
Berkat mimpi yang ia dapatkan dari tidurnya, kini Tama menjadi anak yang ceria. Wajahnya tak murung seperti saat sebelum ia bermimpi bertemu dengan keluarganya.
Pagi itu ia tersenyum lepas. Seakan semua beban dipundaknya, terhempas. Ia tak lagi berpikir bagaimana dan apa yang harus ia lakukan di dalam kesendiriannya. Kata-kata dan nasehat dari keluarganya yang ia dengar lewat mimpinya membuat ia bersemangat dalam menjalani hidup.
Kini pikirannya semakin cerdas. Apalagi setelah ia tahu, dirinya mempunyai kekuatan yang hebat yang masih terpendam.
" Aku mau mandi, tubuhku sudah bau. Aku tidak mau Ibu memarahiku kalau badanku bau." ucap Tama lalu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mandi.
Lima belas menit berlalu, ia telah selesai mandi. Ia berkali-kali mencium-cium bau tubuhnya. Ia merasa sedih setelah mengingat bau tubuhnya sekarang berbeda dengan saat Ibunya masih ada.
" Meskipun aku mandi, tapi badanku tak sewangi dulu. Ketika Ibu masih hidup, Ibu selalu memberiku harum-haruman sehingga tubuhku menjadi wangi setelah mandi. Tapi harum-haruman itu ikut terbakar. Aku sudah tak punya apa-apa lagi." gumam Tama.
Ia kemudian mengambil baju yang sudah ia cuci pada hari kenarin. Namun bajunya belum juga kering. Ia menghela nafas dan meletakakan kembali bajunya ke gantungan.
Langkahnya lesu setelah tahu bajunya belum kering. Ia pun duduk kembali diatas sofa sembari merenung.
Ia memutar kepalanya. Matanya melihat ke sekeliling rumahnya. Lalu matanya tertuju pada satu pintu yang sudah usang di belakang ia duduk.
Dengan sekuat tenaga, Tama menggeser sofa yang ia duduki agar bisa membuka pintu yang ada dibelakangnya.
Tak lama kemudian, ia berhasil mendorong sofa lalu membuka pintu yang tak terkunci.
Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu dengan perlahan. Setelah beberapa langkah dia berjalan, Tama tak sengaja menginjak lantai yang terbuat dari potongan papan kayu. Setelah ia menginjaknya tiba-tiba ruangan menjadi terang. Ternyata Tama menginjak papan yang didalamnya terdapat saklar, untuk menghidupkan lampu di ruangan itu.
Tama terkejut lalu tertawa senang. Ia melihat banyak sekali barang berharga di dalamnya. Dari ruangan itu, Tama membuka almari yang di dalamnya berisi pakaian-pakaian bekas yang masih bagus. Tama mengambil satu persatu baju itu.
Ia mencoba memakainya. mulai dari kaos dan celana. Semua yang ia kenakan berwarna hijau muda. Tama sangat senang sekali. Ia meloncat-loncat dan berteriak kegirangan. Lalu gerakannya terhenti ketika ia melihat foto di meja sebelah alamari. Kaos dan celana yang ia kenakan, sama dengan yang dipakai seorang bocah di dalam foto. Ia melihat lalu membanding-bandingkannya kaos dan celana yang ia pakai, dengan yang berada di dalam foto.
" Baju dan celanaku sama dengan yang ada di foto ini. Apakah ini Kakak Riko?" gumam Tama.
__ADS_1
Dan benar apa yang ia pikirkan. Bocah laki-laki dalam foto itu adalah foto Riko bersama Raka. Dan di samping-samping mereka adalah Tanu dan Rani. Namun Bulan, dirinya, dan Rama tak ada dalam foto itu.
Tama mencoba menebak-nebak siapa dalam foto itu. Namun ia sangat yakin bahwa seorang bocah dalam foto itu adalah foto Kakaknya.
Setelah semua pakaian dalam almari ia keluarkan, Tama memasukkan kembali pakaian-pakaian itu ke asalnya. Ia merasa lega, semua pakaian di dalam alamari, cocok ia kenakan."
" Terima kasih Ayah.. Ayah meninggalkan pakaian yang masih bisa ku pakai. Aku senang, aku tak kedinginan lagi kalau pakaianku basah." ucap Tama lalu kembali menutup almari pakaian itu.
Tiba-tiba terdengar suara perut Tama yang sedang lapar. Tama mengelus perutnya berkali-kali. Ia mencari-cari, mungkin ada makanan atau minuman yang masih bisa ia temukan diruangan itu.
Dan tak dia sangka, saat ia menggeser langkahnya ke samping kanan tiga langkah, almari pakaian tempat ia menemukan baju bergeser ke arah samping kiri. Dan muncul lah sebuah pintu jati tua yang masih kokoh.
Tama mencoba membuka pintu itu, namun usahanya gagal. Pintu itu sangat berat.Tama yang hanya memiliki badan yang kecil, tak kan pernah sanggup untuk membukanya.
Ia pun merasa putus asa lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan itu. Tubuhnya mulai terasa lemas, ia tak sanggup lagi untuk menahan rasa laparnya.
Ia terdiam sejenak dan mulai berpikir. Ia teringat, waktu dia pergi ke Puncak bersama mendiang adiknya, ia melihat banyak sekali tumbuhan yang ditanam Ayahnya. Mulai dari singkong, sayuran dan juga ada pohon mangga, srikaya, jeruk dan masih banyak tanaman lainnya.
Selangkah demi selangkah, Tama tiba di tempat yang ia tuju. Tak perlu pergi ke atas Puncak untuk mendapatkan makanan. Baru seratus langkah saja dia menaiki Bukit, ia menemukan puluhan pohon tomat yang sudah berbuah dan matang. Ia segera memetiknya dan langsung memakannya dengan lahap.
Lapar dan dahaga yang ia rasakan, kini mulai berangsur-angsur hilang. Ia sangat senang lalu bersujud dan mengucapkan terima kasih pada Ayah dan Penciptanya.
Telah puas dengan buah tomat, Tama berjalan lagi dan menemukan kebun semangka yang telah berbuah juga. Ia kemudian memetiknya. Ia ingin membawanya pulang, namun ukuran semangka yang terlalu berat tak dapat ia bawa.
Lalu ia berjalan lagi ke atas, melihat-lihat apa lagi yang bisa ia dapatkan agar bisa ia makan.
Namun ia terjatuh saat ia mencoba memasuki kerumunan tanaman yang menjalar. Tama merasa jengkel lalu menarik tumbuhan yang menjalar itu. Sebuah ubi yang cukup besar muncul saat Tama menariknya.
" Wah..kata Ibu, ini adalah ubi. Rasanya enak. Aku harus membawanya pulang dan merebusnya." ucap Tama lalu segera mengambil ubi itu.
__ADS_1
" Pohonnya juga banyak, pasti buahnya banyak. Aku ingin membawanya beberapa buah, untuk makan sampai besok." ucap Tama lagi.
Berbekal lima ubi yang ia bungkus dengan kaosnya, Tama membawa ubi itu turun ke bawah. Ia berjalan dengan cukup lincah menuruni Bukit. Staminanya sudah pulih setelah ia memakan beberapa buah tomat.
Sambil tersenyum dan berbicara sendiri, Tama masuk ke dalam rumah rahasianya. Ia mencuci ubi itu di bawah kran air lalu berniat merebusnya.
Di sebelah kamar mandi terdapat ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang dimanfaatkan untuk dapur. Kompor yang berada lebih tinggi darinya membuatnya tak bisa menumpangkan panci ke atas kompor. Ia juga tak kuat mengangkat beban panci yang berisi air. Baginya cukup terasa berat.
Ia berpikir sejenak, mencari cara agar ia tetap bisa merebus ubi itu. Setelah beberapa menit berpikir, ia menemukan cara.
Ia kemudian mengambil kursi dan meletakkannya di depan kompor. Dengan susah payah Tama membawa panci itu lalu menaiki kursi dan meletakan panci ke atas kompor.
Ia lalu turun kembali untuk menuangkan air ke dalam panci dengan gelas, berkali-kali. Ubi yang sudah ia cuci, ia masukkan satu persatu ke dalam panci.
Kemudian ia menyalakan kompornya. Beberapa kali ia menyalakan, kompor tak kunjung hidup. Keringat mulai mengalir deras. Namun ia tak patah semangat. Ia harus berusaha membuat kompor itu hidup agar ubinya bisa matang.
Hingga dia merasa keletihan, dia turun ke bawah lalu melihat jarum pada tabung gas.
" Kata Ibu, kalau jarumnya belum sampai di garis merah, berarti gasnya belum habis. Tapi kenapa apinya tak mau menyala." gumam Tama sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Merasa ia tak sanggup melakukannya, Tama merebahkan tubuhnya. Ia benar-benar tak tahu bagaimana caranya agar kompor itu bisa menyala.
Tiba-tiba ia beranjak dari tempatnya lalu berdiri. Ia teringat dengan kata-kata yang selalu Ibunya ajarkan kepadanya.
" Oh, iya..Ibu pernah berkata, jika ingin melakukan sesuatu, awali dengan Bismillah. Aku lupa mengatakannya. Pantas saja, aku tak bisa. Baiklah, Ibu aku akan melakukan setiap kata-kata yang baik dari Ibu.
" Bismillah.."
Tama kemudian menyalakan kompor sekali lagi. Seketika, kompor menyala. Tama merasa sangat senang dan loncat-loncat kegirangan.
__ADS_1
" Yeaa...akhirnya aku bisa menyalakannya. Terima kasih Ibu." ucap Tama lalu dengan santainya duduk di kursi menunggu ubi rebusnya matang.
......................