
Malam itu Nindi di telpon oleh pihak kepolisian untuk memberikan kabar kalau anaknya saat itu sedang di tahan oleh pihak yang berwajib. Akan tetapi Nindi sama sekali tidak kaget setelah mendapatkan telepon atau kabar dari pihak kepolisian, sebab anaknya sudah berulang – ulang kali selalu mempunyai urusan dengan pihak yang berwajib. Dahulu pernah kejadian, di saat Dion duduk di bangku sekolah Smp. Ia mengikuti balap liar di jalan hingga menabrak seorang nenek – nenek yang kala itu akan menyeberang jalan, sehingga membuat nenek itu meninggal di tempat kejadian. Dion hampir saja mendapati masalah besar atau hukuman mati. Sebab pihak keluarga nenek tersebut meminta kepada polisi untuk di tuntut hukuman mati.
Akan tetapi berhubung Nindi lulusan S1 sarjana hukum dia memperjuangkan betul – betul supaya anaknya bebas dari tuntutan pihak keluarga korban. Hingga Akhirnya dia memenangkan kasus itu dengan di kawal beberapa senior – seniornya.
“Hallo selamat malam.”
“Iya selamat malam juga. Maaf ini dengan siapa?”
“Kami dari pihak kepolisian ingin memberikan kabar kepada anda kalau anak anda saat ini sedang kami tahan.”
Ketika polisi mengatakan seperti itu, Nindi sama sekali tidak terkejut ataupun kaget dengan kabar yang di berikan oleh polisi. Ia hanya menghela nafas panjang. Sebab dirinya sudah tahu kalau Dion lagi – lagi membuat masalah sehingga membuat dirinya harus berurusan lagi dengan kepolisian.
“Iya pak. Ada apa dengan dia?”
“anak ibuk telah mangikuti balap liar di jalan.”
“Ya, ya, pak. Besok pagi saya akan kesana untuk menjemput anak saya.”
“Kalau begitu kami permisi. Kami akan menutup telepon ini.”
“Iya pak, terimakasih karena sudah memberikan kabar kepada saya.”
Tot.. tot.. tot..
Di matikanlah telepon itu kepada pihak kepolisian. Nindi yang baru saja menerima telepon dari kepolisian langsung memasang wajah yang begitu marah. Ia seperti sudah tidak mau lagi mengurus Dion.
“Anak itu bener – bener ya, sudah membuat kesabaranku habis. Dia selalu saja menyusahkan hidup aku. Aku udah capek kalau harus berurusan dengan polisi terus hanya karena mengurus kenakalan dia. Dasar anak yang tidak tahu di untung. Kenapa aku harus melahirkan anak semacam dia! Sial banget sih hidup aku, udah hamil di tinggal suami minggat, apa lagi punya anak cuman nyusahin hidup aku terus! Dan lagi enggak tahu kenapa Setiap kali aku melihat wajah dia, kebencianku semakin besar. Karena wajah dia menginggatkan aku pada ayahnya. Semenjak aku di tinggal pergi aku sangat – sangat membenci Alex.” Gumam nindi sembari membanting kursi yang ada di samping dirinya yang sedang berdiri itu.
**
Ke esokan harinya, Nindi mendatangi kantor polisi untuk menjemput anaknya. Di sana dia bertemu dengan Dion dengan wajah yang sangat marah. Dion berulang ulang kali memanggil ibunya itu akan tetapi Nindi sama sekali tidak mau melihat atau menggubris Dion.
“Mah, mama. Mama Dion di sini.” Ucap Dion sembari melihat kearah Nindi yang sedang berjalan.
Nindi memang mendengar dan sepintas melihat anaknya yang sedang di dalam sel tahanan itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak memperdulikan anaknya yang berulang ulang kali memanggil – manggilnya. Dirinya tetap terus emlangkahkan kaki ke arah polisi yang sedang bertugas.
Dirinya meminta kepada polisi supaya Dion di bebaskan dari sel tahanan. Akan tetapi polisi sama sekali tidak bisa melepaskan dion begitu saja sebab, dion sudah banyak mempunyai catatan buruk di kepolisian karena memiliki beberapa permasalahan – permasalahan. Sehingga mau tidak mau Nindi mengajukan sidang untuk kebebasan Dion.
Kemudian masalah Dion telah selesai. Dion akhirnya di bebaskan lagi karena Nindi mengajukan banding di pengadilan tentang kasus balap liar yang di lakukan Dion. Hingga akhirnya dion di bawa pulang oleh Nindi. Sesampai di rumah Nindi marah – marah dan mengomeli anaknya Dion.
“Dion duduk kamu! Mama mau bicara.” Pinta Nindi.
Dion kemudian menuruti apa yang di minta oleh Nindi dengan wajah yang seperti agak kesal.
“apa yang akan mama bicarakan?”
“mau sampai kapan sih kamu membuat aku sengsara?! Hem! Sudah sering bvanget kamu membikin malu muka mama! Apa sih mau kamu? Hem!”
“Dion...”
Ketika Dion akan mengatakan sesuatu, Nindi masih saja mengoceh dan marah – marah kepada anaknya. Sehingga membuat Dion mengatakan yang selama ini yang dia inginkan.
“Kamu bolak bali keluar masuk dan berulang – ulang kali berurusan dengan polisi. Mana sekolah kamu pindah sana pindah sini. Baru saja pindah dari sekolahan sudah bikin ulah. Mama lagi yang harus mengahadap Bp di sekolahan kamu. Kamu masih ingat kan dengan permasalahan terbesar kamu, gara – gara kamu balap liar di jalan sampai pernah menabrak nenek – nenek yang mau menyebrang jalan? Hem! Apa kamu mau hal seperti itu kembali terulang?! Kamu tuh ya anak tidak bisa di untung dari dulu sampai sekarang kerjaannya hanya bisa membuat hidup mama menderita! Mau kamu apa sih sebenarnya?! Mama sudah muang menghadapi sikap dan perilaku kamu yang urakan seperti ini. Apa belum puas semua fasilitas mewah yang sudah mama berikan sama kamu? Hem? Belum puas! Kesel aku lama – lama menghadapi sikap kamu ini!” ucap Nindi dengan wajah yang begitu marahnya dan mengeluarkan suara tinggi kepada anaknya.
“mah, mama sadar gak sih. Kenapa dion selama ini melakukan ini semua? Mama apa pernah memperhatikan dion sedikit saja sejak dion masih kecil sampai sekarang mah? Apa mama mempunyai sedikit waktu saja untuk dion? Apa mama juga pernah berusaha dekat dengan Dion?”
“Dion, pintar ya sekarang kamu bisa membantah mama! Semua yang mama lakukan ini untuk siapa kalau bukan untuk kamu?! Mama bekerja keras sampai lupa waktu seperti ini hanya untuk kamu. Biar kamu bisa mendapatkan semua fasilitas yang pantas untuk kehidupanmu. Tapi apa? Kerja keras mama selama ini, hanya kamu balas dengan sikap ugalan – ugalan kamu! Ini balasan untuk mama?!”
“Baik, kalau mama memang tidak mengharapkan dan tidak mau mempunyai anak seperti aku, dion akan pergi untuk selama – lamanya. Kalau dion pergi nanti, mama sudah tidak lagi berurusan dengan polisi atau sebagainya. Dion akan menghidupi keperluan dion sendiri. Dan semua fasilitas yang mama berikan akan dion kembalikan. Tapi dion hanya minta satu kepada mama. Tolong kasih tahu dion siapa nama ayah kandung dion dan di mana tempat tinggalnya.”
Nindi hanya berdiam dan tidak mengatakan apapun kepada anaknya itu setelah dion meminta untuk memberitahukan nama dan alamat tempat tinggal ayah kandungnya. Sebab sejak kecil dion sama sekali tidak mengetahui siapa nama ayah kandungnya sampai sekarang. Apa lagi tempat tinggal Alex. Nindi juga sudah mengubur dalam dalam masa lalu yang di berikan oleh Alex beberapa tahun yang lalu.
“Kenapa mama diam saja? katakan ma, siapa nama ayah dion. Dan di mana tempat tinggalnya! Apa mama pernah mengerti perasaan dion bagaimana? Apa mama pernah berpikir tentang anak mama sendiri, ketika dion melihat semua teman – teman dion mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ke dua orang tuanya?”
Plak!
“Cukup dion, kamu jangan kurang ajar kepada mama! Mama sudah membesarkanmu sendirian selama ini. Mama sudah susah payah mencari nafkah untuk kamu sendirian selama ini. Apakah ini semua balasan yang kamu berikan kepada mama?”
“Tapi kenapa mama tidak pernah mau menceritakan atau memberitahukan siapa nama ayah dion yang sebenarnya, kenapa mah. Kenapa?” tanya dion sambil berjalan meninggalkan Nindi.
“Dion, Dion. Jangan pernah kamu tanyakan tentang ayah kamu lagi. Mama sangat membenci itu. ingat itu dion!” teriak Nindi kepada anaknya itu.
Nindi pun berteriak – teriak kepada anaknya yang pergi begitu saja dan menuju kamar tidurnya itu.
Dion kemudian membanting pintu kamarnya dengan begitu keras setelah ia meninggalkan Nindi yang masih berdiri di ruang tamu. Sesampai di kamar Dion membanting semua barang barang yang ada di kamarnya. Dirinya merasa kalau ibunya tidak pernah mengharapkan dion ada di dunia.
“Agh!! Kenapa – kenapa hidupku sepahit ini kenapa?! Kenapa tidak ada satu orang pun yang perduli dengan ku, kenpa?! Kenapa?! Kenapa aku juga harus di lahirkan jika orang tua ku saja tidak menginginkan kehadiran ku di bumi ini! Agh!!” ucap Dion sambil menendang lemari kecil yang ada di sampingnya itu.
Sedangkan ketika itu Nindi menanggis sambil mendelosor duduk di lantai dengan menanggis. Karena yang di rasa saat itu adalah rasa benci menginggat ingat Alex yang sudah meninggalkan dirinya.
“Kamu tidak tahu cerita sebenarnya bagaimana perasaan mama setelah ayahmu pergi meninggalkan mama di saat mama masih mengandungmu nak. Mama melakukan ini semua karena mama sampai sekarang belum bisa melupakan ayahmu. Hisk.. hisk.. hisk.. tapi kenapa, kenapa luka itu kamu yang menkorek lagi nak. Sehingga membuat hati mama semakin terluka lagi Dion.” Ucap Nindi sendirian sambil mengis tersesak.
Kedua asisten rumah tangga dan juga baby sister yang dulu mengasuh Dion, mereka melihat Nindi yang meratapi kesedihannya sambil duduk mendelosor ke lantai dan bersandar di anak tangga rumahnya itu. mereka merasa kasihan kepada Nindi, sebab sejak dulu sampai sekarang mereka yang mengetahui sendiri bagaimana Nindi hidup tanpa seorang suami saat sedang hamil tua. Ia juga merasakan bagaimana perjuangan di saat melahirkan sendiri di rumah sakit tanpa ada saudara dan suami yang menemani dirinya itu.
“Kasihan nyonya, kenapa dia sampai sekarang tidak bisa hidup bahagia. Sedangkan dia orang kaya, apa – apa serba ada. Kehidupannya pun sangat mewah, apa lagi fasilitas yang dia miliki semua mahal. Tapi sayang dia hanya sendiri dan dia selalu merasakn kesedihan. Belum lagi anaknya yang sering keluar masuk dan berurusan dengan polisi. Huft.. gak bisa bayangin aku.” Kata asisten rumah tangga nindi yang mengintip Nindi dari dapur.
**
Sedangkan malam setelah kejadian Amel yang pergi dengan dion tadi. Keluarga Kia kemudian istirahat di kamarnya masing – masing. Di saat Pelangi akan merebahkan tubuhnya yang sangat lelah itu. terdengar suara hanpone miliknya berbunyi. Pelangi kemudian mengangkat telepon itu, panggilan masuk itu ternyata adalah Calvin.
“Hallo.” Kata Pelangi.
Kamu belum tidur?” tanaya Calvin.
“Belum kak, ini baru saja selesai mandi.”
“Ha? Malam – malam begini kamu baru mandi?”
“Iya kak, tadi soalnya ada sedikit masalh di rumah. Ya jadi aku baru selesai mandi.”
“Kalau boleh tahu maslah apa?”
“Ya adalah lah kak, cuman soal adik sih.”
“Owh, kenapa dengan adik kamu?”
“Udah lah enggak usah di bahas. Kenpa kak calvin malam – malam menelpon ku.”
“Emm, gak tahu kenapa aku tuh kangen aja sama kamu.”
“Apaan sih kak calvin ini.
“Beneran cantik.”
__ADS_1
“Aku tutup nih telponnya kalau masih ngegombal.”
“Eettt, jangan jangan dong. Masak di tutup. Kejem banget sih kamu.”
“Habisnya kakak malam – malam masih aja gitu. Kak Calvin kenapa belum tidur?”
“Iya aku tadi habis nganterin bokap buat cek up di rumah sakit.”
“Loh ayah kak calvin memang lagi sakit ya? Sakit apa?”
“Iya enggak sakit sih, cuman harus rutin controlin bokap ke dokter. Biasa kalau sudah umurkan harus bolak balik sama dokter.”
“Owh, kirain sakit apa.”
“Pelangi, aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu?”
“Tanya apa kak?”
“Kalau aku deket sama kamu gini, ada yang marah gak sama kamu?”
“Marah? Marah kenapa?”
“Ya marah karena aku dekat sama kamu.”
“Ha.. ha.. ha.. mungkin ayah sama bunda yang marah kak.” Ucap pelangi sembari tersenyum – senyum sambil melihat bintang di luar kamarnya.
“Beneran nih.”
“Enggak kak, gak ada yang marah.”
“Bener?”
“Iya,”
“Ya takutnya cowok kamu nanti yang marah. Karena aku deket sama kamu.”
“Cowok? Aku mah belum punya cowok kak, pacaran saja aku belum pernah. Aku masih ingin fokus sama kuliah ku kak calvin.”
“Berati aku bisa dong jadi cowok kamu atau jadi pacar kamu.”
“Kak, maaf aku masih ingin fokus sama kuliahku kak. Aku tidak ingin pacaran atau yang lainnya dulu. Maaf ya kak.”
“ha.. ha.. ha... bercanda lagi Ngi, aku juga tahu kalau kamu anak baik – baik.”
“Sepertinya kalau kita berteman akan lebih baik dari pada harus pacaran kak.”
“He.. he.. he.. iya, iya canti. Tapi aku akan menunggu kamu sampai kamu sudah siap untuk namanya pacaran.”
Pelangi hanya tersenyum. Setelah beberapa menit mereka berkomunikasi, Calvin kemudian mengakhiri telpon itu.
“Kalau gitu, sekarang kamu tidur. Ini sudah sangat malam sekali. Jadi selamat beristirahat ya cantik.”
“Iya kak, aku juga sudah sangat mengantuk sekali. Kalau begitu aku matiin ya kak. Kak Calvin juga, selamat malam selmat beristirahat.”
“Iya, emm, tapi Ngi. Besok aku jemput kamu berangkat kuliah ya. Kebetulan aku juga ada mata kuliah pagi. Kamu mau kan?”
“Besok pagi?”
“Iyaa...”
“ya sudah kalau begitu aku matikan teleponnya. Mimpi indah ya cantik.”
“Iya kak.”
Tot.. tot.. tot...
Di matikanlah telepon itu oleh pelangi dan Calvin. Selesai menelpon Pelangi, Calvin kemudian melamun, dirinya memikirkan kata – kata pelangi yang belum ingin pacaran dulu.
“sepertinya aku sulit untuk mendapatkan hati Pelangi. Padahal aku benar – benar suka sekali sama dia. Aku enggak boleh nyerah. Aku harus terus berusaha, bagaimana caranya supaya Pelangi mau menjadi pacarku atau kekasihku. Dia adalah wanita yang aku idam idamkan selama ini. Aku yakin aku bisa, pelan – pelan pasti aku bisa membuat Pelangi jatuh cinta kepadaku. Dia berbeda dengan wnaita yang pernah aku kenal. Dia wanita yang polos dan lugu. Apa lagi dia juga wanita yang jenius. Pelangi, Pelangi, kenapa kamu membuat aku tergila – gila sama kamu. Sejak awal bertemu dan memandang kamu, jantungku seperti mau copot. Apa lagi ketika melihat senyum manis yang terpancar di wajahmu. Uhh, bener deh, sampai gemes sekali aku memandangi wajahmu.” Ucap Calvin sendirian sambil tersenyum senyum memandang langit.
**
Keesokan harinya, Pelangi mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kampus. Sebab dia hari itu dana mata kuliah pagi. Dan kemarin malam, Calvin mengatakan kalau dirinya akan menjemput pelangi berangkat kuliah bersama. Pelangi sudah berdiri menunggu Calvin di depan rumahnya sambil memegang buku dan melihat ke jam tangannya. Akan tetapi Calvin belum terlihat juga.
Kemudia Pelangi mencoba untuk menghubungi Calvin waktu itu, karena Pelangi takut kalau Calvin salah jalan atau dia kelamaan mencari rumahnya. Namun, sebelum dia mengambil hpnya Calvin sudah sampai di hadapanya, Calvin mengkelakson pelan kepada Pelangi yang sedang berdiri itu, Calvin kemudian membuka kaca jendela mobil miliknya dan meminta Pelangi untuk segera masuk ke dalam mobilnya itu.
Ttin...
“Pelangi, ayuk masuk.”
“Iya kak.”
Kemudian Pelangi membuka pintu mobil itu lalu masuk ke dalam mobil. Di mobil mereka berbincang – bincang.
“Maaf ya aku telat. Kamu pasti sudah menunggu aku lama.”
“Owh, enggak apa – apa kok kak, lagian aku juga baru saja keluar dari rumah tadi.”
“Tadi aku sempat mencari – cari dulu bloknya. Perumahan ini kan luas sekali. Aku juga lupa rumah kamu di blok berapa.”
“He.. he.. he.. enggak apa – apa kak, aku juga paham kok.”
“Nanti pulangnya aku anter ya.”
“Tapi apa aku enggak merepotkan kakak?”
“Enggak cantik, aku merasa tidak di repotkan sama sekali. Aku justru senang sekali bisa mengantar tuan putri sampai rumah.”
“Ah, kak Calvin. Masih pagi ini kak. He.. he.. he..” kata Pelangi sambil tersenyum memerah di pipinya.
Sesampai di kampus, setelah memarkirkan kendaraannya. Calvin dan Pelangin kemudian keluar dari dalam mobil. Ketika itu, Brayen juga baru saja sampai, ia lalu melihat Pelangi yang sedang keluar dari dalam mobil Calvin. Brayen lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah Pelangi. Ia meminta Pelangi untuk mengerjakan tugas dari dosen kiler itu nanti siang, setelah selesai mata kuliah hari itu.
“Nanti selesai mata kuliah kita mulai kerjakan tugas sosiologinya. Aku tunggu kamu di parkiran.” Ucap Brayen dengan singkatnya.
Pelangi belum sempat menjawab perkataan dari Brayen, tapi Brayen sudah langsung pergi begitu saja. Sedangkan di saat brayen berjalan menjauh dari Pelangi, ia hanya bisa bergumam sendiri.
“ laki – laki itu kan yang kemarin menemani Pelangi di Perpustakaan? Kenapa Pelangi bisa berangkat ke kampus bersama dengan laki – laki itu. Siapa dia? Mereka berdua terlihat sudah begitu akrab. Ah ngapain aku pikurin. Toh Pelangi juga bukan siapa – siapa aku.” Gumam Brayen dari dalam hatinya.
Calvin yang melihat Brayen waktu itu, ia langsung bertanya kepada Pelangi.
“Siapa dia?” tanya Calvin.
“Owh, dia itu teman satu kelas aku kak.”
__ADS_1
“Sadis amat cara ngomongnya. Dateng – dateng langsung bilang gitu. Eehh, terus dia pergi begitu saja setelah ngomong sesuatu dengan kamu. Aneh ya tuh anak.”
“Dia emang gitu kak orangnya, tapi banyak wanita yang begitu sangat mengagumi dia. Ya, banyak yang bilang katanya sih ganteng dan cool gitu kak.”
“Tapi menurut kamu gimana? Pasti juga sama dengan wanita – wanita yang lain, yang mengagumi dia kan?”
“Enggak, aku merasa dia biasa – biasa saja sih kak. Menurut aku semua sama, tidak ada yang istimewa.”
“Syukurlah kalau gitu.” Ucap Calvin berbisik – bisik kepada dirinya sendiri.
“Apa kak? Kak Calvin ngomong apa barusan?” tanya Pelangi yang sedikit mendengarkan bisikan Calvin kala itu.
“owh, enggak apa – apa kok. Aku enggak bilang apa – apa kok Ngi.”
“Bener?”
“Iya.”
Di saat mereka sedang berjalan, dari kejauhan terlihat Cici yang memanggil – manggil Pelangi.
“Pelangi, Pelangi.”
Pelangi dan calvin pun menoleh ke belakang. Mereka kemudian menunggu Cici yang sedang berlari menuju Pelangi dan juga Calvin.
“Kirain kamu belum nyampe kampus Ngi. Padahal aku sudah menunggu kamu dari tadi di parkiran.”
“Maaf Ci, aku lupa ngasih kabar ke kamu. Kalau hari ini aku enggak bawa mobil sendiri. Tadi aku di jemput sama kak Calvin.”
“Eh, kak calvin yang super cakep. Kok bisa? Kenapa cuman Pelangi saja yang di jemput kak. Kenapa Enggak cici sekalian di jemput. Kan enak kalau kita bertiga berangkat kuliah bareng gitu. Terus biar Cici enggak cape – cape nyetir sendiri gitu.”
“Ih, malu – maluin kamu tuh. He.. he.. he.. maaf ya kak Calvin. Temenku yang satu ini emang malu – maluin. Maaf ya kak.” Kata Pelangi sambil menujukan wajah yang tidak enak hati kepada Calvin gara – gara Cici sahabatnya itu.
“Ha.. ha.. ha.. Cici, kamu itu lucu juga ya.”
“Emang, baru tahu kah kak? Cici itu emang imut, cantik, manis dan pintar sedunia.”
“Apaan sih. Yuk kak calvin kita tinggalin aja Cici. Biar dia yang telambat sendiri. Yuk kak.”
Calvin kemudian hanya tersenyum melihat tingkah laku cici yang ke genitan kepada dirinya itu.
“Lain kali, aku akan menjemput kamu dan juga Pelangi saat akan berangkat ke kampus. Biar kita bisa bersama – sama berangkatnya.”
“Nah gitu dong kak, aku setuju sekali itu.”
“Dasar malu. Maluin kamu tuh.”
“Ya enggak apa – apakan kak.”
“Iya, santai saja. ya sudah kita lanjutin jalannya keburu masuk.
Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama menuju ruang masing – masing.
**
Setelah beberapa jam berlalu dan mata kuliah yang saat itu sedang mereka ikuti pun berakhir. Pelangi dan Cici kembali berjalan menuju ke arah kantin. Seperti biasa mereka berdua lalu memesan makanan dan minuman. Ketika itu Cici masih merasa heran dengan ke dekekatan Pelangi dan Calvin.
“Gue heran sama lo ngi. Kenapa lo bisa sedeket itu sama kakak senior ganteng itu sih? Sebelum lo masuk kampus ini, kalian sudah pada saling kenal ya? Atau jangan - jangan kalian memang sudah menjalin kasih saat pertama masuk di kampus ini ya ngi?”
“Ngacok lo kalau ngomong. Nih ya gue ceritaain. Gue sama kak Calvin itu kebetulan ketemu di salah satu toko buku. Nah waktu itu, gue lagi asik membaca buku yang gue beli, dia nyamperin gue, terus dia ngajakin gue kenalan. Eh enggak tahunya dan ternyata kak Calvin itu senior kita.”
“what? Yang bener saja lo ngi? Masak semua secara kebetulan? Gue tetep kagak percaya deh.”
“Terserah lo. Mau percaya atau enggak terserah lo.”
“Tapi ngi, beneran deh, coba kamu pikirkan secara logika saja. apa mungkin semua itu terjadi dengan begitu saja? mustahil deh ngi.”
“Cik lo ini mau bahas apa sih? Kenapa lo bahas gue sama kak Calvin?”
“Jujur ngi, gue masih belum paham mendengar cerita kamu ini. Apa lagi aku merasa kak calvin itu sangat menyukai kamu deh.”
“hemm, mulai nih, mulai ngajakin perang ama gue lo cik. Udah gue bilang kagak usah bahas dia lagi.”
“Iya, iya Ngi, jangan marah dong.”
“He.. he.. he.. mana mungkin gue bisa marah sama sahabat gue ini.”
“Ih lo emang yang nomer satu deh ngi.”
Di saat mereka sedang asik mengobrol dan setengah menyantap makanan atau minumannya terlihat dari ke jauhan Calvin datang mendekati cici dan juga Pelangi.
“Aku gabung ya.”
“silahkan kakak ganteng.” Kata Cici.
“Ngi, ntar aku anterin saja ya kamu berangkat untuk mengerjakan kelompoknya.”
“Enggak usah kak, nanti biar aku suruh supirku untuk mengirim mobil ke kampus.”
“Tapi apa enggak ribet di kamu Ngi? Sory ya, aku jadi nyusahin kamu.”
“Enggak kok kak, enggak apa – apa. Santai saja. toh tugas kelompoknya juga masih lama. ”
“Emang kerja kelompok apa sih ngi? Kok gue enggak tahu?”
“Iya jadi tadi Brayen ngajakin gue untuk ngerjain kelopok sosiologinnya habis ini,”
“Owh, gitu. Kelompok gue malah belum apa – apa. Rajin bener tuh patung hidup.”
“Patung hidup? Maksud lo brayen?”
“Ya iya lah siapa lagi.”
“katanya ganteng, katanya cowok idaman. Kok malah lo katain patung hidup sih ci, ci. Dasar lo Ci, bisa bisanya ya kalau cari – cari kata. Ha.. ha.. ha..”
Kemudian mereka bertiga tersenyum bersama.
“Ya habisnya dia itu dingin dan cuek sekali sih.”
“Bisa saja kamu Ci.” Ucap Calvin.
“Iya nih orang.” ucap Pelangi.
Bersambung...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐⭐