
" Sedikit cerita singkat tentang Xena tiga tahun yang lalu. "
Xena adalah adik Vina yang cantik. Ia adalah Putri kesayangan Wijaya saat ini. Semenjak kepergian Vina, Wijaya berjanji pada dirinya untuk menjaga Xena dengan segenap kemampuannya. Ia tak ingin kehilangan putrinya sekali lagi. Meskipun dahulu Wijaya menganggap Xena bukan seperti anak kandungnya, namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menerima Xena sebagai Putrinya. Bukan tanpa alasan Wijaya memperlakukan Xena berbeda dengan Vina. Ia mendapat hasutan dari pesaingnya kalau anak yang dikandung istrinya bukan anak Wijaya. Itu bisa dilihat sejak Xena lahir. Tak ada kemiripan antara dirinya dengan Xena. Dan karena itu, Wijaya hampir saja menceraikan istrinya karena hasutan dari pesaingnya, yang sebenarnya berkeinginan merebut istri Wijaya.
Namun karena Istri Wijaya bersikeras, Wijaya pun luluh. Ia sangat mencintai istrinya. Ia pun lebih mempercayai istrinya dibanding dengan orang lain.
Dan kini belasan tahun telah terlewati. Xena tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Ia memiliki perawakan tinggi dengan rambut lurus yang panjang. Ia juga mewarisi kecantikan Ibu dan Kakaknya. Wijaya pun mulai semakin yakin, kalau Xena adalah Putri kandungnya.
Setelah beberapa tahun tinggal bersama pengasuhnya, kini Xena tinggal bersama Wijaya di Markas Besarnya.
Keinginannya untuk tinggal bersama Ayahnya adalah atas kemauannya sendiri. Ia sangat merasa kesepian dan membutuhkan sosok seorang Ayah yang akan selalu berada didekatnya. Ia pun memutuskan untuk bertemu dengan Ayahnya. Wijaya pun menyetujui keinginan Xena. Ia juga khawatir jika Xena harus tinggal sendirian di tempat yang jauh dari tempatnya. Ia pun mengizinkan Xena untuk tinggal bersamanya.
...----------------...
" Pa.." ucap Xena sembari melihat di sekeliling ruangan Ayahnya.
" Kenapa, Xena?" ucap Wijaya.
" Jadi Papa tinggal disini selama ini? Seluas ini? Apa Papa tak kesepian?" tanya Xena.
Wijaya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Xena. Ia memandang wajah anaknya dengan tajam. Ia lalu memegangi kedua pipinya dengan kedua tangannya sambil berkata," Papa akan selalu kesepian, Xena. Dimanapun Papa berada, Papa akan selalu kesepian." ucap Wijaya.
" Apa Papa tak ingin menikah lagi?"tanya Xena lagi.
Wijaya kembali tertawa terbahak-bahak. Itu membuat Xena menjadi tak nyaman berbicara dengan Ayahnya. Ia pun mulai memasang wajah merengut.
Dan lagi, Wijaya kembali tertawa. Namun ia langsung menghentikan tawanya ketika wajah Xena mulai berubah merah.
" Tak ada wanita manapun yang bisa menggantikan posisi Mama kamu, Xena. Yah..walaupun, terkadang Papa ingin semua dilayani. Tapi, jika mengingat tentang Mama kamu, Papa jadi sedih. Dan selalu mengurungkan dan menepiskan keinginan Papa itu."
__ADS_1
" Seandainya Xena dulu tinggal bersama Papa, pasti Xena bisa selalu menemani Papa. Tapi Papa mengasingkanku. Kaya bukan anak kandung sendiri."
" Heh...stttts...jangan bicara begitu. Ada alasan kenapa Papa tak mengizinkanmu tinggal bersama Papa. Kau tahu pekerjaan Papa, bukan? Pekerjaan Papa itu kotor, jahat dan Papa tak ingin membuat hidupmu terancam. Papa itu adalah Seorang Bos besar. Sebelumnya, Papa ini bukan siapa-siapa. Dan ketika baru beberapa hari jadi Bos, cobaan hidup Papa bertubi-tubi. Banyak sekali yang ingin menjatuhkan Papa. Makanya, Papa tak ingin menempatkanmu dalam bahaya."
" Pa, kenapa Papa mau jadi seperti ini? Kenapa nggak menjadi orang biasa saja. Xena yakin, Papa sebenarnya orang baik. Tinggalkan saja dunia Papa yang hitam ini."
" Tidak bisa, Xena. Papa sudah terlanjur. Papa tak bisa keluar seenaknya. Sama saja, Papa bunuh diri kalau Papa meninggalkan dunia Papa. Itu tak semudah yang kamu bayangkan, Xena."
" Lalu bagaimana, Pa? Apa Papa akan terus hidup seperti ini?"
" Benar, Xena. Papa tak ada pilihan lain. Apa kamu mau, Papa mati?"
" Kenapa Papa bertanya seperti itu?!Mana mungkin Xena mengharap yang seperti itu?!" ucap Xena jengkel.
" Haha..jangan ngegas. Cantik-cantik kok galak, judes, hehehe.."
" Iya, Xena.. Ya sudah kalau begitu beristirahatlah. Papa akan tunjukkan kamar kamu."
" Baik, Papa. Kalau bisa kamar Xena jangan jauh-jauh dari kamar Papa. Xena takut."
" Hehe..tidak.. Papa tahu yang kamu mau. Nah itu kamar kamu, dan sebelahnya lagi itu kamar Papa. Masuklah, dan bersihkan badanmu. Papa akan keluar sebentar. Ada yang ingin Papa temui."
" Siapa, Pa? Terus, Xena sendirian di rumah ini?"
" Teman Papa. Tidak, rumah ini di jaga security dua puluh empat jam. Jadi kalau kamu butuh apa-apa, tinggal panggil mereka."
" Apa tak ada pembantu di rumah ini? Lalu siapa yang memasak untuk Papa? Siapa yang bersihkan, dan juga setrika baju Papa?"
" Papa selalu makan di luar. Kalau soal pakaian, Papa selalu cucikan ke tempat laundry."
__ADS_1
" Kenapa Papa nggak mempekerjakan orang saja untuk membantu Papa? Apalagi, Xena berada disini. Pasti Xena butuh teman perempuan."
" Papa sudah dua kali mempekerjakan orang untuk membantu Papa. Tapi keduanya jahat. Mereka selalu berusaha mencelakakan Papa. Mereka juga sering mencuri uang Papa. Sekarang Papa sudah jera. Papa tidak akan pernah memasukkan orang lain ke dalam rumah ini lagi."
" Lalu bagaimana dengan Xena, Pa?"
" Papa akan membebaskanmu. Jika kamu ingin makan, kau boleh memesan lewat online. Kalau kau ingin masak sendiri, kau suruh saja orang yang berada di bawah untuk membelikanmu apa yang kamu butuhkan. Pokoknya, kamu akan terjamin disini. Apapun yang kamu mau, katakan saja dan semua akan mudah."ucap Wijaya dengan senyum lebar.
" Hemm..baiklah, Pa. Kalau begitu Xena masuk dulu, ya. Kalau Papa mau ketemu teman Papa, ya sudah. Hati-hati, Papa."
" Hehe..baik, Xena. Papa berangkat dulu. Papa khawatir, dia sudah menunggu Papa terlalu lama sehingga membuatnya marah. Nanti Papa akan segera kembali."
" Baik, Pa." ucap Xena lalu bergegas menutup pintu kamarnya.
...----------------...
Tiga tahun berlalu. Xena pun semakin tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan. Banyak sekali laki-laki yang datang padanya lalu mengatakan cinta kepadanya tanpa basa-basi. Awalnya, Xena merasa risih. Namun ia mulai menjadi terbiasa. Meskipun Papanya berwatak jahat, Xena tak sedikitpun memiliki sifat Papanya.
Meskipun ia tinggal di lingkungan yang bisa saja merusak dirinya, namun ia sama sekali tak terpengaruh. Pendiriannya sangat teguh. Ia tetap menikmati hidupnya dengan suka cita. Hingga pada akhirnya, ia mulai merasa jenuh dengan kehidupan di Kota. Keberadaan Wijaya tak mampu memberikannya kenyamanan. Suatu hari Xena meminta pindah keluar Kota. Setelah kelulusan Sekolah Menengah Pertama, Ia memutuskan untuk pergi ke Desa.
Wijaya pun memenuhi permintaan Xena. Ia lalu mengantarkan Xena ke tempat kelahirannya.
Sampai di tujuan, Xena mulai memasuki halaman rumahnya. Ia kemudian membuka pintu rumahnya. Matanya tertuju pada foto-foto yang terpajang di dinding ruang tamu.
Perlahan dia mengambilnya dan melihat foto itu dengan lembut.
" Itu adalah foto kita sekeluarga. Papa, Mama kamu, Kakak kamu dan kamu. Awalnya foto itu berada di dalam gudang. Papa menyimpan semua foto-foto kenangan masa lalu kita di sana. Tapi Kakakmu mengambilnya. Dia mengganti bingkainya lalu memajangnya di dinding itu. Kalau Papa pulang, Papa selalu melihatnya memeluk foto itu. Mungkin dia merindukan Mamanya. Sekarang dia pasti sudah menjadi yang beruntung karena bertemu dengan Mamanya di Surga." ucap Wijaya sembari memeluk Xena dengan lembut.
......................
__ADS_1