
" Sya, tunggu dulu. Kamu belum cerita awal mula kejadian Vina mengalami kecelakaan."
" Eh iya, Tasya hampir lupa Om. Apa yang ingin Om ketahui?"
" Vina kecelakaan, kan. Kapan terjadinya dan dimana?"
" Kejadiannya, sebelum subuh Om. Dia mengalami kecelakaan tunggal, di jalan berlubang dua ratus meter dari rumah saya."
" Sebelum subuh? Memangnya dia mau kemana? Kenapa pergi keluar rumah jam segitu?"
" Tasya kurang tahu awalnya Om, tapi dilihat dari pesan untuk saya, Vina mau pergi ke rumah saya."
" Ada perlu apa? Kenapa tidak menunggu pagi saja?"
" Tasya tidak tahu Om, mungkin dia ingin membicarakan sesuatu hal yang penting."
" Vina, vina.. Kenapa juga harus sebelum subuh kamu menemui Tasya. Andai saja Papa dirumah, pasti Papa bisa mencegahmu."
" Om, Tasya minta maaf kalau lancang. Bukannya saya sudah kirim pesan pada Om, dan memanggil Om berulang-ulang. Apa Om lupa?"
" Kamu hanya kirim pesan memanggil namaku berulang-ulang. Tidak memberitahuku Vina kecelakaan karena apa dimana dan kapan. Namun aku penasaran kenapa kamu memanggilku berulang-ulang. Aku pikir, itu hanya kerjaan Vina saja untuk membuatku segera pulang ke rumah."
" Tasya itu sudah memanggil Om sudah hampir ribuan kali, seingat Tasya. Dan Tasya sudah kirimkan pesan tentang meninggalnya Vina, kapan dan dimana, juga sudah memberitahu Om, kalau Vina akan di makamkan. Namun saat Tasya hubungi, pernah beberapa kali telpon Tasya ditolak. Mungkin karena Om tidak mau diganggu, Om mematikan Hp Om."
" Apa? Aku tidak pernah menolak panggilan siapapun, dan aku tak pernah mematikan Hpku. Dan memang tak ada pesan yang memberitahuku kapan dan dimana Vina kecelakaan. Apalagi kapan pemakamannya, aku sama sekali tidak tahu. Aku baru tahu setelah kamu bilang kalau Vina sudah satu harinya meninggal. Aku pikir, itu hanya karena ingin aku segera pulang. Jadi aku tidak mempercayai itu."
" Bos, Hp Bos kan disita sama Bos besar. Jadi kemungkinan yang menolak dan menghapus pesan-pesan Tasya, itu Bos kita. Dan saat Bos besar kita memberikan Hp Bos kepada Bos, itu sudah dalam keadaan tidak aktif"
" Kamu benar, Bon. Apa jangan-jangan Bos kita sengaja menyembunyikan berita ini kepadaku?"
" Menurutku benar Bos, dia mulai tidak suka dengan Bos saat sering telpon dengan Vina. Menurutnya, Vina hanya pengganggu pekerjaan Bos.
" Tasya, pergilah. Sampaikan terimakasihku pada teman-temanmu, dan juga orang tuamu. Hati-hati dijalan, dan jadilah anak yang bisa dibanggakan." Pesan wijaya pada Tasya.
" Baik, Om. Nanti akan saya sampaikan pada Teman-teman Tasya juga kedua orang tua Tasya. Saya pamit dulu, Om."
" Iya Sya."
Tasya pergi meninggalkan Wijaya dan Bono, Ia kemudian melajukan motornya kembali ke rumah, untuk persiapan keberangkatannya ke luar negeri.
" Bon, kita harus kembali. Aku ingin memastikan apa benar Bos kita yang menghapus pesan Tasya kepadaku."
" Untuk memastikannya, kita tanyakan saja pada Tasya. Kita lihat pesan yang dikirim ke Bos, masih ada atau tidak."
" Kamu benar Bon, tapi kenapa tidak bilang dari tadi? Ayo kita ke rumahnya, sebelum dia pergi."
" Hehe, saya juga baru saja kepikiran Bos."
" Ayo Bon, tapi aku tidak tahu rumah Tasya."
" Aduh, apalagi saya, Bos."
" Sudah tak ada waktu lagi, ayo kita cari. pasti rumahnya tak jauh."
" Oh iya, saya baru ingat. Rumah Tasya letaknya di dua ratus meter dari tempat Vina mengalami kecelakaan Bos. Kalau tempatnya, saya tahu."
" Kalau begitu tunggu apalagi Bon, ayo sebelum dia susah ditemui."
" Baik Bos."
Wijaya berlari cepat, namun dia tak menggunakan kekuatannya. Jarak dibawah tiga puluh kilo baginya, tidak ada apa-apanya, jika berlari tanpa menggunakan ilmunya.
Bonopun mengikuti Wijaya berlari. Dia mampu mengimbangi langkah kaki Bosnya.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka mampu menemukan rumah Tasya. Di halaman depan rumah, motor Tasya terparkir. Wijaya masuk disusul oleh Bono dibelakangnya.
" Bon, ketok pintunya "
" Baik, Bos."
" Tok tok tok.."
" Sebentar.." Sahut orang yang berada di dalam rumah.
Tasya membuka pintu.
" Eh, Om.. Kok bisa tahu rumah Saya? Om mengikuti saya?"
" Kami hanya lewat, dan kebetulan kami tahu rumah kamu, karena ada motor kamu yang terparkir di halaman."
Tasya melihat keluar, dia tak melihat Wijaya dan Bono menaikki kendaraan.
" Om berdua naik apa kesini? Kenapa cepat sekali sampai rumah saya. Padahal, Tasya baru saja tiba dirumah."
" Kami numpang mobil lewat Sya. Temanku ini tahu letak dimana Vina kecelakaan, dan rumahmu kan dua ratus meter dari tempat Vina mengalami kecelakaan. Kami akhirnya mengikuti petunjuk itu. Dan berhasil menemukan rumahmu."
" Oh, begitu. Terus Om berdua mau apa?"
" Begini Sya, aku mau lihat, apakah pesan yang kamu kirimkan kepadaku masih kamu simpan?"
" Masih, Om. Sengaja Tasya simpan untuk bukti kalau Tasya sudah mengirim pesan dan telpon Om berulang-ulang."
" Kalau begitu, mana Sya? Aku mau lihat."
" Baik Om, Tasya ambil Hp dulu." Tasya mengambil Hp dari sakunya. Dia kemudian membuka menu pesan, lalu meberikannya pada Wijaya.
" Jadi ini semua pesan yang kamu kirim?"
" Terima kasih Sya, kami pergi dulu. Ayo Bon, kita kembali."
" Sama-sama Om, kalau begitu Tasya masuk dulu ya. Ini sudah sore, Tasya mau kemasi barang-barang Tasya dulu."
" Silahkan Sya."
Tasya masuk kerumahnya, namun dia merasa tidak enak, tidak mempersilahkan Papa Vina masuk. Setidaknya memberikannya minuman. Lalu ia berbalik menghampiri Wijaya dan Bono. Dia terkejut setengah mati, belum ada tiga detik, ia meninggalkan Wijaya dan Bono, namun mereka sudah tidak ada ditempatnya. Tasy berlari ke halaman dan melihat ke arah jalan, Wijaya dan Bono tidak terlihat sama sekali. Tasya merasa tubuhnya merinding. Dia berlari masuk kerumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.
" Bon, kita harus cepat! Aku sudah tidak tahan! Wijaya berlari secepat angin melesat, kembali ke kediaman Bosnya di luar kota.
" Kenapa Bos? Kenapa tiba-tiba Bos marah besar seperti itu?" Tanya Bono, sembari berlari mengikuti Wijaya.
" Aku sudah tahu Bon, Bos kita memang b******n! Dia sengaja menghapus pesan- pesan penting dan tak memberitahuku saat aku sedang bertugas. Namun saat aku sudah selesai, dia memberikan Hpku. Aku tak bisa memaafkannya!
" Jadi benar dugaan saya Bos, dan saya sudah pernah bilang. Bos kita tidak memandang kita kawan atau saudara. Kelak dia akan membuat kita seperti musuhnya. Kejam!"
" Aku tak bisa menahan amarahku Bon, Ini sangat keterlaluan. Seharusnya saat putriku membutuhkanku, aku ingin sekali pulang, tapi Bos melarangku. Bahkan dia sampai menyita Hpku. Tunggulah kamu Rendra, kamu akan bernasib sama sepertiku. Aku akan membunuhmu dan seluruh keluargamu! Camkan itu Rendra! Haaa!!" Sambil berlari kencang, Wijaya berteriak tak bisa mengotrol emosinya. Lajunya semakin cepat, seiring kekuatannya meningkat, saat emosinya meninggi.
" Aduh, gawat. Bos sudah mulai tidak bisa dikendalikan lagi. Bagaimana ini?" gumam Bono dalan hati.
"Bon! Ayo lebih cepat lagi! Atau kamu akan kutinggal."
" Baik Bos, saya sudah berusaha mengikutimu sejauh yang saya mampu."
" Tambah kecepatanmua Bon! Sejauh yang kamu bisa."
" Iya, akan saya coba Bos"
Wijaya dan Bono berlari secepat angin melewati hutan belantara dan pegunungan. Mereka mengambil jalur yang sama saat mereka kembali ke rumah Wijaya.
__ADS_1
" Bos, apa kita akan melewati jalur yang sama?"
" Ya, hanya itu jalur teraman." Jawab Wijaya.
" Bagaimana dengan mobil-mobil polisi itu? Apakah mereka sudah menemukan bangkainya?"
" Seharusnya sudah, asap yang terbakar pastinya mengundang perhatian orang, Bon."
" Lalu, apa kita harus lewat jalan itu lagi Bos?"
" Tentu saja Bon, itu jalan tercepat dan jalan teraman dari gangguan, kamu tak perlu khawatir."
" Bagaimana kalau Bos kita menemukan kita terlebih dahulu, dan siap membunuh kita Bos?"
" Aku sudah pikirkan itu Bon, sudahlah. Kamu tak perlu banyak bertanya. Diam dan ikuti saja perintahku."
" Baiklah Bos." Bono seketika diam. Dia tak ingin mengganggu mood Bosnya yang sedang mengumpulkan amarahnya agar mampu melawan Rendra.
" Sedikit lagi kita akan sampai Bon, aku sudah tak sabar menghajarnya. Rendra, tunggu aku!"
" Bos, kita akan menghadapi banyak sekali teman-teman kita. Apa Bos yakin mampu mengalahkan mereka hanya berdua?"
" Sebagian dari mereka berpihak kepadaku Bon, kamu tak usah khawatir. Aku bisa menghadapi ini semua. Hanya cara mengalahkan Rendra, aku masih belum tahu. Terakhir, dia mampu menyempurnakan ilmu berubah wujudnya. Kita harus mewaspadai itu Bon."
" Berubah wujud? Maksudnya bagaimana Bos?"
" Dia mampu merubah wujudnya menjadi apapun yang dia suka. Bahkan dia mampu merubah dirinya menjadi senjata yang berbahaya."
" Tak ada yang mampu mengalahkannya saat dia berubah wujud. Aku sendiri mungkin takkan sanggup. Tapi aku yakin, setiap kekuatan, pasti ada kelemahan dan resikonya. Dan aku akan menemukan kelemahan itu saat bertarung melawannya."
" Baiklah Bos, saya percaya sepenuhnya pada Bos. Saya akan membantu Bos saat terdesak."
" Tidak! Aku tak ingin pertarunganku dengannya, menjadi terganggu. Aku yang akan mengalahkannya, dan aku yang akan mengambil alih kekuasaannya."
" Baiklah kalau itu maunya Bos, saya tidak ingin ikut campur. Tapi saat Bos kalah dan terdesak, saya tak ada pilihan lain selain menarik Bos menjauh dari pertempuran."
" Bon, itu takkan terjadi. Percayalah padaku. Jika aku bertarung dengannya bisa membuatku mati, aku akan berikan semua hartaku untukmu Bon."
"Tak perlu Bos, saya sudah mendapat bagian yang banyak dari Bos. Iya, saya tidak akan meragukan kemampuan Bos lagi. Kita harus bisa mengalahkannnya, dan memberikan kebebasan bagi kawan-kawan kita, yang berpihak dengan kita."
" Jadi begitu, saat aku bisa mengalahkannya, aku takkan memperlakukanmu seperti Rendra memperlakukanku Bon. Aku berjanji. Kamu seperti keluargaku sendiri. Setialah kepadaku, walaupun jalan kita hitam."
" Bos, walaupun saya sempat dendam pada Bos karena Bos berkata pada saya, bahwa Bos yang membunuh kedua orang tua saya, namun saya tidak mempedulikan itu. Saya yakin bukan Bos yang membunuh orang tua saya."
" Bon, memang bukan aku yang membunuh mereka. Tapi Rendra sendiri dan anak buahnya. Pada saat itu aku hanyalah orang bawahan yang tak mempunyai apa-apa. Namun pada saat kejadian, aku ada di tempat itu. Aku yang membereskan mayat orang tuamu."
" Rendra! kamu akan membayarnya.. tunggulah aku!" Mendengar kata-kata Wijaya, Bono menjadi naik pitam. Dia berteriak lalu mencaci Rendra.
" Bon! Urusan Rendra akan jadi urusanku. Kamu bunuh saja anak buah yang setia kepadanya."
" Tapi Bos, bukan Bos sendiri yang dendam kepadanya. Dia juga telah membunuh orang tua kandung saya.Saya tidak terima, dan seumur hidup saya bersumpah, akan membunuhnya saat bertarung melawannya."
" Tidak ada kata tapi, turuti perintahku, maka kamu akan selamat."
" Baiklah, Bos. Mungkin kemampuan saya masih kurang dibanding dengan Bos, maafkan saya Bos."
Wijaya menghentikan langkah kakinya. Dia menghadang Bono yang berlari mengikutinya. Bono pun ikut berhenti tepat di depan Wijaya.
" Bon, Si Br*****k itu bukan lawan yang sebanding denganmu, aku tak mau kamu mati sia-sia ditangannya."
Bono hanya terdiam, dia menoleh ke arah lain. Sepanjang hidupnya, dia telah menghabiskan banyak waktu untuk berlatih. Namun justru Wijaya sebagai pemimpin, tidak percaya dengan kemampuannya."
......................
__ADS_1