SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEBAHAGIAAN BERUBAH JADI TANGISAN


__ADS_3

Akhirnya kesalahpahaman yang terjadi, membuat Vina dan Ayahnya kembali dekat. Sudah hampir satu tahun mereka terpisah, karena Wijaya memilih untuk tinggal di luar kota dan membawa adik Vina bersamanya.


Kini Vina merasa seperti hidup kembali. Di saat kesedihan melanda, Papanya datang untuk menemuinya. Hal ini membuat Vina yang hatinya terluka, mampu terobati dengan hadirnya Wijaya di dalam hidupnya.


" Papa, bagaimana keadaan Xena, adik Vina? kenapa Papa tak membawanya ke sini. Apa dia baik - baik saja?" Ucap Vina tiba - tiba.


" Dia baik - baik saja, Kamu tak perlu khawatir. Dia berada ditempat yang aman." Jawab Wijaya, sambil menepuk bahu Vina.


" Syukurlah kalau begitu, lalu kenapa Papa tak membawanya? Vina kangen padanya. Dia sekarang seperti apa? Apa sepertiku?" Tanya Vina penasaran.


" Ya... mirip sama kamu, mirip sama mama kamu juga. Kedua anak Papa tak ada yang mirip denganku."


" Tak mirip Papa juga tak apa kan, kenapa Papa kelihatan sedih begitu?"


" Tidak, siapa juga yang bersedih. Jika melihat kalian, Papa jadi teringat Mama kalian. Rasanya baru kemarin Papa bersamanya. Ternyata waktunya saja yang cepat berlalu." Ucap Wijaya lalu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Iya, memang sebentar kan. Papa selalu pergi dari rumah sendirian. Tidak pernah mengajak Mama pergi. Kalian tidak pernah pergi bersama kan, semenjak Papa mengenal perempuan lain. "


" Vina.. sudah jangan membahas itu lagi. Papa sudah melupakannya. Dan Papa hanya ingin hidup merawat kalian. Tidak akan pernah ingin mempunyai istri lagi sampai kapanpun. Cukup sekali saja seumur hidup Papa." Wijaya tersentak dan menghentikan Vina agar tak berkata lagi.


" Baiklah jika Papa tak ingin mengingatnya. Mudah mudahan Papa sadar dan tak mengulanginya lagi. " Ucap Vina lalu dia terdiam.


" Percayalah padaku. Kematian Mamamu cukup membuatku sadar. Aku merasa sangat kehilangan dia. Hanya dia satu-satunya wanita yang ku cintai.


Sampai sekarang pun aku masih berharap dia hidup lagi. Agar aku bisa meminta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan. Dosa Papa kepada Mama kamu sangat besar Vin.

__ADS_1


Papa tak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf kepadanya. Papa selalu gelisah, setiap kali memikirkan Mama kamu. Hidup Papa tak tenang. Makanya Papa selalu minum minuman keras agar bisa melupakan Mama kamu. Tapi Sulit rasanya untuk menghapus kenangan bersamanya.


Mama kamu sudah mendarah daging di hati dan pikiran Papa. Tak ada yang bisa menggantikannya. Meskipun dulu Papa bersama perempuan lain, namun hati dan pikiran Papa tetap untuk kalian. Bukan untuk perempuan itu." Ucap Wijaya berusaha meyakinkan Vina.


Vina yang masih duduk di sebelah Wijaya di anak tangga, hanya terdiam mendengarkan kata Wijaya. Dia tak tahu harus bagaimana. Di sisi lain dosa Papanya sangat besar. Tetapi di sisi lainnya lagi, Vina masih membutuhkan Wijaya untuk menemani hidupnya. Dia membutuhkan sosok orang tua agar bisa menuntun hidupnya.


Melihat Vina terdiam, Wijaya semakin merasa bersalah. Dia tahu Vina tak bisa mempercayai kata-katanya. Semakin Vina diam, semakin membuat Wijaya bingung. Dia tak menemukan kata apa yang baik, agar bisa di mengerti oleh Vina. Namun Semakin lama Vina terdiam, membuat Wijaya tidak nyaman.


Dia mencoba mengalihkan perhatian Vina, lalu berkata "Papa tahu kamu tak bisa mempercayai kata-kata Papa. Akan tetapi itu adalah hak kamu. Papa tak tahu harus bagaimana meyakinkan kamu kalau Papa sudah berubah."


" Berubah, mana buktinya kalau Papa berubah? Sebelum mengambil hati Vina, lebih baik Papa bersihkan dulu sifat buruk Papa." Ucap Vina dengan nada keras.


" Kamu bisa lihat kan, Papa sudah tidak kejam, Papa sudah tidak bermain perempuan, Papa tidak berjudi. Lihat Papa, bagaimana bisa kamu mengira Papa belum berubah?" Ucap Wijaya menggebu-gebu mendengar putrinya meninggikan suaranya.


" Maaf Vina, soal itu Papa belum bisa berhenti. Tapi Papa akan mencobanya. Papa sudah berjanji mulai hari ini tidak akan mabok lagi."


" Vina tidak percaya kata-kata Papa. Berapa kali Papa membual. Vina melihat sendiri Mama sering menangis karena Papa. Papa dari dulu seorang pembohong!" Emosi Vina semakin menggebu, Dia berteriak keras pada Wijaya.


Mendengar Vina berteriak dan kembali mengungkit masa lalunya, Wijaya menjadi hilang kendali.


" Plakkkk" satu tamparan Wijaya mendarat di pipi manis Vina.


" Kenapa, ayo tampar lagi, pukul Vina, kalau perlu bunuh Vina sekalian Pa." sambil memegang pipinya yang merah Vina terus memprovokasi Wijaya.


" Diam! Papa sudah berusaha sabar, tapi kamu terus berusaha membuat Papa marah. Apa kamu sudah bosan hidup?" Otak Wijaya semakin mendidih dan hilang kendali. Dia berkata kasar pada anaknya sendiri.

__ADS_1


" Ternyata Vina selama ini mengharap Papa itu hanya sia-sia. Papa bukan seperti orang tua Vina sendiri. Papa kejam, Papa jahat." Vina terus berteriak dan semakin membuat Wijaya hilang kesabarannya.


" Vina! Cukup.. Papa tak mau debat denganmu. Jika kamu tak menganggap Papamu ini orang tuamu, silahkan saja. Papa tak akan pulang kemari lagi. Kamu bisa hidup sesukamu. Papa tak akan melarang kamu melakukan apapun yang kamu suka." Ucap wijaya menyerah. lalu dia berkata lagi.


" Tapi ingat, jangan pernah mencari dan mengharap Papa lagi. Rumah ini akan menjadi milik kamu. Papa juga ingin memberimu uang." Dengan tubuh lemas, Wijaya mengeluarkan dua kardus ukuran sedang. Dua kardus itu berisi uang kira - kira dua milyar per kardus. Dia membuka kardus itu dan memperlihatkannya pada Vina.


Namun disaat Wijaya membuka kardus kedua,Vina berlari dan membuang kardus itu.


" Papa, ambil saja uang itu. Vina tidak membutuhkannya. Lebih baik Vina tinggal di surga bersama Ibu daripada menerima uang dari Papa."


" Jika kamu tak mempunyai uang, bagaimana kamu bisa makan?"


" Itu bukan urusan Papa. Papa tak perlu khawatir dengan Vina. Vina yakin, mampu hidup sendiri tanpa bantuan Papa."


" O iya jika Papa pergi, sampaikan salamku pada Xena. Katakan padanya bahwa kakaknya merindukannya." Setelah berkata, Vina lalu berlari menuju lantai atas. Dia membuka pintu kamarnya, dan menutup, juga menguncinya dari dalam. Hati Vina teriris mendengar kata-kata Papanya. Dia tak menduga hal yang tidak di inginkan, akan muncul di saat dia sudah bertemu Papanya.


Melihat Vina berlari ke kamarnya, Wijaya segera mengikutinya. Dia sadar perkataannya mungkin membuat Vina terpukul.


"Vina, Vina.. Maafkan Papa Nak, Papa kelewatan. Tidak seharusnya berkata demikian.


Namun dari dalam kamarnya, Vina tak mau mendengarkan perkataan Papanya. Hatinya sungguh sangat rapuh. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidupnya.


Disaat emosinya mulai stabil, dia memikirkan cara untuk mengakhiri hidupnya.Tak ada apapun di rumah yang bisa digunakan untuk mengakhiri hidupnya.


Kemudian Vina mencari ke dalam laci. Dia menemukan gunting besar. Sebelum akan mengakhiri hidupnya Vina menuliskan pesan singkat untuk Tasya dan Tanu.

__ADS_1


__ADS_2