SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MENEMUKAN RENDRA


__ADS_3

" Goblok! Kenapa kita tidak memikirkan hal ini Bon. Kita terjebak disini. Rendra... Dasar pengecut! Keluarkan kami dari sini!" Teriak Wijaya dari dalam lift yang macet.


" Bos, kita harus tenang. Jika Bos banyak bicara, kita akan kehilangan cara dan kehilangan banyak tenaga di dalam sini. Tenangkan pikiran Anda, mari kita berpikir bersama. Bagaimana caranya kita keluar dari sini."


" Kamu tahu aku sedang marah Bon. Aku tak mungkin bisa diam. Semakin aku diam, keinginanku untuk berteriak semakin besar."


" Jika Bos seperti itu, Bos akan susah bernafas jika tidak bisa keluar dari sini."


Ketika Bono saling bicara dengan Wijaya, asap putih pekat masuk melalui sela-sela pintu lift.


" Asap apa ini Bos? Kenapa bisa masuk kemari?"


" Awas Bon! Jangan dihirup! Ini asap beracun, kamu akan mati jika menghirupnya."


Bono segera menutup hidungnya rapat-rapat. Dia ingat, pernah melakukan hal yang sama dengan asap putih tebal di dalam lift, saat membunuh konglomerat besar saingan Rendra.


" Bos, asap ini semakin tebal. Apa yang harus kita lakukan? Apa Bos punya cara?" Bono kebingungan hingga dirinya mondar mandir di dalam lift.


" Serahkan saja padaku Bon. Aku akan menghancurkan pintu lift ini. Mundurlah ke belakangku."


Bono menuruti perintah Wijaya dan bergegas mundur ke belakang Wijaya.


Wijaya mulai mengalirkan tenaga dalamnya lalu mengumpulkannya ke bagian tangannya. Dia kemudian meninju ke arah pintu lift.


" Blaaarrr.." Pintu lift hancur menjadi beberapa nagian dan terlempar ke depan hingga beberapa meter jauhnya.


" Ayo Bon kita keluar dari sini." Wijaya menyeret Bono yang lemas karena kehabisan oksigen, akibat menutup hidungnya rapat-rapat, untuk menghindari asap beracun."


" Kita berada di lantai berapa Bos, kenapa ruangan ini semua penuh asap?" Bono mulai terbatuk-batuk karena sedikit menghirup asap beracun.


" Bon, jangan dihirup. Tahan nafasmu." Ucap Wijaya untuk mengingatkan Bono.


" Saya tak tahan Bos, lebih baik saya lompat keluar dari sini daripada menahan nafas disini."


" Aku akan menghancurkan dinding ruangan ini agar angin bisa masuk dan mengeluarkan asap ini dari dalam sini."


" Terserah Bos saja. Saya tak bisa berpikir. Saya sudah tak saggup lagi menahan nafas."


" Tahan beberapa detik lagi Bon. Aku akan segera menghancurkan salah satu dinding di ruangan ini."


" Haaaaaa...." Setelah mengalirkan tenaga dalam ke kedua telapak tangannya, Wijaya meninju ke dinding yang berhubungan langsung dengan luar bangunan.


"Blaarr..." Dinding ruangan di lantai tiga jebol, dan sebagian ambrol lalu jatuh ke bawah.


Saat itu angin diluar sedang besar-besarnya. Melalui dinding yang terbuka, angin menyapu bersih asap yang tak diketahui darimana asap itu berasal.


" Bono, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Wijaya dengan gelisah.


" Saya lemas Bos, tenaga saya sepertinya terkuras habis. Uhuk..uhukk.." Bono terbatuk mengeluarkan darah yang sedikit hitam.


" Astaga! Apa kamu tadi menghirupnya Bon? Kenapa kamu muntah darah?"


" Aku tak tahu Bos, yang jelas saya sedikit mencium bau seperti belerang."


" Hemm.. Racun apa yang mereka gunakan? Bono, aku akan mengeluarkan asap yang masuk ke dalam tubuhmu. Bersiaplah!"


" Baik Bos, hati-hati. Saya tak mau kesakitan karena Bos yang mengobati."


" Tenang saja Bon, ini tak terasa sakit. Aku hanya akan mengeluarkan asap beracun yang telah menempel di hidung hingga paru-parumu."


Dengan sekuat tenaga, Wijaya mengeluarkan racun yang menempel melalui hidung dan paru-paru Bono.


" Uhukk..Uhuukk.." Bono terbatuk, racun yang dia hirup keluar bersamaan dengan darah kental yang menghitam.

__ADS_1


"Ahhh.. Lega rasanya. Terima kasih Bos. Anda telah menyelamatkan nyawa saya."


" Kamu tak perlu berterima kasih padaku. Karena bantuanku itu adalah hutang untukmu. Dan kamu wajib membayarnya. Hahaha.."


" Saya tahu itu Bos, setidaknya saya sekedar mengucapkan terima kasih karena nyawa saya berhasil tertolong."


" Aku tak butuh ucapan terima kasih Bon, yang aku butuh, orang itu akan selalu setia dan tunduk pada perintahku. Itu saja."


" Tapi saya tetap saja ingin mengucapkan itu Bos. Saya sadar diri, tanpa orang lain kita bukan siapa-siapa. Jadi jangan sekali-kali merasa hidup kita itu sendiri dan menjalaninya sendiri."


" Terserah kamu saja Bon, aku tak ingin memikirkan masalah itu. Lebih baik kita fokus untuk menyerang Rendra."


" Baik Bos, saya juga sudah tak sabar ingin bertemu dengannya."


" Hem.. Ayo Bon. Kita harus menaikki tangga untuk sampai ke persembunyian Rendra."


Tanpa menunggu lama lagi, Wijaya segera meninggalkan lantai tiga dan menaikki tangga berikutnya untuk bertemu Rendra.


" Bos, sepertinya Rendra meremehkan kita. Lihat saja, seharusnya dia memasang jebakkan tidak hanya pada satu lantai. Seorang pembunuh besar mungkin akan memasukkan jebakan beruntun di setiap lantai, agar targetnya tak bisa menemukannya."


" Aku tak peduli, Rendra meremehkan kita atau tidak. Yang pasti, aku ingin dia mati hari ini juga."


" Sabar Bos, jangan garang begitu. Kita temukan dahulu Rendra, baru Bos boleh marah-marah. Jangan marah-marah, didepan saya."


Tak mempedulikan kata-kata Bono, Wijaya menggedor pintu ruangan milik Rendra.


" Rendra! Keluar! Hadapi aku!"


" Kurang ajar! Ternyata kamu masih hidup Jay!" Ucap Rendra dengan lirih.


" Siapa Bos?" Tanya wanita simpanan yang sedang memeluk Rendra tanpa memakai busana.


" Wijaya, dia dulu bekas anak buahku. Sekarang dia menjadi pembangkang, dan menantangku." Jawab Rendra dengan santai sambil mencium kening wanita itu.


" Dia bukan apa-apa bagiku. Aku akan keluar dan membunuhnya."


Kedua wanita yang bersama Rendra saling berpandangan, mereka ketakutan saat Wijaya beranjak dari tempat tidurnya hendak meninggalkan mereka. Mereka mendekat dan saling berpelukkan.


" Bos, jangan sampai kalah. Bunuh dia sesuai janji Bos." Ucap Dini, wanita simpanan Rendra yang pertama.


" Iya Bos, jangan sampai kalah. Kalau kalah bagaimana dengan nasib kami?" Ucap Karin, adik kandung dari Dini.


" Kalian tenang saja, aku takkan membiarkan Wijaya hidup dengan tenang. Selama dia masih hidup, dia ancaman terbesar bagiku. Karena dia telah mengetahui seluruh kelemahan-kelemahanku."


" Apa? Lalu bagaimana cara mengalahkannya Bos?" Tanya Dini dan Karin secara bersamaan.


" Sudahlah. Tak perlu khawatirkan itu. Cepat kalian kenakan pakaian kalian, dan bersembunyilah. Aku akan memancing membawa mereka keluar."


" Baik Bos." Ucap Dini.


Dini dan Karin segera beranjak dari tempat tidur dan buru buru mengenakan pakaian mereka. Tak berapa lama setelah mereka selesai memakai pakaian mereka, pintu kamar Rendra hancur dan terlempar ke depan hingga mengenai jendela kamar Rendra. Dan saat itu juga Rendra yang sudah ingin membuka pintu, malah ikut terlempar bersamaan dengan pintu yang jebol.


" Ba****an! Beraninya kalian merusak ruang peristirahatanku!"


Rendra berdiri setelah terlempar jatuh ke depan hingga jarak tiga meter. Sementara itu, Dini dan Karin berteriak histeris di sudut lemari pakaian milik Rendra.


" Wow wow wow... Bon, ada pemandangan yang sangat mengesankan rupanya disini.


" Brengsek!!! Ayo kita selesaikan di luar! Tak pantas bagi pengkhianat seperti kalian masuk ke dalam ruang keindahanku!"


" Eit.. eit.. Jangan marah-marah dulu Bos Rendra. Saya datang kesini, hanya untuk bertemu denganmu. Kami sudah mengetok pintu, tapi tidak segera dibuka. Ya sudah kami dobrak. Eh tak tahunya, ada yang sedang bercinta disini, dengan Wanita-wanita muda yang menggairahkan, lagi." Ucap Wijaya sambil tertawa kecil namun menahan amarah yang sangat besar.


" Apa urusanmu? Aku mau bercinta dengan siapapun, itu adalah urusanku! Kamu tak berhak mengurusiku!"

__ADS_1


" Bon, rupanya Bos kita serakah juga ya. Kakak beradik ini dijadikan santapan nafsu birahinya." Ucap Wijaya sambil mendekati kedua gadis itu.


" Jangan mendekat, kamu jangan macam-macam dengan kami!" Teriak Dini dengan rasa takut.


Sementara Karin hanya bisa pasrah. seandainya Rendra kalah dan Wijaya menodainya, dia akan terima. Dia tak peduli dengan siapapun yang bermain dengannya. Yang penting bisa membuatnya puas."


" Cihh.. Aku tak sudi menyentuhmu. Kalian hanyalah wanita-wanita ****** yang kurang makan. Jika tak ada lagi yang mau dengan kalian, aku yakin kalian hanya akan menjadi gembel jalanan yang penyakitan."


" Jaga bicara kamu! Kami juga tak sudi di sentuh kalian. Pengkhianat!"


" Hahaha..Tajam juga mulutmu. Bon, aku rasa ini cocok untukmu. Kamu belum pernah merasakan tidur bersama perempuan ****** kan?"


" Hahaha, apakah Bos mengizinkan?" Ucap Bono sambil mengusap-usap tangannya.


" Pilih mana yang kamu sukai Bon. Bole dibawa pulang."


" Saya mau dua-duanya Bos. Soalnya, keduanya sama cantiknya. Bibirnya seksi, tubuhnya juga indah. Saya pasti betah sehari semalam tidak keluar-keluar kamar. Hehe.."


" Aku tak sudi sama kamu! Jangan sentuh kami!" Teriak Dini saat Bono hendak mendekatinya.


" Bono! Ba****an kamu! Jangan sentuh-sentuh mereka! Jauhi mereka! Kamu tak pantas menyentuh sesuatu yang bukan milikmu!


" Wow.. ada yang marah. Ndra, apa dia milikmu? Bukankah dia wanita-wanita pemuas nafsumu saja, yang kau bayar dengan uang?" Ucap Wijaya pada Rendra yang mulai emosi karena kelakuan Bono.


" Itu sama sekali bukan urusanmu! Bono! Jauhi wanita -wanitaku!"


" Bos, saya takut pada Rendra. Dia melarang saya mendekati mereka. Apa yang akan Bos lakukan padanya?" Canda Bono setelah Rendra berusaha menghalanginya.


" Kamu tenang saja Bon. Aku akan membawanya keluar. Kau boleh nikmati gadis-gadis itu sepuasmu. Dendammu biar aku yang membalaskan."


" Sebenarnya saya berat melakukannya Bos, tapi jika perintah Bos seperti itu apa boleh buat. Yang penting Bos harus menang. Buat dia menyesali perbuatannya di masa silam."


" Hei! Berani kamu menyentuhnya, ku potong-potong tubuhmu! Teriak Rendra saat Bono hendak ingin menggerayangi tubuh mulus Dini.


" Jangan! Pergi! Aku tahu kamu orang baik, Jangan paksa kami!" Ucap Dini meronta karena disentuh oleh Bono.


Sementara Karin tak bergerak di belakang Kakaknya yang tersudut di dinding dan alamari.


" Kamu tahu aku orang baik? Hahaha.. Darimana kamu tahu aku orang baik? Jelas saja aku mantan pengikut Ba****an seperti dia. Laki-laki penghasil uang untukmu! Apa kamu pikir pesuruh lebih baik daripada Tuannya?"


" Bono, sudahlah. Jika Bos Rendra orang jahat. Kamu yang jadi mantan pengikutnya, jadilah orang yang baik." Bujuk Dini agar Bono tak memaksanya lagi.


" Bos, saya sudah tak tahan. Keluarkan pengganggu itu dari dalam sini. Aku akan memggilir mereka."


" Jangan! Bos Rendra, apa yang Anda lakukan. Selamatkan kami! Teriak Dini dan berusah menghindari kelakuan nakal tangan Bono.


" Kurang ajar! Berani sekali kamu mengganggu pilihanku! Ku bunuh kamu Bon!" Rendra hendak berlari menuju ke tempat Bono dan wanita-wanita simpanannya.


"Eittt.. tunggu dulu. Urusan kita belum selesai, Ndra. Jangan membuatku cemburu. Biarkan mereka bermain sepuasnya. Dan kita juga sama. Kita bermain sampai salah satu nyawa dari kita hilang."


" Jay, aku harus memusnahka pengganggu gadis-gadisku dulu. Setelah itu baru kamu. Tunggulah, bersabarlah."


" Ndra! Aku sudah tak sabar lagi membalaskan dendam atas kematian putriku! Ayolah, sekarang kita bertarung mati-matian!"


" Baiklah, kita akan melakukannya. Tapi biarkan wanita-wanitaku pergi. Aku akan melayanimu sampai kau mampu Jay Asalkan mereka boleh pergi."


" Baiklah Ndra. Aku akan membiarkan dia pergi. Bon, bawa dia pergi ke tempat yang kamu mau. Rendra telah mengizinkan mereka untuk pergi. Hahaha.."


" Brengsek! Bukan itu maksudku. Biarka mereka pergi sendiri. Lepaskan mereka dan jangan sakiti mereka!"


" Itu sama sekali bukan urusanmu, Ndra. Mereka mau pergi kemanapun, Bono akan mengantarkannya. Kamu tak perlu khawatir. Meskipun mereka akan ternodai laki-laki lain, kamu takkan merasa menyesal karena sebentar lagi kamu takkan bisa melihat mereka lagi. Persiapkan dirimu, Ndra."


......................

__ADS_1


__ADS_2