
" Rika, apa yang kamu katakan? Aku tidak punya maksud lain."
" Aku tahu sifat mas Bara, siapapun yang mencoba mendekati Rika, pasti mas Bara tak suka, kan."
" Maksudmu aku cemburu dengannya? Rika, kau salah paham." Bara membela diri.
" Mas, tak perlu menutup-nutupi. Katakan saja yang sejujurnya. Rika lebih senang kalau mas Bara jujur."
" Bara, katakan saja. Apa kau menyukai Rika?" Tanya Harjo pada Bara.
" Baiklah Pak, aku memang menyukai Rika. Aku sayang padanya. Dan itu sudah sejak lama. Tapi aku tak berani mengungkapkannya. Lidahku kaku saat mencoba mendekatinya. Namun, saat laki-laki lain ingin mendapatkan Rika, aku berusaha untuk memisahkan mereka. Aku tak terima Rika menjadi milik orang lain."
" Apa? Lalu apa kamu juga mengganggu kedekatan Rika dengan cucuku, Reza?"
Bara mengangguk. Lalu dia menundukkan kepalanya dan bersiap untuk dihujat banyak orang atas perbuatannya.
" Mas Bara! Kenapa sampai begitu? Kenapa menjadi laki-laki pengecut? Jadi apa mungkin foto yang dibawa mas Reza itu mas Bara yang memberikannya?"
" Bukan, aku hanya mmberitahu Reza kamu pergi keluar sebelum subuh sendirian melewati jalan belakang desa. Lalu aku tak tahu apa yang dilakukan Reza. Aku hanya memberitahu saja." Ucap Bara dengan wajah pucat.
" Mas Bara! Kamu tega melakukan itu? Bagaimana jika ditengah perjalanan mas Reza dan teman-temannya, menghadangku dan melakukan perbuatan asusila padaku seperti tadi pagi? Untung ada Bono yang menolongku. Mas Bara kamu sungguh keterlaluan! Aku benci kamu!" Ucap Rika sembari menangis.
" Rika, sudah jangan terlalu memikirkan hal itu. Sekarang semua sudah aman. Kita sedang berduka, lebih baik kita mendoakan kakekmu agar dia tenang disana." Bono mencoba menenangkan Rika.
" Iya Bon, kamu benar. Terima kasih sudah mengingatkanku." Ucap Rika lalu memeluk Bono.
Seketika api cemburu Bara membara, dia berdehem berkali-kali. Tak ada yang mempedulikannya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya ketika semua orang yang berada di tempat itu seperti sudah tak menganggapnya lagi.
" Bara, kamu mau kemana?" Tanya Wira sembari memegang pundak Bara dengan kuat.
" Pak Wira, Anda pasti tahu bagaimana perasaan saya melihat kedekatan mereka. Saya mau pulang." Ucap Bara sembari menahan air mata yang hampir menetes di sudut mata kanannya.
" Bara, maafkan aku. Mungkin Rika bukan jodohmu. Cari saja wanita lain yang lebih baik darinya. Diluar sana banyak wanita yang menantikanmu. Percayalah padaku. Keluarlah dari desa ini dan temukan dunia baru disana. Tapi jangan lupa asal usulmu, agar kamu tak menjadi besar kepala seperti Reza."
" Mas Bara, aku mau bicara sedikit sama kamu. Sebenarnya ada yang mengagumimu mas. Tapi dia malu mengatakannya."
" Rika, aku hanyalah pemuda desa yang payah. Aku tak mempunyai kemampuan apa-apa. Jika bukan karena peninggalan orang tuaku, aku mungkin bukanlah siapa-siapa."
" Mas, temui Santi. Dia sangat menantikanmu. Berulangkali dia bercerita tentangmu. Dia menyukaimu, temui saja dia. Tapi jangan sakiti dia."
" Rika, apa kamu serius? Santi menyukaiku?" Ucap Bara lalu seketika wajahnya menjadi berseri-seri.
" Iya Mas Bara, kalau nggak percaya tanyakan langsung saja kepadanya."
" Memangnya dia belum mempunyai kekasih?"
__ADS_1
" Belum mas, dia nggak mau mempunyai kekasih. Santi tidak berniat ingin pacaran."
" Bara, ini kesempatan bagus untukmu. Santi anak yang baik, dan dia sama seperti Rika. Tidak suka macam-macam. Siapa tahu kalian berjodoh." Ucap Wira, sembari menepuk pundak Bara.
" Tapi, aku ragu kepadanya. Aku tidak mencintainya. Akupun tak menyukai dia sedikitpun. Bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengannya."
" Bara, cinta itu datang karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa bercanda, terbiasa melakukan sesuatu bersama-sama. Itu semua akan membuat seseorang saling mencintai. Percayalah padaku Bara, aku yakin kamu pasti bahagia bisa bersamanya." Bono mencoba menenangkan dan membesarkan hati Bara agar tak terlalu kecewa dengannya.
" Ah, sudahlah.. Nanti akan kupikirkan lagi. Aku tak ingin membuat dia kecewa. Peluangku hanya satu didesa ini. Jika gagal aku akan meninggalkan desa ini dan mencari jodohku ditempat lain."
" Hahaha.. Bara..Bara.. Disinipun kamu tak berani mendekati perempuan, apalagi diluar sana. Kau hanya butuh kepercayaan diri saja, Bar." Wira tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Bara.
Bara tertunduk, wajahnya menjadi merah. Dia tak terima dirinya seolah disudutkan dengan keadaan. Namun kata apa yang dikatakan Wira baginya sangat benar. Bara laki-laki yang tampan, pandai, rajin, berbakti pada desanya, meskipun Orang tuanya sudah tiada sejak dia kecil, Bara sudah menjalani hidup mandiri. Pahit manisnya hidup, sudah ia rasakan berkali-kali. Namun untuk hal cinta, Bara masih kurang berpengalaman. Berkali-kali dia memendam perasaan cinta pada lawan jenisnya yang ia temui. Namun sulit baginya untuk mengutarakan perasaannya pada wanita yang ia sukai.
Semua terdiam saat melihat ekspresi Bara yang tiba-tiba terdiam setelah mendengar ucapan Wira. Mereka melihat ke arah Bara. Merasa telah kelewatan bercanda dengan Bara, Wira meminta maaf Padanya. Namun Bara hanya tersenyum singkat dan menerima kata maaf dari Wira.
Dari arah barat, seorang gadis cantik usia dua puluhan tahun berjalan ke arah rumah Rika, Dia mengenakan baju gamis yang sangat menawan. Membuat semua orang terpana melihat keanggunannya.
" Assalamualaikum.." Ucap seorang gadis cantik yang ternyata adalah Santi.
" Waalaikumsalam.." Jawab semua orang yang ada di rumah Rika secara bersamaan.
" Rika, Bono, Pak Wira, Pak Harjo, dan Mas.." Santi berhenti menyebut nama, ketika pandangannya tertuju pada Bara.
" Santi, Aku Bara. Apa yang kamu lamunkan? Kenapa melihatku seperti itu?"
" Santi, katakan saja kalau kau menyukai mas Bara, hehe.." Celetuk Rika sambil memegang kedua pundak Santi dari samping kiri.
" Apa?? Rika! Jangan buat aku malu. Ihh.." Ucap Santi kesal, lalu wajah cantiknya mulai memerah dan semakin menambah keanggunannya.
" Santi, Bara menyukaimu. Dia ingin mengajakmu ke pelaminan. Kapan kamu siap?" Celetuk Wira sambil memegang pundak Bara.
" Eh, saya..Maaf.." Ucap Santi dengan gugup.
" Santi.. Katakan saja kalau kau mau menikah dengan Mas Bara." Ucap Rika sambil senyum-senyum.
" Rika, jangan sekarang. Aku malu. Ihh.." Santi mencubit tangan Rika karena kesal.
" Eh, Rika.. kita tak perlu membahas omong kosong ini. Sebaiknya kita mengadakan doa bersama saja untuk Kakekmu." Bara pun kesal karena ia seperti dipermainkan oleh Rika dan Wira. Akhirnya dia mengalihkan pembicaraan untuk menutupi perasaan malunya.
" Mas Bara, Kakeku bilang dulu semasa hidupnya, dia berpesan agar tidak perlu mengundang banyak orang untuk melakukan doa bersama untuk kematiannnya. Dia tak ingin membebani keluarga yang ditinggalkannya."
" Lalu bagaimana? Apa tak ada acara apapun dirumahmu, Rika?
Rika menggelengkan kepalanya, mendengar Bara membahas tentang kakeknya, Rika kembali bersedih. Dan suasana menjadi hening.
__ADS_1
Bono mencoba menenangkan Rika, dan membawanya masuk kedalam. Dia tak tahan melihat air mata Rika terus berjatuhan. Api amarahnya pun kembali membara. Bono keluar meninggalkan Rika sendiri, dan meminta Santi untuk menemaninya.
" Santi, tolong temani Rika di dalam. Aku mau pergi dulu."
Tanpa berkata sepatah katapun, Santi mengangguk dan bergegas masuk ke rumah Rika dan menemaninya.
" Bono, kamu mau kemana? Ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Aku ingin mendengar semua jawabanmu." Wira mencoba mencegah Bono pergi.
" Ada urusan penting yang harus ku selesaikan. Aku mohon diri." Bono bergegas pergi dan meninggalkan rumah Rika.
" Bono! Tunggu.." Wira melompat setinggi tiga meter dan menghadang Bono yang berjalan dengan cepat.
" Aku mendengar sepak terjangmu bersama Wijaya dalam membantai musuh-musuhmu. Aku juga tahu kau dan Wijaya berhasil mengalahkan dan mengambil alih kedudukan Bos besar Rendra. Lalu apa yang kau rencanakan disini?"
" Aku sudah bilang, aku tak sejalan dengan Wijaya. Dan apa yang kamu katakan itu semua benar. Sudah, minggirlah, jangan menghalangi jalanku."
" Oh jadi begitu, apa kau sudah merasa jagoan? Tak ada satupun orang yang lolos dari cengkramanku. Kau juga sama."
" Apa kau mau menangkapku? Apa kau seorang Polisi? Kalau begitu tangkaplah kalau kau bisa."
" Baiklah, sesuai keinginanmu aku akan menangkapmu. Hyaatt.." Wira mencoba melompati Bono lalu hendak memegang kedua pundak Bono, namun usahanya gagal ketika Bono dengan sigap merunduk dan menggulungkan badannya ke tanah menjauhi Wira.
" Hahaha.. Cerdik juga kau Bono. Baiklah, kalau kau tak ingin ku tangkap dengan cara biasa, aku akan menangkapmu dengan kekerasan. Bersiaplah Bono!"
" Wira! Aku tak ada masalah denganmu. Jangan menggangguku atau kau akan menyesal."
" Ternyata kau lebih sombong dari yang ku kira, Bono. Terimalah seranganku! Hyaaattt...."
Wira menyerang ke arah Bono, tendangan dan tinjuan yang cepat membuat Bono kewalahan. Dia terkena serangan Wira berkali-kali. Namun tubuh kerasnya sanggup menahan rasa sakit yang dia terima.
" Hahaha.. Kau sangat cepat Wira, namun seranganmu tak berarti untukku. Tubuhku ini seperti batu. Takkan mempan oleh serangan biasa seperti itu." Ucap Bono, bermaksud merendahkan Wira.
" Baiklah, kalau kau memang ingin aku serius menyerangmu. Aku akan perlihatkan kekuatanku." Wira mulai mengerahkan tenaga dalamnya.
Setelah tenaga dalamnya berkumpul, dia kemudian berteriak sekeras petir yang menggelegar.
" Blaar.. blarrr.. blaarr.." Teriakan Wira membuat sekitar Bono berasap dan seketika beberapa pohon kecil di samping Bono tumbang.
" Haha, lumayan juga ilmumu Wira. Tapi aku memang tak ingin berlama-lama disini. Aku ingin menyelesaikan masalahku dulu. Aku akan menerima tantanganmu lain kali jika kau masih berkeinginan menangkapku Wira." Ucap Bono lalu mengerahkan tenaga dalamnya dan memusatkannya ke telapak tangannya.
Dia lalu menghentakkan tangannya ke tanah. Lalu angin tipis bergulung-gulung ke arah Wira. Wira pun tak tahu apa yang dilakukan oleh Bono, namun saat angin itu sampai di depannya kurang lebih dua meter, Wira mengetahuinya dan menghindar melompat ke arah samping kanan dan bergulung ke tanah untuk menghindari terkena serangan Bono.
" Blaarr.. Blaaarr.. Blaarr.." Terdengar suara ledakan keras yang disertai kepulan asap tebal menyelimuti jalan desa.
Saat pandangan mulai tertutup asap, Bono bergegas berlari secepat angin meninggalkan pertarungan.
__ADS_1
......................