
Bara terjatuh pingsan setelah ia bisa keluar dari kobaran api, dalam rumah Tanu. Beruntung Petugas pemadam kebakaran dengan cepat menolongnya dan mencegah perbuatannya agar tidak bertindak lebih gegabah.
Lebih dari setengah jam, Bara pingsan. Ketika ia sadar, kobaran api yang melahap rumah Tanu sudah bisa teratasi. Ia sangat bersyukur dan mencoba bangun dari tempatnya terbaring.
" Akhhh..." tiba-tiba Bara terjatuh dan terduduk.
" Paman belum sehat, Paman mau kemana?" tanya Khalid yang saat Bara pingsan, ia terus menemani disamping Bara.
" Khalid, Putra Pak Tanu itu masih berada di dalam, kan? Paman ingin menolongnya. Dia masih sangat kecil. Jika dia kenapa-kenapa, siapa yang akan meneruskan perjuangan Pak Tanu."
" Pak Bara, kami telah menyusuri ke semua ruangan di rumah ini, tapi kami tak menemukan siapapun yang berada di dalam rumah ini." ucap salah satu Petugas Pemadam Kebakaran.
" Apa?! apa mungkin dia habis terbakar, Pak?" tanya Bara setengah terkejut.
Petugas Pemadam Kebakaran menggelengkan kepalanya lalu ia angkat bicara.
" Tak ada siapapun yang berada di dalam. Jika dia terbakar, harusnya masih ada tersisa tulang atau sisa abunya. Namun, kami tak menemukan itu semua."
" Pak, mungkin saja abuya sudah jadi satu dengan kayu-kayu yang terbakar."
" Tidak, Pak Bara.. kami bersaksi tak ada siapapun yang berada di dalam rumah ini. Jika Anda tidak yakin, kami akan mengantar Anda ke dalam untuk memastikan ucapan saya."
" Baik, Pak.. saya tetap akan melihatnya secara langsung. Tolong bantu saya."
" Baik, Pak.. tenang saja. Seluruh ruangan sudah kami teliti. Jika kita masuk, kita akan tetap aman." ucap Petugas Pemadam kebakaran itu.
" Terima kasih, Pak. Kalian sungguh sangat membanggakan bagi kami. Maafkan atas tindakan saya yang terlalu gegabah."
" Tidak apa-apa, Pak Bara. Saya tahu perasaan Bapak. Tentunya kita harus cepat mengambil sebuah keputusan untuk menyelamatkan orang yang sangat kita cintai dari mara bahaya. Namun, kita juga tidak boleh sembarang melakukan tindakan. Bisa jadi, kita sendiri yang mengalami nasib sial."
" Anda benar, Pak. Bagaimana dengan nasib istri dan anak saya jika saya mati disini demi menyelamatkan seorang bocah. Sementara, bocah itu tak ada di dalam."
__ADS_1
" Itulah, Pak yang kami herankan terhadap Anda. Sepertinya Anda sangat menyayangi anak Anda." tanya Petugas Pemadam Kebakaran itu.
" Eh, maaf Pak. Dia bukan anak saya. Dia adalah anak dari majikan saya. Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Kebetulan kami saling mengenal dengan orang tua bocah itu. Jadi setelah kepergian keluarganya, kami memutuskan untuk merawat anak itu."
" Oh, saya kira ini rumah Bapak dan anak bapak terjebak di dalam rumah ini."
" Bukan, Pak."
" Eh, maaf Pak. Polisi sudah datang. Sebaiknya biar Pak Polisi yang memeriksa tempat ini. Jika Bapak mau melihat ke dalam, Bapak bisa meminta bantuan mereka. Kami masih ada tugas lain. Saya moho maaf yang sebesar-besarnya." ucap Kepala Petugas Pemadam Kebakaran lalu bergegas meninggalkan Bara dan segera melajukan mobilnya.
Rombongan Polisi bergegas berlari dan menghampiri Bara. Salah satu diantaranya menyapa Bara dan bertanya kepadanya.
" Pak Bara, apa lagi yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa masih ada rentetan kasus yang terjadi."
" Saya tidak tahu, Pak. Saya juga baru datang. Rumah ini sudah terbakar lebih dari delapan puluh persen ketika saya tiba kemari."
" Siapa orang yang tega melakukan ini semua, Ini sungguh perbuatan keji yang melanggar hukum. Jika kami bisa menangkapnya, hukuman berat akan menantinya."
" Apa?! jadi anak yang sore tadi duduk di tepi kolam itu? Kenapa Anda meninggalkannya? Saya sangat menyayangkan tindakan Anda. Jika boleh, sebenarnya saya ingin mengangkatnya menjadi anak. Tapi keinginan saya pupus karena anak itu tidak mau diajak bicara."
" Anak seusianya seharusnya tidak mengalami nasib seperti ini. Saya juga sangat merasa bersalah. Saya kecewa dengan diri saya sendiri, Pak."
" Sudahlah, saya akan melihat keadaan di dalam. Saya harus bisa memastikan bahwa keadaan benar-benar aman."
" Saya akan menyusul, Pak. Tapi kata Petugas Pemadam kebakaran tadi, tak ada siapapun di dalam. Artinya, bocah itu sudah berada diluar."
" Apa ada saksi lain yang melihat kejadian ini?" tanya Kepala Polisi sembari berjalan masuk ke dalam bangunan megah milik Tanu yang kini telah porak poranda.
" Eh.. saya hampir melupakan sesuatu. Eh.. anak ini yang saat terjadi kebakaran, ada di sini bersama Ibunya. Namun Ibunya sudah dibawa ke rumah sakit oleh sahabat saya karena mengalami syok hebat."
" Oh.. jadi kamu berada disini saat kejadian, Dik?" tanya Polisi pada Khalid yang sedari tadi hanya terdiam mengikuti Bara dan Polisi itu masuk ke dalam rumah Tanu.
__ADS_1
" Iya, Paman. Saya sedang tidur bersama Ibu saya. Tiba-tiba Ibu saya membangunkan saya dan membawa saya bersembunyi di balik semak-semak."
" Sembunyi.. Apa ada orang yang datang kemari? Kau mengenalnya?"
Khalid menggelengkan kepalanya. Ia lalu kembali melanjutkan kata-katanya.
" Mereka naik mobil besar. Berpakaian hitam lalu turun dari mobil dan menyirami rumah ini dengan minyak. Setelah itu mereka menjauhi rumah ini, lalu salah seorang dari mereka melempar korek api ke rumah ini. Akhirnya terjadi ledakan. Api dengan cepat melahap rumah ini. Ibuku menjerit, menangis karena teringat anak kecil itu masih berada di dalam."
" Pak Bara, apa Anda mengenal siapa dalang di balik semua ini? Tapi menurut saya,orang yang melakukannya adalah orang yang sama dengan pembunuhan keluarga Pak Tanu."
" Maaf, Pak. saya kurang tahu. Tapi saya juga merasa orang yang melakukannya adalah orang yang sama. Sepertinya mereka ingin menghilangkan jejak dan membuat rumah ini habis dimakan api."
" Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk meneliti tempat ini, namun mereka tak menemukan bukti apapun." ucap Kepala Polisi itu.
" Tapi, tetap saja pelakunya harus segera ditangkap, Pak. Mereka bukan orang sembarangan. Kekejamannya sungguh diluar kewajaran manusia."
" Kami berjanji akan menangkap pelakunya, Pak Bara. Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu. Kami akan mencari bukti-bukti yang lain." ucap Kepala Polisi itu lalu menyuruh anak buahnya untuk segera meninggalkan rumah Tanu.
Di perjalanan, rombongan Polisi itu tertawa terbahak-bahak. Mereka mentertawakan kebodohan Bara.
" Bos, jadi orang baik itu menyusahkan. Mudah ditipu. Benar, kan.. hahahaha.." ucap salah satu anggota Polisi.
" Kau benar, orang itu sangat bodoh! hahaha.. sampai kau mati pun, kau tak akan menemukan bukti apa-apa dari kami. Hahahaha.."
" Anda memang pandai bersandiwara, Bos. Saya senang bergabung denganmu." ucap anggota Polisi yang lain.
" Ya sudah, sekarang kita kembali ke markas dan minum- minum sepuasnya. Hahahaha.." ucap Pimpinan Polisi itu sembari tertawa keras.
Sementara itu, Bara dan Khalid meninggalkan rumah Tanu untuk melihat keadaan Arti di rumah sakit. Namun sebelumnya, Bara mengitari rumah Tanu dengan memakai senter. Tak ada siapa-siapa dan tak ada tanda-tanda pergerakan. Ia menduga, Tama telah dibawa lari oleh pelaku.
Namun ia berjanji pada dirinya, akan menemukan Tama secepatnya. Ia pun masuk kedalam mobilnya bersama dengan Khalid. Ia melamun sejenak, namun Khalid mengganggu lamunannya sehingga ia terkejut.
__ADS_1
......................