
Malam pun tiba. Rumah Tanu sudah mulai ramai dengan tamu undangan. Tak lupa mereka mengundang Bara dan Santi, Harjo juga turut datang diacara Tanu.
" Pak Harjo, silahkan masuk Pak..." Sapa Tanu pada Harjo sembari menyalaminya.
" Terima kasih Pak Tanu. Saya ikut senang, Pak Tanu mengadakan acara seperti ini. Apalagi, mengundang beberapa warga saya, datang kemari."
" Oh, iya Pak Harjo. Ini bentuk rasa syukur kami. Dimana selama ini, kami masih diberikan kesehatan dan umur yang panjang, serta diberikan keluarga yang sangat bahagia jauh dari perselisihan."
" Iya Pak Tanu, saya kagum pada keluarga Anda. Semua terlihat akur. Dan saya dengar putra putri Anda selalu mendapatkan rangking pertama disekolahnya. Mereka ramah, juga tidak sombong. Berbeda sekali dengan cucu saya. Saya tak tahu sekarang dia dimana."
" Memangnya cucu Pak Harjo meninggalkan rumah?"
" Iya Pak Tanu, dia kecewa dengan saya, juga pada beberapa warga desa. Sudah lama dia meninggalkan desa."
" Kecewa kenapa Pak? Apa yang membuatnya seperti itu? Kasihan sekali dia Pak Harjo. Apa diluar, dia mempunyai saudara untuk numpang tinggal?"
" Ceritanya panjang Pak Tanu, saya tak enak mau menceritakannya. Lain waktu saja kalau kita bertemu lagi, saya akan cerita banyak tentang cucu saya."
" Baiklah Pak Harjo, jika memang masalahnya sangat sensitif. Kalau begitu silahkan duduk dulu Pak. Sebentar lagi acaranya akan saya mulai."
" Iya, terima kasih Pak Tanu." ucap Harjo lalu mengambil tempat untuk duduk.
Selang beberapa menit, acara pun dimulai. Bara ditunjuk sebagai pembawa acara. Dia membacakan urut-urutan acaranya.
Dalam acara pesta kali ini, Wira tak bisa datang karena dia mengalami sakit kepala. Sakit vertigonya kambuh dan memaksa dia untuk beristirahat di rumah.
Di kursi paling depan, Santi dan Rika duduk berdampingan. Mereka saling melihat perut mereka satu sama lain.
" Rika, perutmu besar sekali... Jangan-jangan anakmu kembar."
" Ah, tidak Santi... Hanya satu kok. Mungkin badannya saja yang besar. Perutmu juga besar, Santi. Kemungkinan dia beratnya sama dengan berat anakku."
" Hehe... bisa jadi, Rik." ucap Santi lalu mereka terdiam untuk mendengarkan kata sambutan dari Tanu.
...----------------...
Pukul sepuluh malam, acara berakhir. Acara ditutup dengan doa bersama, yang dipimpin Harjo untuk kebersamaan dan keselamatan keluarga Tanu.
Para warga undangan berangsur-angsur pulang ke rumah mereka. Di rumah Tanu masih tersisa Bono dan Rika. Mereka masih tertahan karena Tanu masih ingin berbicara dengan Bono.
" Bono, apa ada pergerakan lagi dari Wijaya? Aku merasa sepertinya dia sudah tak berniat kembali lagi."
" Maaf Pak Tanu, jika Anda berpikir seperti itu, Anda salah besar. Wijaya selalu berusaha sekers mungkin untuk mendapatkannya. Ia tak pernah melewatkan barang sekecilpun yang pernah ia inginkan. Apalagi, ini menyangkut tanah sebesar milik Anda. Pasti dia takkan melupakannya. Kemungkinan, dia sangat sibuk, atau bisa jadi dia telah mengirim orang untuk datang kemari."
" Mengirim orang? Aku tidak berpikir sampai di situ. Lalu, bagaimana kalau dia benar-benar datang mengirim orang kemari. Apalagi kalau dia mengirim hingga puluhan orang kemari."
" Tidak, Pak Tanu. Untuk menangani satu masalah, dia tak pernah menggunakan terlalu banyak orangnya. Mungkin satu atau dua orang saja. Dan jika mereka gagal, Wijaya lah yang akan turun tangan, menanganinya sendiri."
__ADS_1
" Oh, jadi begitu Bono. jika hanya dua orang saja apa kamu sanggup menghadapinya?"
" Saya tidak tahu, Pak Tanu. Sekarang ini, saya tidak tahu siapa yang menjadi orang kepercayaannya. Tapi saya yakin, orang itu, kemampuannya pasti sama dengan kemampuan yang saya miliki."
" Bagaimana kamu bisa yakin, Bon? Padahal kau belum tahu siapa yang akan kau lawan."
" Saya tahu Siapa Wijaya itu, Pak Tanu. Saya seperti ini juga karena dia. Dia mengambil hati saya dan lambat laun memanfaatkan saya untuk mengikuti ambisinya. Setiap apa yang kami lakukan untuknya, dia akan mengajarkan ilmu bela dirinya untuk kami."
" Mungkin saja saat ini dia telah merekrut orang baru untuk menjadi pengikutnya. Aku khawatir, dia tiba-tiba datang kemari saat kita lengah, Bono."
" Eh, sebaiknya keluarga Anda dilarang untuk keluar dari rumah ini dulu. Atau kalau mau keluar, harus ada pengawalan. Setidaknya jangan sampai ada yang keluar dari rumah sendiri. Apalagi Bulan, dia tidak boleh keluar kemanapun sendirian. Jika Wijaya tahu, Bulan salah satu anggota keluarga ini, bisa jadi ia akan jadi sasaran empuk Wijaya."
" Aduh... kenapa semua menjadi seperti ini. Aku tidak menyangka, teman kelasku dulu yang lugu kini menjadi seorang penjahat kelas atas. Dan kenapa juga aku harus berhadapan dengannya."
" Sabar Pak Tanu, pasti semua orang juga tak menginginkan hal semacam ini terjadi. Tapi saya berjanji dengan sepenuh hati saya, sekuat jiwa raga akan bertaruh untuk melindungi keluarga Anda. Pak Tanu tak perlu khawatir."
" Bagaimana aku tidak khawatir, Bono. Ini menyangkut keluargaku. Bukan diriku sendiri. Jika hanya diriku, aku yakin takkan secemas ini."
" Saya sudah bekerjasama dengan Pak Wira. Dia orang yang sangat hebat. Anda juga seorang pebela diri. Jadi, apa lagi yang akan dicemaskan. Kita jangan sampai memikirkan sesuatu hal yang menakutkan sebelum menghadapinya."
" Kau benar Bon, tapi terus terang saja, aku masih sangat khawatir dengan keluargaku. Mereka semua terbebani dengan masalah ini."
" Kalau begitu, Anda harus melepaskan semua yang Anda miliki sebagai jaminan keluarga Anda, Pak. Wijaya hanya menginginkan tanah ini. Jika Pak Tanu memberikan tanah ini padanya, pasti tak ada yang akan menyentuh keluarga Anda, Pak."
" Tapi, tanah ini milik istriku Bono. Sampai matipun dia akan tetap mempertahankannya. Kami mendapat wasiat dari mendiang orang tua untuk menjaganya dan jangan sampai tanah ini terjual. Jika terjual, mereka takkan terima. Itulah wasiatnya Bono. Jadi kami sangat berat melepaskan tanah ini "
" Iya, Bono. Hanya itu jalan satu-satunya. Tetapi aku berharap, Wijaya akan tahu kalau tanah ini milik temannya sendiri. Seharusnya dia tak mengganggu temannya."
" Pak Tanu... dalam kamus Wijaya, bisnis adalah bisnis dan teman ya teman. Walaupun kalian berteman baik sekalipun jika untuk bisnis, teman itu bukan suatu penghalang baginya untuk melakukan hal-hal yang kotor. Ingat, Wijaya adalah Rajanya orang kejam. Dia bisa melakukan apa saja tanpa pandang bulu. Sebaiknya Pak Tanu jangan terpengaruh dengan hubungan pertemanan kalian.
Saya saja seorang anak buah yang setia, selama ini dibohongi. Dia menuduh orang lain pembunuh keluarga saya. Namun buktinya, dialah yang menghabisi keluarga saya. Dia sangat licik, Pak Tanu. Kita harus selalu waspada saat ingin menghadapinya."
" Ah, Wijaya... Wijaya... kenapa sekarang kamu jadi orang seperti itu. Tuhan, apa aku harus benar-benar berhadapan dengan teman sekolahku dulu."
" Sudahlah Pak Tanu, sebaiknya Anda jangan terlalu memikirkan hal ini terlalu dalam. Kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Siapa tahu, apa yang terjadi nanti tak seburuk dengan apa yang kita pikirkan."
" Baiklah Bono, aku akan coba mengurangi beban pikiran masalah ini. Oh iya, ini sudah terlalu malam. Lanjutkan besok saja, bicaranya. Karena kau membawa Rika, sebaiknya kau dan Rika menginap disini saja. Ada ruang kosong di belakang. Kamarnya bersih kok, istriku setiap hari membersihkannya."
" Eh, seharusnya saya mengantarkan dia pulang saja. Saya takut, dia tidak bisa tidur karena tak terbiasa menginap ditempat orang."
" Tapi ini sudah malam, Bono. Kasihan istrimu."
" Coba saya tanyakan dulu padanya, Pak Tanu."
Bono berjalan masuk ke ruang tamu menemui Rika yang sedang berbicara dengan Bulan dan Rani.
" Rika, sudah malam... kamu mau pulang atau mau menginap disini?" Tanya Bono sembari mendekati Rika.
__ADS_1
" Eh, aku pulang saja Bon. Sayur yang di rumah masih tersisa banyak. Kalau nggak dihangatkan, takutnya basi dan nggak bisa dimakan lagi."
" Baiklah kalau begitu. Sekarang saja, kita pulang."
" Rika, Bono... ini sudah terlalu malam lho. Kenapa nggak menginap disini saja. Ada kamar kosong kok, dibelakang. Kamarnya bersih dan luas. Kalian tinggal menempati saja." ucap Rani.
" Terima kasih Bu Rani, tapi kami masih mempunyai sayur yang mesthi dihangatkan. Biar sayurnya nggak basi."
" Oh begitu, ya sudah... aku tak bisa mencegah kalian jika memang kalian ingin pulang. Tapi kalau mau menginap, aku sudah sediakan kamar kosong untuk kalian."
" Iya Kak Rika, lebih baik kakak tinggal disini saja. Bulan butuh teman mengobrol. Kak Rika tahu, Bulan anak Ibu cewek sendiri. Bulan mau ngobrol tentang masalah cewek sama siapa, sementara Ibu sibuk sama adik-adik."
" Bulan, kalau kamu mau cerita-cerita, kamu bisa telpon kak Rika. Dia punya Hp, kok." Ucap Bono memberi saran pada Bulan.
" Oh, kalau begitu Bulan minta nomer Hpnya, Kak."
" Boleh, ini... simpan saja nomerku." ucap Rika sembari menyodorkan Hpnya dan memperlihatkan nomernya.
" Terima kasih, Kak..."
" Sama-sama Bulan. Ya sudah kalau begitu kami minta izin dulu.. Bu Rani, Bulan..."
" Baiklah, kalian hati-hati di jalan... jangan sampai ngebut-ngebut."
" Selama Rika hamil, saya tidak berani ngebut Bu Rani. Saya takut mengganggu kondisi bayi saya. Hehe.." Ucap Bono sabil tersenyum kecil.
" Iya, jangan sampai bayi kalian kenapa-kenapa. Jaga baik-baik bayi kalian. Itu adalah harta yang sangat berharga di bandingkan dengan kekayaan yang kalian miliki."
" Terima kasih atas sarannya Bu Rani. Kalau begitu kami mohon izin dulu."
Bono dan Rika keluar dari rumah Tanu. Dan mobil hitam yang ditumpangi Bono dan Rika melaju ditengah kegelapan malam yang sepi.
Setelah kepulangan Bono dan Rika, Tanu dan keluarganya membersihkan dan menata kembali rumahnya. Tiba-tiba Rani bertanya pada Tanu.
" Ayah, apa yang tadi Ayah bicarakan dengan Bono?"
" Ah, tidak Bu. Kami hanya mengobrol sesuatu yang tidak penting. Ayah juga sudah tidak ingat apa yang Ayah obrolkan."
" Kelihatannya serius sekali. Ayah ceritalah sama Ibu."
" Tidak ada Bu. Hanya mengobrol biasa. Tetapi Ayah tidak ingat apa yang Ayah bicarakan dengannya."
" Baiklah, kalau Ayah nggak mau cerita." ucap Rani sambil pergi ke dalam melihat Tama dan Rama yang sudah tidur.
Suasana rumah Tanu, kembali semakin sepi ketika semua orang telah masuk ke ruang tidur masing-masing. Tinggal Tanu sendiri yang masih memikirkan caranya bagaimana menghadapi Wijaya. Namun tak lama kemudian, dia mulai lelah. Dan akhirnya pergi ke kamar tidur menyusul Rani lalu rebahan di samping anaknya.
......................
__ADS_1