
Suara ledakan yang terjadi hingga berkali-kali membuat penasaran warga. Seluruh warga berkumpul dan Menuju ke arah suara ledakan.
" Siapa yang membunyikan petasan malam-malam begini? Ini belum waktunya bulan puasa, kenapa menyalakan petasan?" Tanya Rika pada Santi yang berada di sampingnya.
" Aku juga tidak tahu Rika, aku mau lihat keluar sebentar." Jawab Santi lalu berjalan keluar untuk melihat keadaan diluar rumah.
" Tunggu San, aku ikut. Aku takut sendirian." Ucap Rika lalu berjalan setengah berlari, mengikuti Santi.
Di teras rumah Rika, Harjo dan Bara terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Mereka ketakutan melihat pertarungan Wira dan Bono walaupun cuma sebentar saja.
" Pak Harjo, Mas Bara ada apa? Siapa yang menyalakan petasan?" Tanya Rika.
Bara dan Harjo terkejut mendengar suara Rika, dengan gugup Bara menjawab pertanyaan Rika.
" Eh, itu tadi bukan petasan Rika. Tadi pertarungan antara dua orang manusia sakti."
" Dua orang sakti? Siapa? Bono atau Pak Wira?" Tanya Santi.
" Dua-duanya. Mereka saling menyerang dan menghasilkan ledakan yang menyakitkan telinga."
" Bono? Jadi yang membuat ledakan tadi Bono? Lalu dimana mereka?" Tanya Rika, khawatir dengan Bono.
" Kami tidak tahu Rika. Awalnya Bono ingin pergi untuk menyelesaikan urusan yang penting. Lalu Pak Wira mencegahnya. Namun Bono tak menghiraukan larangan Pak Wira untuk pergi. Pak Wira menghalangi jalan Bono, dan akhirnya terjadilah pertarungan."
" Ada apa dengan Bono? Kenapa dia masih saja berperilaku kasar. Sebenarnya dia mau berubah atau tidak? Lihat saja kalau dia kembali, akan kupukul sampai pingsan."
" Rika, kemungkinan bukan Bono yang mulai menyerang. Tetapi Pak Wira, dia yang mulai menyerang Bono lebih dulu. Aku tidak tahu awal permasalahannya hingga mereka bertengkar. Namun dari apa yang kulihat, Pak Wira lah yang ingin mencoba menghentikan Bono." Ucap Harjo menenangkan Rika agar tidak terburu-buru mencurigai Bono.
" Baiklah, aku akan mencarinya. Seenaknya saja pergi dariku tanpa izin. Katanya cinta, tapi pergi kemana tak memberitahuku." Ucap Rika kesal, lalu keluar mencari Bono.
Rika menerobos kerumunan Warga dan berlari mengejar kemana Bono pergi. Hingga sampai di depan gapura desa, Rika dihadang oleh Wira.
" Rika! Kamu mau kemana?" Tanya Wira yang secara tiba-tiba muncul disamping Rika.
" Eh, Pak Wira. Darimana Anda datang?" Rika terkejut dan hampir terjatuh karena kedatangan Wira yang secara tiba-tiba.
" Aku sudah dari tadi disini. Apa kau tak melihatku?"
" Maaf Pak Wira, disini gelap. Saya tidak melihat Anda tadi."
"Disini gelap menurutmu? Lalu kamu mau pergi dalam keadaan jalan yang gelap seperti ini?"
" Saya harus mencari Bono, saya tak ingin dia pergi keluar dan berbuat jahat lagi."
" Tenanglah, dia tidak jahat. Dia hanya ingin membalaskan dendamnya saja."
" Membalas dendam? Kepada siapa Pak?" Kenapa dia tidak cerita?"
" Aku tidak tahu rika, sorot matanya sangat tajam. Dia haus membunuh."
" Apa?? Tidak, Bono tidak boleh membunuh siapapun. Dia sudah berjanji akan berubah. Bono! Bono!"
Rika mencoba keluar gapura desa, jalanan yang gelap membuatnya takut untuk melangkah. Ia teringat dengan kelakuan bejat Reza yang hampir memperkosanya. Dia tak ingin kejadian yang sama terjadi untuk kedua kalinya.
" Bono..Bono.. Kamu sudah berjanji kan. Apa kau tak ingin menepati janjimu? Kenapa kau tak mendengarkanku?"
Rika tertunduk lesu, tubuhnya lemas. Diapun terjatuh terduduk di tanah. Lalu menangis meratapi kepergian Bono.
Wira mencoba menenangkan Rika. Lalu mengajaknya untuk pulang ke rumah. Namun Rika menolaknya. Dia akan tetap di tempatnya sebelum Bono kembali.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Bono merasakan ada yang mengganjal dipikirannya. Sepertinya ada yang memanggil namanya. Dia kemudian duduk lalu mencoba memejamkan matanya.
Sesaat dia mendengar seorang wanita yang memanggil namanya sambil menangis.
" Rika? Kenapa kamu menangis? Bukankah kau bersama Santi dan yang lainnya." Bono terkejut, dia mendengar suara tangisan Rika dengan mata batinnya.
" Rika, kau mendengarku? Apa yang kau lakukan? Kenapa kamu menangis?"
Dalam kegelapan Rika mendengar suara Bono, diapun mengusap air matanya lalu menyahut panggilan Bono.
" Bono, Kau kah itu? Kamu dimana?"
" Aku sudah berada jauh dari perbatasan desa Rika. Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?"
" Bono, kembalilah. Jangan tinggalkan aku. Aku takut sendiri."
" Rika, tak perlu takut. Santi akan menemanimu. Aku sudah meminta tolong kepadanya."
" Aku nggak mau. Pulanglah.. Kalau tidak, aku akan menyusul kakek."
" Memangnya berani sendiri? Bagaimana kalau Kakekmu bangkit dalam rupa yang berbeda?"
" Bono! Aku serius!" Ucap Rika lalu mulai berjalan menyusuri kegelapan malam.
" Rika, tunggu.. Aku akan kembali. Jangan kemana-mana, tetap di tempatmu." Ucap Bono lalu bergegas memacu mobilnya dengan cepat menuju ke perbatasan desa.
" Rika, sepertinya kau bisa mengendalikan orang berwatak keras kepala seperti Bono. Aku kagum padamu. Kamu sangat beruntung memilikinya. Apakah kalian akan melanjutkan hubungan kalian sampai ke jenjang pelaminan?" Tanya Wira yang sedari tadi masih berada tak jauh dari Rika berdiri.
" Saya menyukainya, tapi saya takut dia akan berubah menjadi jahat lagi setelah menikah dengan saya, Pak Wira. Dia masih misterius. Pergi saja tanpa pamit sama saya."
" Rika, jika dia memberitahumu kemana dia pergi, pasti kau takkan mengizinkannya. Aku rasa itulah yang ada dipikirannya."
" Tentu saja saya takkan membiarkannya pergi. Saya membutuhkannya Pak Wira. Saya sudah labuhkan hati saya kepadanya. Bagaimana jika dia pergi meninggalkan saya sendiri, saya takkan bisa hidup tanpanya."
" Kapan Pak Wira akan menikah?" Saya nggak menolak Pak, tapi bagaimana dengan Bono. Apa dia akan setuju?"
" Itu yang sedang aku pikirkan, jika dia tak mau menikah bersama denganku, tidak masalah."
" Baiklah kita tunggu Bono kembali dulu Pak Wira."
" Iya Rika. Eh itu mobilnya. Dia sudah kembali Rika."
" Bono! Ihh.. Buat aku khawatir saja. Kamu mau pergi kemana? Kenapa nggak Izin dulu kepadaku? Seenaknya saja pergi tanpa pamit. Apa kamu nggak mengerti perasaanku?"
" Eh, aku ada keperluan yang harus aku selesaikan Rika. Maafkan aku tidak pamit dahulu kepadamu. Aku pikir jika aku minta izin pasti kamu tak mengizinkanku."
" Diizinkan atau tidak, kamu harus minta izin kepadaku. Kamu tahu kan, sekarang Kakekku sudah nggak ada. Lalu kenapa kau ingin pergi begitu saja. Apa kamu nggak khawatir padaku? Memangnya kamu anggap aku apa? Apa itu yang sudah sering kamu lakukan pada para mantan kekasihmu dahulu?"
" Ssstttss.. Rika, jangan marah. Aku minta maaf. Aku takkan mengulangi perbuatanku. Aku tak terbiasa meminta izin atau memberitahu siapapun kemana aku pergi. Maafkan aku Rika."
" Bono, aku takut kehilanganmu. Aku sudah kehilangan Kakekku. Sekarang aku hidup seorang diri. Berjanjilah kau akan tetap beraamaku selamanya, Bono."
" Rika, Percayalah.. Sejak aku kembali kemari, hanya satu tujuanku. Itu adalah untuk memilikimu dan membuatmu bahagia. Tanpa kau meminta, aku akan menyerahkan kesetiaanku padamu Rika."
" Bono, maafkan aku. Terkadang aku ragu kepadamu saat jauh darimu. Aku khawatir saat aku sudah mulai jatuh hati kepadamu, kamu malah pergi meninggalkanku." Ucap Rika sembari memeluk Bono dengan erat.
" Rika, Rika.. aku memang pernah berbuat jahat, aku selalu mengingkari janjiku. Tapi itu dulu Rika. Sekarang, aku berubah untukmu. Apalagi yang kamu khawatirkan?"
" Aku hanya khawatir saat jauh darimu." Ucap Rika dengan wajah memerah karena malu.
__ADS_1
" Hahaha.. Lalu aku harus berdiam diri di rumah menemanimu, Rika?"
" Tidak juga, kemana saja boleh asal bisa selalu bersama denganmu." Ucap Rika sembari menutup Wajahnya, karena telalu malu untuk mengatakan perasaanya.
Bono tersenyum, dia kemudian membelai rambut indah Rika. Dalam keheningan malam, hanya mereka berdua saja yang merasakan indahnya jatuh cinta di desa mereka. Peluk hangat Bono membuat Rika merasa nyaman, seakan tak ingin melepaskan Bono walaupun hanya sedetik.
" Aku iri dengan kedekatan kalian, belum lama saling mengenal tetapi sudah saling mencintai. Semoga kalian akan berjodoh selamanya." Ucap Wira lalu menampakkan wajahnya didepan Bono dan Rika.
" Ka, kamu.. Apa yang kamu lakukan disini! Jangan menggangguku! Pergi sana!" Bentak Bono.
" Bono! Ihh.." Rika mencubit Bono karena tak suka dengan suara kerasnya. Apalagi yang diajak bicara adalah seorang penolong keluarganya.
" Aduh..Sakit, Rika."
" Lain kali kalau bicara sama orang itu yang lembut. Jangan keras-keras seperti itu. Pak Wira itu seperti malaikat bagiku. Karena dia telah menyelamatkan hidupku. Jadi bicaralah yang baik padanya."
" Iya maaf. Jangan mencubitku. Cubitanmu lebih pedas daripada makan cabai sepuluh."
" Salah sendiri, nggak mau mendengarkan kata kekasihnya." Ucap Rika sedikit jengkel pada Bono.
" Eh, maafkan sikapku. Aku memang seperti ini orangnya Wira."
" Ihhh... Dia itu lebih tua darimu. Panggil dia dengan sebutan Pak. Kalau kamu tak bisa menghormati orang yang lebih tua, apa kamu akan menghormati orang yang lebih muda darimu?" Rika kembali mencubit Bono lalu menasehatinya.
Bono mengelus-elus bekas cubitan Rika, Dari wajahnya terlihat dia sangat ketakutan jika melihat Rika kesal. Apalagi saat Rika marah kepadanya. Bono yang sekekar tokoh Bima dalam pewayangan, masih bisa takluk oleh Rika yang tak memiliki kekuatan apapun.
" Rika, sudahlah. Aku tak mempermasalahkan dia memanggilku apa. Biarkan dia belajar menyadari posisinya."
" Tapi Pak Wira, Bono itu bekas orang jahat. Jadi saya harus selalu menasehatinya. Jika tidak, bagaimana dia akan berubah dengan cepat hanya bermodal karena menginginkan saya. Bagaimana jika saya tidak ada, apa yang akan dia ubah?"
" Bono bukanlah anak kecil yang bisa kamu atur semau kamu Rika. Biarkan dia memilih apa yang dia suka. Memanggilku dengan namaku saja, aku tidak akan mempersoalkannya. Karena aku yakin, kami akan segera mempunyai kedekatan yang melebihi dari ikatan keluarga. Bisa jadi kami akan menjadi teman yang sangat akrab. Atau bisa jadi kami akan menjadi kakak beradik yang kompak. Sudahlah, kamu tak perlu mempermasalahkan hal itu."
" Baiklah, jika Pak Wira tidak mempermasalahkannya. Saya takut Pak Wira terainggung dengan ucapannya."
" Tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan tawaranku? Apa kalian sepakat menikah bersama denganku?"
" Eh, menikah bersama? Maksudnya apa?" Bono kebingungan, tiba-tiba Wira menanyakan suatu hal yang belum ia ketahui.
" Tadi Pak Wira menawarkan padaku, bagaimana kalau kita menikah bersama dengan pernikahan Pak Wira. Tapi aku belum memberi jawaban. Aku menunggu jawaban dari kamu."
" Aku ikut denganmu saja Rika, asal kau senang. Tapi jika mau menikah sendiri, aku siap. Besokpun aku siap."
" Yakin besok?" Tanya Rika.
" Hehe.. Besok sebulan lagi maksudnya." Sambil tertawa, Bono menjawab tanya Rika.
" Kalau begitu mending nikah bersama Pak Wira saja. Soalnya dua minggu lagi mereka akan menikah."
" Baiklah Rika, aku ikut saja denganmu. Yang penting hubungan kita cepat diresmikan. Agar tak ada yang merebutmu dariku."
" Hehe.. Tak ada yang bisa merebutku darimu Bono. Karena aku akan selalu bersamamu. Kemanapun aku pergi."
" Ehemm.. Sudah belum romantis-romantisnya? Kalau belum, lanjutkan saja. Aku mau pergi dulu."
" Eh, maaf Pak Wira. Kami hampir lupa ada Pak Wira disini. Kami sepakat untuk menikah bersama dengan Anda."
" Baiklah kalau begitu, aku akan pulang dulu. Kalian berdua segera pulang lah. Sebelum Warga menilai buruk tentang kalian."
" Baik Pak Wira." Ucap Rika dan Bono bersamaan.
__ADS_1
Udara malam hari kembali terasa dingin, Rika berjalan pulang ke rumahnya sembari memeluk Bono. Kehangatan pelukkan Bono membuat Rika terlena. Dia pun tak sadar tertidur dalam perjalanan. Kemudian Bono terpaksa menggendong Rika, karena Rika tak juga mau bangun meskipun Bono telah membangunkannya berkali-kali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...