
Gulungan angin besar datang menuju ke arah Wira yang masih terkapar. Lalu terdengar bunyi ledakkan yang sangat dahsyat, beserta kemunculan api yang cukup besar, hingga membakar beberapa pohon di sekitarnya.
Kepulan asap tebal menyelimuti daerah sekitar ledakan. Tak ada suara teriakan. Dengan jurusnya yang hebat, tak mungkin bagi seseorang yang terkena serangannya, akan hidup. Pastinya, tubuh Wira sudah hancur menjadi debu.
Setelah kepulan asap menghilang, Wijaya dikagetkan dengan kedatangan Bono yang secara tiba-tiba. Bono telah menggunakan jurus yang sama dengan Wijaya, untuk menghadang serangan Wijaya. Serangan Wijaya pun berhasil Bono patahkan.
" Bono.. kau datang kemari untuk menyelamatkan dia? Apa hubunganmu dengannya, Bono? Kenapa kau lebih membelanya? Orang yang belum lama ini kau kenal itu, sangat licik! Kau tertipu akan kealimannya, Bono!"
Bono terdiam, ia kemudian mengabaikan Wijaya lalu bergegas mendatangi Wira dan dengan segera melihat kondisinya.
" Sebenarnya dia tidak terluka karena tenaga dalam. Namun karena sabetan pedang itu lumayan lebar dan cukup dalam, dia hampir kehabisan darah. Aku harus segera mengobati lukanya." Ucap Bono dalam hati.
Ia pun mencoba mengumpulkan energi lalu menyalurkannya pada Wira. Setelah beberapa menit, Wira tersadar setelah beberapa menit yang lalu dia sempat tak sadarkan diri.
" Bono, terima kasih kau telah menyelamatkanku. Aku berhutang budi kepadamu."
" Sebaiknya Anda jangan banyak bicara dulu. Beristirahatlah, saya akan membereskan Ba****an tengik itu. Dia memang harus diberi pelajaran."
" Baiklah, Bono.. terserah kamu saja. Aku sudah tak sanggup untuk bertarung lagi."
" Serahkan semua pada saya, Pak Wira. Tenanglah, saya akan membuat dia terusir dari tempat ini."
Bono pun meninggalkan Wira. Ia kemudian mendatangi Wijaya yang sejak tadi telah menunggunya.
" Wijaya...apa kabarmu? lama kita tidak berjumpa, setelah sekian lama berpisah. Ku dengar kau sudah sangat hebat, sekarang. Dan kau sudah sangat kaya. Kau kemari untuk merebut tanah ini, kan? Apa kau tidak puas dengan kekayaanmu?"
" Bono, hidupku sekarang hanyalah mencari kejayaan. Seperti namaku..apa kau tak senang mempunyai kekuasaan? Mempunyai banyak pengikut setia. Mereka adalah pundi-pundi uangku."
" Tapi kau merugikan orang banyak, Wijaya. Apa kau lupa dengan nasehat Putrimu? Kenapa semakin lama, kau semakin beringas, Wijaya!"
" Jangan sebut-sebut nama itu lagi, Bono. Aku tak ingin mengingatnya!"
" Apa? Dia putrimu.. Dia layak disebut-sebut karena dia anakmu. Apa kau sudah melupakannya? Dulu kau bersikeras ingin bertemu dengannya disaat Rendra menugaskanmu. Kau selalu ingin bertemu dengan anakmu, Wijaya. Apa kau sudah tak mempedulikannya lagi?"
" Tidak!!! Bono... hentikan, mengobrol tentang masa lalu. Aku sudah tak mau mengingatnya lagi!"
" Kenapa? Dia anak yang baik.. Apa kau takut dirimu berbuat baik, Wijaya?"
" Ahhh... sudahlah.. Aku tak mau bertemu kau lagi, Bono! Kau membuat pikiranku terganggu."
Wijaya menjadi resah memikirkan kata-kata Bono. Ia tak ingin Bono berkata yang membuat dirinya tersentuh. Ia pun dengan cepat membawa tubuh Reza lalu kemudian menghilang ditengah gelapnya malam.
" Dasar Pengecut! Aku belum sempat menjajal kemampuannya. Tapi, biarlah... Aku yakin untuk sementara waktu, dia tak akan pernah datang kembali kesini lagi."
Usai berkata, Bono teringat dengan Wira yang sedang terluka. Ia kemudian membawa Wira ke rumahnya.
" Tok.. tok.. tok..." Bono mengetuk pintu rumahnya.
" Siapa?" Sahut Rika yang baru saja menidurkan bayinya yang terbangun karena haus.
" Aku, Bu.." jawab Bono.
Rika kemudian bergegas membuka pintu rumahnya dengan hati-hati. Ia hampir saja berteriak keras, namun Bono membekap mulutnya hingga tak bersuara.
" Jangan berteriak.. Pak Wira sedang terluka. Aku butuh obat-obatan untuk mengobatinya."
__ADS_1
" Ya Tuhan, kasihan sekali Pak Wira. Baiklah, aku akan segera mengambilkan kotak obat dulu." Ucap Rika lalu berlari kedalam mengambil kotak obat di kamarnya.
"Ini, Ayah.. Ibu nggak tahu obat apa saja yang dibutuhkan Pak Wira. Makanya Ibu bawa saja semuanya. Nanti Ayah yang memilih obat mana yang cocok."
" Terima kasih, Ibu. Kau benar.. jika tak tahu, lebih baik bawa semua saja. Jadi kau tak perlu berlari kesana kemari, karena salah mengambil obat."
" Iya, Ayah.. kalau begitu cepat, Ayah. Pak Wira pasti merasakan sakit yang sangat berat."
" Ayah juga lagi berusaha, Bu.."
Bono kemudian memulai menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Wira. Beberapa menit kemudian, Wira terbatuk-batuk dan muntah darah.
" Pak Wira.." Bono terkejut lalu mencoba menyandarkan Wira yang sedang berbaring.
" Bono, dimana aku?"
" Anda dirumah kami, Pak Wira. Bagaimana keadaan Anda? Apa yang anda rasakan sekarang ini?" tanya Bono dengan panik.
Wira menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menyipit, ia tak kuat menahan rasa sakit yang ia alami.
" Apa yang Anda rasakan, Pak Wira?" Rika mengulang kembali pertanyaan suaminya.
" Bono, Rika.. waktuku sudah tak banyak. Aku merasa malaikat maut telah datang menjemputku. Istriku dan kedua anakku sudah menungguku."
" Pak Wira, apa yang Anda katakan? Istri Anda sedang diluar Pulau. Dan anak Anda belum lahir. Apa Anda sedang bermimpi?" tanya Rika sembari memegang wajah Wira.
" Rika.. sudah tak ada harapan lagi." Ungkap Bono.
" Jadi, Pak Wira tak bisa diselamatkan?"
" Pak Wira..." Rika menggenggam tangan Wira lalu menangisinya.
" Bono, Rika.. kalian tak perlu bersedih jika aku mati. Aku titip pesan untuk kalian. Apa kalian mau menyampaikan pada Novi?"
" Pak Wira, kami siap menerima tugas apapun untuk Anda. Katakan saja, Pak Wira."
" Aku merasa, istriku saat ini hampir melahirkan. Dia sedang dirumah bersama seorang Bidan dan dua perawat. Aku tak bisa menemani istriku saat dirinya melahirkan anakku, Bono. Jika aku mati, maukah kamu menyampaikan pesanku kesana. Temui Istriku.. katakan padanya kalau aku takkan pernah kembali."
" Kasihan sekali istri Anda, Pak Wira. Disaat hari bahagia menanti kelahiran bayi kalian, malah harus mengalami nasib seperti ini. Mungkin ini sudah kehendakNya. Baiklah Pak Wira, saya akan segera menyampaikan pesan Anda."
...----------------...
Di tempat terpisah, Novi yang berada di Pulau Seberang, memang sudah hampir melahirkan. Seperti yang Wira katakan kepada Bono. Ia bisa merasakan kehadiran buah hatinya yang sebentar lagi akan menggantikan dirinya.
" Bu Bidan, saya mohon lakukan yang terbaik untuk Putri saya. Dia harus bisa melahirkan secara normal. Saya ingin menimang cucu saya." Ucap Bibi Novi pada Bidan yang sedang menunggu Novi.
" Saya akan berusaha keras, Bu. Tapi sepertinya Mbak Novi ini tak punya semangat untuk mengejan. Bukaannya sudah sembilan, tapi putri Anda seperti mengalami tekanan batin, Bu. Dia seperti tak memiliki tenaga. Kemungkinan, kita harus membawanya ke rumah sakit."
" Apa? Apakah ini berbahaya Dok?" Tanya Paman Novi, karena panik.
" Bu, dalam posisi melahirkan begini, Si Ibu harus dalam kondisi sehat,tidak lemas. Sementara mbak Novi saya lihat sedang bersedih. Kalau Ibu bisa, tolong bujuk dia. Beri ia semangat Bu."
" Ba.. baik kalau begitu Bu Bidan, saya akan mencoba membujuknya."
Bibi Novi pun mendekati Novi yang sedang berbaring sembari menatap ke arah jendela. Ia mengalami tekanan batin karena disaat dirinya melahirkan, suaminya tak berada disampingnya.
__ADS_1
" Novi, sayangku.. jangan bersedih meskipun suamimu tak berada disampingmu. Masih ada Bibi dan Pamanmu disini. Kamu tak usah khawatir. Bukankah katamu, kau sudah berjanji pada dirimu sendiri agar bisa hidup mandiri seperti dulu? Kenapa sekarang kamu seperti ini?"
Novi terdiam, ia tiba-tiba menangis tersedu. Bibinya pun kemudian memeluk Novi dengan hangat.
" Nov, jangan menangis. Bibi mengerti perasaanmu. Tegarlah dalam menghadapi cobaan hidup yang menghampirimu. Bibi akan selalu mendukung langkahmu, Nak."
" Bi, kenapa Pak Wira benar-benar tak datang disaat aku sudah merasa ingin melahirkan. Padahal dia sudah berjanji, akan menemaniku saat aku melahirkan. Kenapa dia tidak juga kembali. Aku menantikannya, Bi."
" Novi, mungkin saja dia sedang melaksanakan tugasnya. Kita tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tetapi kita tak boleh berprasangka buruk dulu. Jika memang dia tak kembali, itu tak masalah. Mungkin lain waktu dia akan datang kepadamu. Bersabarlah, tenangkan dirimu. Ayo... tinggal sebentar lagi bayimu akan lahir. Kau harus bisa, Nov. Kasihan bayimu. Dia sudah ingin terlahir ke dunia ini."
" Bagaimana aku mengatakan kepadanya disaat dia besar nanti? Bagaimana aku menjawab pertanyaannya ketika dia bertanya siapa dan dimana Ayahnya. Aku takut, Bi."
" Sudahlah, Nov. Kau tak perlu berpikir sejauh itu. Sekarang kau harus fokus melahirkan anakmu. Ayo, Nov."
" Novi nggak bisa, Bi. Aduh.. rasanya sakit sekali. Akhhh..."
" Sudah mulai terasa lagi, Nov? tunggu.. aku panggilkan Bidan dulu."
Bibi Novi keluar kamar memanggil Bidan yang sedang duduk di ruang tamu. Bidan itu pun segera masuk dan memeriksa Novi.
" Wah, sedikit lagi bayinya akan lahir Bu. Mbak Novi, ayo.. berusaha mengejan. Saya tahu mbak Novi bisa dan kuat. Buang pikiran buruk yang mengganggu. Fokuskan perhatian pada Bayimu. Dia harus lahir sekarang juga. Ayo kumpulkan tenaga dulu lalu mengejan dengan kuat." Ucap Bidan dengan penuh semangat.
Namun Novi hanya diam, dia tak merespon Bidan yang menanganinya. Bidan itu pun bingung. Lalu ia memanggil Bibi Novi untuk menemani Novi dan berdiri disampingnya.
" Tolong Ibu temani Mbak Novi. Dia butuh teman. Bantu dia, beri ia semangat."
" Baik, Bu Bidan. Saya akan mencoba."
Bibi Novi segera menegur Novi, ia tak ingin Novi menyerah begitu saja. Ia pun menyuruh Novi untuk berdoa agar diberikan kelancaran dalam melahirkan.
Disaat Novi kehilangan semangat hidup, Ia mendengar suara Wira. Suaminya mengatakan sesuatu, kepadanya hingga ia mempunyai tenaga lagi. Tiba-tiba tubuhnya terasa ringan. Ia pun menuruti nasehat suaminya.
Dia pun berusaha sekuat tenaga untuk mengejan. Tak berapa lama anaknya lahir. Tangis haru menghampiri semua yang berada di kamar Novi. Mereka bersyukur, Novi bisa melahirkan dengan normal.
Suara tangis bayi Novi yang keras, menandakan gambaran kekuatannya. Ia meronta-ronta saat berada di gendongan Bidan.
" Selamat, mbak Novi.. anakmu lahir laki-laki. Wajahnya sangat tampan. Sepertinya dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat. Kedua tangannya menggenggam erat seakan dia akan menggenggam dunia ini. Mudah-mudahan, kelak kalau ia besar, dia akan menjadi pemimpin yang baik."
Novi tersenyum, lalu berkata pada Bidan itu, " terima kasih Bu Bidan."
" Iya, sama-sama. Kalau begitu, biar saya langsung mandikan dahulu ya."
Bidan itu segera memandikan bayi Novi, lalu menyuruh perawat pembantunya untuk menangani Novi.
Setelah selesai memandikan, Bidan berkata pada Novi.
" Mbak, ini siapa yang mau adzan ditelinganya? Dia harus di adzani karena dia seorang muslim."
" Biar saya yang mengadzaninya, Bu bidan." Ujar Paman Novi lalu berganti menggendong Bayi Novi dan segera memulai Adzan di telinga cucunya.
...****************...
Di saat yang bersamaan, ketika Paman Novi mengumandangkan Adzan di telinga anak Novi, Wira pun juga mendengarkan adzan yang sama. Ia mampu mendengar suara paman Novi meskipun dia berada ditempat yang berbeda.
Adzan berakhir, dan disaat itulah Wira menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis haru pecah mengiringi kematian Wira. Bono dan Rika tak mampu menahan kesedihan mereka. Orang yang selama ini terkenal dengan kebaikannya, kini dia telah tiada. Apalagi, dia meninggal disaat istrinya melahirkan. Ia tak sempat melihat bayinya lahir ke dunia.
__ADS_1
......................