SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SEKELEBAT BAYANGAN HITAM


__ADS_3

Ditangan kanannya terpancar cahaya berbentuk mata tombak. Wira bersiap memecah kepala Reza dengan jurusnya. Namun, mengingat kelicikan yang Reza lakukan, Wira tak ingin membuat Reza mati dengan mudah. Ia kemudian mengurungkan mengeluarkan jurusnya. Lalu tanpa bersuara, Wira menendang tubuh Reza hingga terpental jauh sejauh sepuluh meter mengenai pohon besar.


" Akhhh..." Reza muntah darah akibat tendangan yang cukup keras dilakukan oleh Wira.


" Reza, sebenarnya aku bisa saja membunuhmu dengan cepat. Tapi aku tak mau. Aku tak ingin kau mati dengan mudah. Bagiku.. mempercepat kematianmu, terlalu menguntungkan bagimu. Sakit yang kau rasa di dunia ini, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekecewaanku padamu karena telah menipuku!"


" Aku mohon Wira, ampuni aku. Aku takkan melawanmu. Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah aku.. Cepat! bunuh aku!" teriak Reza karena kesal Wira membuat diri Reza seperti permainan.


" Hahaha.. kau pikir hanya dirimu saja yang bisa berbuat licik, Za.. Dahulu, aku adalah rajanya orang licik. Sudah banyak orang yang termakan olehku. Tapi itu dahulu. Sekarang aku bukan yang dulu lagi. Dan aku tak mau berbuat seperti itu lagi. Hanya orang pengecut yang berbuat seperti itu. Tapi, untuk menghadapimu, aku butuh sedikit kelicikan, Reza."


" Wira.... Cepat bunuh aku! Aku sudah muak melihatmu! Cepat.. biarkan aku menyusul Satya. Dia adalah teman yang baik. Tidak sepertimu! Dia selalu memaafkanku meskipun aku berulang kali mencoba mencelakainya."


" Berhenti mengoceh, Za. Rasakan penderitaanmu di dunia ini sebelum kau pindah ke neraka! Hiiiaaatt..." Wira kembali menendang tubuh Reza hingga Reza terpental beberapa meter dan jatuh berguling-guling ke tanah.


" Akhh... kenapa aku belum juga mati! Siall.. tubuhku seakan remuk. Wira! Kau memang biadab!" Reza memaki Wira, namun ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya sangat lemah, ia tak mampu menggunakan ilmunya lagi.


" Reza, teriakanmu membuatku ingin mengasihimu. Sebelum itu terjadi, aku akan segera mengakhiri hidupmu, Za. Pergilah kau ke neraka! Hiiiaaaattttt...."


Wira kembali menyerang Reza yang masih terkapar. Ia menggunakan jurus Kilat Mata Tombak untuk membunuh Reza seperti yang ia lakukan pada Satya.


" Tamatlah riwayatmu, Reza! Hiiiiaaaaattttt..."


Reza tak mungkin lagi mengelak dari serangan Wira. Dalam kondisinya yang terkapar dan sulit untuk bergerak, ia pastinya akan mati oleh serangan Wira. Namun keberuntungan datang pada Reza.


Ketika Wira akan melepaskan serangannya dan mengenai tubuh Reza, datang sekelebat bayangan hitam lalu menyambar tubuh Reza dengan cepat.


Alhasil serangan Wira hanya mengenai tanah hingga membuat tanah itu terbelah dan membentuk seperti galian, hingga tiga meter ke dalam.


" Siapa yang menyelamatkan Reza.. cepat sekali gerakannya. Aku hampir tak bisa mengenali wajahnya."


" Apa kabarmu Wira?" Tiba-tiba Wijaya talah sampai di belakang Wira, tanpa disadari oleh Wira.


Wira terkejut setengah mati. Kemunculan Wijaya yang secara tiba-tiba membuat Wira terdorong ke depan hingga hampir terjatuh.


Wira lalu membalikkan badannya, ia lalu menyadari jika sosok manusia di depannya adalah Wijaya.


" Wijaya.. ternyata kau datang juga. Aku pikir kau tak akan mau menyelamatkan anak buahmu, yang menyedihkan itu."


" Wira.. Kau harus bertanggung jawab atas kematian Satya. Apa kau tahu? Istri dan anak-anaknya kemarin menelponku, mereka merindukan Satya. Aku berusaha menyampaikan pesan istrinya pada Satya, namun Hpnya tak aktif.


Lalu aku mencoba mengirim pesan pada Reza, dia bilang padaku kalau Satya sudah mati. Aku sangat menyesal. Aku tak bisa melindunginya. Wira.. apa kau tahu, bagaimana perasaanmu, jika keluargamu merindukanmu tetapi kau tak pernah kembali?

__ADS_1


Apa kau berpikir sampai disitu, Wira! Dia orang yang baik, sama seperti Bono. Dia sudah lama meminta padaku, memohon padaku agar terbebas dari sanksi jika keluar dari kelompokku. Namun aku belum bisa mengizinkannya. Tetapi, aku sudah berjanji padanya, jika masalah disini selesai, aku mengizinkannya untuk keluar. Dia bebas tanpa persyaratan apapun.


Kini dia sudah pergi, kau membunuhnya Wira! Aku takkan memaafkanmu! Kau harus bertanggung jawab atas kematian Satya!"


" Wijaya! Apa kau sudah buta! Dimana otakmu? Mereka kemari ingin merebut tanahku. Apa kau pikir, aku akan begitu saja menyerahkannya pada mereka. Aku bukan orang bodoh, Wijaya. Meskipun mereka kemari dengan membawa bendera kebesaranmu, aku tak akan gentar, Wijaya."


" Jadi kau menantangku, Wira! Kau memang pantas mati! Aku tak peduli, dulu kau temanku. Aku tak peduli, dulu kau pernah membantuku saat teman-teman memukulku. Wijaya yang dulu dan sekarang berbeda, Wira. Aku adalah penguasa, apa yang ku mau, aku harus mendapatkannya."


" Oh, jadi begitu. Kau sudah tak menganggapku sebagai teman, Wijaya! Dasar Iblis! Apa kau tak punya jiwa pertemanan? Apa kau tak tahu balas budi, Wijaya?"


" Wira, aku tak pernah menganggap siapapun sebagai teman. Aku seorang penguasa yang tak butuh teman, Wira. Anak buah, bagiku tetap anak buah. Mereka tak bisa menjadi teman untukku."


" Aku tak tahu, Iblis apa yang merasukimu Wijaya! Sudah tak adakah hati nurani dalam dirimu?"


" Kau tak perlu ceramah didepanku, Wira! Aku memang tak pernah mempunyai teman! Apa kau ingat, Wira? saat kita masih duduk di bangku sekolah. Aku sangat menyukai adikmu, Rani. Aku bertaruh dengan Tanu. Aku yakin, Rani pasti akan memilihku. Tapi, kau terus mempengaruhi Rani, agar dia menerima Tanu sebagai kekasihnya.


Kau sungguh licik, Wira! Awalnya aku yang menginginkan Rani menjadi kekasihku. Tapi, kenapa Tanu juga tiba-tiba menginginkannya. Kau sengaja membuat keduanya menyukainya satu sama lain. Ku pikir kau teman yang baik, Wira. Ternyata kau tak berbeda dengan teman-teman yang lain pada waktu itu!


Wira, apa kau tahu kemana orang-orang yang telah memukuliku dulu? Apa kau pernah bertemu dengan mereka? Aku.. aku telah membunuh mereka semua, Wira! Dan sekarang, tinggal kau satu-satunya orang yang ingin aku bunuh, Wira. Ini adalah giliranmu. Bersiaplah, Wira!"


" Pancaran energinya sangat hebat. Darimana ia mendapatkan energi yang sebesar itu. Apakah aku sanggup menghadapinya?" Ucap Wira dalam hati.


Wijaya dengan cepat melesat ke arah Wira. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang Wira secara bergantian.


Wira benar-benar sedang dilanda bahaya besar. Tenaganya sudah terkuras saat melawan Reza. Apalagi, tubuhnya terluka dan ia belum sempat mengobati lukanya. Sementara, lawannya kali ini benar-benar sangat tangguh.


" Wijaya, aku tak tahu kenapa kita bisa bertemu dalam keadaan seperti ini. Aku pikir kau masih baik seperti dulu. Tapi, aku terkejut karena kau telah berubah jauh, Jay.."


" Wira! Ini semua adalah salahmu! Kau telah menjelek-jelekkanku, dan berbicara pada Rani agar menjauhiku. Lalu kau memilih Tanu menjadi kekasihnya. Kau sungguh biadab, Wira. Aku sakit hati pada Rani dan Tanu... Kelak, jika aku bertemu dengan mereka, aku akan membunuhnya. Tapi sebelum itu, aku akan melenyapkanmu terlebih dahulu dari dunia ini, Wira!"


" Aku tak pernah menjelek-jelekkanmu Wijaya. Rani sendiri yang bilang padaku, kalau dia lebih memilih Tanu daripada kamu."


" Kenapa? Kenapa Rani menolakku? Wira. Jangan coba-coba untuk membohongiku!"


" Karena kamu pemalu, Wijaya! Kau sangat payah dan lemah! Rani tak menyukai laki-laki yang lemah!"


" Kurang ajar! jadi Rani bilang padamu, kalau aku lemah? Kau memang brengsek, Rani! Aku akan mencarimu dan memberi perhitungan denganmu! Wira, dimana Rani tinggal? katakan padaku.. cepat!!"


" Apa yang ingin kau lakukan pada Rani, Wijaya? Dia seorang wanita, apa kau akan melawan wanita? Memalukan sekali, seorang Bos Mafia bisa-bisanya melawan wanita."


" Diam kau, Wira! aku tak menyuruhmu bicara! Cepat katakan dimana rumahnya?"

__ADS_1


" Kalaupun aku tahu, aku takkan mengatakannya kepadamu, Wijaya."


" Kurang ajar... Ku bunuh kau, Wira!"


Wijaya menjadi murka, Wira tak mau memberitahu keberadaan Rani. Ia kemudian menyerang Wira dengan tiba-tiba. Dalam keadaan dekat, sangat menguntungkan bagi Wijaya untuk menyerang Wira.


" Buuukkkkk.." Wijaya berhasil menendang bagian perut Wira hingga Wira terlempar jauh, hingga dua puluh meter.


Wira terjatuh, ia pun muntah darah. Sembari memegangi perutnya yang terasa perih, Wira mencoba berdiri.


Sebelum Wira mampu berdiri, Wijaya sudah berada tepat dibelakangnya. Dan sekali pukulan, kembali dilayangkan oleh Wijaya ke punggung Wira yang robek akibat tebasan pedang Reza.


" Akkkhhh..." Wira berteriak menahan sakit perut, dan luka di punggungnya yang bertambah parah akibat pukulan Wijaya.


Wira tersungkur ke tanah. Belum berhenti menjerit dari rasa sakit yang ia rasakan, Wijaya menginjak punggung Wira dengan keras.


" Akhhhhhh.... ba****an kau Wijaya! Akhhh..." Wira berteriak semakin keras sembari memaki Wijaya.


" Wira, itu kesalahanmu karena kau tak mau memberitahu dimana Rani berada. Kau rasakan sendiri sekarang akibatnya. Hahaha.."


" Kau memang binatang, Wijaya! Akhhh..." Wira tak henti-hentinya memaki Wijaya, hingga membuat Wijaya semakin berambisi untuk membunuhnya.


" Wira, ayo.. cepat katakan dimana rumah Rani! Kalau tidak, aku akan mematahkan kedua kakimu.. Apa kau dengar Wira?"


" Patahkan kalau kau mau, Wijaya. Patahkan saja! Aku takkan pernah sudi memberitahu dimana Rani berada. Sampai kapanpun aku takkan pernah memberitahumu!"


" Kurang ajar.. dasar keras kepala! Hiaaaaattt..."


" Akkkhhhh..." Wira berteriak menahan rasa sakitnya ketika kedua kakinya patah akibat ulah Wijaya.


" Akkkkkhh.. akhhhhh....Wijaya! aku bersumpah, Aku akan membalasmu melalui generasi- generasi penerusku. Kau dan pengikut-pengikutmu akan musnah, Wijaya!"


" Hahaha.. teruslah kau mengoceh, Wira. Aku akan segera mengirim kau ke neraka."


Wijaya kembali menyerang Wira. Ia terlebih dulu menendang tubuh Wira hingga terpelanting jauh sekitar dua puluh meter. Lalu ia memusatkan tenaga dalamnya ke kaki sebelah kanan.


Setelah terkumpul, Wijaya menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Tenaga dalam yang ia hasilkan, sangat besar. Ia memang berniat ingin membunuh Wira. Tak heran jika ia mengumpulkan tenaga dalam yang besar untuk menyerang Wira.


Wira sudah tak mampu lagi untuk bergerak. Tubuhnya lemas, luka di punggung bekas sabetan pedang Reza yang sempat tertutup, kini terbuka kembali. Darahnya pun perlahan mengalir kembali. Ia sudah kehabisan tenaga, penglihatannya sudah buram, tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Wira telah memasrahkan hidup dan matinya pada Tuhan. Ia kemudian bersujud menunggu serangan dari Wijaya. Bersiap menunggu malaikat maut datang menjemputnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2