Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Akbar dan Cleo


__ADS_3

Kemudian setelah persidangan itu Kia semakin dekat dengan Pelangi. Dan dirinya tidak mau sedetik pun meninggalkan Pelangi. Setiap saat Pelangi selalu memberikan ketenangan untuk Kia. Akan tetapi Kia dan Cleo sedang mempersiapkan bukti untuk persidangan ke dua yang akan di lakukan minggu depan ini.


Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama untuk selalu membicarakan persidangan ke dua itu. Begitu pula dengan Akbar yang mati – matian mempersiapkan bukti – bukti yang akan di serahkan di pengadilan ke dua nanti.


Rasa ingin memiliki Pelangi sangatlah kuat. Dirinya sangat yakin kalau di persidangan ke dua ini dia bisa tinggal bersama Pelangi.


Beberapa haripun berlalu, persidangan ke dua kini sudah akan dimulai. Kia dan Cleo berjalan menuju ke dalam ruang persidangan dengan di temani beberapa pengacaranya. Hatinya masih sama seperti kemarin berdetak kencang saat proses ini akan di mulai.


Terlihat Akbar bersama pengacaranya yang duduk membentang jauh di hadapan Kia. Kia merasa optimis dengan sidang ke dua ini, sebab Cleo selalu mendampingi dan memberikan semangat untuk Kia. Kia tidak akan membiarkan Akbar berhasil mengambil Pelangi.


Persidagangan itu berjalan dengan lancar. Mereka berdua saling beradu argumentasi yang menurut mereka itu benar di hadapan majelis hakim. Berulang ulang kali hakim menyuruh mereka agar diam dan tenang. Berikutnya para pengacara membela klien masing - masing dengan alasan yang jelas atau memungkinkan.


Setelah itu, waktu berjalan terus menurus, hakim menghentikan lagi persidanga ke dua ini dan belum memutuskan apapun untuk mereka. Hakim juga masih berkata hak asuh anak masih tetep bersama sang ibu kandungnya selagi keputusan belum di keluarkan atau di tetapkan semua masih aman dan berjalan lancar. Dan persidangan ke tiga akan di lakukan beberpa minggu lagi sementara semua yang hadir atau masuk di dalam ruang persidangan itu di harapkan untuk segera mengosongkan ruangan. Kemudian majelis hakim beserta yang lain pergi meninggalkan ruangan itu.


Akbar merasa semua ini tidak ada gunanya sebab dirinya sudah mati – matian untuk mengumpulan bukti dan membayar pengacaranya itu dengan mahal namun brlim juga mendapatkan hasil. Raut mukanya sangat terlihat marah dan kecewa , karena di persidangan kali ini masih saja majelis hakim mengetok palu untuk memutuskan semuanya dan dia juga belum bisa tinggal bersama Pelangi.


Cleo melihat Akbar yang wajahnya terlihat sangat kecewa dengan persidangan kali ini, ia pun mendekati dan mendatangi Akbar.


“Kenapa dengan wajahmu?”


“Kamu!” Kata Akbar sambil menujuk wajah Cleo.


“Apa?! Sudah aku bilang, menyerahlah sebelum semuanya berakhir dan membuat kamu seperti orang gila. Ingat kamu tidak akan bisa melawanku.” Ucap Cleo sambil menantang.


“Pergi kamu dari sini! Aku tidak akan mendengarkan ocehan murahanmu itu! Dan kamu tidak akan aku biarkan kamu menang!"


“Tenanglah, jangan marah seperti itu. Aku juga akan pergi dari sini. Aku malas berlama - lama melihat wajahmu kacau seperti itu."


“Ingat ya kamu, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan anakku!” Teriak Akbar.


Cleo langsung pergi meninggalkan Akbar sendiri. Ia langsung berjalan menuju Kia yang sudah menunggunya di depan pintu.


“Kamu kok lama sekali sih keuar dari ruangan itu mas?” Tanya Kia.


 “Iya aku tadi ada urusan sebentar. Yuk, kita pulang.”

__ADS_1


Lalu mereka pulang. Kia merasa senang sekali dengan sidang ke dua ini karena hakim belum memutuskan apa – apa mengenai hak asuh anaknya itu. Kia merasa bahagia dirinya masih bisa bersama pelangi. Dirinya juga berharap Pelangi akan terus bersamanya. Apapun yang terjadi Kia akan selalu berusaha agar hak asuh tidak jatuh ke tangan Akbar.


“Aku senang banget mas hari ini. Bersyukur banget kalau hakim belum memutuskan hak asuh Pelangi.”


“iya, yang terpenting sekarang kamu harus optimis, supaya pelangi tetap bersama kita. Kita harus memperjuangkan semuanya. Sebab sejak Pelangi di dalam kandungan dia hidup dan tinggal bersama mu. Jangan biarkan orang lain mengambil darimu dengan seenaknya saja.”


“Iya betul mas, yang terpenting kamu ada di sampingku.”


“Apa Ki?”


“Ha.. ha.. ha.. Enggak apa – apa , aku hanya mau bilang terimakasih sayang.”


Cleo kaget saat mendengarkan Kia memanggilnya dengan sebutan “sayang”, kali pertamanya Kia memanggil Cleo dengan sebutan sayang setelah sekian lama mereka sering bersama.


“Apa Ki? Coba ulangi lagi.”


“Udah, lupa aku tadi bilang apa.”


“Ayolah. Kamu tahu,”


“Apa?”


Kia pun hanya tersenyum manis . sesampai di rumah seperti biasa Kia langsung memeluk Pelangi dengan sumringah. Dirinya sangat bahagia setelah persidangan itu selesai.


“Pelangi buda pulang.”


“Bunda..” sahut Pelangi dari dalam rumah dan berlari kecil.


“Apa ini bun?”


“Pelangi suka?”


“Boneka, yea, yea, boneka, terimakasih bunda.”


“Iya sama – sama. Sana main gih.”

__ADS_1


“Eat, tunggu dulu. Masak ayah enggak di peluk.”


“Sini Pelangi peluk ayah,”


Pelangipun memeluk mereka berdua. Di sana raut wajahnya mereka sekeluarga begitu bahagia setelah pulang dari persidangan itu. Jika Kia merasa bahagia seisi rumah pun juga ikut bahagia melihatnya.


Cleo juga akhir- akhir ini berjuang mati – matian untuk Kia dan juga Pelangi agar dirinya tidak mengecewakan atau membut Kia sedih dengan hasil persidsngan yang akan di adakan beberapa minggu lagi. Dia jarang bertemu dengan Pelangi, demikian juga dengan Kia yang di sibukan untuk mempersiapkan persidangan untuk beberapa minggu lagi. Sebab Kia dan Cleo, menginginkan Persidangan besok adalah persidangan terakhir dan majelis hakim harus memutuskan untuk persidangan nanti. Kia sudah muak melihat wajah dan juga mendengan omong kosong yang selalu Akbar buat di pengadilan.


Sementara itu Akbar di rumah uring – uringan. Seisi rumah menjadi kacau, pelampiasan kemarannya hanya di limpahkan kepada Dewi, dia berfikir semua yang terjadi karena Dewi. Dewi pun merasa sangat kecewa dengan apa yang telah di katakan oleh Akbar. Ia selalu memanggis dan bersedih ketika anak sulungnya itu selalu mencaci maki dirinya. Akbar pulang dari Pengadilan langsung membanting jas dan tas yang dia kenakan. Lalu mengeluarkan kata – kata kasar.


“Berengsek. Anjing .Berani – beraninya dia mengatakan seperti itu, kenapa semua ini jadi seperti ini. Pokoknya persidangan besok hak asuh Pelangi harus bisa berpihak kepadaku. Harus. Lihat saja aku tidak akan kalah dari kalian.” Kata akbar dengan tangannya yang mengepal.


“Nak kamu kenapa pulang – pulang kok marah – marah seperti ini?”


“Diam buk tidak usah bicara! Aku tidak ingin mendengarkan ibuk berbicara apapun!”


“ibuk salah apa sama kamu?


“Ibuk masih belum juga menyadari kesalahan ibuk?”


“Iya ibuk sadar, ibuk yang sudah memisahkan kamu dengan anak kandungmu, tapi...”


“Itu ibuk tahu. Tapi apa buk? tapi semua ini sudah terjadi. Itu yang akan ibuk katakan. Aaaaggggghhhh! Sudah pergi saja dari sini. Akbar tidak ingin melihat ibuk lagi!”


“Kak sudah jangan marah – marah terus.” Ucap Nindi kepada kakaknya.


“Bagaimana aku tidak marah – marah seperti ini Nin. Harapanku untuk mendapatkan Pelangi saja kacau, apa lagi melihat ibuk. Aku sudah benar – bnar benci dengan keadaan kita seperti ini. Dan semua ini gara – gara ibuk!”


“Kak kita kan masih punya bukti rekaman waktu kak Sinta datang ke rumah. Besok kita ajukan saja bukti rekaman itu. Jadi kak Akbar Nindi mohon tenang. Kita masih punya waktu kak. Apa lagi majelis hakim belum memutuskan apapun. Jadi kita masih punya harapan. Jangan terlalu khawatir atau cemas kak. Serahkan saja semua sama pengacara kita kak, Nindi yakin dia bisa menanganinya. Karena dia dulu pernah menangani kasus seperti kakak.” Kata Nindi untuk menenangkan hati kakaknya yang sedang resah.


“Iya aku percayakan semuanya kepadamu. Tolong bantu kakak Nin. Kakak ingin sekali hidup bersama Pelangi. Kakak ingin menebus kesalahan kakak yang dulu.”


Kemudian Dewi pergi meninggalkan Akbar deng hati yang terluka setelah mendengarkan Akbar berkata seperti itu. Ia menanggis sendirian di kamar sambil memandangi foto almarhum suaminya itu. Ia juga menyhalahkan dirinya sendiri dengan perubahan sifat anak – anaknya itu. Dirinya merasa salah gagal dalam mendidik anak – anaknya. Merenung dan menaggis yang bisa dia lakukan.


Sedangan ketika Akbar marah – marah Kayla sedang tidak berada di rumah dirinya menemui Alex untuk menemaninya makan. Sebab Alex mengancam Kayla jika dirinya tidak mau menuruti semua keinginannya Alex akan nekat untuk membuat Kayla dengan Abar berpisah. Tak lama Kayla pulang. Ia melihat di depan rumah sudah ada mobil Akbar terparkir, ia takut kalau nanti suaminya akan bertanya – tanya kepada Kayla.

__ADS_1


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2