Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Akbar


__ADS_3

Tante sama mama pulangnya naik apa nanti?" Tanya Kayla kepada mereka.


"Sudah di pesankan Go-Car kok nak, sama Akbar."


"Kalau begitu Kayla nyusulin mas Akbar ya mah, tan."


"Silahkan silahkan sayang, calon mantuku yang cantik." Kata Dewi.


Tak lama Kayla langsung meninggalkan mereka lalu menghidupkan mobilnya untuk menyusul Akbar. Dari ke jauhan masih terlihat mobil Akbar. Kayla mengebut karena takut kehilangan jejak mobil Akbar. Di saat ada jalan perempatan mobil kayla terhalang oleh dua mobil di depannya hingga menutupi pandangan untuk mengejar Akbar. Hingga akhirnya Kayla kehilangan jejak untuk mengikutinya.


Saat itu Akbar pergi ke makam ayahnya disana ia menanggis dan memukuli dirinya sendiri. Ia berkata di makam sendirian sambil menanggis - nanggis.


"Ayah, hiks, hiks, hiks. ( Menanggis sampai sesengukan ). Mengapa kau begitu cepat pergi meninggalkanku. Aku membutuhkan mu ayah, aku ingin menjadi sepertimu. Menjadi laki laki yang bertanggung jawab dan seorang laki laki yang tangguh. Ayah, apa yang harus aku lakukan saat ini. Semua sudah terlambat. Aku bukanlah laki laki tangguh sepertimu. Rumah tanggaku sudah hancur, aku sudah menyakiti dan meninggalkan wanita yang aku cintai, semua itu aku lakukan demi untuk membahagiakan ibuk. Karena ayahlah yang sudah berpesan kepadaku untuk membahagiakan ibu dan menjaga ibu. Ayah juga yang sudah membuatku berjanji sebelum ayah pergi, agar aku bisa menuruti semua apa yang ibu mau. Tetapi, aku harus mengorbankan hati dan juga rumah tanggaku ayah. Ayah aku membutuhkan pengarahan darimu saat ini, supaya aku bisa menjadi sepertimu ayah. Namun, kau sudah tiada lagi untuk menuntun ku menjadi imam yang baik di dalam keluargaku ayah. Hisk, hisk, hisk." Ucap akbar sendirian ketika sedang berada di makam itu sambil menanggis bersujut di tanah kubur ayahnya.


Di situlah Akbar meluapkan isi hatinya saat itu. Ia sangat ingin sekali menolong Kia saat


terjatuh pingsan tadi di persidangan. Ia juga mulai mememikirkan perkataan Surya yang mengancam Akbar untuk tidak memperbolehkannya bertemu dengan anak dan Kia lagi. Ia sunggguh tidak tega saat melihat Kia sedang jatuh pingsan.


Beberapa jam menanggis di makam ayahnya. Setelah itu Akbar pergi kembali pulang. Sesampai di rumah, Akbar tidak mengucapkan apapun kepada Dewi, dengan wajah yang murung terlihat raut mukanya membekas jalan air mata yang menetes. Wajah Akbar yang terlihat kotor, lesu dan sangat buluk karena terkena pasir dimakam tadi.


"Loh.. Loh.. nak, ada apa dengan kamu ini nak?" Tanya Dewi sambil membukakan pintu untuk Akbar.


Namun, di saat itu Akbar tidak membalas perkataan ibunya. Ia langsung saja pergi kekamarnya dengan raut muka yang murung. Dewi yang binggung melihat anaknya seperti itu langsung mengikutinya berjalan di belakang Akbar menuju ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa dengan mu nak?" Tanya Dewi.


"Sudahlah buk, aku ingin sendiri dulu." Jawab Akbar.


"Tapi nak, ibuk ingin tahu kenapa dengan mu ini? Apa yang terjadi dengan mu?" Ucap Dewi sambil memegangi pundak Akbar.


"Aku capek buk, aku ingin istirahat dulu. Ibuk jangan ganggu aku." Ucap Akbar tanpa melihat sedikitpun wajah Dewi dan membelakanginya.


"Kamu sakit?" Tanya Dewi lagi sambil memegang jidat anaknya.


"Sudahlah buk, aku ingin sendiri dulu." Ucap Akbar sambil mendorong tangan ibunya yanh sedang menempelkan tanganny ke jidat Akbar.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya nak. Ibu akan menyiapkan makanan untuk kamu."


"Hallo, Kayla."


"Iya tante. Ada apa?"


"Kamu tadi jadi menyusul Akbar?"


"Tadi aku tidak jadi menyusul mas Akbar tan, di pertengahan jalan aku kehilangan jejak mas Akbar. Memang mas Akbar belum pulang tan?"


"Sudah, dia sudah pulang. Tapi tante binggung dia pulang sifatnya agak berbeda. Enggak tahu kenapa. Tante kira tadi kamu bersama Akbar."

__ADS_1


"Berbeda gimana maksud tante?"


"Ya beda, mukanya seperti lesu dan murung. Tante tanya, katanya dia ingin sendiri dulu. Kenapa ya kira - kira Kay? "


"Tadi waktu Kayla mau pergi menyusul mas Akbar, dia juga seperti tergesa - gesa tan. Makannya Kayla enggak bisa nenuin jejaknya mas Akbar. Atau mas Akbar sedang banyak masalah di kantor tan?"


"Aduh, enggak tahu juga tante. Mungkin iya Kay, coba nanti malam tante tanyakan lagi. Ya sudah tante mau masakin makanan kesukaan Akbar dulu ya nak."


"Iya tante. Nanti kasih kabar ke Kayla ya tan, jikak terjadi apa apa kepada mas Akbar."


"Iya, iya nak."


Di matikanlah telphone itu. Dewi pergi memasak makanan ke sukaan Akbar. Berapa jam berlalu ia menunggu Akbar keluar dari kamarnya dan turun untuk makan malam bersama. Namun, Akbar tak kunjung keluar dari kamarnya. Akhirnya Dewi memanggil Akbar dan naik menuju kamarnya, ia mengetuk - ngetuk pintu kamar Akbar.


Tok.. tok.. tok..


"Akbar, nak."


Namun, tak kunjung di bukakan pintu kamarnya.


"Dia masih tidur apa ya? Ya, sudahlah aku bangunkan nanti. Mungkin memang dia sedang tidak enak badan." Kata Dewi dari dalam hatinya.


Bersambung.

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2