SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SULIT DI PERCAYA


__ADS_3

Setelah Wijaya menobatkan dirinya sebagai Bos mafia, dia membangun markas baru di Kota Baru. Gedung dan bangunan bekas markas Rendra sengaja dibiarkan terbengkelai. Sebenarnya Markas Rendra adalah Markas yang di peruntukkan khusus untuk Bos mafia terkuat. Itu adalah tanah negara yang di sewa.Tak heran walaupun ada kejadian heboh bagaimanapun, tak ada polisi yang mau menangani. Semua tutup mata dan tutup mulut tentang kasus-kasus yang terjadi di markas Rendra.


Dengan markas barunya, Wijaya mulai merekrut orang-orang baru sebagai kepercayaaannya. Dia juga membangun gedung fitnes untuk menyaring orang-orang pilihan yang datang untuk fitnes dan menawarkan agar bergabung dengan Wijaya.


Seiring berjalannya waktu, Wijaya mulai berambisi untuk memperbesar kepemimpinannya dengan menambah orang untuk bergabung dengannya. Sekolah bela diri ia buka untuk menciptakan orang-orang yang kuat untuk mempertahankan kekuasaanya agar tak jatuh ke tangan orang lain.


Hingga bisa di katakan kekuasaan Wijaya sangat besar dan kekayaannya mampu melebihi orang paling kaya di dunia. Banyak penjahat-penjahat kecil tunduk padanya dan bersedia bergabung dengannya. Dengan memberikan upah yang cukup besar, Wijaya selalu mampu menggapai keinginannya.


Pada sore hari, Wijaya berbicara empat mata dengan anak buah kepercayanya pengganti Bono. Dia adalah Reza, cucu Harjo yang telah meninggalkan desanya karena kecewa dengan Kakek dan beberapa orang yang membuatnya menjadi semakin tak terkendali.


Setelah kepergiannya dari desa lereng bukit, Reza menghabiskan setiap malamnya dengan minum minuman keras di Bar tempat biasa dia minum bersama temannya. Di sana lah dia bertemu Wijaya yang kebetulan sedang berada di Bar itu.


Reza sempat terjatuh karena mabuk berat. Wijaya berusaha menolongnya dan membawanya ke rumahnya.


Segala macam pertanyaan dilontarkan pada Reza yang saat itu sudah tersadar dari tidurnya. Lalu mereka saling bercerita, bercanda, dan akhirnya mereka saling cocok. Wijaya pun merekrut Reza menjadi abdi setianya.


Dalam ceritanya, Reza mengutarakan kebenciannya pada Bono. Dia ingin membalas dendam karena telah merebut kekasihnya. Namun dia tahu, Bono bukanlah lawan yang mudah. Reza mengeluhkan hal ini pada Wijaya. Hingga akhirnya Wijaya merasa iba pada Reza. Ia pun kemudian membantu Reza berlatih ilmu bela diri. Bulan berganti bulan, akhirnya Reza mampu menguasai ilmu yang telah diajarkan Wijaya.


Dengan didikan Wijaya kali ini, Reza lebih bisa diandalkan daripada Bono. Ia pun tak sombong seperti Bono meskipun dia telah menjadi orang yang kuat.


Pada sore hari, Wijaya nenelpon Reza dari luar negeri. Dia memerintahkan Reza untuk pergi ke puncak bukit.


" Reza, kamu dimana?" Tanya Wijaya melalui telpon.


" Saya di markas Bos, ada yang bisa saya bantu?" Jawab Reza lalu bertanya balik pada Wijaya.


" Pergilah ke Puncak Bukit Barat, temukan siapa pemilik lahan itu. Jika kamu bertemu dengannya, katakan bahwa aku akan membelinya dengan harga berapapun."


" Eh, baiklah Bos. Saya akan kesana sore ini juga. Saya juga ingin melihat suasana kampung halamanku yang menyedihkan itu."


" Ingat, jangan melakukan sesuatu diluar perintahku. Kalau kau tak ingin menyesal."


" Baik Bos, saya akan patuhi segala perintahmu. Kalau begitu saya akan berangkat sekarang Bos."


"Jangan sekarang. Besok pagi saja kamu kesana. Sebentar lagi sudah petang. Lebih bagus kalau kau berjalan pada pagi hari. Itu akan membuat tubuhmu segar."


" Oh, baiklah kalau begitu Bos. Saya akan bersiap dahulu."


" Hemm.. Ya sudah aku masih ada urusan. Telpon aku kalau kau sudah mendapatkan hasilnya. Jangan menelpon dan jangan kembali kalau kau belum mendapatkan apapun."


" Baik Bos, saya mengerti."

__ADS_1


Wijaya menutup telponnya. Sementara Reza bergegas menyiapkan perbekalan untuk besok pagi. Perjalanan kota Baru hingga ke puncak bukit sangatlah jauh. Dengan memakai mobil saja perjalanan membutuhkan waktu sekitar delapan belas jam, namun Reza diperintah untuk berjalan kaki agar sampai ke puncak bukit.


" Hemh, mungkin dengan berjalan kaki akan membuat tubuhku semakin kuat. Angap saja ini latihan untukku. Aku nggak boleh bersikap buruk pada orang yang telah membuatku jadi seperti ini." Gumam Reza.


Hingga pukul tujuh malam, Reza telah siap dengan perbekalannya. Dia lalu berbaring di ruang tidurnya yang istimewa. Wijaya sengaja membuatnya betah tinggal dan tetap setia padanya dengan memberikan apapun yang Reza perlukan. Tak hanya itu saja, Wijaya berjanji akan membelikan rumah mewah seharga tiga milyar di Kota Baru.


Kemewahan yang Reza dapatkan membuatnya terlena. Dia tak ingin kehilangan itu semua meskipun harus menjadi pengikut setia Wijaya.


Disaat Reza merenung seseorang datang mengetok pintu kamarnya.


" Tok.. tokk.. tokk.."


" Siapa?" Tanya Reza dari dalam. Dia kemudian melihat dari Cctv. Seorang laki-laki bertubuh kekar sudah berada di depan pintu kamar Reza.


" Satya.. Ada apa kamu kemari? Apa Bos menyuruhmu?"


" Oh, Iya. Aku mendapat tugas untuk mengawalmu ke Puncak Bukit Barat. Tadi sore Bos menelponku."


" Kenapa harus meminta bantuanmu? Aku tak membutuhkan teman. Aku lebih suka bekerja sendirian. Kamu hanya akan menjadi beban dalam pekerjaanku."


" Reza, jangan sombong. Ilmu yang kau miliki belum seberapa. Jika kamu pergi seorang diri, bagaimana jika ada yang mengikutimu dan mencelakaimu."


" Jaga mulutmu Reza. Aku tak mungkin punya niat jahat kepada sesama rekan kerjaku. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan Bos kita. Kalau kau keberatan, kau bisa mengajukan keberatanmu kepada Bos."


" Kurang ajar, beraninya dia menyuruhku. Kenapa Anda menyuruh orang seperti dia untuk menjadi rekan satu tim denganku Bos? Aku tak menyukainya. Dia sangat menyebalkan." Gumam Reza dalam hati.


" Baiklah, jika Bos yang menyuruhmu. Aku akan menerimamu penjadi pengawalku. Tapi ingat, jangan membebaniku. Jika ternyata dalam perjalanan ini kita dihadang musuh, dan kamu kalah, jangan salahkan aku kalau aku meninggalkanmu. Jika musuh itu sampai membunuhmu jangan berharap aku akan membantumu dan menyelamatkanmu."


" Reza, kau ini memang egois. Tapi aku takkan mudah dikalahkan. Kita lihat saja saat bertemu musuh, siapa yang akan kalah terebih dahulu."


" Kita lihat saja Satya. Siapa yang akan menang, aku atau kamu"


" Hemhh.. Baiklah Reza, aku akan pergi dulu. Aku tak ingin terlalu lama berdebat denganmu. Bicara denganmu sama saja bicara dengan perempuan." Ucap Satya lalu bergegas meninggalkan Reza.


" Berani sekali kau menyamakanku dengan perempuan! Satya!" Teriak Reza karena tak terima dengan ucapan Satya.


Sementara Satya tak menghiraukan perkataan Reza. Dia berjalan menuruni tangga dan keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Reza.


" Brengsek! awas saja Kau Satya, besok akan ku beri kamu pelajaran. Beraninya merendahkanku!"


Reza mengumpat dalam hatinya, perkataan Satya mampu membuat dirinya merasa terhina. Untuk melampiaskan kemarahannya, dia meninju berkali-kali guling di sebelahnya. Hingga setengah jam lamanya, Reza pun kelelahan. Akhirnya dia tertidur dalam posisi menindih guling dan tangannya masih dalam posisi mengepal.

__ADS_1


Keesokkan harinya, Satya kembali menemui Reza. Dia mengetok pintu kamar Reza. Kali ini dia tak menjumpai Reza. Namun di bawah pintu kamarnya tertulis sebuah surat untuk Satya.


" Satya brengsek! Aku pergi lebih dulu. Aku nggak mau pergi setelah matahari bersinar terik. Aku alergi dengan panas. Kalau kau mau ikut, ikutilah jalan utama ke Puncak Bukit. Aku melewati jalan yang biasa ku lalui. Maaf aku hanya bawa bekal untuk diriku sendiri. Kalau kau mau, bawa sendiri juga. Jangan mengharap aku membawakan untukmu."


" Sial.. Jadi kau mendahuluiku. Tak masalah bagiku. Tapi kamu sangat bodoh. Kenapa melewati jalur utama yang jelas itu sangat ramai. Jam sepuluh saja sudah panas, apalagi kau akan melakukan perjalanan jauh. Hahaha.. Otakmu sangat dangkal Reza."


Tak berapa lama kemudian, setelah membaca surat dari Reza, Satya bergegas keluar dan menyusuri jalan yang dilewati Reza. Dia berlari dengan kencang dan berhasil menemukan Reza.


" Itu dia si Bodoh, kacungnya si Bos. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Ah itu dia.." Ucap Satya, lalu mengambil batu seukuran kepalan tangan orang dewasa dan melemparkannya ke arah Reza.


" Syuuuuttt.." Bongkahan batu dengan cepat mengarah ke kepala Reza.


Reza dengan cepat menghindarinya tanpa menggunakan secuilpun kekuatannya. Dia menoleh ke arah dari mana batu itu melesat.


" Sudah ku duga, ternyata kau yang ingin mencelakaiku Satya! Tak seharusnya aku memberitahumu tentang kepergianku! Aku harus memberimu pelajaran karena kau telah menyerangku Satya!"


" Eitt.. tunggu dulu Za. Jangan terbawa emosi. Aku hanya mengetes tingkat kewaspadaanmu. Aku tak bermaksud menyerangmu. Percayalah padaku."


" Ahh.. Omong kosong! Rasakan seranganku Satya!"


" Tunggu Za. Tunggu dulu. Aku hanya bercanda. Aku tahu kemampuanmu. Tak mungkin kamu tak bisa menghindari batu itu."


" Banyak omong kamu Satya! Ayo kita bertarung!"


" Sial.. Sulit di percaya. Ternyata Reza tak bisa di ajak bercanda. Menyebalkan sekali. Namun dia serius dalam menanggapi seranganku tadi. Baiklah, mau tak mau aku harus menghadapinya. Aku harus berlari ke arah hutan untuk menghindari kecurigaan orang-orang." Gumam Satya dalam hati lalu berlari ke arah samping kiri dan menerobos rimbunan pohon pinus hingga ke tengah hutan.


" Mau kemana kau Satya! Jangan lari!" Ucap Reza lalu mengejar Satya dengan cepat.


Dibekali dengan ilmu ninja, mudah bagi Satya untuk menerobos rimbunan pohon. Dia berlari dan melompat kesana kemari dengan sangat bebas. Namun Reza bukanlah orang yang lemah. Dengan dorongan yang kuat dalam dirinya. Untuk membuktikan ke siapapun bahwa ia lah yang paling kuat, Reza rajin berlatih dengan keras. Dia pun mampu mengimbangi kecepatan Satya.


Hingga di tengah hutan Satya menghentikan langkahnya. Dia mencari tempat yang luas untuk menguji kemampuan Reza.


" Mau lari kemana kau Satya! Ke ujung dunia pun akan ku kejar!"


" Hahaha.. Aku bukan lari darimu Reza. Tapi aku mencari tempat yang luas untuk bertarung denganmu."


" Kenapa? Apa kamu ingin tempat ini menjadi kuburanmu? Tapi, baiklah kalau ini maumu."


" Reza, aku iri denganmu. Kenapa kau lebih mendapatkan hak istimewa dari Bos. Sedangkan aku, aku sama dengan yang lainnya. Bagi Bos, aku hanya bawahan yang tak ternilai harganya. Aku ingin tahu, apa yang membuatmu istimewa di mata Bos. Tunjukkan kehebatanmu Za!"


......................

__ADS_1


__ADS_2