
Dengan berjalan kaki, menyusuri hutan dan tempat-tempat sepi, Wijaya dan Bono pergi ke restoran Wira. Namun setibanya disana, restorannya tak buka.
Wijaya mengumpat dalam hati, " Sial, kenapa warungmu sudah tutup Jay? Padahal aku sudah capek-capek sampai disini."
" Bos, warungnya tutup atau libur ya? Kenapa sudah sepi?" Ucap Bono, lalu duduk dan bersandar di depan gerbang restoran karena lelah.
Dengan nafas terengah-engah, Wijaya menjawab tanya Bono.
" Aku juga tidak tahu, seharusnya kalau buka, jam segini masih ada orang di dalam."
" Apa mungkin libur Bos? Lalu kemana lagi kita akan mencari makan?"
" Sebaiknya kita cari kendaraan, aku lelah berjalan sejauh ini. Dan perutku juga sudah tidak tahan lagi ingin makan." Ujar Wijaya sambil menepuk-nepuk perutnya.
" Berarti kita harus pulang dulu, ambil mobil ya Bos?"
" Kenapa harus pulang? Sama saja dengan jalan kaki. Coba kamu hadang orang yang lewat menggunakan mobil. Di saat sepi, pura-pura minta tolong saja. Kalau mau menolong, ya sudah kita ikut saja. Kalau tidak mau, habisi dan ambil mobilnya."
Bono menganggukan kepalanya lalu berkata," Baik Bos, aku mengerti."
Tak berapa lama sebuah mobil pick up berwarna putih melaju dengan kecepatan penuh. Bono berusaha menghadangnya.
Sontak saja pengendara terkejut dan menghentikan mobilnya dengan cepat.
" Ciiiiiiittt.." Mobil berhenti tepat di depan Bono.
" Hai bocah! Apa kamu sudah bosan hidup? Brengsek! Membuatku kaget saja."
" Maaf, Pak. Saya kelaparan. Dari tadi pagi belum makan. Saya berniat mencari makan, namun sejauh ini berjalan, Saya tak menemukan warung makan yang masih buka."
" Kamu itu bodoh atau mau membodohiku? Kamu lapar dari pagi, kenapa tidak mencari makan dari pagi? Atau kamu sengaja mau membegalku? Ayo kalau begitu, panggil teman-temanmu. Serang aku!"
" Saya bukan begal, saya hanya orang biasa yang sedang kesusahan mencari warung makan."
" Omong kosong! Ayo panggil temanmu!" Ucap pengendara mobil dengan kasar.
" Saya tidak.." Sebelum Bono melanjutkan kata-katanya. Wijaya tiba-tiba sudah berada di depan pengendara dan memukulnya hingga pingsan.
" Kelamaan, kamu Bon! Sudah tahu kita kelaparan, kenapa harus basa basi segala." Ucap Wijaya kesal.
" Saya hanya mencoba untuk tidak menggunakan kekerasan Bos, selama dengan cara halus masih bisa membuatnya mau membantu kita, kenapa harus dengan kekerasan." Ucap Bono lalu menyeret dan membuang pengendara mobil di belakang restoran Wira.
Setelah membereskan pengendara mobil itu, Bono membawa mobil rampasannya bersama Wijaya ke tempat makan langganan Wijaya.
Tiba di Rumah Makan langganan Wijaya, Bono memarkirkan mobil rampasannya. Para pelayan, sudah menanti kedatangan mereka.
" Silahkan, Pak. Masih ada meja yang kosong." Ucap Pelayan Resto yang cantik dan ramah.
" Hem.. Seperti biasa ya mbak. Dua porsi untuk kami berdua." Ucap Wijaya sembari berjalan menuju meja kosong yang masih tersisa.
__ADS_1
" Oh iya, baik Pak. Mohon tunggu sebentar ya." Ucap Pelayan lalu meninggalkan Wijaya dan Bono menuju dapur.
Rumah makan bebakaran langganan Wijaya yang menyajikan segala macam masakan yang di bakar memang memiliki magnet yang kuat. Bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi. Seperti tak henti-hentinya, mobil datang silih berganti.
" Bos, Resto ini lumayan juga. Pengunjungnya ramai sekali. Saya jadi ingin memilikinya. Menurut Bos, apa ini faktor tempat atau karena masakkannya yang enak?"
" Selain tempat, ku rasa masakkannya juga enak Bon. Lagi pula Pelayannya cantik-cantik. Siapa yang tak betah makan disini."
" Benar, Bos. Apa Bos tahu siapa pemiliknya?"
" Aku tak tahu Bon. Kalau tahu, memangnya kamu mau apa?" Tanya Wijaya sembari mengernyitkan dahinya karena penasaran..
" Kita ambil alih saja Bos, rumah makan ini. Siapa tahu kita bisa mendapatkan keuntungan disini." Ujar Bono yakin.
" Jangan punya pikiran yang kotor Bon, cukup aku saja yang punya. Aku sedang tidak memikirkan itu. Aku hanya ingin puncak itu saja. Tidak meminta yang lain. Namun kalau kamu menginginkan tempat ini jadi milikmu, kamu harus bersiap menghadapi Pemilik dan anak buahnya."
" Jadi, Bos tahu siapa pemiliknya?"
" Aku hanya menguping dari pengunjung saja. Mereka bilang yang memiliki resto ini seorang anggota kepolisian. Dan juga, dia sudah punya jabatan tinggi. Aku rasa kamu takkan bisa melawannya."
" Sehebat apapun dia, punya jabatan tinggipun, tak akan bisa ada yang mengalahkan Bono." Ucap Bono dengan lantang sembari membusungkan dadanya.
" Bon, Bon.. Baru segitu saja sudah sombong. Diluar sana mungkin ada yang lebih baik darimu. Jangan merasa kamu sudah hebat, terus kamu berhenti melatih ilmumu." Ucap Wijaya mengingatkan.
" Hahaha..Saya tidak semudah itu dikalahkan." Ucap Bono makin sombong.
" Terserah kamu saja Bon. Aku hanya mengingatkanmu.
Ketika Wijaya dan Bono sedang berbicara. Tiga orang laki-laki bertubuh besar dan penuh tato di tubuhnya, juga seorang pengendara mobil pickup yang telah sadar dari pingsan akibat pukulan Wijaya, datang ke restoran. Mereka menuju tempat parkir mobil dan sedang mengamati satu persatu mobil pengunjung.
Wijaya dan Bono berdiri, dan diam-diam menyelinap ke dapur.
" Mbak, aku tak jadi makan disini. Kami harus cepat-cepat pergi. Ada orang lain yang sedang mencari kami. Tolong bungkuskan saja makanan pesananku itu. Ini uang untuk membayar pesananku, dan yang ini untukmu. Tapi ingat, jangan bilang Kami baru saja dari sini. Lebih baik kamu diam, jika orang itu bertanya, jawab saja tidak tahu." Pinta Wijaya, lalu keluar melalui pintu belakang restoran, dan berlari di tengah kegelapan malam menyusuri area persawahan.
" Ini dia, mobilku. Sudah ku duga mereka akan membawanya kemari." Ucap pengendara mobil pickup yang di buat pingsan oleh Wijaya.
" Baguslah kalau begitu. Berarti orang yang membawa mobilmu kesini, ada di tempat ini. Ayo kita masuk kedalam dan cari sampai ketemu." Ucap pria bertato yang bertubuh kekar, dan berkepala botak.
" Kak, sebaiknya kita jangan membuat keributan ataupun kegaduhan disini. Mobilmu juga sudah ketemu, Sebaiknya kita menghindari perkelahian. Lagi pula Restoran disini, milik seorang Polisi. Kita akan bermasalah jika berurusan dengan Polisi." Ucap Pria berbadan kekar, berambut gondrong memberi saran .
" Kamu benar, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Aku juga tak mau lagi berhadapan dengan mereka. Ilmunya tinggi seperti bukan manusia biasa. " Ucap pria Pemilik mobil pickup yang menjadi korban perampasan.
" Baiklah Kak, sebaiknya kita segera saja tinggalkan tempat ini."
Sampai di tengah persawahan yang rimbun dengan hamparan padi yang luas dan batangnya yang tinggi, Wijaya dan Bono menghentikan pelariannya.
" Bos, berhenti dahulu. Aku lapar sekali." Ucap Bono, lalu merebahkan tubuhnya di pematang sawah.
" Baiklah, sebaiknya kita makan disini saja Bon. Tenagaku juga sudah mulai melemah." Ucap Wijaya lalu membuka bungkusan dan memakannya bersama dengan Bono.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mereka makan, Wijaya terlihat cemas. Dia merasa Bono terlalu lama makannya. Lalu Wijaya menegur Bono.
" Ayo Bon, lebih cepat makannya. Aku khawatir, kita akan kehabisan waktu istirahat kita sebelum berangkat keluar Kota besok pagi."
" Bos, saya sedang menikmati makanan saya. Jika terburu-buru, makannya terasa kurang lezat."
" Tapi waktu kita terbatas Bon, Aku juga harus memulihkan energiku. Jika istirahat ku berkurang, itu akan membuatku lemah."
" Ya sudah, tunggu sebentar Bos, saya akan menghabiskannya dengan cepat."
" Oke, aku tunggu Bon."
" Siap, Bos."
Tak membutuhkan waktu lebih dari satu menit, Bono telah menghabiskan makanannya.
" Ayo, Bos saya sudah siap." Ucap Bono sambil mengelus perutnya yang tambah membuncit karena terlalu kenyang.
Wijaya menepuk perut Bono lalu berkata. " Ayo, kita sudah tak punya waktu banyak lagi. Jam berapa kita dapat tiket pesawatnya?"
Mendapat pukulan telapak tangan ringan dari Wijaya, sontak membuat Bono melompat ke belakang. Dia tahu maksud Wijaya. Memukul perut buncitnya sama saja dengan menyuruhnya berlatih ilmu bela diri lagi.
" Eh, jam sembilan Bos. Yang paling pagi hanya ada itu Bos, tiketnya."
" Apa! Kenapa tak beli tiket yang agak siang saja? Kalau berangkat jam sembilan, berarti jam 8, harusnya kita sudah sampai sana, Bon.
" Bukannya lebih cepat lebih baik Bos?" Tanya Bono kebingungan.
" Harusnya kamu sesuaikan kondisi sebelum kamu membeli, Bono, Bono." Ucap Wijaya sambil geleng-geleng kepala.
" Maafkan saya Bos, apa tiketnya di ganti saja?" Ucap Bono sedikit kesal dengan Wijaya.
" Tidak perlu Bon, sudah terlanjur." Ucap Wijaya kesal.
" Baiklah kalau begitu Bos."
Dalam hati Bono berkata, " Dimanapun, seorang Bos itu kelakuannya sama saja. Kita sudah bekerja dengan semampu kita, semaksimal kita saja, mereka tetap saja menilai pekerjaan kita salah. Seolah mencari-cari kesalahan kita. Menyebalkan!"
" Bono, apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan membuatku curiga."
" Eh, saya hanya ingin memberi saran Bos, tapi lebih baik saya diam, daripada tak ada artinya bicara."
" Kamu punya saran apa?" Tanya Wijaya.
" Begini Bos, daripada kita berjalan jauh menuju rumah Bos, lebih baik kita istirahat di gubuk tengah sawah sebelah sana."
" Baiklah, Bon. Aku juga sudah mengantuk. Berulang kali aku hampir terjatuh tersandung batu karena mataku sudah setengah sipit. Ayo, Bon kita kesana."
" Oke, Bos."
__ADS_1
......................