Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kia dan Cleo


__ADS_3

Kia pergi meninggalkan rumah Dewi. Kemudian dirinya pergi menemui Cleo di kantronya.


"Aku tidak habis pikir dengan mereka mas. Kenapa mereka begitu tega denganku? Mengapa mereka tidak pernah lelah membuat hidupku seperti ini? Aku.. aku.. aku tidak akan bisa jika hidup tanpa Pelangi di sisih ku mas. Hiks.. hiks.. hiks.." ucap Kia sambil menanggis karena dirinya takut kehilangan Pelangi.


Kemudian Cleo mendekat dan duduk di samping Kia yang sebelumnya ia duduk di kursi kerja pribadinya. Lalu Ia memeluk Kia.


"Aku sudah katakan kepadamu. Semua akan baik - baik saja. Aku akan mencarikan pengacara yang profesional untuk memenangkan kasus ini. Jadi kamu jangan khawatir. Aku juga tidak akan tinggal diam jika kamu dan Pelangi di sakiti."


"Aku harap semua akan segera berakhir. Dan mereka tidak lagi menganggu hidupku."


Kia pun menanggis di hadapan Cleo.


"Sudah hapus air matamu. Kamu percayakan sama aku? Yakinlah semua akan baik - baik saja. Kita harus kuat melawan mereka Kia. Aku yakin kamu bisa dan kamu wanita kuat. Aku tidak habis pikir, mereka memang benar - benar kejam.


Kia pun hanya mengangguk - anggukan kepalanya yang sedang bersandar di bahu Cleo. Cleo pun membalasnya dengan mengusap - usap kepala Kia.


------


Sore harinya, Kia menemani Pekangi bermain. Ia melihat putrinya itu sambil melamun.


"Pelangi kecilku, kasihan kamu nak, dulu di saat kamu masih di dalam perut bunda, kamu sudah merasakan bagaimana mereka memperlakukan bunda seenaknya. Sekarang kamu sudah lahir dan tumbuh pintar seeprti ini, kamu masih saja merasakan penderitaan yang mereka buat. Bunda sangat takut jika kamu tidak ada di samping bunda. Bunda tidak ingin kamu tinggal bersama mereka. Bunda akan selalu menjagamu. Aku tidak akan tinggal diam aku harus kuat dan aku yakin hak asuh itu akan jatuh di tangan ku. Aku percaya dengan mas Cleo. Semoga mas Cleo bisa mengurus semuanya dengan pengacaranya. Apapun akan aku lakukan. Setelah semua ini berakhir aku tidak akan lagi mengijinkan siapapun untuk menemui Pelangi." Ucapnya dari dalam hati.


Ia pun tak sadar air matanya menetes. Pelangi yang mengetahui Kia menanggi lalu mendekat dab menghapus air matanya itu.


"Bunda.? Mengapa bunda menanggis."

__ADS_1


"Hem, bunda enggak nanggis, hanya mata bunda seperti kemasukan sesuatu nak, kamu sudah mainnya?"


"Belum bun. Bunda,"


"Iya ada apa sayang?"


"Bunda, Pelangi sayang banget sama bunda. Bunda enggak boleh jauh dari Pelangi ya."


Terenyuh hatinya ketika putri kecilnya mengatakan seperti itu kepada Kia. Air matanya pun tidak kuasa menahan rasa itu. Entah apa yang akan terjadi pada Kia, jika hak asuh itu akan di menangkan oleh keluarga Akbar.


"Bunda, tidak akan pernah meninggalkan Pelangi sendiri. Pelangi kecilku akan selalu bersama bunda apapun yang terjadi. Kita akan terus bersama dan selamnya. Bunda janji." kata Kia dalam hatinya.


Pelangi pun langsung mencium pipi Kia dan memeluk Kia, begitupun dengan Kia yang memeberikan pulukan hangat kepada Pelangi.


Kemudian Kia mengajak Pelangi untuk makan siang. Selesai makan siang, Kia membacakan buku cerita dan menemani Pelangi tidur. Tak lama Pelangi tertidur di samping Kia. Kia pun memeluk putri kecilnya itu dan menciuamnya berkali - kali dengan kasih sayang.


Selesai menidurkan Pelangi, Kia keluar dan duduk di ruang makan. Kepalanya pun bertumpu di ke dua tangannya itu dengan melamun dan tatapan kosong. Baby sister Pelangi merasa sangat kasihan melihat Kia seperti itu. Lalu dirinya mendekati dan mengajak Kia berbicara, agar Kia tidak murung karena kondisi ini.


"Nyonya."


"Iya, ada apa mbak?"


"Yang sabar ya nyonya. Bukan maksud saya ikut campur, tetapi saya tidak tega melihat nyonya seperti ini."


"Terimakasih mbak."

__ADS_1


"Nyonya, mintalah bantuan kepada Tuhan supaya nyonya di jauhkan dari semua orang - orang yang jahat kepada nyonya dan juga nyonya kecil."


"Entah mbak, mengapa berat sekali aku merasakan masalah ini. Aku benar - benar takut kehilangan Pelangi. Aku tidak bisa hidup tanpa Pelangi."


"Nyonya, aku yakin, nyonya pasti bisa menghadapi semua ini. Nyonya tidak boleh lemah seperti ini. Jika nyonya seperti ini, sama saja nyonya menyerahkan Pelangi kepada mereka."


"Tidak mbak, aku tidak mau itu terjadi. Aku enggak sanggup."


"Nyonya harus semangat. Nyonya jangan menyerah. Optimis semua pasti akan baik - baik saja. Nyonya orang baik, pasti kebaikan sudah ada di depan mata."


"Terimakasih ya mbak sudah membuka mataku."


"Saya dulu juga pernah mempunyai anak. Tetapi anak saya meninggal dunia. Setelah itu suami saya tidak terima dengan semua yang sudah terjadi. Dia selalu menyalahkan saya atas kematian anak kami. Lalu dirinya pergi meninggalkan saya. Saat itu memang rasanya hati ini seperti di cabik - cabik pisau yang sangat tajam. Tetapi akhirnya saya pasrahkan semuanya, sehingga suami saya mengajukan gugatan cerai. Lalu kami bercerai tak lama saya menerima kabar kalau mantan suami saya dulu meninggal dunia. Maaf ya nyonya, saja jadi menceritakan kisah saya kepada nyonya."


"Ternyata ada lagi yang lebih parah dari kisahku ya mbak. Tidak apa - apa mbak. Aku justru senang bisa ada yang mengajak aku ngobrol. Setidaknya aku bisa lebih menyadari dan bisa semangat menghadapi semua masalah di hidupku."


"Iya nyonya. Nyonya mau makan apa? Biar saya ambilkan. "


"Tidak usah mbak, kamu istirahat saja. Selagi Pelangi masih tidur. Aku sebentar lagi akan keluar sebentar. "


"Baiklah nyonya. "


Bersambung....


❇️❇️❇️❇️❇️

__ADS_1


__ADS_2