
Pukul 07.00, Tanu meninggalkan sekolah menuju rumahnya. Kebetulan sampai di pintu gerbang sekolah Tanu bertemu dengan Bagus.
" Pak Bagus saya mau izin pulang dulu Pak. " ucap Tanu dari luar Pos Satpam.
Saat itu Bagus sedang tidak melakukan kesibukan apapun. Saat Tanu sampai di depan Pos, Bagus tak sengaja melihat ke arah Tanu. Saat bersamaan Tanu pun mengetahui kalau Bagus melihat ke arahnya. Sebenarnya Bagus sudah tak mau melihat sosok Tanu lagi, tetapi dia masih mempunyai hati. Dia menanggapi Tanu walaupun dengan terpaksa.
" Yaa..." Jawab Bagus singkat sambil melambaikan tanganya.
Hati Tanu seakan teriris iris.. Bagus benar - benar sangat tidak menyukainya. " Ya Tuhan sampai kapan masalah ini akan selesai. Saya sudah tidak bisa lagi menahannya. Apa yang harus saya lakukan? Saya hanya korban kesalahpahaman. Tetapi bagi orang lain yang melihatnya itu adalah bukti kebenaran. Bagaimana kalau semua tahu tentang masalah ini, dan mereka yang tidak tahu kejadian sebenarnya menambahkan kata - kata yang semakin nggak benar. Dan akan menjadi fitnah yang kejam. Menghancurkan hidupku, dan pastinya keluargaku juga akan hancur. Tuhan.... Selamatkan aku... Lindungilah aku dan keluargaku.. " Sambil melajukan motornya , Tanu mendesah di dalam dadanya terasa sesak.
Dari Pos Satpam , Bagus yang dari tadi celingukan melihat ke arah gerbang seperti menunggu seseorang.
" Kayaknya Vina belum berangkat. Kemana dia? Apa dia sakit ? " Ucap Bagus dalam hati.
Perasaan marah yang dia rasa saat melihat Tanu dan Vina berduaan di parkiran membuat dirinya bergetar. Seluruh tubuhnya seperti terbakar. Bagus tidak suka melihat Tanu dan Vina berduaan.
Namun itu sungguh nyata. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Tanu dan Vina berduaan di parkiran khusus murid. Bagus terbakar api cemburu. Dia mulai membuat cara untuk membuat perhitungan dengan Tanu.
Dia berpikir untuk beberapa saat, " Gimana caranya memisahkan mereka ya? setidaknya membuat Vina jauh dari Tanu. Dasar kamu Vina...!!! Kenapa lebih memilih orang yang sudah memiliki istri??? Lihatttt..... Aku jauh lebih pantas daripada Si Tanu sok alim itu.. Apa yang hebat dari dia? " Bagus seakan ingin mengumpat dalam hatinya.
Tiba - tiba Kepala sekolah datang menemui Bagus.
" Pak Bagus? Ada apa Pak? sepertinya kok tegang gitu ?
Bagus terperanjat dari duduknya, lalu dia menyebut namaTanu dengan suara keras . Seakan menunjukkan kebencian yang sangat dalam.
" Tanuuuu!!! "
" Heh heh heh....Kenapa pak Bagus kok teriak teriak menyebut nama Pak Tanu. Saya bukan Pak Tanu. " ucap Kepala sekolah keheranan.
" Owh.. Pak San... Maaf Pak ... Saya nggak tahu. " ucap Bagus lalu menjabat tangan kepala sekolah kemudian mencium punggung tangannya.
" Sudah nggak apa - apa Pak Bagus. Saya hanya kebetulan lewat saja , niat hati menyapa malah kena bentakan Pak Bagus. " ledek Pak San Kepala Sekolah yang sudah dua kali menjabat.
__ADS_1
" Saya benar benar minta maaf Pak San. Mungkin saya lagi kurang enak badan. Jadi pikirannya sedikit kacau. "
" Saya rasa tidak Pak Bagus. Pak Bagus masih kelihatan segar , tidak pucat sama sekali. Saya menduga Pak Bagus sedang marah. Saya bisa melihatnya dari pancaran wajah yang keluar dari Pak Bagus. Memangnya apa yang terjadi? Kalau Pak Bagus sedang dalam masalah, segera lah selesaikan masalahnya. Jangan sampai menjadi bunga pikiran yang akan menjamur dan merusak otak Pak Bagus ."
Bagus memang tidak punya keahlian untuk berakting, bisa di lihat kalau Kepala Sekolah pun mampu membaca gerak gerik wajahnya yang penuh dengan kebencian.
Dia kebingungan apa yang harus di katakan. kalau berkata jujur, dia takut kalau Vina melaporkannya ke polisi. Bagaimanapun saat kejadian hanya Bagus sendiri yang ada di tempat itu. Dan juga dia hanya melihat sekilas saja .
Dia tidak tahu bagaimana awal kejadiannya. Jika membenci mereka , itu adalah ketidakadilan. Bagus tahu bagaimana baiknya Tanu kepadanya. Disaat terpuruk Tanu lah yang menolongnya.
Di saat Bagus punya masalah Tanu selalu memberikannya solusi yang tepat. Jika dia memberitahukan sesuatu yang tidak sebenarnya , berarti Itu semua adalah pengkhianatan bagi Tanu.
" haaaahh...." Bagus membuang nafasnya dalam - dalam .
" Pak Tanu, Anda orang yang baik. Maafkan saya Pak Tanu. saya janji akan merahasiakan hal ini. Saya akan memaafkan Bapak dan Vina. Saya sadar , kebaikan Bapak selama ini tidak bisa saya hilangkan begitu saja. Mungkin karena cemburu , saya jadi seperti ini. Saya bersedia sujud di kaki bapak, untuk menebus ketidaktahuan diri saya. " gumam Tanu dalam hatinya yang sedang dilema.
" Emm... Ehemmm ehemm... Pak Bagus... ? Kepala sekolah mencoba membangunkan pikiran Bagus yang berlarian entah kemana.
" Ehhh.. iya ... Ehh Pak San masih di sini? " Bagus terkejut dan tanpa sadar menanyakan hal yang tidak terduga pada kepala sekolah.
" E...... " ujar Bagus yang kemudian di potong oleh Hasan.
" Sudah Pak Bagus, saya mau ke ruangan saya dulu. Permisi.. " Belum tahu apa yang akan di katakan Bagus, Hasan berlalu pergi meninggalkannya.
Bagus hanya tersenyum tipis dan mempersilahkan Hasan untuk menuju ruangannya. " hemmm... Silahkan Pak San. "
Di kediamannya Rani dan Tama sudah bersiap untuk pergi ke dokter. Sesuai janji di telpon sebelum pulang ke rumah, Rani sudah harus siap saat Tanu sudah tiba di rumah. Agar bisa menghemat waktu dan tidak menunggu nunggu lama lagi untuk ke dokter.
" Dahh... Anak Ibu sudah wangi, sudah bersih, sudah rapi.. Sekarang kita tinggal tunggu Ayah kamu pulang. " ujar Rani pada Tama yang telah selesai ia berikan bedak setelah mandi dan merapikan pakaiannya.
Sepuluh menit berlalu , Tanu belum juga tiba di rumahnya. Hal ini membuat kekhawatiran di hati Rani. Dia berusaha menghubungi suaminya.
"Tuuutt... tuuuutt... tuuuuuttt.. " Rani menelpon Tanu walaupun tersambung, namun Tanu tak segera mengangkat telponnya.
__ADS_1
" Ayah kemana ya kok jam segini belum sampai. Bikin khawatir saja... Angkat dong telpon Ibu Yah... " ucap Rani penuh kegelisahan.
"Tok...tok...tok...." Suara pintu di ketok.
" Ibuu.. Ayah pulang... "
" Ehhh... Itu Ayah sudah pulang.. kirain kemana. Di telpon nggak diangkat tahunya sudah di sini. Hemhhh.... Iyaaa Ayah.. tunggu sebentar..." Rani menjawab panggilan Tanu dan bergegas membukakan pintu.
" Sudah siap belum Bu? Kalau sudah siap kita langsung berangkat saja. Mumpung belum hujan. "
" Sudah Yah, ini Ibu malah sudah nungguin dari tadi. Sudah jam segini kok Ayah belum sampai. Ibu jadi cemas, takutnya kalau Ayah kenapa kenapa di jalan. "
" Iya tadi Ayah mampir ke toko obat dulu Bu, beli obat sakit kepala. "
" Ayah sakit kepala? Kenapa Yah kok tiba - tiba? Apa tensi Ayah naik? "
" Ayah juga nggak tahu Bu, ini tadi terasa pas saat Ayah mau perjalanan pulang dari sekolah. "
" Terus .. Ayah kuat nggak ke dokternya? kalau nggak kuat ya besok saja nungguin Ayah sembuh dulu sakitnya. "
" Sudah nggak apa - apa kok Bu. Ini sudah mendingan.Nanti sampai ke klinik, pasti akan sembuh setelah yakin kalau cek Ibu hasilnya positif hehe... "
" Haaa??? memangnya sakit bisa kaya gitu Yah? Kok enak ya.. kalau gitu nggak perlu di minum itu obatnya Ya.
" Hehe... ya tetap harus di minum Ibu, kan ini salah satu cara bisa sembuh. Kalau kabar baik itu sebagai pelengkap bukan obat.
" Iya deh Ayah. Ya sudah kita berangkat sekarang saja Yah."
" Baiklah kalau gitu Bu.. Ayook berangkat... "
Tak lama kemudian Tanu Rani dan Tama pergi menuju klinik. Butuh sekitar satu jam perjalanan untuk sampai sana. Hampir setara dengan perjalanan ke sekolah Tanu.
Sementara di rumah Vina, Tasya dan Vina juga sudah siap untuk pergi. Dengan motor barunya Tasya mengantar Vina ke dokter.
__ADS_1
Vina, Tasya dan juga Tanu sama sekali tak tahu kalau nantinya mereka akan bertemu di tempat yang sama. Apa yang akan terjadi saat mereka bertemu di Rumah sakit, tak ada satupun yang memikirkannya.