
" Kamu sudah sadar Vin? " Tanya Tanu dan memastikan Vina sudah dalam keadaan baik atau belum.
" Vina masih lemas Pak. " jawab Vina lirih. Dia merasa seperti dalam mimpi, dan berkali kali mengusap matanya.
" Kamu bisa jalan sendiri? " Ucap Tanu dan menurunkan Vina dari gendongannya.
" Akan Vina coba Pak.. " Vina mulai berjalan pelan. Tanu mengikutinya dari belakang. Baru tiga langkah jalan, kakinya terkilir dan hampir terjatuh. Untung saja Tanu siap siaga menangkap tubuhnya.
" Aduh.. Aww.. sakit.. " Vina mengaduh kesakitan.
" Sudah jangan di paksakan lagi kalau nggak sanggup jalan sendiri. Bapak akan memapahmu. Tapi sebelumnya Bapak akan lihat kakimu dulu yang terkilir. Siapa tahu bapak bisa mengobatinya." Tanu mengecek kaki Vina yang terkilir, dia berusaha mengurut pergelangan kakinya.
" Aduhh.. pelan-pelan Pak.. " Vina merintih kesakitan.
" Iya ... Ini baru saya lihat dulu sakitnya, belum Bapak pijit. "
Mata Vina terus tertuju pada Tanu. Dia merasakan kehangatan di dekat Tanu. Apalagi saat ini mereka hanya berdua di tempat itu. Rasa sakit hilang seketika. Sungguh ajaib hanya dengan berada di dekat Tanu saja mampu mengobati luka dan lelah jiwa dan raganya. Hati semakin bergetar saat Tanu tiba - tiba melihat ke arahnya.
" Bagaimana sekarang ? Sudah mendingan belum kakinya ? " Tanya Tanu pada Vina yang masih terus menatap ke arahnya.
__ADS_1
Vina hanya terdiam, dia tetap saja memandang Tanu tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Tanu tidak nyaman.
" Sepertinya Vina menyukaiku.. Ini nggak wajar. dari tadi dia menatap ke arahku. Ahhh.. tidak tidakk.. ini tidak mungkin.. Ini tidak boleh terjadi." Gumam Tanu dalam hati. Dia mencoba membangunkan lamunan Vina.
" Ehemm... " Tanu mendehem, berharap Vina berhenti menatapnya.
" Uhuk uhuk uhukk.... " Niat hati mau mendehem akan tetapi Tanu malah benar-benar terbatuk. Hal ini membuat Vina terbangun dari lamunannya dan malah semakin mendekati Tanu.
" Eehh.. Pak Tanu kenapa Pak? " Tanya Vina kaget lalu memegang wajah Tanu dengan kedua tangannya. Kini wajah Vina dan Tanu semakin dekat. Vina seperti ingin mencium Tanu. Namun Tanu langsung berdiri menghindari keinginan Vina.
" Emm.. Bapak tidak apa - apa Vina. Ya sudah kalau kamu sudah baikkan, lebih baik segera pulang. " Ucap Tanu dengan suara gemetar.
Tanu bingung melihat sikap Vina yang seperti itu, pikirannya menjadi tidak karuan. Rasa khawatir dan takut muncul di benaknya." Bagaimana jika Vina benar menyukaiku, sedangkan dia baru kelas xi... Kenapa ada murid perempuan yang menunjukkan perasaanya padaku meskipun baru menunjukkan sikap. Apa yang harus ku lakukan? Dia tahu aku sudah tak muda, sudah berkeluarga. tetapi sorot matanya menginginkanku menjadi bagian hidupnya. "
" Vina sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Tidak baik kita berduaan di tempat sepi. Mari kita segera pulang. "
Vina meraih kaki Tanu lalu berkata," Pak Vina mohon temani Vina dulu." Vina tetap saja merengek.
" Baiklah, tapi sebentar saja ya." Tanu kembali duduk di depan Vina.
__ADS_1
Namun Vina tak bisa terima itu, Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tanu. Dan dia pun mencoba merangkulnya.
Sementara itu di pos Satpam Bagus merasa gelisah. Kenapa pak Tanu dan Vina belum juga keluar dari tempat parkir.
Pikiran buruk merasuk ," Apa jangan - jangan terjadi apa apa dengan mereka. Apa sebaiknya aku susul saja mereka. Ini wilayah tanggung jawabku. Jika ada sesuatu yang nggak baik, aku yang bertanggung jawab."
Bagus ingin sekali menyusul mereka ke parkiran, tapi dia membatalkannya." Biarlah ku tunggu sampai lima menit lagi, kalau nggak keluar akan ku ikuti mereka. " Bagus bicara sendiri. Namun baru saja selesai bicara, kesabarannya habis. Dia memutuskan untuk menyusul Vina dan Tanu segera.
Bagus berlari menuju parkiran. Pikirannya semakin nggak beraturan. Parkiran yang terletak di paling belakang area sekolah, tidak menutup kemungkinan jika di jadikan tempat untuk hal yang tidak - tidak.
Tiba di parkiran, Bagus menemukan Tanu dan Vina sedang berduaan. Mereka duduk berhadapan dan berdekatan. Tubuh Bagus terasa seperti terbakar. Dia tidak terima melihat semua ini. Namun dia tidak mempunyai hak untuk menegur mereka. Sudah biasa Guru dan Murid saling menyukai. Bagus tidak bisa berbuat apa - apa. Lidahnya kelu, tetapi dia mulai memberanikan diri untuk memanggil mereka.
" Vina.. Pak Tanu... "
Tanu terkejut setengah mati, lalu menjauh dari Vina. Tanu menjadi merasa bersalah.
" Pak Bagus..., Eh maaf ini tadi Vina jatuh pingsan di sini. Saya hanya mau menolongya. Saat ingin saya bawa, dia tersadar. Lalu saya menurunkannya, Ketika saya coba suruh dia jalan sendiri, baru tiga langkah dia terjatuh. kakinya terkilir. Saya coba memijit kakinya. Syukurlah sekarang kakinya sudah tidak apa apa. " Tak ingin Bagus salah paham Tanu menjelaskan kronologi kejadian dengan lengkap.
Namun Bagus tak ingin mendengar omong kosong Tanu. Bagus berpikir, siapa yang nggak suka dengan cewek yang cantiknya melebihi bidadari. Pinter, kaya, sopan, lembut. Rasanya hidup sempurna banget.
__ADS_1