
" Sudah selesai, Om Tasya mau pulang dulu ya. Kunci rumahnya sudah Tasya berikan semua pada Om, kan?" Ucap tanya setelah selesai mendoakan Vina.
Wijaya setengah melamun, dia tersentak ketika Tasya memegang pundaknya.
" Eh, ya ya..Ada apa Tasya?"
Tasya mau pulang dulu, Tasya mau belanja. Nanti belanjaannya untuk tiga bharinya Vina. Kuncinya ada sama Om, kan?"
" Iya.. Iya, kuncinya ada padaku." Jawab Wijaya sembari merogoh saku celananya tempat dia menyimpan kunci rumahnya.
" Baiklah, Om Tasya pergi dulu." Tasya melangkahkan kakinya, meninggalkan Wijaya dan Bono, yang masih berada di depan makam sahabatnya.
" Eh, Tasya. Kamu belum menceritakan awal mula kejadian kenapa Vina kecelakaan. Siapa yang membuatnya kecelakaan? Dan dia hendak mau kemana? Dan kapan terjadi kecelakaan itu?" Tanya Wijaya.
" Nanti akan Tasya ceritakan saat dirumah Om, setelah Tasya belanja ya. Tasya takut pasar sudah tutup. Dan bahan yang dibeli sudah terjual habis.
" Terus selama aku tidak ada, kamu semua yang membantu Vina, Sya?"
" Iya Om, tapi Tasya nggak sendiri. Tasy dibantu sama teman-teman Vina yang lain."
" Baiklah, terimakasih sudah membantu putriku, Sya. Sampaikan terima kasihku juga, pada teman-teman kamu. Ini uang untuk belanja. Berapa yang kamu butuhkan? Sekalian semua beaya yang kalian keluarkan untuk membantu Vina."
Tasya menolak pemberian Wijaya. Dia tak mau menerimanya karena Vina pernah bilang, uang Papanya bukan uang halal.
" Maaf Om, simpan saja buat Om. Kami ikhlas membantu Vina kok. Vina seperti keluarga kami sendiri. Dia juga sering membantu kami. Vina itu suka menolong sesama. Sehingga dia mempunyai banyak teman. Saat Vina tidak ada, mereka berlomba memberi bantuan. Membantu Vina dari meninggalnya, hingga acara doa bersama, sampai tiga harinya. Dan sekarang uang bantuan mereka masih banyak kok Om."
" Tasya, aku tahu kamu menolak uangku karena kamu tahu aku mendapatkannya secara tidak halal kan?"
Tasya mendadak berkeringat dingin, dia tak menyangka Wijaya bisa menebak isi hatinya.
" Tasya, ini uang dari jerih payahku sendiri. Bukan uang haram. Aku masih mempunyai pekerjaan sampingan lain yang halal. Dan ini hasil dari pekerjaan sampinganku. Terimalah."
" Tapi Om?"
" Sudah, terimalah. Aku tak ingin memberatkan kalian."
" Uang itu untuk Om saja. Kami ikhlas kok. Kami tak ingin usaha kami diganti."
" Ya sudah kalau begitu. Pergilah."
" Baik Om." Tasya melangkah pergi meninggalkan Wijaya dan bono.
" Bon, saat ini yang aku pikirkan. Kenapa Tasya tak menghubungiku kalau Vina sudah meninggal. Maksudku, kenapa baru kemarin dia memberitahuku.
" Bos, coba cek sekali lagi pesan-pesan Tasya ataupun Vina. Barangkali itu bisa menjawab, rasa penasaran Bos."
" Iya juga, kamu benar Bon. Aku akan melihatnya lagi. Siapa tahu ada pesan yang terlewat aku baca."
Wijaya kembali melihat pesan-pesan di Hpnya.
" Tak ada kabar tentang kapan dan kenapa Vina meninggal pas hari meninggalnya. Seharusnya Tasya memberitahuku dari awal. Sehingga aku bisa pulang, untuk ikut memakamkan Putriku."
" Bos, tak mungkin Tasya menyembunyikan berita duka ini kepada Bos, dan tak mungkin juga, ia tak memberitahu Bos saat hari pemakamannya. Apa mungkin, Bos besar kita menghapus pesan-pesan penting? Dan saat Tasya menghibungi Bos, Bos besar kita mematikan Hp Bos."
" Apa? Aku tak berpikir sampai disitu Bon. Mungkin perkataanmu ada benarnya juga. Ya sudah, jika memang ada pesan yang dihapus, aku tidak akan pernah memaafkannya." Wijaya mengepalkan tangannya hendak melampiaskan emosinya.
" Tapi kita tidak bisa berpikiran buruk begitu saja Bos, kita tunggu dulu penjelasan dari Tasya."
" Iya, kita akan tunggu Tasya. Dia kunci dari masalah ini."
" Benar Bos."
" Baiklah, kita pulang dulu Bon. Istirahat sebentar dirumahku. Aku lelah."
" Kalau begitu, mari Bos. Saya mengikuti dari belakang."
" Vina, tersenyumlah karena Papa datang. Papa membawa bunga untukmu. Oh iya, Papa akan bawa Xena bersama Papa. Papa akan mengajak dia kemari. Bahagialah disurgaNya ya Vin. Kami akan lanjutkan perjuangan kami sampai saat waktunya nanti."
Wijaya dan Bono akhirnya kembali ke rumahnya. Setelah mencuci tangan kaki dan muka mereka, Wijaya dan Bono duduk di sofa depan ruang tengah. Beberapa menit kemudian, mereka pun tertidur pulas karena mengantuk.
__ADS_1
Tak terasa, waktu sudah siang. Wijaya dan Bono terbangun, karena mendengar suara ramai didepan rumah.
" Siapa yang datang Bon?"
" Saya tidak tahu, Bos."
" Coba, kamu lihat keluar."
" Baik, Bos."
Bono berjalan membuka pintu, untuk melihat siapa di luar.
" Ada apa ini? Kenapa kalian datang beramai-ramai kesini."
" Kami temannya Vina, Om. Hari ini hari terakhir, kami mengadakan acara doa bersama untuk Vina."
" Oh, begitu. Kalau begitu kalian, masuklah."
" Baik, Om."
Teman-teman Vina masuk kedalam rumah Vina, mereka membawa hasil belanja mereka dan menaruhnya di dapur.
" Lho, lho.. Kalian ini siapa? Masuk rumah orang sembarangan!" Wijaya membentak teman-teman Vina.
" Eh, maaf kami teman-teman Vina, Om. Kedatangan kami untuk.."
" Mereka mau mengadakan doa bersama untuk yang terakhir kalinya Bos. Saya yang menyuruh mereka masuk."
" Oh, jadi begitu. Baiklah. Kalian boleh masuk. Terus kalian membawa apa?"
" Eh, ini ada ayam, beras, krupuk, beras dan masih banyak lagi Om."
" Itu untuk apa? Kenapa mesthi bawa-bawa seperti ini?"
" Semua bahan ini nanti kami masak, Om. Setelah doa bersama, kami akan membagikannya untuk para warga."
" Hem, jadi begitu. Baiklah, kalian boleh masak disini. Tapi ingat, setelah itu bersihkan tempat ini yang bersih ya. Aku tak mau tempat ini kotor karena kalian."
" Baguslah kalau kalian mengerti. Silahkan lanjutkan kegiatan kalian. Aku dan temanku akan pergi dulu."
" Baik, Om."
Wijaya dan Bono pergi meninggalkan teman-teman Vina. Mereka pergi sebentar untuk melihat bukit, yang akan mereka beli.
" Bos, saya capek berjalan. Lebih baik kita sewa mobil saja."
" Capek katamu Bon? Kamu itu masih muda, jalan saja merasa capek "
" Bos, saya kan manusia biasa. Wajar kalau saya merasa capek."
" Kamu itu, bisanya ngejawab. Baiklah, kita akan sewa mobil saja."
Saat mereka berjalan ke tempat persewaan mobil dekat rumah Wijaya,Vina memanggil mereka.
" Om, Kalian mau kemana?" Tanya Tasya.
" Eh, Tasya.. Kami mau jalan-jalan. Cari udara segar dan melepaskan penatku." Jawab Wijaya.
" Apakah akan sampai malam pulangnya?"
" Paling sebelum doa bersama, kami sudah pulang."
" Kami akan mengadakan doa bersama yang terakhir sore ini, Om. Bukan nanti malam. Apa Om, tidak ingin mengikuti doa bersama untuk Vina?"
" Jadi, acara doa bersamanya bukan malam, tapi sore?"
" Iya Om. Soalnya yang memimpin dan mengarahkan acara doa bersama untuk Vina, itu saya Om. Sementara, nanti malam saya sudah harus pindah rumah ke luar negeri."
" Jadi kamu mau pergi ke luar negeri, Sya? Memangnya ada acara apa pergi kesana?"
__ADS_1
" Om saya, menginginkan saya kuliah disana. Dan kedua orang tua saya, juga ingin sekali hidup disana. Jadi kami semua harus pindah rumah."
" Hem, baiklah kalau begitu Sya. Bon, kita batalkan saja ke puncak bukitnya. Aku tak mau melewatkan doa bersama dengan mereka."
" Saya ikut Bos saja. Tapi saya lapar Bos, kapan kita akan makan?"
" Iya Bon, aku juga lapar. Tasya, kami akan cari makan dulu. Nanti acaranya jam berapa?"
" Jam tiga, Om."
" Ya sudah, kami pergi dulu. Kami akan kembali sebelum acara dimulai."
" Iya, Om.
Tasya kembali kerumah Vina, bergabung dengan teman-temannya. Sementara itu, Wijaya dan Bono pergi ke warung untuk mencari makan.
" Bon, kenapa hatiku sakit lagi saat mengingat Vina. Aku dibayangi rasa bersalahku. Seandainya waktu itu, aku ada dirumah menemani Vina, pastinya hal itu takkan terjadi. Aku takkan kehilangan putriku."
" Ini semua sudah kehendak Tuhan, Bos. Kita tidak bisa menghindarinya. Jika Bos dirumah, namun Tuhan memang mentakdirkan usia Vina, cukup sampai disitu, pasti Tuhan mengambil nyawanya dengan jalan lain Bos."
" Tapi hatiku sakit Bon, Aku merasa sangat menyesal. Vina meninggal saat aku tak ada disini."
" Jika Bos ingin pulang, apa Bos sanggup melawan perintah Bos besar?"
" Itu yang sangat aku sesalkan Bon. Kenapa aku jadi orang yang lemah, sehingga orang seperti Bos kita selalu memerintahku. Aku pun kesulitan untuk melawan perintahnya."
" Kita harus mengalahkannya Bos, jika kita ingin bebas dari belenggunya. Bagaimana kalau kita lawan bersama-sama?"
" Kekuatan gabungan kita, belum bisa mengalahkan kemampuan bertarungnya, Bon. Aku tak mau kalah dan menderita karena dia."
" Lalu apa yang harus kita lakukan Bos? Kita tidak bisa berdiam diri."
" Sabar dulu Bon, jika pikiranku sudah tenang, aku akan memikirkan cara untuk mengalahkannya."
" Saya berharap kita mampu mengalahkannya Bos."
" Iya, ayo Bon kita makan dulu. Nanti keburu sore."
" Siap, Bos.."
Pukul 15.00, doa bersama untuk tiga harinya Vina dimulai. Wijaya dan Bono sudah sampai dirumahnya sejak setengah jam yang lalu. Doa bersama dihadiri warga sekitar dan dipimpin oleh seorang kyai masjid.
Wijaya tak henti-hentinya menangis, dia masih teringat dengan kata-kata Vina yang terakhir saat Vina menelponnya. Dia masih merasa bersalah dan menyesali sikapnya.
" Vina putriku.. tenanglah di surga bersama Mama kamu ya Nak."
Bono menepuk pundak Wijaya dan berusaha menenangkannya.
" Bos, mari kita berdoa, jangan menangis. Vina butuh doa bukan tangisan, Bos."
Wijaya mengangguk-angguk berkali-kali. Dia mengerti maksud Bono, namun dia tidak bisa mengobati rasa bersalah dan penyesalannya.
Pukul 16.00, acara doa bersama telah selesai. Para warga kembali kerumahnya. Tinggalah Tasya dan teman-temannya yang masih disibukkan dengan aktifitas dan tanggung jawabnya membersihkan rumah Wijaya.
Sekitar pukul 16.30, rumah Wijaya kembali bersih seperti semula. Teman-teman Vina, kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah Wijaya hanya tinggal menyisakan Wijaya, Bono dan Tasya.
" Om, tugas Tasya disini sudah selesai. Rumahnya juga sudah bersih seperti sedia kala, saat kami pertama datang ke rumah ini, saat menanti kepulangan jenazah Vina."
" Tasya, terima kasih banyak atas bantuannya. Kalau tidak ada kamu, aku tak tahu harus melakukan apa. Semoga Tuhan membalas kebaikkan kalian."
" Sama-sama, Om. Terima kasih juga atas doanya. Om yang tabah ya, semoga Vina tenang disisiNya. Oh iya, Tasya sudah berjanji pada Vina dan saya sendiri, setiap seminggu sekali, akan ada orang Tasya, yang Tasya suruh membersihkan Makam Vina. Om tak perlu khawatir lagi kalau nanti makam Vina akan kotor."
" Tasya, kamu sangat berjasa besar untuk keluargaku. Seandainya kamu mau menerima uangku, aku ingin memberikan sekarung uangku untukmu."
" Terima kasih Om, tapi Tasya nggak ingin uang Om. Tasya bisa mencari uang sendiri kok."
" Baiklah, aku tak akan memaksa jika kamu tidak mau."
" Iya, Om. Kalau begitu Tasya mohon diri ya Om. Nanti malam, Tasya akan berangkat keluar negeri."
__ADS_1
......................