
Tiga puluh menit berlalu, Wijaya dan Vina meniggalkan restoran milik Wira. Mereka berkeliling tanpa henti mencari tempat yang cocok untuk makan malam. Dan akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, di area persawahan.
" Di sini bagaimana Vin? Nyaman tidak tempatnya?" Tanya Wijaya setelah sampai di rumah makan.
" Bagus Pa, Vina suka tempat ini. Disini seperti di tanah lapang. Kita bisa melihat keindahan sekitar, saat sinar bulan purnama turun." Ucap Vina puas.
" Baiklah, ayo kita masuk. Jangan lama-lama melihatnya. Kita tidak sedang berpiknik." Ucap Wijaya mengingatkan Vina.
" Ayok Papa. Tapi Papa duluan. Vina enggak berani."
" Masa, ada Papa kok takut?
" Iya, Vina takut. Makanya Papa yang masuk lebih dulu.
Tak menunggu lama, Wijaya dan Vina masuk ke rumah makan. Dan kemudian pelayan wanita datang menyambutnya.
" Selamat malam Pak, Silahkan mau pesan apa Pak?" Tanya pelayan kepada Wijaya.
" Maaf saya dan putri saya baru sekali ini datang kemari. Ada menu masakan apa saja di sini?" Wijaya kembali bertanya pada pelayan.
" Oh kalau begitu, selamat datang di warung kami Pak. Suatu kebanggaan bagi kami, anda sudah berkenan mendatangi tempat kami."
" Iya, terima kasih." Ucap Wijaya.
" Di sini kami menyediakan berbagai menu masakan Pak. Anda bisa melihatnya pada buku daftar menu.
" Oh, baiklah mbak." Ucap Wijaya lalu melihat daftar menu yang diberikan pelayan.
" Vina, kamu ingin makan apa?" Tanya Wijaya saat melihat daftar menu masakan.
" Sama dengan Papa saja, Vina enggak bisa memilih. Sepertinya masakannya enak semua." Ucap Vina memuji.
Si pelayan hanya tersenyum, mendengar perkataan Vina. Dia berharap tamunya ini suka makan, dan mencicipi semua masakan yang ada di warungnya. Dengan begitu, masakan yang masih ada, akan berkurang. Sehingga tidak banyak yang tersisa.
" Mbak, saya pesan nasi sama ayam bakar dua ya." Ucap Wijaya pada pelayan yang masih melamun.
" E, iya baik Pak. Sudah cuma itu saja?" Ucap si pelayan agak kecewa.
Melihat si pelayan seperti putus harapan, Wijaya merasa kasihan. Lalu menambah pesanan lagi.
" E, ini mbak. Saya mau Ikan gurami bakar empat juga, tempe goreng, terus telur goreng, masing masing empat ya mbak. Enggak perlu pakai nasi."
Melihat Papanya memesan banyak makanan, Vina kaget lalu bertanya pada Papanya.
" Papa, kok banyak sekali pesan makanannya? Vina cuma makan sedikit lho. Enggak mau banyak-banyak. Takut menjadi gemuk kalau makan banyak."
__ADS_1
Wijaya pun menjawab pertanyaan Vina,
" Ini enggak langsung dimakan malam ini. Tetapi buat di bawa pulang. Papa juga enggak mungkin menghabiskan makanan sebanyak itu."
" Oh Vina kira Papa pesan sebanyak itu untuk dihabiskan malam ini."
" Tidak, untuk di bawa pulang saja.
" Tetapi banyak sekali Papa belinya, lagi pula Papa kan setelah ini akan pergi." Ucap Vina sedih.
" Kok jadi sedih begitu, Papa enggak jadi pergi malam ini. Bos sedang ada urusan mendadak di luar negeri. Jadi sebelum Bos Papa memanggil Papa untuk kembali, Papa masih bisa tinggal di sini untuk beberapa hari."
Mendengar kalau Papanya batal pergi Vina menjadi bergairah. Kesedihan di wajahya mulai luntur. Wajahnya yang cantik, kembali berseri-seri.
" Papa batal pergi? Papa serius?" Tanya Vina untuk meyakinkan dirinya.
" Benar, Papa enggak jadi pergi malam ini. Papa serius." Ucap Wijaya meyakinkan Vina.
" Yeee..Papa enggak jadi pergi. Kalau begitu Makanannya tak perlu di bawa pulang Pa. Kita makan disini saja semuanya. Vina tiba-tiba merasa lapar sekali."
" Kamu yakin Vin, banyak lho makanannya."
" Makannya kan sama Papa, jadi Vina nggak khawatir kalau nggak habis."
" Meskipun sama Papa, tetapi tetap saja terlalu banyak Vin."
" Begitu lebih bagus, daripada semua di makan disini. Pasti nggak akan habis. Sayang kalau terbuang." Ucap Wijaya menyetujui usul Vina.
" Iya, sayang kalau terbuang Papa. mubazir. " Ucap Vina.
" Eh, maaf mbak menunggu. Kami sedang berdiskusi dulu dengan putri saya. Jadi pesanannya seperti yang kami bicarakn tadi ya mbak."
" Baik Pak, mohon maaf minumnya apa Pak?" Ucap Pelayan dengan gembira.
" Ada jus mangga mbak?"
" Ada Pak, mau pesan berapa?" Tanya Pelayan lalu menuliskan pesanan ke buku pesanannya.
" Vina, kamu mau jus mangga?" Tanya Wijaya sebelum memesan pada pelayan.
" Enggak Pa, Vina minum jeruk manis hangat saja. Takut kalau perut Vina jadi mulas, kalau minum jus mangga malam hari." Jawab Vina menolak.
" Baiklah kalau begitu. Mbak, pesan jus mangga satu saja dan yang satu, jeruk manis hangat ya." Ucap Wijaya lalu menyerahkan buku daftar menu masakan kepada pelayan.
" Baik Pak, mohon menunggu sebentar ya." Ucap pelayan dengan wajah gembira, karena Tamunya membeli lumayan banyak makanan.
__ADS_1
Setelah Pelayan pergi, Vina bertanya pada Wijaya.
" Papa, sebenarnya Papa itu di luar kota kerja apa?"
Wijaya terkejut putrinya tiba-tiba bertanya seperti itu.
" E, Papa itu kerjanya.. Ya menggambar. Menggambar bangunan." Jawab Wijaya gemetaran.
" Oh begitu, Papa bekerja sendiri atau ikut orang ?" Vina bertanya sekali lagi.
" Ya ikut orang, sayangku. Papa mana mungkin bisa bekerja sendiri. Modal saja tak punya." Jawab Wijaya semakin bergetar.
" Terus mempunyai uang sebanyak itu dari Bos Papa juga?"
" Iya." Jawab Wijaya singkat.
Dalam hati Vina, dia merasa Papanya tidak suka ditanyai tentang pekerjaannya.Itu terlihat dari cara Wijaya menjawab pertanyaan Vina.
" Emm.. Papa tidak suka Vina bertanya tentang pekerjaan Papa? Kalau tidak, Vina nggak akan tanya lagi."
" Maafkan Papa Vin, Kerjaan Papa biar jadi urusan Papa. Yang penting kamu doakan Papa saja agar bisa menghasilkan banyak uang."
" Baik Papa. Vina selalu mendoakan Papa kok, jangan khawatir."
" Ya sudah, terima kasih Nak." Ucap Wijaya sembari memegang kepala Vina dan memeluknya.
" Pa, baru kali ini Vina merasa dekat dengan Papa. Rasanya Vina tak ingin malam ini segera berakhir. Agar kita bisa saling dekat setelah sekian lama kita berjauhan." Ucap Vina pada Papanya.
" Papa juga ingin seperti itu Vin, setiap hari kalau bisa seperti ini. tidak ada pertengkaran Papa dan anak. Namun Papa punya pekerjaan yang tak bisa Papa tinggalkan. Lagipula kamu sudah dewasa sekarang. Sudah bisa mandiri." Ucap Wijaya tenang namun dalam hati takut kehilangan Vina.
" Kenapa Papa nggak mencari pekerjaan disini saja? Atau malah membuat usaha sendiri daripada ikut orang." Tanya Vina sembari memberi saran pada Wijaya.
" Sudah Papa bilang, pekerjaan Papa itu tidak bisa ditinggalkan Vina. Papa berikrar saat mengambil keputusan dengan bergabung di perusahaan tempat Papa bekerja." Terang Wijaya pada Putrinya.
" Kenapa harus memakai ikrar segala, papa? Kok aneh sekali perusahaannya." Tanya Vina penuh kebingungan.
" Iya memang seperti itu Vin. Sudah resiko Papa. Harus menjalani pekerjaan berat, yang mungkin orang lain akan berfikir sepuluh kali untuk mengambilnya." Ucap Wijaya sembari mengusap keningnya yang bercucur keringat.
" Memangya apa yang Papa gambar? Kenapa berat? Papa kan jago menggambar. Apalagi mendesign bagunan. Terus dimana yang berat itu Papa?" Tanya Vina terus mendesak Wijaya.
" Cukup Vin, Kamu tak akan pernah mengerti. Papa sudah bilang jangan bertanya tentang pekerjaan Papa. Papa tidak suka. Jadi hentikan bertanyamu itu." Ujar Wijaya kesal.
Melihat Wijaya kesal, Vina menghentikan pertanyaannya dan lebih memilih diam.
" Maaf Papa, Vina lupa. Baiklah Vina tak akan mau mencampuri urusan pribadi Papa." Ucap Vina lemas, pertanyaanya satupun tak ada yang dijawab.
__ADS_1
Wijaya tahu Vina kecewa dengannya, namun bagaimanapun dia tidak bisa memberitahu Vina tentang pekerjaan yang sebenarnya.
Untuk menenangkan hati Vina, Wijaya membelai rambut Vina berulang kali. Dalam hatinya dia sangat menyayangi kedua putrinya. Namun dia terpaksa menjauhkan anak-anaknya dari dirinya agar terhindar dari sesuatu yang berbahaya. Yang bisa saja datang sewaktu- waktu ketika Wijaya lemah.