SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Kehancuran Desa


__ADS_3

Tiba di Puncak Bukit Barat, Leo dan Lucky tertawa melihat Dante yang sedang duduk sambil memanggang singkong. Mereka tahu Dante bukan orang yang mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu jika tak ada yang menyuruhnya. Hal itu membuat Leo dan Lucky merasa geli.


" Kenapa kalian tertawa? Kalian menertawakanku?" ucap Dante dengan sinis.


" Dante..Dante.. Baru kali ini aku lihat kamu pengertian sama teman-temanmu. Aku jadi terharu melihatnya..hahaha.." ucap Leo sambil tertawa terpingkal-pingkal.


" Sudah ku duga kalian pasti menertawakanku. Memangnya kenapa, kalau kalian tidak suka ya sudah. Biar aku yang makan semua singkong bakar yang ku bakar ini. Kalian bakar saja sendiri."


" Jangan tersinggung.. Kami sebenarnya bangga padamu. Jangan salah paham." ucap Lucky sembari menepuk pundak Dante.


" Aku tidak tersinggung.. Aku sudah tahu kalian pasti tertawa melihat apa yang kulakukan sekarang ini. Sudahlah, jangan membahasku. Mumpung masih hangat, mending kalian makan."


" Ayo... Aku juga sudah lapar." ucap Leo lalu dengan cepat mengambil singkong bakar yang sudah tersaji.


...----------------...


Menjelang pukul sepuluh malam, Leo, Dante dan Lucky menuruni Bukit. Mereka sudah bersiap untuk membakar rumah-rumah warga.


" Ayo kita lihat pesta kembang api terbesar di dunia. Hahaha.." ucap Lucky sembari berjalan sempoyongan karena terlalu banyak minum.


" Lucky.. Kau sebaiknya tak perlu ikut serta. Kau sudah mabuk. Jalanmu saja sempoyongan. Aku takut kamu nanti malah ikut kebakar bersamaan dengan rumah yang ingin kau bakar." pinta Leo mengingatkan Lucky.


" Benar, Lucky.. Sebaiknya kau berjaga disini saja. Akan lebih aman untukmu." ucap Dante juga.


" Kalian tak perlu mencemaskanku. Aku bisa menjaga keseimbanganku. Bukankah kita sepakat untuk memulainya bersama malam ini. Kenapa kalian malah melarangku."


" Bukan begitu maksudnya, Lucky. Lihat keadaan dirimu. Kami cuma mengkhawatirkan dirimu." ucap Dante.


" Sudah ku bilang aku tidak kenapa-kenapa. Jangan khawatirkan aku."


" Ya sudah kalau kau tidak kenapa-kenapa. Ayo kita mulai bakar rumah-rumah warga itu!" seru Leo lalu segera menyiramkan bensin ke rumah-rumah warga.


Butuh waktu bagi mereka untuk menyiram semua rumah warga. Hingga setengah jam lamanya mereka mulai menyalakan api. Api cepat merambat hingga ******* semua rumah warga.

__ADS_1


" Hahhaa... Kini rumah kalian akan jadi debu! Dan tempat ini akan menjadi penguasa Raja kejahatan." teriak Lucky karena saking senang atas kemenangannya.


Api membumbung tinggi hingga ke atas Bukit. Langit menjadi gelap. Asap tebal menyelimuti wilayah Bukit. Asap ini bergerak hingga ke Bukit Timur dan menyebar ke sebagian kota di utara Puncak Bukit Barat.


" Akhirnya Reza dan teman-temannya kalah. Desaku berhasil mereka hancurkan. Kalian memang manusia-manusia biadab!" ucap Harjo yang sebelumnya telah memilih meninggalkan desa, bersama Khalid dan mendirikan sebuah gubuk kecil, di hutan sebelah selatan Puncak Bukit Timur.


" Kakek.. lalu bagaimana dengan hidup kita? Apa semua warga yang bertahan disana sudah mati?" tanya Khalid pada Harjo sembari melihat kobaran api yang melalap seluruh bangunan di desa.


" Untuk sementara, kita akan tinggal disini. Kamu ikut Kakek saja. Kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kan?"


" Iya, Kek.. Aku hidup sebatang kara setelah Ibuku meninggal. Paman Bono yang membawaku ke Desa. Aku memilih tinggal di Desa karena suasananya nyaman. Meskipun aku sendiri, namun aku senang karena sudah terbiasa."


" Seandainya Nak Bono tahu tentang ini, pasti kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi." ucap Harjo dengan nada serak. Perlahan air mata mengalir membasahi pipinya.


" Kek, jangan bersedih. Aku akan selalu menjaga Kakek. Kemanapun Kakek pergi, aku akan ikut. Aku janji tidak akan menyusahkan Kakek. Kalau bisa, aku akan selalu membantu Kakek jika Kakek kesulitan." ucap Khalid sembari mengelus-elus tangan Harjo yang mengeriput.


" Terima kasih Khalid. Kakek senang mendengarnya. Sudah lama Kakek ingin memiliki cucu yang masih kecil. Dan Kakek sekarang seperti telah memilikinya. Kau itu seperti cucuku sendiri."


" Sama-sama, Kakek. Tapi aku bukan anak dari anak Kakek."


" Baik, Kek."


" Ya sudah, sekarang sudah hampir larut malam. Beristirahatlah, besok kita harus bangun pagi untuk membeli sayur."


" Baik, Kakek."


Khalid menuruti kata Harjo. Ia pun langsung masuk ke dalam gubuk kecil dan tidur, diatas kasur empuk yang sudah terbentang di dalam gubuk.


" Reza..bagaimana keadaanmu disana? Apa kau baik-baik saja?" gumam Harjo dalam hati. Ia sangat berharap tak terjadi apa-apa pada Reza dan kawan-kawannya.


" Paman Bono, Bibi Rika. Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga rumah kalian dengan baik. Aku tidak bisa melawan penjahat-penjahat itu. Aku berjanji kalau aku besar, aku akan membalas para penjahat itu. Mereka telah membuat ibuku meninggal." ucap Khalid dalam hati lalu tertidur pulas.


...----------------...

__ADS_1


" Dante, Lucky..ayo segera tinggalkan tempat ini. Asapnya terlalu tebal. Kita bisa kehabisan oksigen jika tetap di tempat ini." ajak Leo pada Dante dan Lucky yang masih belum puas dengan kekacauan yang mereka timbulkan.


" Tidak, Leo.. Kau saja yang pergi lebih dulu. Kami masih ingin bersenang-senang di tempat ini." ucap Lucky sembari meneguk bir yang terakhir.


" Dante, apa kau masih ingin tetap disini?" tanya Leo.


" Sebaiknya kita harus pergi dari sini, Leo. Aku juga sudah puas melihat tempat ini penuh dengan kobaran api. Tak ada satupun yang menghalangi kita. Aku merasa hidup bebas di dunia ini."


" Ayo...kita harus segera tiba di markas sebelum Bos tiba. Saat ini dia sedang berada di luar negeri. Dia sudah berpesan sebelum dia kembali, kita harus sudah tiba disana." ucap Leo lagi.


" Apa?! Baiklah.. Sebaiknya kita pulang sekarang. Lucky ayo pergi." ajak Dante sembari menarik lengan Lucky.


" Kenapa kalian tidak menungguku? Setidaknya menghargaiku yang masih ingin berada di tempat ini. Tinggal beberapa teguk lagi. Tunggu hingga minumannya habis." ucap Lucky dengan santainya.


Leo dan Dante menggelengkan kepala mereka. Namun mereka hanya bisa menuruti apa kata Lucky. Lalu menunggu sampai Lucky menghabiskan Birnya.


Tak berapa lama kemudian mereka meninggalkan Desa yang telah porak poranda. Tak ada siapapun yang datang ke tempat itu meskipun asap tebal menyelimuti hingga ke berbagai daerah.


" Leo, apa kita akan meninggalkan tempat ini sementara api masih berkobar-kobar? Bagaimana kalau api ini membakar hutan dan tempat-tempat lain? Kasihan mereka yang kena imbasnya." ucap Lucky ketika mereka hendak beranjak meninggalkan tempat itu.


" Apa yang kau katakan, Lucky? Kau kasihan pada orang? Apa hati nuranimu masih hidup? Lucky.. Aku tak ingin kau bernasib sama dengan Reza. Sejak dia merasa kasihan pada orang, dan akhirnya dia mati di tangan kita. Apa kau juga akan mengalami nasib yang sama dengan Reza?" ucap Dante yang tidak senang dengan kata-kata Lucky.


" Meskipun aku Penjahat, tapi aku tetap masih memiliki hati nurani. Jangan samakan aku denganmu, Dante. Dan jangan pernah menyamakanku dengan Reza."


" Rasa kasihanmu itu bibit yang buruk bagi kekompakan kita, Lucky. Jika kita sudah berbuat terlalu jauh seperti ini, kita tak perlu memikirkan akibat apa ke depannya. Yang ada kau malah akan bernasib sama dengan Reza."


"Jadi jika aku masih memiliki rasa kasihan, dan jika aku akan melakukan seperti apa yang Reza lakukan, apa kalian akan membunuhku?"


" Itu sudah pasti, Lucky! Kau tak perlu bertanya lagi!"


" Kurang ajar! Aku tak akan pernah membiarkanmu, Dante!" ucap Lucky sembari menarik kaos Dante.


" Sudah jangan bertengkar! Apa kalian sudah tidak bisa menahan emosi kalian? Dari awal kita kemari, dengan perasaan yang sama. Setelah selesai, kenapa kalian malah tak sejalan?! Ini bukan saatnya untuk bertengakar!"

__ADS_1


Dengan perdebatan yang disebabkan oleh Lucky dan Dante membuat mereka saling bertengkar. Tetapi Leo dengan sigap melerai mereka, sehingga mereka tak sempat adu fisik. Tak butuh waktu lama untuk membuat Lucky dan Dante berhenti bertengkar. Usai mereka saling berdamai, mereka meninggalkan Desa Lereng Puncak Bukit Barat yang sudah hangus oleh api.


......................


__ADS_2