
Satu hari kepergian Vina, Bos besar Wijaya menyerahkan Hp sitaan Wijaya kepada Wijaya. Dia merasa lega, Putri Wijaya sudah meninggal. Jadi tak ada lagi yang mengganggu pikiran Wijaya.
" Jay, aku kembalikan Hp kamu." Bos Wijaya menyerahkan Hpnya lalu bergegas meninggalkan Wijaya.
" Te.. te.. terimakasih banyak Bos. Saya sudah sangat rindu dengan Putri saya." Dengan gemetar, Wijaya menerima Hp yang diserahkan Bos Wijaya.
" Sama-sama Jay. O, iya.. Hari ini kamu boleh pulang. Tapi sendiri. Bono biar bersamaku."
" Baik, Bos. Terimakasih banyak."
" Hahaha.. sama-sama Jay."
Dengan terburu-buru Wijaya menghidupkan Hpnya yang telah di nonaktifkan oleh Bosnya. Tak sabar dia memencet-mencet tombol, agar segera beroperasi Hpnya. Lalu dia segera masuk ke menu pesan. Dalam pesan tertulis banyak sekali pesan-pesan untuknya. Namun dia tak menghiraukan pesan lain selain pesan Vina.
" Wah, saking banyaknya pesan, Putriku sendiri malah jadi berada di paling bawah pesannya. Beberapa saat setelah membaca pesan dari Vina, tubuhnya tuba-tiba bergetar. Isi pesan yang masuk ke Hp Wijaya membuat dirinya berpikiran buruk.
" Vina, Vina.. Kamu itu bilang apa, seperti kaya orang mau mati saja. Maafkan Papa ya, tidak bisa pulang cepat. Tapi, hari ini Papa bisa pulang ke rumah. Yang sabar saja ya. Kalau Papa sudah pulang, Papa akan ajak kamu ke bukit yang indah yang belum pernah kamu kunjungi. Tempatnya menyenangkan, kelak Papa akan membelinya, berapapun harganya. Papa janji akan memberikannya untukmu."
Setelah membaca pesan dari Vina, Wijaya berandai-andai dan berharap agar pembelian tanah di bukit itu berjalan lancar. Dia ingin setelah sampai di kota kelahirannya, dia akan ke puncak bukit dahulu untuk bernegoisasi dengan pemilik lahan. Dan saat ia kembali ke rumah, Puncak bukit sudah menjadi hak putrinya.
" Beberapa menit kemudian, Wijaya mulai membaca pesan-pesan terdahulu, yang berada di posisi bawah. Satu persatu pesan ia baca. Namun sebelum membaca pesan terakhir, Wijaya tertarik melihat menu panggilan yang lebih dari 1000 kali memanggil ke nomernya.
" Nomer siapa ini, kenapa memanggilku berulang-ulang hingga sebanyak ini? Haha.. Ini pasti kerjaanya Vina. Pakai nomer baru apa Vin?"
Wijaya kemudian kembali melihat ke menu pesan.
" Eh.. Owh.. kamu mengirimku pesan hingga 2000an pesan begini. Halah.. pasti ini isinya, cuma Papa, Papa, dan Papa doang. Sudah bisa Papa tebak, Vin. Kalau cuma mengirim pesan begitu saja, Papa tak mau membukanya."
Wijaya tidak membuka pesan yang sebenarnya dikirim oleh Tasya dengan menggunakan Hp Ayahnya. Wijaya tidak tahu kalau isi pesan yang dikirim sangat penting. Namun dia tidak mencoba membukanya. Dia hanya ingin pulang, dan mengobrol banyak tentang apa saja, dengan Vina, saat bertemu dengannya.
" Aku pulang mau naik apa ya? Pesawat, kereta, bus, atau sewa travel? Aku malas naik mobil sendiri. Tidak bisa istirahat saat di perjalanan. Sebaiknya naik Bus saja. Aku akan segera memesannya.
" Bos!" Panggil Bono dari kejauhan.
" Bono.. Ada apa?" Tanya Wijaya sambil mengerutkan dahinya.
" Apa jadi pulang Bos?" Bono mendekati Wijaya.
" Jadi Bon. Urusan Bos besar aku serahkan padamu."
" Ah, sebenarnya saya lebih suka dengan Bos Jay, bukan Bos besar kita. Saya ingin sekali keluar dari keanggotaan ini."
" Bon, apa kamu tahu resiko yang akan kamu hadapi jika keluar?"
" Saya tahu Bos. Lebih baik saya mati daripada jadi kacungnya, orang seperti dia."
" Bon, bersabarlah. Kita ini hanya anggota. Bukan ketua. Kita hanya tunggu perintah dan laksanakan saja."
" Tapi Bos, Bos besar kita bukanlah orang yang baik. Dia tak pernah memandang kita kawan ataupun saudara. Jika kita salah, tetap saja kita disalahkan. Dan terkadang dia sama kejamnya dengan kita. Dia tidak pernah pilih kasih. Dia bukanlah pemimpin yang baik yang selalu kita ikuti."
" Bono, jangan bilang begitu. Kita bisa menikmati hidup dengan harta kekayaan yang sebanyak kita terima, karena Bos kita. Jadi berhentilah menyinggung tentang Bos kita."
" Kenapa Anda tidak memihak saya Bos? Saya kira, Bos sependapat dengan saya. Tapi kenapa harus berlawanan?"
" Bon, apa kamu lupa? Kita juga sama kejamnya dengan dia, sama bengisnya, sama jahatnya. Jadi sebelum membicarakan keburukan Bos kita, bercerminlah terlebih dahulu."
Bono hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa tidak nyaman dengan pendapat Wijaya. Dia berusaha meyakinkan Wijaya agar tidak percaya sepenuhnya dengan Bos besarnya.
" Baiklah kalau begitu Bos. Saya sudah memperingatkan kepada Bos, jangan pernah mempercayai kata-kata Bos besar kita lagi. Saya tak ingin Anda kecewa yang sangat dalam kepadanya."
" Sudahlah Bon, ambil baiknya saja. Tidak usah dipikir terlalu jauh." Wijaya berusaha menenangkan Bono sambil menepuk dan menggoyang-goyangkan bahu Bono.
Bono hanya diam. Usahanya mengajak Wijaya untuk membelot, gagal. Dia terus mencari cara agar Wijaya terpengaruh oleh bujukkannya.
Tiba-tiba saat Wijaya membuka Hpnya, seseorang yang ternyata Tasya, menelpon dirinya."
" Hallo, Vin. Wah, kamu ini gonta ganti nomer saja. Papa jadi tak bisa menghapal nomer kamu."
__ADS_1
" Om, ini Tasya. Saya teman Vina yang dulu pernah bertemu di rumahnya Om."
" Jadi kamu Tasya, aku kira kamu Vina yang memakai nomer baru."
"Bukan Om. Oiya, apa Om sudah membaca pesan saya? Kenapa saya hubungi juga tidak bisa. kalaupun masuk, tetapi tidak ada yang mau mengangkat telpon saya."
" Maaf, aku kira yang menelponku itu Vina. Memangnya pesan apa Sya?
Tasya menangis meratapi nasib Vina yang telah meninggal. Bahkan saat sedang dihubungi tidak bisa, Bisa-bisanya Wijaya tidak tahu dan tidak membaca satupun, pesan yang dikirim darinya, untuk Wijaya.
" Lho kenapa malah menangis? Apa aku menyinggungmu Sya?" Wijaya bertanya keheranan.
" Om.. Vina itu sudah nggak ada. Om itu kemana saja? Kenapa susah sekali dihubungi?"
" Apa kamu bilang? Maksudnya apa Sya? Aku jadi tak mengerti."
" Vina itu sudah meninggal Om. Ini sudah satu harinya dia meninggal."
Jantung Wijaya seakan meledak-ledak. Dia tidak terima, putrinya di matikan.
" Sya, kamu jangan mengada-ada. Jika kamu berkata main-main, aku akan habisi kamu dan seluruh keluargamu."
Hati Tasya mendadak begetar seketika setelah Wijaya mengancam akan membunuhnya dan keluarganya.
" Om, silahkan datang. Pulanglah ke rumah jika tidak bisa mempercayai kata-kata saya."
" Aku akan segera pulang. Awas saja kalau kamu hanya mempermainkanku."
" Om, saya ini tidak main-main, apalagi sama orang tua sahabat baik saya." Sambil menangis, Tasya berusaha meyakinkan Wijaya jika Vina memang sudah tiada.
Wijaya memutus telpon Tasya, lalu dia mencoba membaca sekali lagi pesan dari Vina, dan juga semua pesan yang dikirim Tasya.
" Vin, ayolah.. Jangan buat Papa cemas. Katakan, kamu hanya bercanda dan memanfaatkan Tasya untuk membohongi Papa, kan?" Wijaya berusaha menenangkan hatinya yang gelisah.
" Bos, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Bono, meskipun di samping Wijaya, Bono tak bisa menguping pembicaraan Wijaya dengan tasya.
" Putri Bos, meninggal? Yang benar Bos?"
" Iya Bon, temannya baru saja menelponku. Dan sudah mengirim ribuan pesan kepadaku."
" Apa isi pesannya Bos?"
" Hanya menyebut namaku berulang kali. Lalu memberitahuku kalau Vina sudah meninggal. Dia tidak bilang, meninggal karena apa."
" Saya pikir, teman Vina yang buat lelucon tak lucu itu Bos. Apa kita mesthi beri dia pelajaran saja?"
" Aku sudah bersumpah akan membunuhnya jika dia terbukti membohongi kita. Aku tidak peduli meskipun dia hanya bercanda."
" Ya sudah Bos, lebih baik saya akan menemani Bos kembali menemui putri Bos. Saya juga suka menggodanya. Ternyata putri Bos cantik sekali. Saya baru menyadarinya akhir-akhir ini."
" Bon, tak usah repot-repot. Aku bisa sendiri kok. Lagipula aku hanya kembali ke rumahku. Bukan sedang bekerja menjalankan tugas."
" Bukan itu maksud saya Bos. Yang saya khawatirkan hanya emosi Bos yang sering kali tak terkontrol."
" Haha, aku memang tidak bisa mengontrol emosiku Bon. Aku sudah berusaha, namun kekuatan dalam tubuhku selalu bisa menguasai diriku saat aku marah. Hati nuraniku menjadi buta, dan setelah apa yang terjadi, sepenuhnya bukan aku yang melakukannya."
" Termasuk membunuh orang, bos tidak melakukannya?"
" Hussshh.. sudah. Tidak perlu dibahas. Jadi kamu ingin ikut aku pergi Bon?"
" Hehe, maaf Bos. Jadi Bos, saya juga sudah siap berangkat. Saya yang akan menyetir."
" Apa? Aku sudah memesan tiket untuk siang ini. Kamu mau mengantarku naik mobil?"
" Bos, dengan memakai kendaraan pribadi, akan semakin cepat. Kita akan lewat jalur pintas."
" Lalu bagaimana dengan tiketnya Bon?"
__ADS_1
" Batalkan saja Bos, paling dia hanya akan mengomel."
" Baiklah, aku ikuti saranmu, Bon."
Wijaya dan Bono, diam-diam menyelinap ke garasi mobil milik Bos besar mereka. Mereka mengambil mobilnya, lalu membawanya kabur menuju rumahnya.
Bos besar Wijaya hanya tertawa melihat anak buahnya mencuri mobil kesayangannya.
" Hahaha, dasar bodoh. Mobil itu adalah mobil curian. Jika kalian keluar dari tempatku, kalian akan diuber polisi. Hahaha.."
Dan benar saja, saat melintasi lampu lalu lintas, meskipun tidak melanggar, dua mobil polisi dan satu motor polisi mengejar mereka. Bono yang mengetahui mereka dikejar polisi, lalu menambah kecepatan mobilnya. Namun mobil polisi jauh lebih cepat dari mobil yang mereka tunggangi. Mobil polisi menyalip mobil yang ditumpangi Bono dan Wijaya. Lalu berhenti di depannya secara mendadak.
" Ciiiittt.. " Bono juga mengerem mobilnya mendadak karena hampir menabrak mobil polisi.
Satu mobil polisi yang lain berhenti di belakang mobil Bono, berusaha mengepung Bono dan wijaya. Namun saat motor polisi mendekati mobil yang ditumpangi Wijaya dan Bono, Wijaya mengambil alih kemudi dan menabrak mobil polisi di depannya. Sontak saja membuat polisi Kaget dan kembali mengejar mereka.
" Bos, Polisi-polisi menyedihkan itu masih mengejar kita. Lebih cepat lagi mengemudinya. Di pertigaan, kita belok kiri lalu sembunyikan mobilnya."
" Baik Bon."
Wijaya menambahkan Kecepatan hingga maksimal. Dia melewati jalanan sepi melewati area hutan. Namun Polisi lebih gesit dari yang mereka duga, Satu mobil yang masih mengejar mereka mengikuti dari belakang.
" Bon, Polisi brengsek itu berhasil menyusul kita. Tampaknya mobil ini sudah lama tidak digunakan. Performanya menjadi berkurang."
" Lalu apa yang harus kita lakukan Bos? Jika begini terus kita akan bisa terkejar."
" Aku akan terus ke Angka 140, saat mendengar aba-abaku, berpeganglah yang kuat. Aku akan menghentikan mobilnya."
" Apa? Bos mau bunuh diri?"
" Sudahlah tidak usah mengajak berdebat. Ini salah satu cara yang terbaik."
" Baiklah Bos, saya percaya pada Anda."
Di tanjakkan yang tajam, Wijaya tetap mengendarai mobilnya dengan kecepatan 140km/jam, dan saat mobil polisi dan motor polisi di belakangnya mendekat, Wijaya mengerem mendadak mobilnya.
" Berpeganglah Bon!"
" Ciiiiitt.. Brakkkk... brakkkk.."
Mobil yang di tumpangi wijaya dan Bono tertabrak mobil polisi hingga ringsek. Dua polisi pengendara mobil mengalami luka parah, dan satu polisi pengendara motor yang tak sempat mengerem motornya, menabrak mobil temannya, dan terlempar hingga duapuluh meter. Dia lalu jatuh ke jurang sedalam Lima puluh meter dan tak sadarkan diri.
Wijaya dan Bono keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan.
" Bos, kasihan polisi ini mengerang kesakitan hanya untuk menjalankan tugasnya."
" Apa yang perlu dikasihani Bon, Polisi-polisi ini hanya kacung, yang di sewa Bos besar kita, untuk mengikuti kita."
" Oh, jadi begitu."
" Heem, jika kamu merasa kasihan, aku akan membantu mengurangi rasa sakitnya."
" Mereka semua terluka parah Bos, apa Bos bisa melakukannya?"
" Lihat saja Bon."
Wijaya mengambil korek api di sakunya. Lalu dia membuka tangki minyak mobil polisi, lalu Wijaya menendang mobil polisi masuk ke jurang.
Beberapa detik kemudian, Wijaya menyalakan koreknya dan melemparkan ke jurang ke arah mobil polisi terjatuh. Seketika itu terdengar suara ledakan yang besar.
" Booomm!" suara ledakan mobil polisi.
" Hahaha.. Sudah tak ada lagi yang menghalangiku. Ayo Bon, kita pergi!
Vina Putriku, Papa pulang Nak."
......................
__ADS_1