SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
HIDUPKU SUDAH TAK SEPI LAGI


__ADS_3

" Nov, aku selalu bilang pada diriku sendiri dan mendiang istriku. Aku akan setia padanya. Namun jika akhirnya aku menikah denganmu, apakah aku berdosa, karena melanggar janjiku?"


" Istri Anda sudah tiada, apakah Anda akan terus setia padanya? Anda masih membutuhkan pendamping hidup di dunia ini. Jika hidup sendirian bagi Anda tidak menjadi masalah, sebaiknya lupakan saja keinginan untuk menikah. Namun jika Anda tak sanggup hidup sendiri, lebih baik segera mencari pendamping hidup Anda. Lagipula anak-anak Anda juga sudah tiada. Selagi masih belum lanjut usia, segeralah menikah lagi."


" Baiklah Nov, kini aku mendapat ketenangan. Aku akan mempersiapkan semuanya."


Novi tersenyum lalu berkata, " tidak perlu terburu-buru, sebaiknya kita fokus mengelola restoran ini dulu. Kita perlu memperbesar bangunan dan halamannya. Lama kelamaan, pengunjung banyak yang datang. Tidak hanya tempat duduknya saja yang kurang, tempat parkirnya juga masih perlu perluasan."


" Kamu benar Nov, tapi aku.." Wira terdiam, dia ingin mengatakan sesuatu. namun akhirnya Wira membatalkannya.


" Anda sudah tak sabar dengan malam pertama?" Ucap Novi.


Wira terkejut, Novi mampu membaca pikirannya.


" Eh, darimana kamu tahu aku memikirkan itu Nov? Kamu tak mempelajari ilmu membaca pikiran, kan?"


" Saya bukanlah orang yang pandai. Mempelajari ilmu itu sangatlah susah. Tapi soal tadi, saya hanya menebak saja. Saya yakin, Anda tersiksa dengan hasrat Anda, kan?"


" Novi, aku tak percaya kamu bisa menebakku. Aku sudah diam dan tak ingin mengatakannya kepadamu. Tapi ternyata kamu sendiri yang mengatakan, kalau aku memang sudah tak tahan."


" Pak Wira, seberapa besar hasrat Anda pada saya? Saya tidak cantik, kadang kasar, dan saya hanya bawahan Anda. Kenapa Anda tetap ingin menikah dengan saya? Sementara di luar sana, banyak Wanita yang lebih cantik, hebat dan kuat daripada saya."


" Novi, aku jadi malu mengatakannya kepadamu. Soal ini tolong jangan dibahas dulu. Aku ingin ngobrol yang santai denganmu."


" Tapi sekarang sedang ramai Pak, mungkin setelah restoran ini tutup, kita bisa mengobrol dengan bebas."


" Benar juga Nov, aku ingin kamu menemaniku seperti waktu itu."


Novi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu dia pergi meninggalkan Wira dan bergabung dengan anak buahnya membantu melayani tamu.


" Bil, sini aku bantu bawakan minumnya." Novi menawarkan bantuan pada Nabila yang kewalahan, membawa nampan berisi banyak minuman dalam gelas.


" Eh, biar saya saja Bu yang bawa. Saya masih sanggup kok."


" Tidak apa-apa. Aku harus banyak membantu mulai hari ini. Agar pengunjung yang beli, tidak menunggu lama pesanannya."


" Serius Bu, biar saya saja. Saya yang tahu mana meja yang memesan minuman-minuman ini."


" Kamu beritahu aku saja, di meja mana yang memesannya Bil."


" Nanti Bu Novi akan kebingungan kalau saya beritahu. Soalnya, dari dua puluh gelas minuman ini terbagi menjadi enam meja."


" Jadi bukan satu meja ya Bil?"


" Bukan Bu, ya sudah kalau begitu saya mau mengantarkan ini dulu bu."


" Eh, Bil, bil.. Baiklah, kalau begitu kamu yang bawa, aku membantu yang menyerahkannya pada pemesan."


" Baiklah, kalau Bu Novi maunya seperti itu. Ayo Bu, sekarang saja kita melayani mereka. Takutnya mereka tak sabar lalu marah-marah pada kita."


" Ayo Bil."

__ADS_1


Kecekatan dan keterampilan, juga keramahan yang dibawakan oleh Novi dalam melayani para pengunjung, membuat Novi mendapatkan banyak pujian dan sanjungan. Terutama para Orang tua yang mempunyai anak laki-laki yang masih bujang.


" Mbak, kamu cantik sekali. Cekatan juga dalam bekerja. Apa kamu karyawan baru yang masih training? Kenapa kamu mengenakan baju putih dan rok hitam, berbeda dengan pelayan yang lain." Sapa seorang Ibu-ibu, yang usianya sekitar delapan puluh tahunan.


" Maaf Ibu, mbak yang Ibu maksud ini, manajer saya. Dia membantu kami bekerja, karena salah satu teman kami sedang cuti. Sebab banyak pengunjung yang datang, kami kewalahan, dan akhirnya Bu manajer ini bersedia membantu kami."


" Oh, jadi ini manajernya. Cantik sekali, pasti anak saya senang sekali mempunyai istri seperti kamu. Kapan-kapan boleh tidak, Ibu mengenalkan anak saya dengan kamu?"


Novi hanya tersenyum, kepalanya menunduk. Membuat aura kecantikkannya terpancar begitu jelas.


" Bu, Ibu manajer ini sudah mempunyai calon Pendamping hidup. Jadi anak Ibu, biar buat saya saja." Karena Novi terdiam, Nabila yang menggantikan Novi bicara.


Novi menyikut lengan Nabila, agar jangan sampai, Nabila berkata lebih tentang rahasianya.


Nabila menjadi tak enak hati dengan Novi. Dia telah kelepasan berbicara dengan orang yang sama sekali belum ia kenal.


" Wah, sayang sekali. Padahal Ibu terlanjur suka denganmu. Tapi ya sudah tidak apa-apa, mungkin belum saatnya anakku mendapatkan jodohnya."


" Bu, anak Ibu orangnya seperti apa? Ganteng atau tidak? Kalau ganteng, saya siap menjadi menantu Ibu." Ucap Nabila semakin berani.


" Eh, maaf dek. Bukannya ibu menolak.Tetapi anak saya suka dengan cewek yang tinggi, putih dan langsing seperti mbak ini. Sekali lagi maaf, bukannya menghina, tapi terus terang, anak saya suka dengan wanita yang kriterianya ada pada mbak ini."


Novi semakin memerah wajahnya mendengar Ibu itu semakin memujinya. Namun dia tak enak dengan Nabila. Karena keberaniannya, dia malah mendapatkan malu.


Setelah selesai mengantarkan minuman pada ibu itu, Novi berkata dengan Nabila lirih sambil berjalan.


" Bil, lain kali jangan seperti itu, kamu bisa dibuat malu oleh mereka yang menanggapimu. Untung saja, Ibu itu tidak menghinamu dan mempermalukanmu didepan banyak orang."


" Maaf Bu, saya keceplosan. Sebenarnya hanya membantu ibu menjelaskan yang sebenarnya, tapi entah mengapa saya menjadi seperti, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi."


" Haha, saya tidak pernah pacaran Bu. Saya jera. Dulu sewaktu saya masih sekolah, banyak cowok yang mengutarakan cintanya pada saya. Mungkin karena saking polosnya, saya menerima cinta cowok yang lebih duluan mengutarakan cintanya pada saya."


" Bila, ceritamu sepertinya seru. Ayo kita cari tempat yang tidak banyak orang."


" Eh, sebenarnya saya tak mau cerita Bu."


" Ceritakan saja, Bil. Aku akan mendengar ceritamu."


Sebelum Nabila bercerita, Wira mendatangi mereka.


" Nov, Bila, apa yang sedang kalian lakukan? Kini bertambah tiga pengunjung lagi yang datang. Mereka semua membawa keluarga. Bantu teman kalian menyajikan makanannya."


" Baik Pak" Ucap Novi dan Nabila bersamaan.


Ketika Novi melewati Wira, tangan kanan Wira menarik bahu kanan Novi. Lalu Novi menghentikan langkahnya.


" Ada apa lagi Pak?" Novi merasa heran.


" Novi, aku lihat kamu banyak sekali mendapatkan pujian dari banyak pengunjung. Apa ada yang menawarimu?"


" Menawari apa maksud Anda?" Tanya Novi karena merasa tak paham dengan pertanyaan Wira.

__ADS_1


" Eh, maksudku apa ada yang menawarimu menjadi asisten pribadi, atau.."


" Jangan bicara berbelit-belit. Maksud Anda menjadi menantu atau istri pengunjung begitu?"


Wira tersenyum malu. Dia mengusap kepalanya lalu menganggukkan kepalanya.


" Pak Wira, Anda tak perlu khawatir. Saya tidak pernah tergoda oleh bujukan siapapun kecuali Anda. Memang banyak yang meminta saya menjadi menantunya. Ada juga orang tua tak tahu diri yang meminta saya menjadi istri ketiganya. Tapi, hati saya sudah ada yang mengisi. Dia orang yang selama ini sangat berarti dalam hidup saya. Saya berhutang besar padanya. Dan pada akhirnya, meskipun saya mencoba mencari cinta diluar sana, hati saya tetap jatuh pada orang itu."


Wira senang mendengar ucapan Novi tentang keteguhannya memiliki seorang kekasih. Namun hatinya gelisah saat Novi tak menyebutkan nama, orang yang dia maksudkan.


" Novi, apakah orang yang kamu maksud itu aku? Atau orang lain?"


" Hehe, penasaran ya?" Ucap Novi sambil mencubit hidung Wira, lalu meninggalkan Wira dengan senyuman manja.


" Novi.. Aku mencintaimu." Panggil Wira lalu mengatakan sesuatu yang sering Novi dengar dari Cowok lain pada masa itu.


Novi berhenti dan menoleh kemudian dia tersenyum pada Wira,


" Ternyata Anda bisa gombal juga ya Pak. Tapi saya tak tertarik. Saya hanya mau bukti, bukan sekedar kata."


" Iya, aku akan membuktikannya Nov, tunggu saatnya nanti. Aku janji akan menjadi seperti apa yang kamu inginkan."


Novi hanya menoleh sedikit mendengar Wira akan membuktikan kesungguhannya. Lalu dia pergi ke dapur membantu membuatkan pesanan tamu bersama dengan anak buahnya.


" Novi, angan-anganku yang dulu kini akan terwujud. Aku tak perlu jauh-jauh mencari tambatan hati. Mungkin kamulah wanita yang diutus Tuhan untuk menggantikan Dinda, Nov. Aku harus memberitahu adikku, Rani. Dia pandai memasak. Aku akan memintanya memasak hidangan untuk pernikahanku nanti." Ucap Wira dalam hati.


Lalu dia membuka Hpnya, untuk menghubungi Rani. Berkali-kali ia menghubungi, namun Rani tak menjawab panggilannya.


" Kemana Rani, mengapa telponku tak dia angkat. Ya sudah lah. Nanti atau besok akan ku temui dia di rumahnya saja. Sehingga aku bisa leluasa membicarakannya. Tapi, tidak.. Aku harus segera ke rumahnya. Jika aku menunda terus, pekerjaanku akan berantakan. Lebih baik aku segera kesana. Siapa tahu kalau ditunda-tunda, malah akan semakin beresiko. Baiklah, aku akan segera kesana. Tapi aku harus bilang Novi dulu.


"Dreett Dreeeet.." Hp Novi bergetar, Ia lalu mengambil Hpnya.


" Halo Pak, ada apa memanggil saya?" Tanya Novi di dalam telpon.


" Nov, aku akan pergi dulu. Jaga restorannya ya. Kalau sudah melebihi target, tutup saja dahulu restorannya. Besok buka lagi." Ucap Wira.


" Baik Pak, Anda mau kemana?"


" Aku ada urusan diluar sebentar Nov, nanti aku akan kembali lagi."


" Sama calon istrinya, ditanya serius, dijawab begitu? Serius mau nikah sama saya atau tidak?"


" Hahaha.. Baiklah. Aku akan bicara terus terang. Aku mau ke tempat adikku Nov. Dia pandai memasak. Saat penikahan kita nanti, aku ingin dia yang memasak untuj hidangan perjamuan. Karena masakannya terlalu lezat."


" Mau berangkat sendiri?" Apa saya tak berhak mengenal adik Anda?"


" Hehe, marah ya? Baiklah, Nov. aku akan mengajakmu. Nanti disaat-saat restoran ini mulai sepi, Kamu suruh saja teman-temanmu untuk menutup restorannya. Kita akan kesana jam tiga saja."


" Nah ini yang saya mau, masa calon istrinya mau dibiarkan sendirian."


" Ya sudah, kamu bereskan dulu pekerjaan kamu lalu segera ikut aku."

__ADS_1


" Iya sayangku."Ucap Novi sembari tersenyum-senyum sendiri.


Hati Wira berbunga-bunga mendengar kata sayang dari Novi. Ia semakin tak tahan untuk memilikinya sepenuh hati. Dalam hati ia berkata, " Hidupku sudah tak sepi lagi."


__ADS_2