
Malam yang sepi, hujan rintik-rintik mulai turun. Angin lembut masuk ke dalam kamar Vina melalui jendela kamarnya yang terbuka.
" Mama, apa mama tidak kasihan melihat Vina hidup sendirian di rumah sebesar ini? Mengapa Mama belum juga menjemput Vina. Vina rindu sama Mama. Untuk apa Vina hidup, jika hidup Vina seperti ini? Vina tak tahan. Vina ingin bertemu Mama. Hidup bersama Mama di surga."
Ratapan hati Vina ia tumpahkan ke dalam buku diary miliknya. Tetes air matanya membasahi pipinya. Mungkin jika ada orang yang mengetahui kehidupan Vina, mereka akan simpati dan memberikan perhatian lebih kepadanya.
Sayangnya, tak banyak yang mengerti tentang kehidupan Vina. Kepandaian Vina dalam menutupi permasalahannya, membuat orang salah persepsi terhadapnya.
Vina yang periang, ramah, tak pernah menampakkan kesedihannya di depan teman-temannya, membuat dia jarang mendapatkan perhatian.
Setelah selesai menuliskan ungkapan hatinya, ia berdoa agar kelak ia dipertemukan dan di persatukan dengan Mamanya.
" Huuh.." Vina menghela nafasnya.
Dia mengambil Hpnya lalu melihat pesan yang masuk ke Hpnya. Namun tak ada satupun pesan yang masuk. Dia lalu memencet-mencet setiap tombol. Dan berulang kali menggeser-geser menu, karena bingung mau membuka apa.
" Pak Tanu, aku ingin menghubungimu. Aku kangen banget sama Bapak. Iya, aku harus menelponnya. Harus mendengar suaranya." Vina menggenggam hpnya lalu mencari kontak Tanu.
Tanpa berpikir panjang, Vina menelpon gurunya. Tak peduli jika nanti istrinya marah padanya. Yang penting dia harus mendengar suara Tanu.
" Tuutt..tuutt.. tuutt.."
" Hallo Vin, ada apa malam-malam menelpon Bapak?"
" Hallo juga Pak Tanu. Eh, enggak Pak. Vina hanya ingin mendengar suara Bapak."
" Besok kan kita bertemu Vin, tadi juga kita habis berbincang kan di sekolah."
" Pak Tanu, Vina hanya butuh teman Pak. Vina merasa kesepian. Dan hanya kepada Pak Tanu lah, yang bisa Vina percaya, menjadi teman setia yang baik, untuk Vina ."
" Vina, Teman kamu kan banyak. Tasya juga teman baik kamu kan. Minta saja dia untuk menemani kamu."
" Tasya Hpnya rusak Pak. Tadi terjatuh saat main bareng di sekolah. Jadi kami tak bisa saling berkirim pesan apalagi telponan."
" Kalau begitu tidur saja Vin. Ini kan sudah malam. Cobalah mendengarkan lagu kesukaanmu. Nanti kamu akan terbawa suasana dan memaksamu untuk tidur."
" Tapi Pak, Vina hanya ingin Pak Tanu menemani saya ngobrol."
" Vin, saya sedang ada tamu. Bapak tidak bisa menemanimu, lagipula ini Bapak dirumah. Waktu Bapak seharusnya untuk keluarga. Maafkan Bapak ya Vin."
" Sekali ini saja Pak Tanu. Vina takut sendirian."
" Kenapa mesthi takut Vin. Rumah kamu kan tidak jauh dari keramaian. Apanya yang membuatmu takut?"
" Vina tak tahu Pak. Vina hanya takut saja. Tapi karena apa, Vina tidak bisa menjelaskannya."
" Vin, berdoalah. Mungkin saja setan menguasai pikiranmu. Berdoalah dan mintalah petunjuk dariNya."
" Sudah Vina coba Pak, tapi tak bisa. Rasa takut Vina tidak bisa hilang."
" Sudah ya Vin, Bapak sedang di tunggu tamu Bapak. Bapak sudah lumayan lama meninggalkan mereka. Bapak tak ingin mereka mencurigai Bapak."
" Pak, cobalah untuk mengerti Vina. Saya butuh Bapak malam ini. Bapak mau enggak ke rumah Vina malam ini. Menginap di rumah Vina."
" Apa? Vin, kamu jangan aneh-aneh. Bapak tak mau melakukan itu. Bapak akan terkena masalah jika melakukannya. Lagipula ini sudah malam Vin. Jangan membuat keributan."
__ADS_1
" Jadi Bapak nggak mau menuruti keinginan Vina walaupun untuk yang terakhir kali?"
" Astaga, Astaghfirullah. Kamu bicara apa Vin? Jangan bicara yang tidak-tidak." Tiba-tiba saja tubuh Tanu berkeringat, kepalanya merasakan panas. Berulang kali ia mengipas kepalanya dengan sapuan telapak tangannya.
" Pak Tanu, jika Vina meninggal malam ini, Vina berpesan, jaga kesehatan, jaga keluarga Bapak, jangan sampai kalian terpecah belah."
" Vina!" Kamu bicara apa?Jangan membuat Bapak bersedih." Teriak Tanu membuat seisi rumah di rumahnya mendengar teriakkan Tanu.
Rani, Wira dan Novi berlarian ke arah teriakkan Tanu. Rani mencoba menuju kamarnya, ternyata Tanu tak ada di kamarnya. Wira mencari di dapur, namun juga tak menemukannya. Saat Novi mendapati pintu kamar mandi tertutup dan terkunci, Novi memanggil Wira dan Rani.
" Mbak Rani, Pak Wira, sepertinya mas Tanu ada di dalam."
" Kamu benar dik, coba aku panggil dulu."
" Ayah, Ayah di dalam sedang apa? Mengapa teriak-teriak?"
Mendengar panggilan Rani, Tanu segera menutup telponnya dan mematikan handphonenya, lalu menghapus air matanya dengan air.
" Iya Bu, Maaf Ayah ketiduran di kamar mandi."
" Apa? Masa Ayah bisa tertidur di kamar mandi. Baru kali ini lho terjadi. Ayah apa kecapekan?"
" Eh, bisa jadi Bu. Ya sudah, Ibu kembali saja keruang Tamu menemui mas Wira dan Dik Novi. Sebentar lagi Ayah akan menyusul."
" Kami juga ada di sini Tan, suaramu tadi membuat kami terkejut sehingga berlarian menuju ke arah suara kamu."
" Ha? Maaf mas telah membuat kalian terkejut. Saya benar-benar tidak sengaja."
" Ya, tidak apa-apa Tan. Selama kamu baik-baik saja, aku tidak khawatir."
Rani, Wira dan Novi saling bertatapan. Mereka tersenyum kemudian berlari ke ruang tamu, untuk menghindari suara Bom angin, milik Tanu.
" Huuhh.. Untung saja aku bisa mencari alasan. Kalau tidak, mereka pasti akan memusuhiku. Apalagi Mas Wira. Dia orangnya keras. Jika mendengar tentang masalah diriku, pasti dia akan mengamuk dan membunuhku." Gumam hati Tanu.
Setelah lima menit di kamar mandi, Tanu berjalan keluar dan menemui Novi dan Wira.
" Lho, istriku kemana? Kok kalian cuma berdua?"
" Sedang menidurkan Tama, Tan. Tadi dia sudah mengantuk sekali kelihatannya."
" Oh, begitu. Terus pembahasannya masih mau dilanjut?"
" Eh, sebaiknya kita teruskan besok saja Tan. Lagipula ini sudah semakin malam. Sebaiknya waktunya digunakan untuk istirahat saja. Kamu juga, ku lihat terasa letih sekali."
" Baiklah mas, aku memang sudah terasa ngantuk saat tiba di rumah tadi. Mas Wira mau tidur dimana?"
" Aku tidur disini saja Tan, kalau Novi tidurnya dimana ya?"
" Oh, jadi Ibunya Tama belum meyediakan tempat untuk calonmu ini to mas. Emh, oh iya. malam ini anakku, Bulan sedang menginap di rumah temannya. Kamu bisa tidur di kamarnya dik Nov."
" Mari biar ku antar." Tanu berjalan ke kamar Bulan dibarengi dengan Novi.
Tiba di depan kamar Bulan, Tanu membukakan pintu dan mempersilahkan Novi masuk. Novi di buat keheranan dwngan kamar Bulan. Menurutnya, kamarnya sangat rapi, bersih dan wangi. Dan penataan lampu hiasan di kamarnya membuat kamarnya terasa mewah.
" Ini kamarnya Bulan, Nov. Kamu tinggal istirahat saja dengan nyaman. Kamarnya sudah bersih kok. Sebelum dia pergi, pasti tidak lupa, Bulan membereskan kamarnya."
__ADS_1
" Iya, saya suka anak yang seperti itu mas. Tidak perlu disuruh, sudah dikerjakan sendiri."
" Itu karena Ibunya juga Nov, kalau Bulan asal-asalan, pasti kena teguran dari Ibunya. Makanya, daripada medapatkan omelan, Bulan lebih memilih mencari aman."
" Jadi begitu ceritanya. Baiklah Mas, kalau begitu saya mau istirahat dulu."
" Iya, silahkan Nov. Selamat beriatirahat ya. Jangan lupa berdoa.Supaya tidak ada yang mengganggu mimpi indahmu."
" Hehe, iya mas."
" Ya sudah, kalau begitu saya mau keluar dulu."
" Mas." Novi menarik tangan kanan Tanu. Kemudian memegang kedua tangan Tanu dengan dua tangannya.
" Terima kasih sudah memberikan tempat untuk saya singgahi." Ucap Novi lalu tiba-tiba secara tak sadar, Novi memeluk Tanu.
Sontak saja, Tanu terkejut dan melepaskan pelukkan Novi.
" Novi, apa yang kamu lakukan. Tidak boleh sembarangan memeluk orang. Nanti bisa membuat keributan dirumah ini."
" Eh, maafkan saya Mas. Saya tidak sengaja. Maafkan atas kelancangan saya Mas.
" Ya sudah, tidak apa-apa Nov. Lain kali jangan seperti itu. Nanti bisa jadi kebiasaan. Hormatilah calon suamimu. Jagalah harga dirimu, jangan sampai runtuh."
" Baik Mas, saya bisa mengerti. Saya tak akan mengulanginya lagi."
" Oke Nov." Ucap Tanu lalu keluar meninggalkan Novi dan menuju ruang Tamu untuk menemani Wira.
" Lho, kenapa kamu kesini, Tan? Sana kalau mau temani istrimu. Aku tidur disini sendiri juga tidak apa-apa."
" Kamu keberatan Mas kalau aku juga tidur disini?"
" Tidak Tan. Hanya saja, aku tak mau mengganggu waktu istirahatmu, bersama keluargamu."
" Tidak masalah Mas, kamu tenang saja. Lagipula, dulu kita sering seperti ini kan."
" O, iya benar juga kamu Tan. Aku jadi ingat, memasukkan kerupuk ke dalam mulutmu saat kamu tertidur. Hahaha.."
" Iya benar mas, saat kita sekolah SD dulu kan? Aku juga pernah menyembunyikan tas kamu, saat kamu sedang ke toilet. Hahaha.."
" Kamu masih ingat Tan? Tahu tidak, aku menuduh teman kita yang menyembunyikan tasku. Lalu ku pukul dia sampai mimisan."
" Iya juga, siapa yang kamu pukul itu mas? Aku kok tak begitu ingat."
" Namanya Wijaya. Anak paling nakal di sekolah. Namun senakal-nakalnya dia, tak bisa menang melawanku. Haha.."
" Wijaya, iya.. aku bisa mengingatnya mas. Dia dulu tinggi kurus itu kan?"
" Benar Tan. Tapi sekarang dia berbeda."
" Berbeda bagaimana maksudmu mas?"
" Dia sekarang bukan seperti manusia. Dia kuat, kejam, tak segan menghabisi nyawa orang. Hati-hatilah jika bertemu dengannya. Kalaupun takdir mempertemukan kalian, sebaiknya hindari pertikaian."
Mendengar kata-kata Wira, Tanu menjadi khawatir. Dia tahu, dalam memperoleh Rani, tantangan terbesar adalah Wijaya. Berbadan kurus namun keras seperti batu. Walaupun dirinya terluka, dia tak pernah menangis ataupun mengaduh.
__ADS_1
......................