SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Aku Kesepian


__ADS_3

Begitulah kehidupan Tama sejak ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Ia bertahan dengan kesendiriannya. Ia terus menerus menikmati hidupnya meskipun ia selalu dihadapkan dengan berbagai kesulitan.


Dengan hamparan tumbuhan yang tumbuh subur di area Puncak Bukit, Tama sangat terbantu. Ia setiap kali pergi ke Puncak Bukit untuk memanen tanamannya.


Ia tak pernah makan nasi. Hanya ubi yang dia makan setiap hari. Dia tak makan daging, hanya buah dan sayuran yang ia dapatkan gratis, dari peninggalan jerih payah Ayahnya.


Suatu hari Tama merasa dirinya sangat kesepian. Saat malam tiba, ia duduk sendiri dan merenung. Ia ingin sekali memiliki banyak teman bermain. Namun dia tak bisa melakukan apa-apa. Dia takut bertemu orang jahat. Apalagi orang yang telah membunuh keluarganya. Ia juga tak lupa dengan wajah orang yang mengejarnya, setelah menghabisi seluruh keluarganya.


Setelah berpikir untung ruginya, Tama mengurungkan niatnya untuk bepergian ke tempat yang jauh. Untuk sementara waktu, Tama mengurung dirinya di dalam rumah rahasianya.


" Aku kesepian.. Tuhan, berikan aku teman yang baik untuk menemaniku. Aku bosan, tak ada yang mengajakku berbicara. Tak ada yang mengajakku tertawa. Sudah lama aku tidak bertemu siapa-siapa.


Sampai kapan aku akan seperti ini. Tak ada TV, aku tak bisa menonton acara memasak makanan lagi. Dulu, aku selalu menemani Ibu dan Rama menonton acara masak memasak di TV. Ibu mengajarkanku agar aku suka memasak. Tapi aku belum bisa memasak. Dan juga, kemana aku harus mencari bahan untuk dimasak. Aku tak punya uang." Tama berucap sendiri, sembari kedua tangannya, menopang pipinya yang tembem.


" Paman Bono, Paman Bara..mereka orang baik. Kenapa aku harus menghindar darinya. Kenapa aku harus meninggalkan mereka. Pasti mereka semua sedang kebingungan mencariku. Kalau tidak, pasti mereka sudah membenciku karena aku terus pergi meninggalkan mereka. Maafkan aku, Paman. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut jika tinggal bersama kalian, aku menyusahkan kalian. Aku tak ingin semua itu terjadi.


Aku juga tak ingin melihat kalian menyayangi anak-anak kalian. Aku tak mau iri dan membenci anak-anak kalian yang masih memiliki keluarga. Sementara aku, semua keluargaku meninggalkanku. Rama juga pergi meninggalkanku. Sekarang, aku hanya tinggal sendiri disini. Mereka bilang padaku, aku harus baik-baik saja disini. Tapi aku tidak tahu, apa aku akan baik-baik saja jika terus berdiam diri ditempat ini."


Berbagai keluhan dalam dirinya ia keluarkan pada malam itu. Ia berbicara sendiri, dan tak henti-hentinya berkata tentang apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


Malam semakin larut, Tama masih duduk terdiam di sofa bekas, di rumah rahasianya. Matanya sulit terpejam. Berkali-kali ia menguap, namun ia tak kunjung tertidur. Kesepian yang terus menghampiri hidupnya membuatnya merasa sesak, apalagi ia harus menghindari orang jahat yang pernah ingin membunuhnya.


Hingga pukul tiga pagi, Tama masih terjaga. Ia teringat dengan semua yang ia alami. Ia teringat dengan semua kenangan saat keluarganya masih hidup. Aktivitas pagi bersama Ibu dan adiknya, suara canda tawa Kakak-kakaknya, dan kecupan hangat dari Ayahnya setiap akan berangkat kerja. Semua itu terkenang di otak Tama. Ia terus mengingatnya. Ia tak ingin melupakan mereka yang sudah pernah ada di dalam hidupnya. Lambat laun, Tama merasa letih memikirkan semuanya. Ia pun tertidur dan terbaring di sofa dalam ruangan yang remang-remang, dengan satu lampu diruangan rahasia yang sudah agak redup.


...----------------...


Beberapa menit ia tertidur, Tama kembali bermimpi. Kali ini bukan memimpikan keluarganya, namun Wira yang ada di dalam mimpinya.


" Tama, ponakanku..apa kau lupa dengan wajah ini?" ucap Wira sembari tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Tama.


" Paman, kamu Paman.."


" Iya, Paman.. Aku takut, aku tak punya teman. Aku tidak bisa bercerita, aku tidak punya teman bermain. Apa kau tahu, aku tidak bisa makan makanan seperti yang Ibu masak. Aku ingin sekali makan masakan Ibu. Tapi Ibu sudah meninggal. Ibu tak bisa memasak masakan yang enak lagi."


" Hahaha..masakan Ibumu memang enak. Paman saja ketagihan makan masakan Ibumu. Paman juga merindukannya."


" Paman, apa Paman bertemu dengan Ibuku disana? Tolong katakan padanya, aku merindukannya. Aku ingin setiap saat bertemu dengannya. Aku ingin setiap saat mendengar suaranya."


Sambil tersenyum, Wira berkata pada Tama. " Paman belum bertemu dengan mereka, mungkin mereka telah mendahului Paman pergi ke Surga. Suatu saat nanti jika Paman bertemu dengannya, akan ku sampaikan perasaanmu itu kepadanya. Kamu tak perlu khawatir. Mereka semua menyayangimu. Mereka pasti meminta pada Tuhan agar kelak, kau akan dipertemukan dengan mereka. Yang penting, kamu harus berbuat baik. Jangan jadi jahat karena kamu tak memiliki seorang pendidik."

__ADS_1


" Aku berjanji, Paman. Aku akan jadi anak yang baik. Aku tak ingin menjadi penjahat. Paman..ajari aku agar aku bisa menjadi anak yang baik. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjadi anak yang baik."


" Tama.. Kamu tak perlu khawatir. Keluarga kita tak ada yang ditakdirkan menjadi seorang penjahat. Yang terpenting adalah, kau lakukan apa yang menurutmu baik. Apa kau ingat hal baik apa saja yang telah Ibu kamu ajarkan kepadamu? jika kau mengingatnya, kau cukup melakukan itu saja. Kelak saat kau dewasa, kau akan tahu dengan sendirinya. Mana yang baik dan mana yang menurutmu buruk.


Jauhi hal-hal yang buruk, karena itu akan menghancurkanmu. Kau tak akan bisa bertemu keluargamu jika kau terpengaruh dengan keburukan-keburukan, yang akan menguasaimu."


" Paman..aku ini masih kecil, Ibuku belum banyak memberitahuku hal-hal yang baik."


" Belajarlah..carilah ilmu diluar sana. Maka kau akan mendapatkannya. Kau akan banyak mendapatkan teman. Mereka akan berusaha mempengaruhimu. Jika mereka baik, pasti mereka akan membuatmu menjadi baik. Tapi jika mereka adalah orang yang sebaliknya, maka kamu akan menjadi orang yang sebaliknya juga.


Ingat pesan Paman. Paman tak bisa selamanya bertemu denganmu. Inilah waktu yang pas bagi Paman untuk berbicara denganmu. Paman tidak tahu, apakah malam ini adalah malam pertama dan terakhir kita bertemu atau tidak.


Satu pesan dari Paman yang harus kamu jaga. Ialah, jagalah dirimu dan hatimu dari pikiran-pikiran kotor dan dendam. Karena itu akan merusak dirimu. Kau itu adalah anak yang masih polos. Masih suci. Hilangkan pikiran-pikiran jahat yang mencoba masuk kedalam dirimu. Saat kau sendiri, cobalah untuk selalu bersyukur. Kesendirianmu mungkin lebih baik bagimu. Jangan kau ingat-ingat semua kejadian yang pernah terjadi, itu akan sangat membahayakan untukmu.


Itu saja pesan Paman yang ingin sekali, Paman sampaikan kepadamu. Paman pergi dulu. Masih ada hal yang ingin Paman lakukan, sebelum Tuhan membawaku menyusul orang tua dan saudara-saudaramu. Bangunlah, sebelum matahari mulai meninggi. Sampai jumpa, Ponakanku."


" Tunggu.. Paman tunggu.."


Tama berteriak-teriak memanggil Wira dalam mimpinya. Namun bayangan Wira terus menjauh dan menghilang dari padangannya. Tama merasa cemas hingga keringat bercucuran deras keluar disekujur tubuhnya. Ia pun terbangun karena merasa hatinya sangat sesak ditinggalkan Pamannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2