Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Amel membantah


__ADS_3

Wajah Kia waktu itu terlihat begitu sangat marah, ia mulai berfikir dan menduga kalau Amel pasti sedang pergi bersama Dion. Sebab, ketika amel sedang bersama dion, amel pasti selalu susah untuk di hubungi. Amel memang sengaja mematikan handphone nya, karena ia tahu kalau Kia pasti akan menghubungi dirinya ketika ia sedang bersama dion.


Amel dan dion memang selalu menghabiskan waktunya hanya untuk saling tukar cerita, dan saling bercanda supaya mengisi waktu mereka bertemu. Dion memang anak yang nakal dan berandal, namun di hati kecilnya, ia tidak pernah mau merusak masa depan amel. Amel dan dion pernah berjanji satu sama lain untuk selalu bisa menjaga diri dan juga menjaga perasaan masing – masing, sehingga mereka berdua tidak mau melakukan hubungan intim walaupun selalu berdua bersama – sama. Dion tidak ingin menyakiti amel sedikit pun, begitu pula dengan amel, ia juga tidak ingin menyakiti dion.


Mereka berdua memang dekat. tapi dion pernah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia akan selalu menjaga amel di saat amel sedang bersama dirinya apapun yang terjadi. Amel yang selalu membuat dion merasa tenang, dan amel lah yang selalu bisa merubah pola pikir dion yang dulunya suka sekali emosi atau susah dikendalikan kini ia mulai bisa sedikit mengendalikan dirinya dengan selalu berpikir positif. Sebab semua itu berkat amel, karena amel selalu memberikan semangat dan juga perhatian kepada dion.


Karena waktu sudah sore, Amel berpamitan kepada Dion untuk pulang. Amel merasa kalau Kia pasti sedang mencari dan khawatir dengan dirinya.


“Yon, aku pulang ya, ini sudah sore banget. Bunda pasti sudah nyariin aku.”


“Aku anterin ya.”


“Enggak usah, biar aku naik taksi saja.”


“Kenapa? Kamu pasti takut kalau bundamu marah kepada ku lagi ya?”


“Iya, aku enggak ingin melihat kamu di marah – marahin sama bunda terus.”


“Kamu ini. Memang bunda sudah menelpon kamu mel?”


“Enggak tahu, hp ku dari tadi aku non aktifkan. Coba aku lihat dulu.” Kata amel sambil menghidupkan hpnya itu.


Setelah di hidupkan ada catatan panggilan tak terjawab dua puluh lima kali, dan itu adalah Kia yang telah menghubungi Amel dari tadi. Tak lama Amel berdiri dan menghidupkan hpnya sebuah mobil berwarna biri berhenti di sampingnya.


“iya yon, bunda telpon aku dua puluh lima kali. Pasti bunda sangat marah nanti sama aku. Aku pulang dulu ya yon, nih taksinya juga sudah datang.”


“kamu sih orangnya nekat banget. Bener enggak mau di anter?”


“Iya, aku sendirian saja. bye... dion.” Ucap Amel sambil membuka pintu mobil dan kemudian ia masuk ke dalam taksi itu.


Di dalam taksi, amel menyiapkan seribu alasan jika Kia nanti marah – marah.


“Aduh, aku yakin bunda pasti mencari aku. Gimana nih, aku harus cari alasan biar bunda tidak marah kepadaku.” Kata amel sambil bersandar di jendela mobil dengan menggigit kuku di jarinya itu.


Di saat dirinya sedang berpikir untuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan dari ibundanya, suara hpnya pun berbunyi. Amel pun kemudian mengambil hpnya itu dan melihat telepon masuk dari siapa.


Telepon masuk itu adalah Kia, kia sengaja berulang – ulang kali menelpon Amel. Lalu amel mengangkat telpon masuk itu.


“iya hallo bun.”


“Dari mana saja kamu?!”


“A... ku...”


“Bunda enggak mau tahu, kamu harus segera sampai rumah se.. ka.. rang.” Pinta Kia dengan membentak Amel di telepon.


“iya bun, ini Amel juga sudah di jalan mau pulang.”


“Ya, sudah cepetan!”


“Iya bun.”


Tot.. tot.. tot...


Di matikan lah telepon itu. amel sudah menduga kalau Kia pasti bakalan marah besar lagi kepadanya.


“Huft! Tuh kan bunda sudah marah – marah. Nanti pasti aku bakalan kena semprot lagi deh.” Gumam Amel dari dalam hati.


Sesampai di rumah amel kemudian masuk ke dalam rumah. Ia melihat bundanya sedang duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu dirinya pulang.


“Dari mana saja kamu?”


“Aku habis kerja kelompok bun.”


“Siapa yang mengajarimu berbohong seperti ini?”


“Amel enggak bohong kok bun. Beneran amel tadi belajar kelompok bun.”


“Amel, kamu belum puas melihat bunda seperti ini.”


Amel hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


“mana hp kamu.”


“Mau buat apa bun.”


“Mana sini. Berikan sama bunda.”


“Untuk apa sih bun.”


“Udah mana sini.”


Amel pun kemudian mengambil hpnya dari dalam tas sekolahnya. Kia kemudian mengambil hp itu.


“Sekarang kamu masuk kamar, mandi dan makan.”


“Tapi hp amel gimana bun?”


“Amel, kamu dengarkan apa yang bunda katakan?”


“Iya bun, amel dengar. Tapi hp amel mana?”

__ADS_1


“Hp ini akan bunda sita. Kamu tidak usah membawa hp lagi. Kalau nanti ada tugas – tugas tambahan dari wali kelas kamu, bunda akan beritahu kamu.”


“Yah, bunda.”


“Udah, sekarang kamu masuk kamar terus mandi.”


“Bun di situ ada hal penting.”


“Penting apa? Pokoknya mulai dari sekarang bunda enggak mau tahu, semua kegiatan kamu biar bunda yang kontrol seutuhnya. Dan bunda tidak akan memberikan kamu Hp sampai kamu masuk kuliah.”


“Ih, bunda kenapa sih gitu banget sama amel.”


“Amel, bunda seperti ini itu cuman ingin melihat kamu jadi anak yang baik. Sekarang untuk apa bunda kasih kamu Hp, tapi susah sekali untuk menghubungi kamu. Apa lagi, kalau kamu sedang pergi dengan dion, kamu pasti selalu non aktifkan hp mu kan? Bunda tahu apa maksud kamu.”


“Bun, dion itu baik, tidak seburuk apa yang bunda pikirkan.”


“Baik? Sudah, sekarang bunda enggak mau banyak berdebat lagi sama kamu. Bunda minta kamu segera naik ke kamar dan pergi mandi.”


“Bun. Bunda.”


Selesai mengambil hp Amel, Kia kemudian meninggalkan amel sendirian di ruang tamu dengan merengek – rengek meminta hpnya itu. Amel terlihat jengkel karena Kia tidak percaya dengan dirinya lagi.


“Bunda, ah, aku jadi enggak bisa berhubungan sama dion lagi deh. Bunda tega banget sama aku.” Ucap Amel dari dalam hatinya.


Sedangkan di kamar Kia sengaja membuka – buka hp milik amel itu, ia juga mengecek semua isi hp amel. ia mencari – cari no telepon dion. Akan tetapi kia tidak menemukan sama sekali no telepon dion.


“di kasih nama apa sih no nya dion sama Amel. Perasaan aku sudah dari tadi melihat dari A sampai Z kok tidak ada nama dion ya.” Gumam Kia waktu itu.


Kemudian setelah beberapa jam, ia pergi berjalan menuju ke kamar Amel. Ia kemudian meminta kepada amel untuk menunjukan no hp Dion.


“Amel, mana no dion?”


“Mau apa bun?”


“Udah, mana kasih tahu bunda.” Pinta Kia sambil menyodorkan Hp milik amel. Kemudian Amel mencari dan memperlihatkan no hp milik dion.


“Ini bun. Bunda mau ngapain sih?”


“husstt! Sudah kamu diam saja! ini no dion kamu kasih nama kucrut?”


“Iya bun,”


“Dasar kamu ini.”


Setelah Kia mendapatkan no Dion, ia kemudian mencatat no itu di hpnya sendiri, kemudian meneleponnya.


“Hallo.”


“Dion ini tante.”


“Bundanya amel.”


“Owh, iya ada pa tan?”


“rumah kamu di mana? Besok tante dan amel akan datang ke rumah kamu.”


“Memang ada apa ya tan? Kok tumben?”


“Iya, tante hanya ingin main saja ke rumah kamu. Kenapa? Tidak boleh ya tante dan amel main?”


“owh, silah kan tan kalau mau main. Nanti biar Dion kirim by wa ya tan alamatnya.”


“Okey, tante tunggu ya dion.”


“iya tan.”


Tot.. tot.. tot..


Dion merasa aneh dan curiga, sebab tidak biasanya Kia seperti itu. apa lagi menelpon dirinya. Akan tetapi dion masih berpikir positif kalau niat Kia akan benar – benar main ke rumahnya dan memperbolehkan amel untuk bermain bersama dengan dirinya.


“Kok tumben ya bundanya amel menelpon ku? Tidak seperti biasanya? Ada apa ya? Ah, mungkin hanya firasat ku saja. ya mudah mudahan bundanya amel sudah bisa memperbolehkan aku bermain lagi dengan anaknya itu. jadi aku tidak akan kucing – kucingan kalau bertemu dengan amel.” Ucap Dion dari dalam hatinya dengan rasa penasaran.


kia mempunyai rencana untuk dion dan juga amel besok, setelah dirinya menjemput Amel dari sekolah. Ia juga tidak memberitahukan kepada Amel akan rencananya.


Malam hari itu, Kia menceritakan apa yang telah amel lakukan kepada suaminya.


“Mas, amel mulai lagi.”


“amel buat ulah apa lagi bun?”


“Dia tadi siang tiba – tiba ngilang gitu saja.”


“Maksud bunda?”


“Ya seperti biasanya, di pergi lagi dengan dion.”


“Amel bolos sekolah maksud bunda?”


“Bun mas, dia memang tidak membolos sekolah. Jadi mata pelajaran terakhir itu kosong. Tapi amel sama sekali tidak memberitahu kepada pak supir dan memberitahuku kalau dia ternyata pulang lebih awal. Padahal pak sopir juga sudah menjemput dia satu jam sebelum anak – anak pulang sekolah. Pak sopir sudah menunggu lama di sana. Dan ternyata amel sudah pergi duluan. Aku juga tadi siang sibuk sekali sampai – sampai tidak sempat membuka pengumuman yang di share sama wali kelas amel mas.”


“Terus?”

__ADS_1


“Iya dia pergi main lagi sama dion itu, aku sudah coba menghubungi dia berulang – ulang kali, tapi hp amel sengaja dia non aktifkan biar aku tidak menelpon dia.”


“Astaga amel. Kenapa sih dia beda sekali dengan Pelangi. Kalau begitu mulai sekarang diperketat lagi saja bun, kita mencari orang dan menyuruh untuk menjaga amel. Biar dia tidak berulah lagi.”


“Ini juga hp dia aku sita. Aku rencana mau ke rumah Dion dan bertemu dengan orang tuanya. Aku ingin ngomong sama orang tuanya itu.”


“Ya gitu juga boleh bun, kita kan bisa menjaga satu sama lain. Sekarang amel di mana?”


“Tadi habis makan malam dia langsung masuk kamarnya.”


“Kalau begitu ayah mau ke kamar amel dulu bun.”


“Iya mas.”


Cleo kemudian pergi ke kamar amel.


Tok.. tok.. tok..


“Masuk.”


Cleo pun masuk ke dalam kamar amel.


“Ayah,”


“Kamu belum tidur?”


“Ini amel sedang baca novel ya. Kenapa yah? Kok tumben ayah masuk kamar amel.”


“Tadi siang kamu pergi ke mana?”


“owh, amel main yah sama dion.”


“Amel, kenapa sih kamu itu tidak mau menuruti semua kata – kata ayah dan bunda? Ayah sudah bilang dan memperingatkan kamu berulang – ulang kalikan sama kamu, untuk tidak bermain lagi dengan dion.”


“Yah, kenapa sih? Apa alasan ayah sama bunda melarang amel untuk main dengan dion? Memang dion salah apa sama ayah dan bunda?”


Ketika Cleo sedang berbicara dengan Amel. Kia pun juga ikut masuk ke dalam kamar amel.


“Amel, sejak kapan kamu berani menjawab ayah? Siapa yang mengajarimu seperti ini?!”


“bunda. Habis bunda sama ayah enggak jelas, seenaknya saja melarang amel main sama dion.”


“Amel, bunda dan ayah seperti ini karena bunda enggak mau melihat masa depan kamu rusak hanya karena salah pergaulan dengan orang yang rusa!”


“Rusak? Maksud bunda dion anak yang rusak? Anak nakal gitu? Bun, yah, mungkin kita memang lihat Din berpenampilan brandal seperti itu. Tapi dion itu baik sama amel. Dia selalu menjaga amel.”


Plak! (Suara tamparan)


Karena Kia sudah tidak tahan lagi dengan sifat Amel yang semakin lama – semakin berani membantah semua yang kia dan Cleo katakan.


“Jawab terus! Terus kamu bantah apa yang bunda dan ayah katakan! Kamu sudah mulai kurang ajar ya sekarang! Lama – lama bunda kesel ya meladeni tingkah kamu.”


Hisk.. hisk.. hisk..


“Sudah, sudah. Amel, ayah tidak akan membela bunda ataupun kamu. Bunda seperti ini itu karena bunda sayang sama kamu. Ayah tahu, kamu nyaman main dengan dion. Tapi coba kamu pikir, kamu seringkan di ajak balap liar sama dion? Hem... terus kalau kamu sedang main dengan dia, kamu pasti lupa waktu. Itu salah satu contoh yang membuat bunda dan ayah melarangmu. Kamu ini anak perempuan, enggak pantas kalau kamu di ajak balap liar sama dia. Mungkin memang sekarang kamu engak kenapa – kenapa. Ayah dan bunda juga tidak ingin mendengar terjadi sesuatu apa – apa kepada kamu. Maka dari itu, ayah dan bunda melarang kamu.”


“Tapi yah.” Ucap amel sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparan dari tangan Kia.


“Huusstttt,  dengerin ayah. Ayah dan bunda tuh ingin kamu seperti kakakmu. Kak pelangi. Dia sejak kecil sampai sekarang selalu berprestasi. Dia juga selalu membawa nama baik keluarga dan juga sekolahannya.”


“Dengar itu apa yang di katakan oleh ayah mel.”


“Aku dan kak pelangi berbeda yah, bun. Berhenti untuk membanding – bandingkan aku dengan kak pelangi.”


“Sudah lah yah, kita tinggalkan Amel. Percuma kita kasih tahu dia. Mulai sekarang dan seterusnya, bunda tidak akan memberikan hp kamu. Jika kamu ada kepentingan silahkan pakai telepon rumah, dan bunda yang akan mengantar atau menjemput kamu ke sekolahan. Mengerti kamu!”


Kia pun kemudian Pergi keluar dari kamar amel. Amel hanya diam saja dengan mulut yang manyun.


“Huft... sekarang amel lebih baik tidur saja. Ini juga sudah malam.”


“Iya yah.”


Cleo kemudian juga keluar dari kamar amel. Ia lalu kembali masuk ke kamarnya.


“Bun, jangan terlalu kasar begitu sama amel.”


“Habis amel itu enggak bisa diam mulutnya kalau di kasih tahu sama kita yah. Bunda kan jadi gemes.”


“Iya ayah tahu, tapi jangan seperti itu. Apa lagi menamparnya. Pokoknya ini yang pertama dan terakhir kalinya bunda menampar Amel. Ayah tidak mau lihat dan dengar lagi. Ayah yakin, amel akan bisa berubah.”


“Tapi yah.”


“Sudahlah bun, ayah mau istirahat.”


Cleo kemudian naik di atas tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


“Amel, amel, gimana lagi bunda harus memberi tahu kamu. Aku memang salah sih, karena sudah menamparnya. Pasti dia besok masih ngambek sama aku. Maafkan bunda ya mel. Bunda spontan menampar kamu tadi. Mas Cleo juga jadi ikutan marah sama aku. Husft!” ucap Kia dari dalam hatinya.


Setelah itu ia kemudian ikut membaringkan tubuhnya di tempat tidur di samping suaminya.


Bersambung...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


 


__ADS_2