
Di saat orang-orang bingung mencarinya. Tama malah terlihat asyik tidur di rumah rahasianya. Ia tak pernah mengira, pelariannya menimbulkan kekhawatiran orang lain terhadapnya.
Pukul tujuh pagi, ia terbangun. Mimpi buruklah yang membangunkannya. Ia lalu duduk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
" Ayah.. Ibu.. Kakak.. Rama.. Sepertinya kalian sudah saling bertemu. Hanya aku yang masih sendiri disini. Kata Paman, aku masih punya tanggung jawab melanjutkan mimpiku. Tapi aku tak tahu, mimpi apa yang ingin ku raih." ucap Tama sembari memegangi dan mengusap perutnya berulang kali.
" Aku lapar sekali. Aku ingin makan. Tapi tak ada makanan disini. Kemana aku akan mencari. Apa aku akan meminta pada orang?" ucap Tama lagi.
Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya. Dan segera membuka pintu untuk melihat keadaan diluar.
" Ah.. Sudah pagi. Aku harus mencari makan. Aku sudah tidak tahan."
Setelah dirasa aman, Tama keluar sambil berlari kecil mengambil jalan setapak ke arah Lereng Bukit Barat. Bocah kecil itu berjalan sendirian tanpa rasa takut mengikuti kemana jalan itu akan berakhir.
Di perjalanan ia menemukan sebuah mangga yang jatuh dari pohonnya. Ia memungut lalu memakannya.
" Mangga ini enak sekali.. Tapi aku hanya mendapatkan satu."
Usai memakan habis mangga itu, Tama melanjutkan perjalanannya. Kali ini langkahnya semakin cepat karena perutnya sudah terisi. Meskipun begitu, ia tetap melanjutkan perjalanannya untuk mendapatkan nasi dan lauk untuk persediaan makan sore nanti.
Beberapa menit kemudian, mendung datang bergulung-gulung. Suara petir mulai terdengar menyambar-nyambar. Tama ketakutan lalu bersembunyi dibalik semak-semak.
" Ayah.. Ibu.. Aku takut. Kenapa suara itu selalu datang. Tolong aku, aku mau mencari makan. Aku lapar, tak ada yang memberiku makan." ucap Tama, lalu ia menangis karena merasakan apa yang dia alami dalam kesendiriannya.
" Tuhan.. Aku ingin bertemu orang tuaku. Hanya mereka yang aku inginkan. Aku tak berharap bertemu orang lain selain mereka. Aku masih ingin hidup bersama mereka."
Hujan turun dengan lebatnya. Tama masih bersembunyi di semak-semak. Pohon kecil di dekatnya yang tak berdaun lebat, tak mampu memayungi tubuh Tama. Ia pun kebasahan dan menggigil.
...----------------...
__ADS_1
" Apa?! Tama melarikan diri.. Bara, jangan mengada-ada. Mana mungkin dia bisa melakukan itu." ucap Bono yang telah mendapat kabar melalui telpon dari Bara, tentang hilangnya Tama.
" Benar, Bon.. Aku juga tak habis pikir. Kenapa Bocah itu sudah berpikiran seperti orang dewasa. Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana aku mengatasinya. Tapi saat ini aku khawatir, dia kenapa-kenapa."
" Baiklah, aku akan kesana lalu kita akan mencarinya bersama-sama."
Bono menutup telponnya lalu bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak lupa ia mencium kening istrinya dan anaknya sebelum pergi.
Dua puluh menit kemudian Bono tiba di rumah sakit. Dengan segera ia memarkirkan mobilnya dan keluar dengan tergesa-gesa, menghampiri Bara yang sudah berdiri menunggunya.
" Bara.. Kemana kita akan mencarinya? Apa kamu dapat petunjuk?"
" Kalau menurutku, kita mencari mulai dari jalan samping rumah sakit ini. Aku tak tahu bocah itu menuju kemana. Yang jelas, jalan itu buntu. Tapi, menurut kata orang ada jalan kecil yang bisa dilalui untuk pergi ke hutan."
" Oh, iya.. Aku tahu jalan itu. Itu menuju ke rumah Pak Tanu. Saat membawa mendiang Bi Arti,aku melewati jalan itu. Tapi disana tak ada lampu penerangan sama sekali. Mustahil Tama melewati jalan itu."
" Jaga ucapanmu, Bar. Kita tidak boleh berpikiran buruk. Jika sampai dia kenapa-kenapa, aku tak akan pernah memaafkan diriku."
" Ah, maafkan aku. Kalau begitu, ayo sebaiknya kita mencarinya sekarang juga. Beberapa warga sekitar sini juga sedang mencarinya. Namun sejauh mereka mencari, mereka tak juga menemukannya."
" Ahh.. Bagaimana ini. Pak Tanu, Saya memang tidak becus menjaga putra Anda. Saya berharap bisa menemukannya dan mendidiknya dengan baik. Ini yang terakhir saya kehilangannya. Jika saya berhasil menemukannya, saya tak akan pernah melepaskannya dan membiarkannya keluar sendirian." Keluh Bono.
" Sudahlah.. Jangan begitu, ini juga kesalahanku. Aku lalai sehingga bisa kecolongan. Kamu tak perlu mengungkapkan perasaanmu. Semakin kamu berkata begitu, aku merasa semakin bersalah."
" Tidak, Bar.. Aku yang seharusnya disalahkan. Seharusnya aku yang menjaganya, bukan kamu. Tetapi aku malah terlihat senang karena sudah ada Khalid dirumahku. Aku sampai melupakan Tama. Bocah yang seharusnya aku lindungi."
" Ini sudah terjadi. Sudahlah.. Lupakan saja. Sekarang kita harus fokus mencarinya. Lebih baik kita berpencar atau bersama-sama?"
" Lebih baik kita bersama-sama saja. Hutan ini sangat luas. Kau belum terbiasa melewati hutan, kan?"
__ADS_1
" Tentu saja. Jika kita masuk kesana,ini adalah pengalaman pertamaku."
" Baiklah, aku takut jika berpencar kau malah tersesat. Aku akan mencarikan jalan yang lebih nyaman untukmu."
" Siap... Aku tahu kau seorang petualang. Menyusuri hutan pasti bukan pekerjaan yang sulit bagimu."
Usai berkata, Bara dan Bono segera menyusuri jalanan setapak menuju ke hutan. Suara burung dan hewan liar meramaikan suasana di sekitar hutan itu. Bono yang sudah terbiasa keluar masuk hutan saat berpetualang bersama Wijaya, dengan gesitnya melewati hutan belantara itu. Sementara Bara mengikutinya dengan penuh rasa was-was karena takut Bono melakukan kecerobohan sehingga membuatnya ikut celaka.
...----------------...
Masih disekitar Lereng Bukit Timur, sekitar tiga ratus meter dari rumah Tama. Tama masih duduk terdiam di semak-semak dan menunggu hujan reda. Tubuhnya menggigil karena hujan telah membasahi seluruh tubuhnya.
Suara petir yang seperti memecah gendang telinga membuatnya tak bisa berkutik. Ia sangat takut dan tak berani keluar dari persembunyiannya.
Hingga tiga jam berlalu, hujan berangsur reda. Tama berdiri lalu keluar dari persembunyiannya. Ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke arah Barat, namun ia khawatir hujan akan datang lagi dan membuatnya takut.
Ia lalu memutuskan untuk kembali kerumahnya. Dengan tangan hampa, ia pulang tak membawa apa-apa selain pakaian yang kotor karena kehujanan.
Dengan langkah terseok-seok karena jalanan yang licin, Tama melewati puing-puing rumahnya.
Ia pun segera menuju ke arah belakang menuju rumah tersembunyinya.
" Ah.. Dingin sekali. Aku mau mandi, bajuku basah." gumam Tama lalu melepas bajunya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Seperti biasa, Tama selalu lama dikamar mandi. Ia teringat saat ia mandi bersama adik dan Ibunya. Kini ia mandi seorang diri. Tak ada mainan seperti saat dia bersama adiknya. Semua mainan dan kenangan bersama keluarganya musnah.
" Rama.. Ibu.. Aku rindu pada kalian. Aku ingin mandi bersama kalian." ucap Tama lalu tak bisa menahan air matanya yang mengalir dengan derasnya.
......................
__ADS_1