
Ketika Bono dan Khalid kehabisan kata untuk di bicarakan, tiba-tiba Dokter yang menangani Arti keluar dari ruangan. Ia membuka maskernya dan mendatangi Bono dan Khalid yang masih terdiam.
" Pak Bono.." sapa Dokter.
" Oh, iya.. bagaimana, Dok?" sahut Bono dengan gemetar karena terkejut.
Dokter menggelengkan kepalanya lalu mengajak Bono untuk menjauh dari Khalid.
" Ada apa, Dok? Bagaimana keadaan Bi Arti?"
" Dari beberapa jam yang lalu kami memantau, tak ada perkembangan yang baik dengan kondisi Bu Arti. Malah, kondisinya semakin memburuk. Saat kami datang, kami telah melakukan berbagai cara untuk memberikan penanganan yang terbaik baginya. Namun sejauh kami mencoba, tak ada sesuatu yang membuatnya menjadi baik lagi seperti sebelumnya."
" Katakan saja, Dok. Jangan membuat saya menjadi bingung."
" Bu Arti sudah tak bisa lagi diselamatkan. Dia sudah meninggal." ucap Dokter itu sembari mengusap Wajahnya.
Seketika Bono seperti disambar petir, mendengar kabar dari Dokter. Ia lalu melihat ke arah Khalid. Tiba-tiba air matanya mengalir melihat Khalid yang masih duduk sendirian di kursi tunggu, sembari mengelus-elus pegangan kursi disampingnya.
" Ya Tuhan.. satu lagi bencana yang timbul. Dan akulah yang menjadi saksi. Aku melihat dan merasakan kehidupan yang sangat tidak adil bagiku.
Bocah itu, sekarang dia harus kehilangan Ibunya. Kenapa anak-anak kecil yang ku temui harus kehilangan sosok orang tuanya? Kenapa?!" ucap Bono sembari berteriak karena tak mampu menahan perasaan hatinya yang sedang bergejolak.
" Maaf, Pak Bono. Sebaiknya Anda bisa menahan diri. Katakan saja yang sejujurnya pada anak itu. Permisi, saya harus pergi. Masih ada pasien yang membutuhkan bantuan saya." ucap Dokter itu lalu berlalu meninggalkan Bono.
Bono melihat ke arah pintu ruangan tempat Arti di rawat. Beberapa perawat masih sibuk berbenah.
Ia lalu pergi memnghampiri Khalid dengan langkah yang lesu seperti ingin pingsan.
" Paman.. ada apa?" tanya Khalid.
" Khalid.. Seperti pesanku tadi, apa kau masih mengingatnya?"
" Pesan apa, Paman? Aku tidak mengerti."
" Kau itu seorang laki-laki, kau harus kuat menghadapi segala cobaan hidup."
__ADS_1
" Paman, aku tidak mengerti kenapa Paman mengulang kata-kata Paman. Apa yang sebenarnya terjadi?"
" Ibumu telah tiada, Khalid?" ucap Bono dengan suara terbata-bata.
" Maksud Paman, Ibu telah meninggal??" ucap Khalid dengan berlinang air mata.
" Iya.. Ibumu telah meninggalkan kita untuk selamanya. Dia telah menyusul Ayahmu menghadap Tuhan."
" Tidak, Paman. Ibu tidak boleh mati. Dia harus hidup bersamaku. Dia tidak boleh meninggalkanku sendirian. Ibu!!" teriak Khalid lalu berlari menuju ruangan Ibunya.
Tanpa menghiraukan perawat yang masih berada di ruangan itu, Khalid memeluk Ibunya yang sudah tak bernyawa. Tangis haru pecah seketika di dalam ruangan Arti. Para suster ikut merasakan kesedihan yang dialami Khalid. Mereka tahu, Arti adalah pasien yang tak memiliki siapa-siapa. Dia memiliki satu anak yang masih kecil. Dan dia meninggalkan anak itu ubtyk selamanya.
" Nak, yang sabar ya. Mungkin Tuhan sangat menyayangi Ibumu. Makanya Dia mengambilnya lebih cepat."
" Tidak.. Tuhan tidak menyayangi Ibu. Dia juga tidak menyayangiku. Kenapa membiarkanku kehilangan Ibu. Sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa lagi."
" Nak, saya siap untuk menjadi pengasuhmu. Saya akan merawatmu dan mencukupimu. Jangan khawatir, kamu tidak akan hidup sendirian."
" Tidak!!! Aku hanya mau Ibu.. Ibu, bangun.. Ayo kita pulang." rengek Khalid.
"Jangan Paman.. lepaskan aku.. Aku mau Ibuku. Aku tak mau Ibuku mati. Tolong biarkan aku memeluk Ibuku, Paman."
" Khalid.. sudah.. Jangan menangis. Ibumu akan segera dibersihkan. Lalu kita akan membawanya pulang. Ayo kita keluar."
" Tidak, Paman. Aku ingin Ibuku hidup lagi. Aku sudah berjanji akan menjaganya sampai aku mati. Jika dia mati, lalu aku harus bagaimana. Aku belum bisa mencari uang, Paman."
" Paman sudah katakan, jangan khawatit dan jangan takut. Paman akan membantumu. Kamu nanti tinggal dirumah Paman."
" Tidak.. Aku tidak mau jika ibuku tak ikut. Paman, tolong hidupkan lagi Ibuku. Ayolah, Paman."
Khalid merengek didepan Bono. Ia memeluk dan menggoncangkan kedua tangan Bono. Ia tak tahu harus berbuat apa. Betapa pedihnya merasakan apa yang dialami oleh Khalid. Ia teringat dengan kenangan masa kecilnya saat ditinggalkan kedua orang tuanya. Mungkin saat ia kehilangan keluarganya, ia tak begitu merasakan kesedihan seperti saat ia melihat kesedihan Khalid. Ia pun menunduk memegang bahu Khalid dan berkata kepadanya.
" Khalid, Paman mengerti perasaanmu. Paman juga sedih melihatmu seperti ini. Tapi Paman tidak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah kehendak Tuhan, Khalid."
" Apa yang harus aku lakukan, Paman. Jika Paman tak bisa, biarkan aku yang menghidupkannya. Tolong beritahu aku, Paman. Ayo Paman!!!"
__ADS_1
Khalid terus merengek dan berteriak meminta tolong pada Bono. Namun Bono sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Ia bukanlah Tuhan. Meskipun ia memiliki kekuatan yang besar, namun ia tak dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal.
" Ibumu sudah meninggal, Khalid. Dia tak bisa dihidupkan lagi. Dia hanya meninggalkan kita didunia ini. Tapi Ibumu telah menunggumu di dunia yang lain. Dia masih hidup. Jika kau ingin bertemu dengannya, Kau harus tumbuh dan berjuang menikmati hidupmu. Hingga waktunya nanti, Tuhan memanggilmu, Kau telah siap. Ingat.. semua yang hidup, pasti akan mati. Jika kau kehilangan orang yang kau cintai, jangan bersedih. Kau cukup memanfaatkan waktumu dengan baik selama didunia ini. Kita tidak tahu kapan Tuhan memanggil kita, yang penting sekarang kita harus berusaha agar bisa mendapatkan tempat yang baik di akhirat nanti."
" Paman.. aku tidak tahu akhirat, aku juga tidak mau menunggu lama untuk bertemu Ibuku. Aku ingin Ibuku hidup lagi agar aku punya teman. Paman, huu..huu..huu.."
" Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan. Bocah ini terus merengek. Seandainya aku yang menjadi dia, aku juga pasti tak taha dengan apa yang dia rasakan. Bara.. Lebih baik ku telpon dia. Siapa tahu dia bisa menenangkan Khalid." ucap Bono dalam hati. Ia pun segera menelpon Bara.
" Halo.. ada apa, Bon? Apa ada kabar baik?"
" Ini sangat buruk. Bi Arti meninggal dan Khalid sangat bersedih. Aku tak tahu harus bagaimana menenangkannya. Lebih baik kita bergantian. Aku yang jaga Tama dan kamu jaga Khalid. Aku benar-benar kehabisan akal untuk membuat anak itu menyingkirkan kesedihannya."
" Apa?! Satu lagi penderitaan yang dialami seorang bocah. Mengapa ini terus terjadi. Eh, baiklah.. Aku akan mencoba menenangkannya. Khalid itu anak yang berbeda dengan Tama. Dia lebih mudah dikendalikan. Aku akan segera kesana."
" Baiklah, cepat Bara. Aku juga tak bisa terlalu lama berdiam disini melihat kesedihan Khalid."
" Iya.. tenanglah sebentar." Bara menutup telpon dan bergegas menuju ke tempat Bono dan Khalid.
Beberapa menit kemudian, Bara telah sampai di tempat Bono dan Khalid. Ia segera menghampiri mereka.
" Bono.. Khalid.." ucap Bara.
" Paman.. Ibuku meninggal. Sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Tolong aku, Paman." ucap Khalid pada Bara.
" Khalid.. Aku juga sama seperti Paman Bono. Tak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Semua yang hidup pasti akan meninggal. Kau pun besok kalau sudah waktunya Tuhan memanggilmu, kau juga akan bernasib sama dengan Ibumu. Jadi tak perlu khawatir. Kelak kau pasti akan bertemu Ibumu kembali. Yang penting kau harus meneruskan perjuangan hidupmu. Apa yang ingin kau raih, raihlah selama kau mampu. Paman berjanji akan selau membantumu. Kamu tidak akan sendirian meskipun Ibumu meninggalkanmu. Masih ada Paman, Paman Bono juga bibi-bibimu. Mereka semua menyayangimu. Kami berjanji akan menyayangimu lebih dari sayang Ibumu kepadamu."
" Tapi Paman, bagiku.. Ibuku adalah segalanya. Meskipun dia tidak bisa memberikan apa yang aku mau. Meskipun dia tidak bisa, aku tidak marah. Aku lah yang seharusnya menuruti keinginan Ibu."
" Tapi, sekarang Ibumu sudah dipilih untuk kembali pada Sang Pencipta. Yang telah memberikannya hidup. Yang telah membuatmu ada di dunia ini. Kau harus bisa merelakannya. Aku yakin sulit bagimu untuk bisa menerima ini semua. Tapi kau harus berusaha. Dukamu adalah duka kita semua. Bukan hanya kamu saja yang bersedih, tapi Paman juga. Walau bagaimanapun, Bi Arti sudah kami anggap sebagai keluarga. Jadi jika terjadi apa-apa dengan kalian, kami yang akan bertanggung jawab."
" Paman.. Terima kasih sudah membantuku. Aku akan turuti semua kata-kata Paman. Tapi bantu aku."
" Iya, Paman janji akan membantumu."
Khalid pun memeluk Bara dengan erat. Kata-kata Bara yang santun dan lembut membuat Khalid merasa memiliki orang tua kembali. Ia lalu mengusap air matanya dan berdiri tegak seperti ceria kembali.
__ADS_1
......................