
"Kenapa semua ini terjadi setelah aku sudah positif hamil. Aku sunguh sunguh ingin semuanya kembali seperti dahulu. Aku menginginkan suamiku kembali dan dia melihat bahwa apa yang dia inginkan sudah terwujut saat ini." Katanya dari dalam hati.
Semua impian yang Kia bangun selama ini hancur. Ia berfikir bahwa ia akan pergi menemui ibuk mertuanya itu. Ia akan datang dan memberikan hasil lapnya untuk Dewi. Agar Dewi percaya bahwa menantunya itu sedang mengandung cucunya.
Ketika ia akan pergi menggunakan montor maticnya, datanglah seseorang dari belakang pintu gerbang dengan membawa sepucuk surat.
"Permisi."
"Iya, ada apa ya mas? "
"Maaf buk, benar ini rumah ibu Zakia Salsabila Aisya?
"Iya mas, saya sendiri."
"Ada kiriman surat buk. Silahkan tanda tangan di sebelah sini. Untuk pembuktian bahwa surat sudah sampai kepenerima."
"Owh, baik mas. "
Di berikan lah sepotong amplop berwarna coklat dengan kop surat bertuliskan "Pengadilan Agama" oleh pengantar surat. Setelah memberikan surat amplop cokelat, kurir itu langsung berpamitan pergi melanjutkan tugas - tugasnya.
Dengan hati yang sangat kecewa dan sedih kia membuka surat itu. Ternyata sebuah panggilan untuknya agar ia datang saat pengadilan pertama akan di adakan. Kia hanya bisa terdiam. Ia membatalkan semua rencananya untuk pergi ke rumah mertuanya itu.
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Dan mulai berfikir jernih untuk melepaskan dan mengiklaskan semua apa yang terjadi kepada hidupnya saat ini.
Waktu yang telah di putuskan pengadilan agama sudah di depan mata. Kia memberanikan diri untuk hadir dan menghadapi seorang diri di sidang gugat cerai di pengadilan tersebut. Ia berangkat dari rumah menuju kantor pengadilan agama dengan sedikit air mata yang menetes membasahi pipinya karena ia harus mengalami semua ini saat ia sedang mengandung. Sesampai di sana Kia duduk di kursi pengadilan, terlihat dari ke jauhan Akbar dan Dewi.
Kia sudah tidak lagi merengek rengek untuk meminta Akbar kembali padanya. Karena ia sudah mempunyai tekat bulat dengan keputusan yang ia ambil ini. Ia akan mengiklaskan suaminya pergi meninggalkannya demi kebahagiannya, dan ia akan membesarkan anak yang ia kandung seorang diri tanpa seorang suami.
__ADS_1
Persidangan gugat cerai berlangsung tanpa masalah. Bapak hakim melontarkan pertanyaan - pertanyaan kepada Kia, Kia menjelaskan dan menjawab semua apa yang di alami di rumah tangganya. Ia juga tidak mempersulit proses perceraian yang berlangsung dalam persidangan.
Selesai persidangan Kia keluar dari ruang sidang tersebut. Ia menunggu Akbar di salah satu tempat karena ia ingin memberitahukan kepada akbar bahwa dirinya sedang mengandung anaknya.
"Mas Akbar." Panggil Kia.
Akbar dan Dewi yang sedang berjalan menuju tempat parkir mobil langkahnya pun terhenti karena Kia telah memanggilnya.
"Ada apa lagi sih! Kamu panggil panggil anakku. Semua sudah berjalan dan saat ini sudah berlangsung persidangan pertama. Jadi kamu mau apa lagi Kia." Ucap Dewi sambil berbalik ke arah Kia.
Akbar yang saat itu mendengan perkataan ibunya hanya terdiam dan melihat Kia yang sedang di hujat ibunya.
"Mas Akbar, aku hanya ingin berbicara kepadamu sebentar saja."
"Sudah nak, kita tinggalkan dia saja. Dia itu tidak jelas." Ucap Dewi sambil mengeret bahu tangan anaknya.
"Tapi nak."
"Buk, tolong kali ini saja. Ini terakhir aku bicara dengan kia."
"Ya sudah lah, ibuk akan ke mobil duluan."
Saat Dewi akan pergi ia mendekati Kia dan berbicara kepada Kia.
"Awas ya kamu, kalau kamu menghasut anakku supaya dia kembali lagi di kehidupan kamu. Aku akan berbuat lebih dari ini." Ucapnya dengan suara lirih namun menyakitkan tepat di hadapan Kia.
Saat Dewi berkata seperti itu, Kia hanya menarik nafas dan menelan ludahnya di dalam tenggorokannya tanpa bersuara atau membalas perkataan Dewi.
__ADS_1
"Buk, ibuk pergi dulu saja." Kata Akbar.
"Iya, ibuk akan pergi. Kamu jangan lama lama ngomong sama wanita ini!"
Sesaat Dewi pergi meninggalkan Kia dan juga Akbar.
"Ada apa kamu ingin bicara kepadaku."
"Aku sudah mengiklaskan semuanya, aku juga tidak akan memberatkan proses pengadilan yang sedang berjalan ini. Aku akan merelakan apa yang kiranya membuat kamu bahagia."
"Lalu?"
"Aku hanya memberikan surat hasil lap ini kepadamu. Setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu." Kata Kia sambil memberikan sepotong kertas yang di terimanya saat dirinya di rumah sakit.
"Apa ini? Lihatlah saja dan bacalah. Aku akan menjaga anakmu, aku akan merawat anakmu, dan aku akan membesarkan anakmu seorang diri."
"Apa? Kamu hamil." Sambil membaca kertas yang Kia berikan.
"Aku memang sedang mengandung anakmu. Semua sudah terlanjut mas, Apa yang kamu inginkan akan aku kabulkan. Maaf jika aku telah membuat beban dalam hidupmu selama ini, aku wanita yang tidak berguna untukmu, dan terimakasih karena kamu sudah pernah hadir menempati ruang di hatiku."
"Ki...a..." Kata Akbar sambil memegangi tangan Kia.
Tiba tiba datanglah Dewi saat mereka sedang berbicara.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1