SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Saling Bercerita


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, Bono masih menunggu kabar dari Dokter. Keresahan terus menghantui Khalid. Wajahnya memerah, air matanya terus menggenangi di seputaran kedua matanya. Melihat itu, Bono semakin memeluk erat Khalid dan mengusap-usap kepalanya.


" Khalid..tenangkan dirimu. Apa kau itu seorang laki-laki?"


Khalid menganggukkan kepalanya. Ia lalu membenamkan kepalanya di ketiak Bono.


" Jika kau memang laki-laki, kau harus menjadi kuat. Kau tak boleh gampang menangis. Karena menangis itu sifatnya perempuan. Jika kau bukan perempuan, kau tak boleh menangis. Apapun cobaan hidup yang kamu hadapi, kau harus menerimanya dan menjalaninya dengan lapang dada. Jangan mengeluh. Sekarang, Ibumu masuk rumah sakit dan sedang kritis. Sebagai laki-laki, apa yang harus kau lakukan?"


" Paman, aku sudah terbiasa melihat Ibuku sakit. Tapi jika dia sampai meninggalkanku, aku tak tahu. Aku bisa menahan kesedihanku atau tidak. Ibu adalah orang tuaku satu-satunya. Aku tak memiliki saudara. Jika Ibu pergi menyusul Ayah, bagaimana denganku."


" Khalid.. Apa kamu mau mendengar ceritaku?" Tanya Bono sembari menatap kedua mata Khalid.


" Cerita apa, Paman?" tanya Khalid yang tampak kebingungan.


" Baiklah, Paman akan bercerita tentang masa lalu Paman yang kelam. Mungkin kisah Paman akan lebih sangat menyedihkan dibandingkan dengan kisahmu saat ini."


" Kalau begitu ceritakan saja, Paman. Aku akan mendengar ceritamu."


" Begini.. Kamu itu sebenarnya bernasib sama denganku. Tapi kisahku lebih tragis. Dulu ketika aku masih kecil, aku sudah menjadi anak yatim piatu. Orang tuaku meninggalkanku sendiri. Hidupku terlunta-lunta. Apa kau tahu, kenapa orang tuaku meninggalkanku?"


Khalid menggelengkan kepalanya. Lalu berkata, " aku tidak tahu, Paman."


" Orang tuaku meninggal karena dibunuh. Waktu itu, terjadi perampokan dirumah orang tuaku. Saat itu hanya ada Ibu dan adik-adikku. Ayahku sedang berada diluar. Aku juga sedang tak berada dirumah. Menurut cerita, Ibuku dirampok dan diperkosa oleh perampok itu. Setelah memperkosanya, dia membunuhnya. Saat ayahku kembali kerumah dan tahu kalau Ibuku dibunuh, Ayahku menuntut balas. Tapi, Ayahku kalah. Dia mati seketika, tanpa bisa membalaskan dendam atas kematian Ibuku. Lalu aku hidup seorang diri. Beruntung ada orang baik yang memungutku menjadi anaknya. Membesarkanku hingga aku dewasa.


Namun hidupku penuh dengan kemaksiatan. Aku menjadi jahat karena aku mengikuti orang yang jahat. Aku bersedia mati untuk membantu kegiatan sehari-harinya. Aku tumbuh menjadi orang yang suka berkelahi. Senang membuat keributan.


Tetapi, ada satu yang membuatku menyesali atas apa yang aku perbuat selama itu. Setelah aku bertemu dengan Penjahat terkuat di negeri ini. Dia mengatakan kepadaku. Ibuku mati dan diperkosa oleh orang yang telah menyelamatkanku dan membesarkanku. Aku marah besar pada saat itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan duniaku yang kelam.


Lalu aku memutuskan untuk menjadi orang biasa. Menemui orang yang sangat aku cintai.


Aku beruntung.. orang yang dulu membenciku, telah bisa menerima keadaanku. Aku sangat bahagia sekali. Dan kami pun menikah hingga memiliki anak yang sangat tampan.


Itu lah ceritaku, Khalid. Jadi, jika seandainya terjadi sesuatu yang sangat tidak kau inginkan. Percayalah, kelak kau tidak akan merasakan penderitaan seperti yang ku alami.

__ADS_1


Aku disini akan menemanimu. Membantumu hingga kau dewasa dan mengerti tentang arah dan tujuan hidupmu."


" Paman.. Aku ini hanya anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mau Paman membantuku. Sementara aku tak bisa membalas bantuanmu. Aku tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa lagi, Paman."


" Justru itu, Khalid. Karena aku tahu keadaanmu sekarang. Aku menawarkan bantuan kepadamu. Tinggal bersamaku dan aku akan mengangkatmu sebagai anakku."


" Tapi, Paman. Apa istri Paman akan setuju jika aku tinggal di rumah Paman? Dan bagaimana dengan anak Paman? Aku tak mau jika tinggal bersama kalian, aku malah akan merepotkan dan malah membuat keluarga kalian rusak karena aku tinggal bersama kalian."


" Khalid, kau tak perlu memikirkan hal itu. Istriku orangnya baik. Dia wanita yang sangat lembut. Perhatian dan pastinya dia sangat penyayang. Kau tidak perlu takut atau sungkan kepadanya."


" Baik, Paman. Lalu bagaimana dengan anak Paman?"


"Tenanglah.. Dia masih bayi. Dia tidak akan mengganggumu. Lagi pula dia anak yang baik. Dia mewarisi sifat-sifat Ibunya."


" Tapi, aku tak ingin meninggalkan Ibuku. Aku tak mau tinggal dirumah Paman jika Ibuku tak bersamaku."


" Iya, Ibumu juga ikut tinggal dirumah Paman. Kalian berdua akan membuat rumah kami menjadi ramai kembali seperti saat ayah mertuaku masih ada."


" Kalau begitu, aku mau Paman. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik. Membantu pekerjaan Paman dan Bibi. Aku juga ingin menggendong adik kecil."


" Kalau begitu, Paman pulang saja. Aku berani kok, disini sendiri menunggu Ibu. Dari dulu aku kan, hanya tinggal berdua sama Ibu semenjak ditinggal Ayahku. Ibu terbiasa meninggalkanku sendiri dirumah demi mencari uang. Terkadang aku harus makan menunggu Ibuku pulang."


" Tidak, Khalid. Aku akan disini menunggu kamu dan Ibumu. Paman Bara juga sedang berada di ruangan lain menunggu Tama yang sedang sakit. Kami akan bergantian berjaga. Aku berharap Ibumu dan Tama segera bisa sehat kembali seperti sedia kala."


" Apa? Jadi anak yang pendiam itu sudah ditemukan, Paman?"


" Sudah.. ada orang dengan gangguan jiwa, namun masih memiliki hati lalu membawanya ke rumah sakit ini. Saat Aku melihatnya, dia dalam kondisi yang memprihatinkan. Syukurlah sekarang kondisinya sudah membaik. Dia hanya perlu beristirahat untuk beberapa hari demi memulihkan tubuhnya."


" Aku merasa kasihan dengannya. Kalau dia mau ku ajak bicara, dan kami sudah berteman akrab. Kalau sudah dewasa nanti aku akan membantunya melawan penjahat-penjahat yang telah membakar rumahnya."


" Ah.. Khalid, kau jangan berpikir seperti itu. Tidak baik menyimpan dendam, apalagi kau masih kecil. Biarlah itu menjadi urusan Tama. Kamu jangan ikut campur dengan masalahnya. Biarkan Paman yang akan membantunya. Lebih baik kau memikirkan sesuatu sesuai usiamu."


" Memikirkan sesuatu sesuai usiaku? Apa maksud Paman berkata seperti itu?"

__ADS_1


" Eh.. Maksudku, daripada kamu memikirkan masalah tentang orang dewasa lebih baik kau memikirkan hal lain yang bisa membuatmu senang. Seperti memikirkan jika kau makan es krim, memikirkan kau memiliki anjing yang pintar yang selalu menjagamu, atau memikirkan sesuatu yang sangat indah. Aku yakin kau pasti bisa melupakan sesuatu yang tidak sebaiknya kau pikirkan."


" Paman, aku tidak tahu kenapa aku bisa mempunyai pikiran yang seperti itu. Mungkin karena hidupku yang tidak enak sehingga aku bisa jadi anak yang seperti ini."


" Tidak enak bagaimana, Khalid? Bukankah Ibumu itu seorang Ibu yang baik, dan dia sangat menyayangimu. Kau seharusnya senang masih memiliki Ibu."


" Bukan masalah Ibu, Paman. Tapi masalah keluarga kami yang tidak enak. Paman, apa aku boleh cerita?"


" Haha.. Mau cerita apa, Khalid? Kalau begitu ceritakan saja. Paman akan menjadi pendengar yang baik."


" Dulu sewaktu Ayahku masih ada, Kami tinggal di sebuah rumah kecil milik sendiri. Namun karena Ayahku tak punya pekerjaan tetap, Ibu sering berhutang pada tetangga. Dan itu berlangsung lama. Kata Ibu, hutang kami sudah sangat menumpuk. Kami tak bisa mengembalikan hutang kami. Meskipun Ayah dan Ibu meminta keringanan dan memberikan tenggang waktu, kami tetap tak mendapatkan uang untuk mengembalikan uang mereka. Hingga rumah kami diambil oleh orang yang kami hutangi. Kami diusir dari rumah dan disuruh meninggalkan rumah kami sendiri. Kami tak punya kuasa untuk melawan mereka. Akhirnya kami jadi tinggal disembarang tempat.


Pada suatu hari ada orang yang baik hati menawarkan agar tinggal dirumahnya. Kami tak disuruh membayar, tapi dengan syarat. Ibu harus mengabdi dan menjadi pembantu si rumah orang itu.


Karena melihat kecantikan Ibu, pemilik rumah menyukai Ibu. Ia berusaha menggoda Ibu. Hingga akhirnya Ibu berkata sama Ayah. Ayah tak terima lalu membunuh Pemilik rumah itu.


Saat membunuh, Ayah ketahuan oleh istri orang itu. Istrinya berteriak minta tolong. Ayah berlari sejauh-jauhnya. Karena kebingungan dan takut, Ayah berlari tanpa melihat disekelilingnya.


Dan saat tiba dipersimpangan, ada sebuah kendaraan yang melaju kencang dan menabrak Ayahku. Karena terlalu parah, Ayahku meninggal seketika karena lukanya sangat parah.


Semenjak itu kami diusir oleh istri pemilik kontrakan. Kami kembali hidup terlunta-lunta. Beberapa hari kemudian, ada orang menawari kami untuk mengontrak dirumahnya. Belum lama tinggal di rumah kontrakan itu, kami diusir lagi.


Itu lah derita kami, Paman. Aku kasihan melihat Ibu yang lemah dan selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga Ibu. Dan jika aku besar, sudah mampu mencari uang sendiri, aku akan membahagiakan Ibu dengan sepenuh hati. Aku akan membalas semua perlakuan tidak baik pada Ibu dari orang-orang itu."


" Aku tak menyangka hidupmu seperti itu, Khalid. Aku sangat prihatin. Tapi sekarang kamu tak perlu cemas lagi. Bersama Paman, kau tak akan pernah kekurangan. Paman bisa menjamin itu."


" Terima kasih banyak, Paman. Aku berjanji, kelak akan membalas semua kebaikan Paman."


" Hemm... Aku suka semangatmu. Tetaplah berjuang. Jalan hidupmu masih panjang. Jangan sia-siakan waktumu."


" Baik, Paman."


Waktu pun berlalu, tak terasa Khalid dan Bono sudah tampak seperti Ayah dan anak ketika mereka saling bertukar cerita.

__ADS_1


Sementara itu Bara masih duduk dengan perasaaan gelisah. Menunggu Tama yang masih tertidur pulas belum juga terbangun dari tidurnya.


......................


__ADS_2