SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Meminta Bantuan Novi


__ADS_3

Tiba di Puncak Bukit, Satria dan Khalid sudah menunggu di teras rumah. Mereka tiba lebih dulu dibanding Tama dan Novi yang berjalan pelan sembari berbicara.


" Ibu itu keasyikan pacaran sama Kak Tama, makanya jalannya jadi pelan kaya siput." ucap Satria kesal.


" Kok Ibu disamakan dengan Siput? Ibu kan sedang bicara sama Kakak kamu. Ibu punya banyak pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan pada Tama. Tapi sebelum itu lebih baik kita makan dulu." ucap Novi lalu bergegas ke dapur untuk membantu Ibunya mengeluarkan hidangan yang ada di meja dapur.


" Kak..jangan suka sama Ibuku, ya. Walaupun dia sudah hampir berkepala empat, tapi dia masih cantik. Jangan digoda, ya." ucap Satria pada Tama.


Seketika Tama dan Khalid tertawa terbahak-bahak mendengar Satria. Kata yang dilontakan Satria sangat menggelitik telinga mereka. Sementara Satria malah bengong tak tahu apa yang kakaknya tertawakan.


" Satria.. Aku itu baru saja lulus SMP. Mana mungkin aku menyukai Ibu kamu. Cewek di kelas pastinya tidak kalah cantik dengan Ibu kamu. Dan mereka juga masih sangat muda sepertiku. Satria..jangan berpikir yang aneh-aneh."


" Tapi bisa saja, kan. Dulu di tempatku, nenek-nenek saja menikah dengan Anak SMP. Padahal neneknya sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun."


" Hahaha.. Yang namanya cinta, itu tidak pandang usia, Satria. Tak ada yang salah dengan mereka kalau saling mencintai."


" Kalau begitu, misalnya Kak Tama suka sama Ibu dan Ibu suka sama Kak Tama, bisa saja kan kalian menikah."


Tama dan Khalid kembali tertawa. Kali ini mereka tertawa lebih keras lagi. Sementara Satria merasa jengkel karena ia merasa di sepelekan.


" Kenapa kalian tertawa terus? Apa aku salah bicara?"


" Hahaha.. Tidak, Satria. Kamu tidak salah. Hanya saja ucapanmu itu buat kami tak bisa berhenti tertawa. Dengar satria.. Aku sudah bilang cinta itu tak pandang usia. Jika benar aku dan Ibumu saling mencintai, apa kamu keberatan?" canda Tama.


" Ya..aku.. Aku tidak tahu. Kalau bisa Kakak jangan sampai mencintai Ibuku."


" Satria.. kalau Ibumu menyukai Kakakmu dan Kakakmu suka sama Ibumu, itu nggak salah. Kalau mereka menikah, itu diperbolehkan. Jadi kalau mereka saling suka, apa kamu mau merestui hubungan mereka? Hahaha.." ucap Khalid sembari tertawa.


" Kalau kak Tama mau bertanggung jawab, aku mau. Kalau ternyata hanya mempermainkan perasaan Ibuku, aku nggak mau."


" Hahaha.. Satria.. Satria. Sudah jangan bahas yang aneh-aneh. Ayo cepat bantu Ibumu menyiapkan makanannya."


" Oh, iya.. Aku lupa." ucap Satria lalu berlari ke dalam rumah lalu menuju dapur untuk membantu Ibunya.


...----------------...


Usai menyantap masakan, Tama dan Khalid beristirahat beberapa saat di depan rumah Novi. Ada banyak hal yang mereka bicarakan. Cerita kesedihan hingga kejadian lucu pun keluar dari mulut mereka.


Pukul dua siang, Tama dan Khalid meninggalkan rumah Novi. Mereka berniat ingin pergi ke Puncak Bukit Timur untuk melihat keadaan disana.


Tama sudah lama tak berkunjung ke tanah kelahirannya. Ia ingin sekali Khalid tahu tentang daerahnya.


Selang lima belas menit kemudian, Tama dan Khalid telah tiba di Halaman rumah Tama yang sudah penuh dengan rumput liar yang tumbuh tinggi.


" Tama..hati-hati dengan ular. Pasti tempat ini dijadikan sarang ular. Jangan asal jalan." ucap Khalid menasehati Tama.

__ADS_1


" Iya aku tahu, kak. Aku sudah lama sekali tak mendatangi tempat ini. Rumahku yang hancur, sekarang puing-puingnya jadi tempat bertumbuhnya pohon-pohon liar."


" Apa kamu ingin membersihkan tempat ini?"


" Aku sebenarnya ingin membersihkannya, tapi bagaimana kalau penjahat itu kembali."


" Aku rasa mereka nggak akan kembali, Tama. Mungkin mereka sedang sibuk dengan kehidupan mereka."


" Apa benar, lalu kenapa mereka merusak rumahku jika hanya untuk ditinggalkan?!" ucap Tama sembari mengepalkan kedua tangannya.


" Tama.. mungkin Penjahat itu hanya ingin membunuh keluargamu saja tanpa mempedulikan tanah yang keluargamu miliki. Jika mereka ingin menguasai tanah ini, pasti mereka sudah kembali dan mengubah tempat ini."


" Kurang ajar!!! Kak.. Aku bersumpah akan menghabisi mereka yang telah membunuh keluargaku!"


" Tama.. Aku akan mendukungmu. Ayo..kita kumpulkan orang untuk memperkuat kita. Agar kita bisa membalaskan dendam keluargamu."


" Bagaimana caranya, Kak?"


" Aku pernah bertemu seseorang. Dia ahli bela diri. Aku pernah menolong adiknya yang saat itu hampir saja celaka."


" Siapa, Kak? Dimana rumahnya?"


" Aku tidak tahu. Tapi aku punya nomernya. Kita bisa hubungi dia kapan saja."


" Nanti kita bisa pikirkan caranya. Sekarang yang terpenting kita harus mencari tempat untuk menjadi markas kita."


" Aku lebih suka tempat ini untuk menjadi Markas kita, Kak. Bagaimana kalau kita bersihkan, lalu kita bangun rumah lagi."


" Kamu benar. Tapi, kita butuh uang."


" Bagaimana kalau kita hubungi Bibi Novi? Siapa tahu dia bisa bantu kita?"


" Oh iya, ide yang sangat tepat. Apa kamu sudah menyimpan nomernya?"


" Sudah, Kak. Aku akan menelponnya."


Tama mengambil Handphonenya. Ia lalu menelpon Novi yang saat itu sedang mencuci piring di dapur.


Satria memberitahu Ibunya, lalu pergi menyusul ke dapur dan memberikan Handphonenya pada Novi.


" Halo.."


" Bibi.. Ini aku. Tama."


" Iya, ada apa Tama?"

__ADS_1


" Apa Bibi bisa bantu aku?"


" Apapun yang kamu mau, Bibi akan lakukan untuk kamu. Apa yang bisa Bibi bantu?"


" Apa aku boleh, pinjam uang untuk membangun rumahku kembali. Aku butuh tempat untuk menyusun rencana."


" Tama..kamu ponakan Bibi satu-satunya yang tersisa. Jadi apapun yang kamu mau, Bibi akan kasih."


" Terima kasih, Bi. Aku pinjam dulu, besok kalau aku sudah besar dan bekerja, aku akan kembalikan uang Bibi."


" Sama-sama, Tama. Eh tak usah dikembalikan. Bibi memberikan untukmu bukan meminjamkan."


" Tapi aku butuh banyak, Bibi. Mungkin kebih dari seratus juta."


" Nggak ada masalah. Bibi juga punya banyak di tabungan. Lagipula usaha Bibi juga banyak. Kamu nggak usah mengkhawatirkan Bibi."


" Tapi aku tak enak sama Bibi. Pokoknya aku hanya ingin pinjam. Kelak kalau aku nggak bisa mengembalikannya, aku akan taruhkan nyawaku untuk pengganti hutangku, Bi."


" Hehe.. Kamu mau taruhkan nyawamu untuk apa, Tama?"


" Bi.. Aku akan membunuh, siapa pembunuh Paman Wira. Aku harus bisa membalaskan dendam keluargaku juga."


" Kamu masih kecil, Tama. Jangan memikirkan hal yang seperti itu dulu. Jangan kamu ikuti amarahmu itu hingga kamu menjadi tak terkendali. Bibi takut kalau kamu salah melangkah."


" Bi, aku sudah bukan anak kecil lagi. Lagi pula ini baru rencana. Kita butuh waktu beberapa tahun untuk bisa mematangkan rencanaku."


" Sebenarnya Bibi juga belum bisa terima atas semua yang telah mereka lakukan pada keluarga kita. Tapi Bibi tidak tahu harus berbuat apa. Mereka sangat kuat, Tama. Mustahil bagi kita untuk mengalahkan mereka."


" Tak ada yang mustahil, Bi. Aku akan mewujudkannya. Aku akan terus maju, membalaskan dendam atas kekejaman mereka."


" Baik, Tama. Kalau tekad kamu sudah bulat. Apapun yang akan kamu lakukan, Bibi akan mendukungmu."


" Terima kasih, Bi. Nanti kita akan bicarakan lagi rencanaku. Aku dan Kak Khalid mau bersih-bersih rumput dulu."


" Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah. Nanti biar di temani Satria juga. Bibi akan menyuruhnya untuk ke tempatmu."


" Baik, Bi.. Terima kasih untuk semuanya."


" Sama-sama, Tama."


Tama menutup telponnya. Ia sangat bergembira. Bibinya mau membantunya untuk mendirikan kembali rumahnya. Ia lalu memberitahukan kabar baik itu pada Khalid.


Kini mereka sangat bersemangat untuk membalaskan dendam mereka. Namun mereka tak tahu kapan mereka akan berhasil. Hanya waktu yang akan menjawabnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2