SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PENGORBANAN BAGUS


__ADS_3

Di episode kali ini, penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya pada teman-teman semua yang masih setia mengikuti karya Novel Semua Tentang Dendam (STD). Penulis tak bisa terlalu aktif menulis dikarenakan kesibukan penulis yang tidak bisa ditinggalkan. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua, sehingga Penulis masih bersemangat menulis hingga episode terbaru ini. Salam untuk kalian semua, sehat dan selalu bahagia bersama orang-orang yang terkasih. 🙂🙂🙂🙏🙏🙏


Kejahatan Wijaya dan Reza sangat besar. Keluarga Tanu yang semula hidup rukun dan damai, setelah mereka hadir dalam kehidupan Tanu dan keluarganya, mengukir cerita yang sangat menyedihkan.


Kini tinggal lah Tama dan adiknya Rama yang masih tersisa. Mereka kakak beradik yang masih berusia dibawah lima tahun. Setelah keluarganya binasa, Tama tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Kala itu Tama masih berada di dalam rumah dan sedang menggendong adiknya. Sementara Wijaya dan Reza masih berada diluar dan bermaksud akan menghabisi Bagus.


Tiba-tiba Rama menangis sangat keras. Tama bingung bagaimana cara menenangkannya.


Tangisan Rama mengundang perhatian Wijaya dan Reza. Mereka pun berteriak menyuruh Tama keluar dari rumah.


Karena ketakutan, Tama pun mulai membuka pintu dan keluar membawa adiknya yang masih menangis.


" Reza.. bawa anak-anak itu. Mereka juga anak Tanu. Bawa kemari, aku ingin menghabisinya!"


" Baik, Bos.." ucap Reza lalu melangkah menuju ke arah Tama dan Rama.


" Adik kecil... larilah.. jauhi orang itu. Cepat.. lari..." teriak Bagus, bermaksud menyuruh Tama pergi dari tempat itu.


Teriakan Bagus membuat Tama merasa ketakutan. Ia pun pergi berlari menuju ke dalam rumahnya. Rama menangis semakin menjadi karena Tama membawanya berlari.


" Jangan masuk ke dalam rumah... Pergilah.. menjauh dari tempat ini.." Teriak Bagus.


" Ah.. setidaknya aku bisa menyelamatkan bocah itu sebelum Reza atau Wijaya membunuhku." gumam Bagus dalam hati. Ia pun mencoba peruntungan berlari meskipun dengan terhuyung-huyung mengejar Reza.


Bermodalkan kunci motor yang ada di tangannya ia menusuk punggung Reza.


" Akkkhhh..." teriak Reza kesakitan.


" Reza..." teriak Wijaya. Ia lalu berlari ke arah Reza.


" Kurang ajar! Kau telah melukaiku!" ucap Reza sembari memegang punggungnya yang telah mengeluarkan darah segar.


" Hahaha.. setidaknya aku masih bisa melukaimu, Reza. Walaupun aku mati.. pengorbananku tak akan sia-sia." ucap Bagus.


Reza pun mencoba berdiri. Ia mencoba untuk menyerang Bagus dengan jurus andalannya. Namun usahanya gagal karena ia terlebih dulu jatuh ke tanah.


Melihat Reza terkapar, Wijaya segera memberinya pertolongan. Ia mencoba menghentikan pendarahan di punggungnya. Setelah darah berhenti keluar, ia merobek baju Reza untuk membungkus luka di punggung Reza.


" Maafkan saya, Bos. Saya lengah." ucap Reza pada Wijaya. Beberapa detik kemudian, ia tak sadarkan diri.


" Tak apa, Reza. Aku juga tidak menyangka, Bagus masih bisa memberikan perlawanan." ucap Wijaya.

__ADS_1


" Bagus.. kau memang manusia tak tahu diuntung. Pergilah kau ke neraka bersama keluarga Tanu!"


" Tuan Wijaya.. aku tak takut mati. Biarpun aku mati ditanganmu, tapi aku bahagia karena setidaknya aku telah membantu menyelamatkan salah satu anggota keluarga Pak Tanu."


" Hahaha.. bocah itu tak akan bisa lari dariku, Gus. Aku akan menemukannya."


" Aku yakin bocah yang bernama


Tama itu bocah yang cerdas. Kau tak akan bisa menangkapnya."


" Sudahlah Gus. Sebaiknya kau pejamkan matamu. Aku akan segera mengakhiri hidupmu!"


Perlahan Wijaya mengeluarkan jurus andalannya. Sembari menunggu Bagus mengatakan sesuatu untuk yang terakhir kalinya.


Namun yang ditunggu tak juga mengeluarkan suaranya. Ia lalu berkata pada Bagus.


" Gus.. katakan apa yang ingin kau katakan. Ini untuk yang terakhir kalinya sebelum nyawamu melayang."


Bagus hanya diam. Dia tak mempunyai harapan apa-apa. Namun dia teringat dengan Ibunya yang saat ini sedang sakit.


" Wijaya, aku tak punya pesan apapun untuk disampaikan. Ayo.. lekas bunuhlah aku jika kau memang berniat ingin membunuhku!"


" Baiklah.. Tanganku juga sudah gatal ingin ******* tubuhmu,Gus! Matilah kau!"


Ibu.. semoga kau lekas sehat. Aku pamit, Bu. Aku tak bisa lagi untuk merawat Ibu lagi. Tapi tenanglah, Aku masih mempunyai banyak tabungan untuk kelangsungan hidup Ibu. Terima kasih selama ini telah merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang.


Sayangnya aku belum bisa membahagiakanmu. Belum bisa memberikan cucu untukmu. Semoga kau tak bersedih melihat kepergianku.


Selamat tinggal Ibu..." ucap Bagus dalam hati.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara teriakan Bagus yang tengah melayang ke udara dan tubuhnya hangus terbakar akibat serangan Wijaya.


" Hahaha.. mampus lah kau bedebah!" teriak Reza dengan penuh kegirangan.


" Reza.. ayo, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini."


" Eh, bagaimana dengan bocah tadi Bos? Apa kita akan meninggalkannya?"


" Sudahlah.. aku sudah tak tertarik. Bocah itu masih dibawah umur. Jika orang tuanya mati, pasti dia juga akan mati secara perlahan. Dia pasti belum mengerti dunia luar. Biarkan saja dia mati mengering di dalam rumahnya."


" Baik, Bos. Jika itu sudah menjadi keputusan Bos Wijaya. Lagipula saya mesthi memulihkan tenaga saya."


" Sampai ke markas, aku akan membantu memulihkan tenagamu."

__ADS_1


" Terima kasih Bos Wijaya. Saya sangat berhutang budi pada Anda."


" Pengorbanan dan kesetiaanmu padaku sudah terlalu besar, Za. Kau pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dariku."


...----------------...


Malam pembantaian keluarga Tanu telah berakhir. Wijaya dan Reza sudah meninggalkan rumah Tanu. Mereka bermaksud untuk kembali ke markas mereka. Sementara itu, Tama masih berusaha menenangkan Rama yang masih menangis sejak tadi.


" Rama, jangan menangis. Kak Tama ada disini. Kakak akan menemanimu." ucap Tama dengan ucapan cidalnya.


Berkali-kali Tama mencoba, namun Rama tak juga berhenti menangis. Ia menjadi bingung. Ia pun mencoba melihat ke jendela. Di luar sudah tak ada siapa-siapa.


Dengan perasaan takut, Tama mencoba membuka pintu rumahnya dan membawa Rama keluar untuk melihat keadaan diluar.


" Mereka sudah pergi, Rama berhentilah menangis. Jangan takut, Kakak ada disini." bujuk Tama pada Rama.


Usaha apapun yang dilakukan Tama, tak mampu membuat Rama berhenti menangis. Ia merasa sedih karena sebagai Kakak, ia tak bisa menjaga adiknya dengan baik.


" Rama, apa kamu haus?" tanya Tama.


Ia kemudian menaruh jempol tangannya dan mendekatkannya di bibir Rama.


Dengan cepat, Rama memegang jempol tangan Tama dan menyedot tangan Tama seperti layaknya saat meminum air susu ibunya.


Rama terdiam, meskipun jempol tangan Rama bukan sumber minuman seperti pada Ibunya, namun Rama menjadi sedikit lebih tenang. Perlahan ia tertidur pulas.


" Rama, ternyata kamu haus. Tapi tanganku tak membuatmu kenyang. Apa yang harus ku lakukan?"


Tama menggendong adiknya dengan susah payah. Tubuhnya yang sebenarnya belum mampu untuk memikul beban berat, ia paksakan. Ia berjalan menghampiri orang-orang yang terbaring di halaman rumahnya.


" Paman.. Kau yang tadi menyuruhku berlari. Mungkin kamu sangat kelelahan. Tidurmu sangat nyenyak sekali." ucap Tama lalu pergi menuju yang lain.


" Kak Bulan, Kak Raka, Kak Riko, Ayah.. Dimana Ibu?" ucap Tama lagi sembari mencari dimana Ibunya terbaring.


Kemudian ia melihat dari beberapa meter ia berdiri, di luar pagar terdapat sosok wanita yang tubuhnya menghitam. Ia pun menghampirinya.


" Ibu? apakah kamu Ibu?" ucap Tama sembari menangis.


" Ibu.. kenapa tubuhmu hitam seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tama bertanya-tanya sendiri. Tangisnya semakin menjadi kala dia menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya yang tak juga bangkit dari tempatnya terbaring.


Sesaat kemudian terdengar petir yang sangat keras. Tama terkejut. Ia lalu berlari membawa Rama masuk kedalam rumahnya.


Hujan pun mulai turun, tubuh-tubuh yang terbaring ke tanah tersiram oleh air hujan. Tama melihat dari dalam jendela rumahnya. Ia melihat ke semua tubuh yang terbaring diluar. Dan bertanya-tanya, kenapa saat hujan mereka tidak berteduh didalam rumah saja.

__ADS_1


......................


__ADS_2