
Ketika hujan mulai reda, suara kokok ayam mulai bersahutan dari kejauhan. Tama tertidur pulas di depan jendela dalam rumahnya, sembari memangku Rama.
" Ayah.. Ibu.. Kakak.." Tiba-tiba Tama berteriak memanggil keluarganya dalam keadaan masih tertidur.
Teriakan Tama, membuat Rama terbangun dan menangis. Ia terkejut dan memeluk Kakaknya dengan sangat erat.
" Ah.. Rama.. kenapa kau menangis?" tanya Tama sembari mengucek matanya yang terasa perih karena masih merasa sangat mengantuk.
Rama terus-menerus menangis. Ia merasakan ketakutan yang sangat besar. Sentuhan tangan Tama yang lembut tak berhasil membuatnya berhenti menangis.
" Apa kau mau minum susu Ibu? Baiklah.. Kakak akan membawamu keluar untuk bertemu Ibu."
Tama membuka pintu rumahnya dan segera keluar menggendong adiknya dengan susah payah.
" Ibu, Rama menangis. Aku tak bisa menenangkannya. Sepertinya dia haus." ucap Tama di depan Ibunya yang terbaring di tanah.
Namun Rani tak menjawab ucapan Tama. Ia bahkan tak bergerak sedikitpun. Tama pun menggoyang-goyangkan tubuh Rani, hingga nafasnya terengah-engah.
" Ibu.. bangun. Rama minta susu. Ayo cepat bangun. Kasihan dia.." ucap Tama sekali lagi.
Sembari terus menggoyangkan tubuh Ibunya, Tama terus mencoba berbicara pada Ibunya. Tak mendapatkan jawaban, ia melangkah menuju ke arah Bulan terbaring.
" Kak Bulan, Rama menangis. Ibu tak mau memberikan susunya untuk Rama. Kak, bantu Tama menenangkan Rama. Ayo Kak.." Tama merengek pada Bulan yang sudah tak bernyawa.
Tak membuahkan hasil, Tama meninggalkan Bulan lalu pergi menuju ke Ayahnya yang terbaring.
" Ayah.. apakah kamu juga tak ingin menenangkan Rama? Dia menangis tiada henti. Apa yang harus aku lakukan?" Tama merasa putus asa, lalu ia pun menangis bersamaan dengan Rama di depan Ayahnya yang terbaring.
Sembari menangis, Tama berdiri dan kembali menggendong adiknya yang beratnya hanya selisih empat kilo darinya. Ia memandang ke sekeliling orang-orang yang terbaring.
" Kenapa.. kenapa kalian tak mau bangun? Apa kalian sudah melupakan kami? Apa yang terjadi dengan kalian?" ucap Tama lirih.
...---------------...
Sinar mentari pagi mulai terlihat di sela-sela pepohonan. Tama masih terus menggendong Rama yang terus menangis. Tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia lalu mencoba mengajak Rama berjalan melalui jalan setapak yang biasa ia lalui bersama keluarganya. Jalan itu menuju ke arah Puncak Bukit. Dengan berjalan gontai, ia mengikuti jalan itu.
" Rama.. kakak akan membawamu jalan-jalan. Mudah-mudahan kamu tak menangis lagi. Tapi Kakak akan membawa minum dahulu." ucap Tama pada adiknya.
__ADS_1
Ia pun meletakkan adiknya di karpet lantai ruang tamu dalam keadaan masih menangis. Sebenarnya Tama tak ingin berpisah dengan adiknya sebentarpun. Namun ia harus mengambil air minum untuk bekal perjalanannya.
Beberapa menit kemudian, Tama sudah kembali ke ruang tamu dan menggendong adiknya kembali dengan menenteng botol air minum.
" Rama.. ayo kita jalan-jalan. Kakak membawakan minum untukmu." ucap Tama.
Rama terdiam, ia pun pasrah digendong kakaknya berjalan sempoyongan menuju ke Puncak Bukit.
...----------------...
Butuh waktu lumayan lama untuk Tama dan Rama tiba di Puncak Bukit. Tiba di atas, matahari sudah menjulang lumayan tinggi. Tama merebahkan Rama di bawah gubuk kecil yang telah dibuat Ayahnya beberapa waktu yang lalu.
" Rama.. tak ada siapa-siapa disini. Aku kira, disini akan ada orang. Kemana kita akan pergi? Semua tertidur dan tak mau bangun. Ibu, Kak Bulan juga sudah tak peduli pada kita." ucap Tama pada Rama yang sedang rebahan memandang kakaknya.
" Ibu.. Ayah, Kakak.. kalian kenapa? Kenapa kalian tak mau melihat kami?" Tama menangis meratapi nasibnya. Ia tak tahu kenapa semua orang yang dekat dengannya, menjadi berubah dan tak mempedulikannya.
"Ayah.. Ibu.. Kakak.. aku takut. Kenapa kalian diam. Aku disini dengan Rama. Kemari.. temani kami." suara ratapan Tama, yang meskipun cara bicaranya masih belum sempurna, namun ia sudah menguasai banyak kata-kata.
Siang hari yang cukup terik tiba-tiba berganti menjadi mendung. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Tama mulai ketakutan ketika petir mulai datang menyambar-nyambar. Berbeda dengan Rama yang terlihat tenang, dikala kakaknya sibuk menutup telinganya.
Langit semakin menghitam, hujan semakin deras. Suara dentuman petir yang sangat keras sekali, membuat Tama terperanjat. Sontak saja membuat Rama yang awalnya tenang, menjadi gelisah lalu menangis.
Tama mencoba menghibur adiknya yang sedang menangis. Namun semakin ia mencoba menenangkannya, Rama semakin keras dalam menangis.
" Ibu... bagaimana ini? Ajari aku menenangkan Rama. Dia menangis, aku tak kuat melihatnya." rintih Tama sembari melihat ke arah langit, berharap hujan segera berhenti agar bisa membawa Rama pulang.
Angin bertiup cukup kencang. Air hujan pun ikut terbawa masuk kedalam gubuk kecil yang tak berdinding. Baju dan celana yang Tama pakai, basah kuyup. Rama pun juga kebasahan.
Dua jam lamanya, hujan tak mau berhenti. Rama juga belum berhenti menangis. Tubuhnya menggigil, bibirnya mulai membiru. Tama sendiri sudah merasa kelelahan, ia pun tertidur meskipun mendengar suara adiknya yang terus menangis.
Tak lama kemudian, hujan mulai reda. Langit mulai membiru lagi. Matahari terlihat sudah condong ke arah barat. Tama terbangun dari tidurnya. Ia teringat dengan adiknya lalu melihat keadaan adiknya.
" Rama... syukurlah kamu sudah tak menangis lagi. Sekarang sudah tak lagi hujan. Ayo kita pulang. Kakak akan mengganti bajumu. Kakak juga akan ganti baju." ucap Tama sembari menggendong tubuh adiknya yang dingin.
Perlahan Tama menuruni bukit. Jalanan yang lumayan licin akibat hujan, membuat Tama merasa kesusahan dalam berjalan. Apalagi dia menggendong adiknya. Bocah kecil yang tingginya belum sampai satu meter, sudah harus memikul beban berat menggendong adiknya yang lumayan berat.
Terik matahari yang turun ke bukit, membuat pakaian basah yang Tama kenakan menjadi kering. Tama merasa lega, kini ia sudah tak kedinginan lagi. Dia juga berpikir, Rama lebih nyaman dalam gendongannya saat pakaian yang ia kenakan tak basah lagi.
__ADS_1
Hingga pukul tiga sore, Tama sampai di depan halaman rumahnya. Ia memandangi tubuh keluarganya yang tergeletak ditanah. Tama tak tahu ada apa dengan keluarganya. Seandainya dia mengerti, mungkin saja dia akan menangis sekencang-kencangnya ketika dia tahu, keluarganya sudah tak ada satupun yang bernyawa.
" Ibu, Ayah, Kakak-kakak.. kenapa tubuh kalian berubah. Kenapa kalian tidur disini? Kenapa kalian tak berteduh ketika hujan turun?" Tama bertanya-tanya dalam hatinya.
Mengerti tak ada yang memperhatikannya sedikitpun, Tama masuk ke dalam rumahnya lalu membaringkan Rama di kamar Ibunya.
" Rama.. tunggu disini. Kakak akan memanaskan air untuk kita mandi. Jangan menangis lagi ya." pesan Tama pada Rama.
Ia pun bergegas pergi ke dapur, mengambil panci dan mengisi air hingga panci penuh. Setelah penuh, ia mencoba mengangkatnya. Namun ia tak sanggup karena terlalu berat. Ia pun mencoba mengurangi air dalam panci berkali-kali. Setelah dirasa ringan, ia mencoba mengangkat airnya dan bermaksud memanaskannya di atas kompor.
Tubuhnya yang masih pendek tak mampu meletakkan panci yang berisi air ke atas kompor. Ia pun mencoba menari kursi lalu ia gunakan untuk mengangkat pancinya ke atas kompor.
" Ceklekk..." Tama mulai menyalakan kompornya.
Ia menunggu dan berdiri di atas kursi, menunggu airnya mendidih.
Selang tujuh menit, airnya mendidih. Ia lalu mematikan kompornya dan berniat mengangkat panci dari atas kompor.
" Ahhhhh..." rintih Tama ketika gagang panci yang ia pegang terasa panas.
Ia pun meniup jari-jari tangannya berkali-kali hingga rasa sakit yang ia rasa, berkurang.
" Pancinya panas, aku tak bisa mengangkatnya." gumam Tama dalam hati, lalu turun dan keluar rumah melihat keluar rumah.
Ia bermaksud meminta Ibunya atau Kakaknya untuk membantu menurunkan dan menuangkan airnya ke dalam ember. Namun ia sadar, tak mungkin meminta pertolongan pada keluarganya yang tak bisa berbuat apa-apa. Tama lalu menutup pintu dan kembali ke dapur. Ia melihat di atas meja dapur, dua kain kecil yang lusuh. Ia ingat, kain itu biasa digunakan Ibunya untuk mengangangkat panci dari atas kompor. Tanpa menunggu lama, Tama mengambil kain itu lalu ia gunakan untuk bantalan tangannya mengambil panci dari atas kompor. Pelan-pelan ia turun dari kursi lalu membawa air dalam panci dan menuangkannya ke dalam ember yang berisi air di kamar mandi.
" Ah, airnya sudah hangat. Rama ayo kita mandi." ucap Tama lalu pergi ke kamar ibunya lalu menemui Rama.
" Rama.. airnya sudah siap. Ayo kita mandi. Jangan tidur terus. Bangun. Ayo bangun.. Rama.."
Tama merasa gelisah ketika Rama tak terbangun, setelah ia bersusah payah membangunkannya.
" Rama... bangunlah... Rama.. bangunlah!" Tama mulai berteriak membangunkan Rama. Namun Rama tak juga mau bergerak sedikitpun.
Tubuhnya kaku, dingin dan seluruh tubuhnya membiru. Ia sudah tak bernafas lagi.
Tama merasa sangat ketakutan dan menangis. Ia tak tahu harus bagaimana membangunkan adiknya. Rama adalah teman satu-satunya saat ini. Namun sekarang, adik satu-satunya itu sudah tak mau diajak bermain lagi.
__ADS_1
......................