
Setelah dua jam perjalanan, Wira dan Novi tiba di rumah Rani. Wira memarkirkan mobilnya di samping rumah Rani. Tama yang sedang bermain di teras rumah menyambut kedatangan Wira don Novi. Dia berteriak-teriak karena terlalu senang melihat mobil Wira.
Rani keluar dari kamarnya lalu melihat Wira yang sudah menggendong Tama.
" Mas Wira, kapan datangnya? kok aku nggak dengar suara mobilnya." Tanya Rani keheranan.
" Baru saja tiba Ran. Eh, ini Tama ya Ran. Sudah besar sekarang." Ucap Wira sembari memegang pipi Tama yang imut.
" Iya mas, sudah besar sekarang. Makanan apa saja, dia doyan. Beruntung dia nggak pilih-pilih makanan."
" Hehe, berarti dia bisa diajak prihatin Ran. Iya kan Tam," Ucap Wira lalu kembali memegang pipi Tama yang imut.
" Eh, mas. Kok kamu bawa seorang wanita kesini diam saja ? Kenapa nggak dikenalkan, gitu?"
" Oh, iya. Maaf ya Nov. Aku rindu keponakkanku. Malah mendiamkanmu."
Novi hanya tersenyum dan menunduk. Dia sangat malu. Selama bersama Wira, dari kecil hingga sekarang, belum pernah sekalipun, ia bertemu dengan saudaranya.
" Ran, ini kekasihku. Namanya Novi. Dia manajer di restoran baruku."
Rani mengulurkan tangannya, begitu juga dengan Novi.
" Aku Rani, adik kandung Wira."
" Saya Novi buk, saya yang selama ini ikut dengan Pak Wira menjadi pembantu setianya."
" Novi? Mas, sepertinya dulu kamu mengangkat seorang anak bernama Novi kan? Jangan-jangan kamu menikahi anak angkatmu?" Tanya Rani sembari mengingat-ingat nama anak yang dulu pernah diceritakan Wira.
" Eh, kalau itu.. Iya memang benar Ran. Novi yang ku angkat menjadi anak, kini jadi kekasihku."
" Kamu serius mas? Jangan main-main lho. Kasihan kalau dia jadi mainanmu."
" Ran, aku serius menjalin hubungan dengannya. Aku tersiksa rindu dengan mendiang Dinda. Kalau aku terus sendiri, kesepian menghantuiku. Pikiranku dibayang-bayangi rasa ingin menyusul Dinda pergi. Tapi, aku takut jika diriku mati, aku tak bisa bertemu dengannya karena aku salah mengambil jalan."
" Ya sudah, aku tak mempermasalahkan itu mas. Kalau itu sudah keputusanmu, aku sebagai adikmu, hanya bisa mendukung dan berdoa. Semoga apa yang kamu lakukan, diberikan kemudahan dan kelancaran mas."
" Terima kasih sudah mau mengerti aku Ran. Aku pikir kamu tak menyetujui keinginanku."
" Selama tidak bertentangan dengan aturan yang ada, aku tak melarangmu mas."
" Eh, mari masuk dulu, masa ngobrol di depan pintu. Ini juga sudah hampir maghrib."
Rani berjalan masuk rumahnya diiringi Wira dan Novi.
" Silahkan duduk dulu, kamu mau minum apa dik Novi?" Tanya Rani pada Novi.
" Eh, tidak usah repot-repot mbak. Saya malah jadi nggak enak."
" Tidak usah sungkan, anggap saja kamu di rumah kamu sendiri. Sebentar lagi kan kamu akan jadi kakak iparku. Anggap saja ini rumah kamu sendiri."
__ADS_1
" Nov, kita disini tidak sebentar lho. Kita akan membahas hal penting. Waktu satu jam tidak akan cukup." Ucap Wira.
" Iya sudah kalau begitu. Saya air putih saja mbak." Ucap Novi asal karena tak tahu harus meminum apa. Dia merasa seperti sudah kenyang minum.
" Yakin air putih saja?"
" Iya itu saja mbak." jawab Novi.
" Kamu minum apa mas?"
" Kalau aku, kopi hitam pahit saja tak usah pakai gula. Gula sedang mahal kan. Haha.." Ucap Wira sembari tertawa.
" Walaupun mahal, kami masih sanggup beli mas. Kamu ini seperti menghina kami saja lho."
" Iya, Pak Wira ini tidak baik lho bilang seperti itu." Novi membela Rani.
" Aku cuma becanda, jangan dipikir serius."
" Ngobrol sama kamu, kalau dipikir serius bisa jadi gila mas." Ucap Rani sambil tertawa, lalu berjalan ke dapur membuatkan minum.
Selang beberapa menit, Rani kembali ke ruang tamu, membawakan minuman untuk Novi dan Wira.
" Mari silahkan diminum, minumannya. Pasti kalian haus, setelah perjalanan jauh."
" Terimakasih mbak." Ucap Novi.
" Wah, masih panas Ran. Aku tak bisa langsung meminumnya." Wira ganti bicara
" Sudah Ini saja Ran, nanti kamu capek bolak balik."
" Nggak apa-apa, lagipula nggak jauh kok."
" Tidak usah Ran, ini saja sudah cukup."
" Baiklah, kalau nanti kurang, kamu ambil sendiri saja ya mas. Seperti biasanya, prasmanan saja."
" Hehe.. Iya beres Ran. Oh iya, Suamimu kemana Ran? Kenapa belum tampak batang hidungnya."
" Sepertinya tadi pagi bilang, pulang terlambat karena mau ngajar extrakulikuler mas.
" Begitu ya. Sebenarnya aku juga ada perlu sama suamimu, tapi karena dia tidak dirumah, lebih baik aku ngbrol sama kamu saja."
" Begini Ran, aku kesini buat membahas pernikahan kami. Apa kamu bisa membantuku?"
" Wah, sudah kuduga. Sudah nggak tahan ya mas? Aku nggak tahu sejak kapan kalian menjalin hubungan. Tiba-tiba saja datang kemari bilang mau menikah."
" Hehe, ini kejadian yang tiba-tiba Ran. Hubungan kami terjalin saat perasaan kami bergejolak. Awalnya aku sudah menyerah, ternyata Novi memberikan sinyal positif."
Novi hanya menuduk dan terdiam saat Wira berbicara dengan Rani. Dia tak tahu harus memulai bicara apa dengan calon kakak iparnya itu. Sementara itu, Wira sibuk membicarakan pernikahannya dengannya.
__ADS_1
" Ran, bagaimana solusinya? Kami mau menikah tapi Novi sudah tak memiliki orang tua. Apa boleh memakai jasa orang untuk menjadi wali nikahnya?"
" Mas, apa kamu nggak ingat dimana kamu menemukan Novi? Harusnya dimana ia tinggal, disamping kanan kirinya ada keluarganya. Memakai jasa wali itu, nanti kalau sudah tidak ada jalan lain lagi, untuk mencarinya."
" Rencana kami mau mencari jejak Novi Ran, tapi aku sudah memutuskan untuk kemari bersamanya. Mungkin besok kami akan mencarinya."
" Baiklah mas, kita bicara setelah maghrib saja ya. Sekalian nunggu suamiku pulang. Mungkin dia bisa memberi saran juga mas. Siapa tahu nanti saran dari suamiku malah yang terbaik. Kamu masih lama disini kan mas?"
" Kamu benar juga Ran, sebaiknya aku menunggu suamimu pulang dulu. Iya aku masih lama disini. Kalau perlu kami akan menginap. Hehe.."
" Pak Wira, saya tak ingin menginap. Saya tidak biasa tidur di rumah orang lain. Kalau Pak Wira mau menginap, saya akan pulang jalan kaki."
Mendengar ucapan Novi, Rani terkejut. Sepertinya Novi tipe wanita keras kepala. Dia pemberani namun tidak sombong.
" Novi, nggak apa-apa kalau kamu juga menginap disini. Masih ada banyak kamar kosong kok. Kebetulan Anak kembarku sedang kuliah di luar kota. Makanya mereka memilih untuk kos disana daripada bolak balik pulang pergi."
" Iya Nov, kalau kita pulang, kita akan melakukan perjalanan yang lebih jauh lagi. Daripada seperti itu, mending kita menginap disini. Besok pagi kita berangkat ke tempat asalmu."
" Novi, benar kata masku. Lebih baik menginap disini. Lagipula kalau pulang, pasti bakal kemalaman. Waktu istirahat kalian akan berkurang. Coba kalau menginap disini, kalian masih bisa santai-santai sebelum berangkat."
" Baiklah kalau begitu mbak, saya ikut mbak saja."
" Nah, begitu kan lebih baik. Ya sudah, saya mau shalat dulu. Mau berjamaah denganku Nov?"
" Eh, saya.." Novi kebingungan mau menjawab apa.
" Dia sedang berhalangan Ran." Wira membantu menjawab pertanyaan Rani.
" Oh, jadi begitu. Ya sudah, saya duluan ya Nov. Mas Wira, sebentar lagi kamu akan jadi imam untuk istrimu. Bagaimana dengan ibadahmu?"
" Eh, aku, aku.. Iya aku baru belajar shalat Ran. Agak susah, jadi kalau tidak ada yang mengimami, aku tidak shalat." Wira kebingungan menjawab pertanyaan Rani. Dia mau tak mau berbohong pada adiknya agar tidak diceramahi dengan kata-kata pedas. Padahal sebenarnya, Wira tak pernah mengerjakan ibadah.
" Dari dulu masih belajar mas? Kita tidak tahu usia kita sampai berapa tahun lagi mas. Apa yang mau kamu bawa kalau mati nanti?"
" Eh, Rani. Aku tahu itu. Baiklah, nanti kalau ketemu Tanu, aku juga akan belajar ibadah bersamanya."
" Ya sudah mas, maaf ya Nov, aku kadang seperti ini sama calon suamimu. Ya supaya kelak dia tidak menyesal."
Tubuh Novi bergetar. Dia sadar, Wira tak pernah mengajarkan shalat kepadanya. Di pun tidak pernah sedikitpun tersentuh untuk melaksanakan shalat.
" Tidak apa-apa mbak. Memang kalau belum pernah mengerjakannya pasti akan sulit. Mohon Pak Wira, dibimbing mbak."
" Biar suami saya saja yang menuntun dia Nov, kalau aku ngajari dia, aku sendiri yang pusing. Ya sudah ya, aku tinggal dulu. Sebelum waktunya habis."
Novi tersenyum malu menanggapi ucapan Rani, dia mulai menyadari, hidup ini tiada berarti tanpa iman didalam hati.
" Pantas saja, aku tidak pernah merasa senang apalagi bahagia. Sepertinya aku jauh dari Tuhanku." Aku tak pernah melaksanakan kewajibanku sebagai manusia ciptaan penguasa alam semesta. Tuhan, ampunilah segala dosa-dosa yang telah ku perbuat."
Sambil merunduk, Novi meneteskan air mata. Dia diam-diam mengusap air matanya berulang-ulang. Dan menyembunyikan air matanya dari Wira yang sedang asyik menemani Tama bermain Puzzle di lantai.
__ADS_1
" Betapa banyak air mata yang ku keluarkan, ternyata inilah penyebabnya. Maafkan aku Tuhanku."
......................