
Tujuh hari telah berlalu semenjak diadakannya perkumpulan di Pendopo. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan anak buah Wijaya ke desa.
Bary dan sebagian anak muda yang sudah bersemangat untuk mempertahankan desa mereka mulai tak percaya dengan kata-kata Reza.
Mereka mendatangi rumah Harjo untuk bertemu Reza.
" Reza..keluar!" teriak salah satu pemuda yang datang bersama Bary dan pemuda lainnya. Sontak saja, teriakannya membuat semua penghuni rumah Harjo terkejut lalu berlarian keluar untuk melihat siapa yang datang.
" Bary..apa yang kau lakukan?!" ucap Reza dengan raut wajah yang memerah karena menahan marah pada Bary dan teman-temannya.
" Reza, bukan aku yang berteriak. Aku sudah berusaha mencegah dia, tapi dia tidak mendengarkanku." ucap Bary membela diri.
" Za..kami semua curiga kepadamu. Kamu memang sengaja membuat berita bohong, agar para warga meninggalkan tempat ini dan kamu bebas tinggal disini, kan?!" ucap salah satu pemuda dengan lantang.
" Maaf, aku tidak berbohong pada kalian. Untuk apa aku berbohong pada kalian?!"
" Katamu, mereka akan datang. Tapi mana buktinya? Kami sudah bersiap menunggu mereka datang, tapi mana? Di saat para orang tua kami kesusahan mencari tempat tinggal pengganti, kalian bisa-bisanya bersenang-senang dan tertawa-tawa di sepanjang malam, di rumah ini!"
" Bersabarlah..dan jangan membuat gaduh di rumah Kakekku. Kasihan, beliau sudah tua. Dia terbangun saat kalian berteriak-teriak! Tunggulah beberapa jam lagi. Aku yakin mereka pasti datang. Dan saat mereka datang, pastikan kalian tak akan menyesal dengan niat baik kalian.
Aku sudah mengingatkan pada kalian. Ketiga orang ini, bukan sepertiku. Mereka jauh lebih kejam dariku. Dan mereka mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi. Apa kalian yakin akan menghadapinya?"
" Reza..jangan meremehkan kami. Kami telah banyak berguru pada almarhum Pak Wira dan Pak Bono. Terakhir, kami dibekali ilmu yang cukup lumayan oleh Pak Bono sebelum ia pergi keluar kota. Kami telah menguasainya. Kini kami tak sabar untuk menjajal kemampuan kami."
" Baiklah jika kalian percaya pada kemampuan kalian. Ingat, mereka datang kemari bukan hanya untuk mengambil alih desa ini. Tetapi juga meratakan desa ini dan akan dijadikan untuk tempat judi dan maksiat."
" Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan menghadapi mereka sampai titik darah penghabisan jika mereka melakukan semua itu!"
" Nah, sekarang bersiaplah untuk menghadapi mereka. Sudahkah kalian berpesan pada Orang tua kalian?"
" Reza! Tutup mulutmu! Apa kau mengharap kami semua mati disini?!" bentak Bary karena tak terima dengan ucapan Reza.
" Haha.. Bary, aku kan sudah bilang kepadamu. Mereka bukan orang biasa. Tapi kalian tetap nekad menghadapi mereka. Jika kalian masih ingin hidup, aku rasa inilah waktu yang tepat untuk pergi dari sini dan selamatkan diri kalian."
__ADS_1
" Lalu kenapa kau masih mau bertahan disini, Reza? Apa kau juga ingin mati?"
" Hidup dan mati itu sudah takdir. Sebenarnya aku tidak mau mati, tapi aku punya tugas yang harus aku kerjakan. Demi desaku, aku akan merelakan apapun untuk desa ini."
" Reza..jangan khawatir, aku akan membantumu dan tak akan pernah mundur sedikitpun. Ayo kita hadapi musuh kita bersama-sama." ucap Bary sembari menepuk bahu Reza.
" Baiklah, Bar. Kita akan serang mereka bersama-sama. Ingat, jangan melawan sendiri-sendiri. Kita harus selalu bersama."
" Iya, Za.. Aku mengerti."
Akhirnya seluruh pemuda yang semula berkumpul di Pendopo, kini memenuhi rumah Harjo. Rumah yang terletak diujung desa bagian depan menjadi tempat berkumpul untuk menghadang anak buah Wijaya.
Tepat pukul dua belas siang datang sebuah mobil mewah berwarna hitam dan berniat ingin memasuki gapura desa. Salah satu pemuda mengetahuinya dan segera mencegat mobil itu agar tidak masuk ke desa.
" Stop!" ucap salah satu pemuda pada pengendara mobil.
Pengendara mobil menghentikan mobilnya lalu keluar diikuti dua rekannya.
" Beraninya kau menghalangi jalanku! Plakkk.." ujar Pengendara mobil lalu menampar pipi pemuda itu hingga ia melayang dan terpental sejauh sepuluh meter.
" Eh.. Ketua, para penjahat itu sudah datang." aku mencoba menghentikan laju mobilnya, tapi dia menamparku hingga aku terpental sampai sini." ucap pemuda itu pada Bary.
Bary mulai cemas. Ia tak membayangkan betapa kuatnya pengendara mobil itu. Hingga rekannya sendiri terpelanting jauh tepat di depannya.
Reza dan teman-temannya keluar dari rumah Harjo, termasuk para pemuda yang ikut berjaga mengamankan desa.
" Reza... Kita bertemu lagi sekarang. Setelah sekian lam kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" sapa Leo, salah satu anak buah Wijaya yang datang.
" Leo.. Akhirnya kau datang juga. Dulu kau bilang kita sahabat, tapi sekarang apa kau masih menganggapku sahabat?"
" Hahaha.. Sahabat, katamu? Aku tak pernah memiliki sahabat lemah sepertimu! Dasar pecundang!"
" Oh, begitu..rupanya kau telah melupakan semua kebaikanku. Baiklah, tak masalah bagiku. Kau memang bukan sahabat yang baik. Aku menyesal telah mengenalmu."
__ADS_1
" Menyesal?! Hahaha.. Reza, kau tau sifatku. Kenapa dulu kau menolongku? Hingga akhirnya, Bos Wijaya menjadikanku kaki tangannya yang paling ia banggakan. Kini aku menikmati semua dari Bos Wijaya, Reza."
" Mulutmu memang pandai berbicara, Leo. Pantas saja Bos Wijaya termakan oleh semua kata-katamu! Aku rasa, Bos Wijaya harus berhati-hati kepadamu."
" Waw...tampaknya kau peduli pada Bos Wijaya. Tapi sayang sekali, dia sudah tidak peduli lagi kepadamu. Hahaha.."
" Itu sudah menjadi resikoku. Dan aku sudah siap menghadapi kenyataan itu."
" Reza..sudahlah, aku tak ingin membicarakan dirimu yang malang ini. Kau sudah tahu apa maksud kedatanganku kemari, kan? Lalu apa yang ingin kau pilih?"
" Leo.. apa Bosmu tak bilang kepadamu? Tentu saja aku masih berpegang teguh kepada kata-kataku."
" Hahaha..jadi kau masih mempunyai nyali juga, Reza. Dulu aku sangat menghormatimu karena kau orang pertama kepercayaan Bos Wijaya, sekarang kau berbeda. Kau ibarat seekor domba yang kehilangan penggembalanya. Hahaha.. Reza.. Reza.. Kasihan sekali dirimu. Hanya karena kebaikan kecil dihatimu, kau merusak segalanya. Sekarang kau sudah tak punya apapun yang bisa kau banggakan lagi, Reza."
" Hei! Orang asing! Jangan kamu menghina warga sini seenak jidatmu! Siapapun yang tinggal disini, adalah saudaraku. Kau berani melukainya, maka kau akan berhadapan denganku!" ucap Bary dengan lantang. Ia tak terima Reza di hina dan di caci maki di desanya sendiri.
Amarah Bary pun bergejolak. Ia tak bisa lagi menahan amarahnya. Tiba-tiba ia maju dan berniat menyerang Leo. Namun Leo dengan cepat menahan Bary dan membawanya mundur kembali.
" Bary, jangan gegabah. Leo itu bukan tandinganmu. Sekalipun kau menghadapinya bersama teman-temanmu, dia tak semudah itu untuk dikalahkan. Leo biar menjadi lawanku. Kau dan teman-temanmu hadapi Lucky. Meskipun dia terlihat biasa, namun kekuatannya hampir setara dengan kekuatanmu dan teman-temanmu. Sedangkan yang satunya lagi, dia bernama Dante. Biarkan dia menjadi lawan teman-temanku. Apa kau mengerti?"
" Aku mengerti, Reza."
" Baiklah, kembali ke teman-temanmu dan bersiaplah."
" Hahaha..apa yang sedang kalian bicarakan, Reza? Apa kalian takut menghadapi kami? Jika takut,mending kalian mundur dan lekas minggat dari sini. Serahkan sertifikat tanah kalian pada kami."
" Hahaha.. Apa kau pikir kami bodoh? Sertifikat kami saat ini tak ada disini. Sebagian warga telah meninggalkan desa dan membawa serta sertifikat yang mereka miliki. Sayang sekali kedatangan kalian hanya membuang waktu yang percuma." ucap Bary sambil tertawa lebar.
" Apa?! Jadi sertifikat itu sudah dibawa pergi? Terus aku akan menyerah begitu saja dan meninggalkan tempat ini? Kalian salah. Kami akan tetap mengambil tanah kalian dengan ataupun tanpa sertikat itu."
" Hahaha.. Silahkan saja jika kau ingin mengambilnya. Tanpa sertifikat itu, tanah ini tak akan pernah menjadi milik kalian." ucap Bary sembari bersiap-siap melawan musuhnya.
Suasana mulai memanas. Leo dan kedua temannya telah bersiap melawan Reza dan para pemuda desa. Mereka tak sabar ingin menghabisi semua yang ada di tempat itu. Setelah beberapa bulan tak membunuh orang, Leo merasakan tubuhnya bergemetar. Ia sangat bersemangat bertarung dengan Reza. Seketika tubuhnya mengalirkan hawa jahat dan merasuki jiwanya. Matanya tampak memerah seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
......................