari menunjuk ke arah belakang Reza.

__ADS_1


Reza tak menyadari kemunculan Wira yang tiba-tiba berada dibelakangnya. Itulah kelemahan Reza. Ia belum bisa melihat kecepatan lawan dengan baik.


" Klaaakk..." Suara tulang patah.


" Akkkkhhh..." Reza menjerit sangat keras ketika tangan kanannya berhasil dipatahkan oleh Wira.


" Reza...." Teriak Satya dan berusaha mendekati Reza.


" Jangan.. Satya, kau diam saja. Kau tak perlu ikut campur dalam pertarungan ini. Kau jadi penonton saja. Jika aku kalah, pergilah dan katakan pada Bos, jika aku tak sanggup menjalankan tugasku dengan baik."


" Tidak, Reza.. mundurlah. Biarkan aku yang menghadapinya. Dia terlalu kuat untukmu, Za."


" Satya, percayakan semuanya padaku. Orang ini memang terlalu kuat. Tapi ini adalah tugasku. Akulah yang bertanggung jawab jika sesuatu yang kita lakukan ternyata tak seperti yang kita harapkan."


" Reza! aku masih berbaik hati dengan mengampunimu. Pergilah dan bawa temanmu menjauh dari sini. Katakan pada Bos kalian, Wira takkan memberikan tanahnya pada siapapun!" Ucap Wira.


" Cihh!!! jangan seenaknya memerintahku, Wira! Kau pikir dirimu siapa? Beraninya menyuruhku!"


" Jadi, kau tak mau meninggalkan tempat ini? Baiklah, jangan salahkan aku jika aku sampai hati membunuhmu! Matilah kau Reza! Hiiiaaatt..." Berada di belakang Reza, sangat mudah untuk membunuhnya. Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan memusatkannya pada telapak tangannya. Kemudian ia menggemggam tangannya dan bersiap untuk memukul kepala Reza.


" Jangan..." Tiba-tiba Satya berteriak untuk mencegah Wira membunuh Reza.


" Ada apa? Dia menyuruhmu menjadi penonton saja. Apa kau sudah tuli? Biarkan dia mati muda. Mungkin bidadari-bidadari neraka yang sangat cantik akan menemaninya mandi di dalam lautan api yang sangat panas."


" Kumohon, lepaskan dia. Lawanmu adalah aku. Ayo, serang aku kalau kau berani."


" Satya, biarkan saja.. Kau jangan membuatku malu. Pergilah, katakan pada Bos tentang kekalahanku. Pergilah Satya.. Cepat pergi!"


" Reza, maafkan aku. Aku tak bisa meninggalkanmu. Sebaiknya, kau saja yang pergi. Kau masih sangat dibutuhkan oleh Bos."


Reza terus membujuk Satya untuk tetap pergi, namun ia tak menghiraukan perkataannya. Lalu ia mendekati Wira dan bersiap melawannya.


" Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya. Kau bukan saudaraku dan aku tak pernah menganggapmu musuh. Tapi, disaat kau melukai saudaraku, Kau akan berhadapan denganku sebagai musuh. Menjauhlah dari Reza, dan ikuti aku. Akulah yang akan melawanmu menggantikan Reza."


" Ternyata kau punya nyali juga. Kalau begitu, tunggu apalagi. Pergilah dan aku akan mengikutimu."


" Baiklah..ayo!"


Satya melompat dengan cepat ke bawah menuruni Bukit. Ia mencari tempat yang rata dan luas untuk bertarung.


Tiba di tempat yang ia inginkan, Satya menghentikan langkahnya. Wira pun berhenti sepuluh langkah dari Satya.


" Tempat ini rata dan sangat luas. Apa kau menyukainya?" tanya Satya pada Wira.


" Dimanapun kau memilih tempat untuk bertarung, aku akan mengikutimu. Suka atau tidak suka, aku harus menikmati tempat ini agar bisa mengalahkanmu "


" Bagus.. bersiaplah kalau begitu. Ayo, kerahkan seluruh tenagamu, Wira."


Tanpa berpikir panjang Wira melesat ke arah Satya, ia bermaksud meninju wajah Satya, namun Satya tak kalah cepat dengan Wira. Dia melompat ke arah samping kiri untuk menghindari serangan Wira.


" Hebat juga kau, Satya. Kau mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi, tapi kau tak menyombongkan diri."

__ADS_1


" Wira, kau tak perlu memujiku. Aku sudah melanglang buana di dunia hitam sudah puluhan tahun. Aku adalah anak buah kepercayaan Rendra yang masih tersisa. Kemampuanku tidak lain hanya karena pengalamanku yang sangat banyak. Aku mempelajari setiap jurus yang dikeluarkan oleh lawan. Aku juga menciptakan jurus sendiri untuk menghalau setiap jurus andalan lawan."


" Jadi, kau anak buah Bos para mafia yang telah dikalahkan oleh Wijaya? Lalu kenapa kau bisa bergabung dengan Wijaya? Apa kau kalah bertarung dengannya?"


" Aku sudah lama meninggalkan dunia hitamku. Aku mengundurkan diri menjadi penjahat dan lebih memilih untuk menjadi orang biasa. Hidup tenteram bersama keluarga. Tetapi, cobaan demi cobaan menghampiri hidupku. Istriku hampir menceraikanku karena aku tak bisa memberikannya nafkah."


" Lalu kau bertemu dengan Wijaya? Apa dia pernah menjanjikanmu sesuatu?"


" Iya, aku bertemu dengannya di sebuah bar. Dia mengenaliku, lalu mengajakku bicara panjang lebar. Tak sadar, aku menceritakan masalahku kepadanya. Dia pun, menawariku pekerjaan. Menjadi seorang pembunuh, sama dengan pekerjaanku yang dulu saat ikut dengan Rendra."


" Hemhh.. Apa kau dijadikan Wijaya sebagai mesin pembunuh?"


" Tidak, aku sudah bilang padanya.. Aku sudah tidak ingin membunuh. Namun Wijaya tetap memaksaku. Mau tak mau aku mengikuti perintahnya. Tetapi, saat sedang bertugas dan kami sedang berseteru, aku berpura-pura terluka parah dan membiarkan target kabur. Lambat laun, Bos mengetahui perbuatanku. Ia memanggilku dan tanpa belas kasihan memakiku, menyiksaku hingga aku pingsan.


Ketika aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Bos menungguku. Lalu dia bilang padaku, aku boleh tidak membunuh targetku tapi aku harus bisa menangkapnya hidup-hidup. Itu perjanjianku dengan Bos pada saat itu."


" Oh begitu, lalu ketika kau melawanku apa kau tidak akan membunuhku?"


" Aku tidak tahu, Wira. Kita lihat saja siapa yang duluan mati. Namun, aku tak menahan diri untuk menghabisimu. Jika kau juga keras kepala mempertahankan tanahmu."


" Satya! Minggir kau..." Tiba-tiba Reza datang lalu dengan cepat menghentakkan kakinya ke tanah.


Angin besar bergulung-gulung menuju ke arah Wira. Satya berhasil melompat ke arah samping dengan cepat. Namun Wira tak mampu menghalau serangan Reza.


Ia terpental sejauh sepuluh meter ke belakang dan berguling-guling jatuh ke tanah.


" Hahaha.. tamatlah riwayatmu, Wira! Akhirnya kau mati juga oleh tangan bekas muridmu ini. Hahaha..."


" Reza! Kau sungguh pengecut! Menyerangnya dari belakang saat aku berbicara dengannya."


" Persetan dengan ucapanmu, Satya.. Hahaha.. Aku menang. Ayo kita pulang dan laporkan hal ini pada Bos."


" Kau salah, Reza. Kau belum menang. Kekuatan tangan kirimu lebih lemah daripada tangan kananmu. Wira bukanlah orang yang mudah dikalahkan oleh orang yang baru kemarin sore mempelajari ilmu bela diri."


" Apa maksudmu, Satya? Jangan memancing emosiku.. Apa kau tak senang aku membunuhnya? Apa kau ingin bersekongkol dengannya? Jawab, Satya!"


" Tutup mulutmu, Za. Apa yang ada di otakmu? Aku bukanlah seorang pengkhianat! Aku setia pada atasanku meskipun yang ku lakukan salah. Kau tidak tahu apa-apa tentangku.."


" Tapi kenapa kau seperti tak suka, aku mengalahkannya?"


" Aku bicara apa adanya, Za. Dia belum kalah. Lihatlah dengan benar. Apa dia sudah mati?"


Hati Reza tiba-tiba bergetar. Ia seperti ketakutan dengan ucapan Satya, yang bisa jadi ada benarnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya melihat ke arah Wira yang terkapar.


Betapa terkejutnya Reza ketika melihat dengan jelas, Wira kembali berdiri tegak tanpa luka yang berarti. Serangannya hanya menimbulkan robek di baju Wira. Namun Wira masih terlihat sehat, seolah tak merasakan sakit sedikitpun.


Reza melangkah mundur dengan cepat. Ia sangat ketakutan dengan Wira. Musuhnya kali ini memang sangat kuat. Keringat dingin mengucur hingga ke seluruh tubuh.


Tiba-tiba, Wira berteriak keras. Dia meluapkan semua amarahnya hingga membentuk sebuah kekuatan yang sangat dahsyat.


Beberapa pepohonan tumbang dan angin bertiup kencang saat Wira mengerahkan tenaga dalamnya sembari berteriak. Satya merasa was-was dengan keadaan Reza. Wira memang bukanlah manusia biasa. Kekuatannya mampu membuat tempat disekitarnya porak poranda, imbas dari teriakannya yang mengandung tenaga dalam yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Satya kemudian berlari ke arah Reza. Dia menarik Reza keluar dari terpaan angin besar yang mengarah kepadanya. Beruntung dia bisa menyelamatkan Reza dari bahaya besar.


......................


__ADS_2