Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Penjemputan Pelangi.


__ADS_3

Nindi terlihat begitu sangat terpukul, hati dan juga pikirannya kacau balau. Setelah mendengarkan kesaksian yang telah Alex ucapkan itu, apa lagi saat mendengarkan hasil keputusan yang telah majelis hakim bacakan tadi, menurutnya keputisan itu tidak adil bagi pihak dirinya. Dan juga melihat kakaknya yang telah di pindahkan ke dalam sel tahanan karena kepalsuan yang telah dia katakan di persidangan.


Dirinya hanya bisa terdiam dan meratapi semua kejadian ini. Kenyataan ini harus dia telan pahit – pahit dan mau tidak mau mereka harus menerimanya. Menanggis, kecewa dan sedih itulah yang mungkin sedang dia rasakan. Dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa lagi saat ini. Di pikirannya saat ini sudah sangat buntu.


“Aku tidak akan lupa dengan semua ini, kamu pergi meninggalkan sakit di hatiku dan janji kamu mas Alex. Tragis karena cerita cintaku berakhir seperti ini, karena kamu telah melukai diriku mas, aku tidak bisa lagi menahan tangisan yang telah kamu buat. Kamu sudah membubarkan semua impian ku, yang akan aku bangun bersamamu. Cinta ku untukmu sudah hancur, hancur berkeping – keping. Sehingga sudah tidak bisa terlihat lagi. Hiks.. hiks.. hiks..” gumamnya dari dalam hati sambil menanggis seorang diri di dalam ruangan sidang itu.


Kemudian setelah surat keputusan dan surat tugas untuk memenjarakan Akbar keluar, Akbar pun di bawa menuju ke arah sel tahanan.


Namun, Akbar memberontak seperti tidak ingin di masukan kedalam sel tahanan. Dirinya juga meronta – ronta meminta kepada petugas untuk di lepaskan dari sel tahanan itu. Petugas itu pun tidak mengubris sama sekali permintaan Akbar. Di dalam sel itu Akbar berteriak "semua ini salah kamu Kia, aku benci kamu, sangat membencimu" dengan berulang - ulang kali.


Tak lama Dewi datang menghampiri Akbar yang telah tinggal di dalam sel itu. Dirinya meminta kepada Akbar supaya menyadari semua kesalahannya dan jera dengan yang telah dia perbuat. Ia juga memberikan semangat untuk Akbar, walaupun didalam hati kecilnya Dewi tidak tega melihat anak kesayangannya harus merasakan gelapnya sel tahanan.


Akan tetapi, Akbar tidak mau melihat Dewi sama sekali, dirinya juga marah kepada Dewi. Sebab Dewi lah yang membuat kekacauan dari rencananya yang telah lama dia atur bersama ke dua pengacara dan adiknya itu.


"Akbar." Panggil Dewi kepada putranya itu.


"Pergilah buk, aku tidak ingin melihat wajah ibuk di sini." cakap Akbar.


"Nak, ibuk di sini ingin..." ucap Dewi.


Di waktu dirinya akan menjawab ucapan Akbar, Akbar pun langsung memutus kata - kata yang akan di keluarkan oleh Dewi.


"Ingin apa buk?! Ibuk sudah puaskan menjebloskan anaknya sendiri di dalam sel yang gelap dan pengap ini! Ibuk puaskan!" kata Akbar dengan nada keras.


"Nak, ibuk tidak ada pikiran semacam itu. Ibuk hanya ingin kamu mengakui kesalahan mu. Ibuk ingin kamu kembali menjadi anak yang baik seperti dahulu. Sudah ibuk bilang berulang kali kepadamu. Kalau semua yang sudah kamu lakukan ini hanyalah sia - sia nak."


"Aaaggghhhttt! Apa maksud ibuk membela mereka! Hem!"


"Akbar, dengarkan ibuk, ibuk melakukan ini karena ibuk ingin kamu sadar, kalau perbuatan kamu ini salah nak."


"Sudahlah, aku tidak mau lagi mendengarkan ocehan ibuk dan melihat ibuk di sini. Pergilah dari sini buk."


"Pergi!" Bentak Akbar sambil menengdang besi tahanan itu.


Lalu Dewi pergi meninggalkan Akbar, kemudian ia datang mendekati Nindi, di sana Nindi masih terlihat menanggis kemudian dia memeluk putrinya itu agar hati Nindi bisa sedikit tenang. 


"Nindi, " ucap Dewi sambil memegang bahu anaknya itu.


"Ibuk, " kata Dewi sambil matanya yang berkaca - kaca dan sembab.


"Kamu harus yang sabar nak, kamu tidak perlu untuk menanggisi laki - laki seperti dia. Kamu harusnya bersyukur karena telah di lihatkan sifat aslinya, walau pun kamu harus menanggung rasa yang sangat sakit. Ibuk tahu bagaimana rasanya."


"Iya buk, Nindi sangat menyesal sudah mencintai dia buk. Dia adalah Laki - laki yang sangat bejat. Laki - laki yang tidak bisa menghargai sama sekali cinta yang Nindi berikan buk. Sakit banget rasanya buk hati Nindi ini. Hisk... Hisk.. hisk.." ujar Nindi yang menanggis sambil memegangi dadanya itu.


"Sudah nak, kamu yang sabar. Masih banyak laki - laki di luar sana yang lebih baik dari dia nak. Ibu yakin itu. Dia bukanlah yang terbaik untuk kamu sayang."


"Iya buk, buk tapi ada satu hal lagi yang membuat Nindi jadi tambah sedih. Bagaimana dengan Kak Akbar buk? Aku tidak tega melihat keadaanya saat ini."


"Aku yakin kalau kakakmu akan baik - baik saja di dalam tahanan sana nak. Kamu jangan khawtirkan dia. Biarkan dia merenungkan nasipnya dan juga kesalahannya. Ibuk percaya kalau kakakmu itu pasti akan menyesali perbuatannya. Kita doakan saja supaya Akbar kembali seperti dulu. Menjadi seseorang yang baik."


"Aku hanya kasihan kepadanya buk. Dia harus kembali berpisah dengan putrinya yang sangat dia sayangi."


"Bukan kehilangan Nin, tetapi berjarak dengan anaknya. Sebab, di dunia ini tidak ada yang namanya mantan anak."


"Hisk.. hisk.. hisk.." Nindi yang hanya bisa menanggis.


"Sebenarnya di dalam hati kecil ibuk juga sama Nin, kakakmu seperti ini juga semua berawal dari ke egoisan ibuk, coba kalau dulu ibuk tidak menyuruh kakakmu berpisah dengan Kia, semuanya pasti akan hidup bahagia. Dan Pelangi saat ini bisa tinggal bersama ayah atau pun ibu kandungnya dengan satu atap." Kata Dewi yang menundukan kepalanya itu dan bernafas berat.


Lalu datanglah salah satu petugas yang bekerja di pengadilan itu. Petugas itu meminta agar Nindi dan Dewi segera meninggalkan atau mengosongkan ruang sidang itu


"Permisi, silahkan kosongkan ruangan sidang ini." Perintah petugas itu.


"Baik pak," jawab Dewi

__ADS_1


Kemudian mereka mengemasi semua barang bawaannya dan mereka kembali pulang untuk segera menemui Pelangi. 


-----


"Akhirnya ya mas, semua sudah berakhir. Aku sangat lega sudah melewati permasalahan ini. Aku juga sudah tidak sabar ingin sekali bertemu dengan Pelangi kecilku."


"Sama aku juga, aku udah sangat merindukan dia dan aku juga ingin sekali bermain bersamanya lagi. Sudah terlalu lama kita tidak bermain bersama." kata Cleo sambil menyetir mobilnya.


"Aku yakin sekali, nanti saat dia melihat kita datang pasti Pelangi sangat senang sekali mas."


"Sudah pasti itu."


"Mas, aku jadi kasihan melihat keluarga bu Dewi sudah hancur. Kasihan juga ya Nindi, sudah di khianati sama pacar dan kakak iparnya sendiri. Enggak bisa bayangin gimana rasanya."


"Biarakan saja. Itu semua adalah bayaran yang harus mereka terima. Kita tidak usah mengurus mereka. Sekarang yang terpenting adalah kita tata masa depan kita."


"Iya mas,"


Sampailah mereka di rumah Dewi. Sesudah mobilnya terhenti di halaman rumah Dewi, Kia keluar dari dalam mobil, dirinya berdiri di depan pintu, lalu memanggil - manggil Pelangi.


"Pelangi, Pelangi sayang."


Keluarlah pembantu yang bekerja di rumah Dewi.


"Iya non."


"Bik, Pelangi mana?"


"Pelangi sedang tidur di kamar non."


"Ibu Dewi sudah sampai rumah belum bik?"


"Nyonya besar belum sampai rumah non, silahkan masuk nona Kia."


"Baik non. Nona Kia dan teman nona mau minum apa? Biar saya buatkan minum."


"Apa saja bik,"


"Kalau begitu saya buatkan minum sebentar ya non."


"Iya bik, terimakasih."


Kemudian pembantu itu pergi membuatkan minum untuk Kia dan juga Cleo. Mereka menunggu Dewi di ruang tamu.


"Ini rumah mantan suami kamu?"


"Iya mas, ini sih masih rumah ibuknya peninggalan dari ayahnya sih yang aku tahu. Mas, kita tunggu Pelangi bangun ya. Aku tidak tega kalau harus membawa dia dengan paksa."


"Iya tenang saja, aku akan selalu mengawal kamu sayang, "


Kia hanya tersenyum memerah dan malu.


Tak lama Dewi dan Nindi sampai di rumah. Mereka melihat Kia dan Cleo sampai di rumahnya.


"Mereka sudah datang buk, aku tidak kuat untuk di tinggalkan oleh Pelangi. Aku tidak bisa jauh dari keponakan ku itu buk. Hisk.. hisk.. hisk.."


"Nindi, bukan hanya kamu saja yang merasakan seperti itu nak, ibuk juga, apa lagi selama Pelangi tinggal di sini ibuk yang selalu mengurus dan menjaganya. Ibuk juga sama, tidak bisa melepas kepergian Pelangi dari rumah ini. Tapi kita juga tidak boleh egois, biarkan Pelangi tumbuh besar bersama ibunya, biarkan dia hidup bahagia bersama orang tuanya nak."


"Tapi buk... Hisk.. hisk.. hisk.."


Dewi pun hanya membalas perkataan Nindi dengan mengelus - elus pundak putrinya itu seakan meminta Nindi untuk melepaskan kepergian keponakannya itu.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Dewi dengan ramah menyapa Kia dan juga Cleo yang masih duduk di ruang tamu miliknya itu. Akan tetapi di saat Kia menyodorkan tangannya ke arah Nindi untuk bersalaman. Nindi sama sekali tidak mau merespon untuk bersalaman. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Kia, Cleo dan juga ibunya itu. Dewi merasa tidak enak hati dengan sikap yang di tunjukan oleh Nindi kepada Kia dan juga Cleo.

__ADS_1


"Emm, maafkan sifat Nindi ya nak, tolong jangan kalian masukan hati. Mungkin dia masih sangat merasakan hatinya yang terluka setelah mendengarkan kesaksian dari pacarnya tadi di persidangan."


"Iya, Kia paham kok buk. Owh, iya kata bibik Pelangi masih tidur di kamarnya."


"Owh, Pelangi tidur? Coba ibuk lihat dulu di kamarnya."


"Iya buk,"


Kemudian Dewi berjalan perlahan - lahan menuju kamar Pelangi. Tanpa dia sadari, matanya kini berkaca - kaca karena akan di tinggalkan oleh cucu kesayangannya. Hatinya terasa sangat berat untuk melepas kepergiancucunya dari rumah itu.


Sesampai di depan pintu kamar Pelangi, ia mulai menumpahkan air matanya. Di bukalah pintu kamar Pelangi.


Cceekkklllleeeekkk...


Ia melihat Nindi yang sudah duduk disamping, diatas tempat tidur Pelangi. Nindi pun juga tak kuasa menahan air matanya yang seakan akan tidak bisa ia hentikan karena Pelangi akan pergi meninggalkan rumah Dewi.


Dewi mulai berjalan mendekati Nindi dan memeluk Nindi. Mereka menanggis bersama di dalam kamar Pelangi. Sambil memandangi wajah Pelangi yang cantik nan jelita itu mereka salaing menguatkan satu sama lain.


"Buk, kenapa waktu berjalan begitu cepat. Aku pasti sangat merindukan anak kecil ini buk. Hisk... Hisk... Hisk.."


"Sudah nak, kita jangan memberatkan mereka untuk menjemput Pelangi. Ibuk yakin kalau Kia pasti akan memperbolehkan kita untuk bertemu dengan Pelangi Nin."


"Tapi buk, bagaimana dengan kak Akbar yang nantinya juga akan merindukan buah hatinya ini buk. Mereka pasti akan melarang kakak untuk menemui Pelangi."


"Sudahlah, kita jangan berpikir negatif dulu Nin. Mudah - mudahan mereka semua mau memaafkan Akbar dan memberikan kesepatan untuk Akbar agar bisa bertemu dengan anaknya."


"Semoga saja buk."


------


"Pelangi sayang, setelah ini kamu sudah tidak akan lagi tinggal di sini. Tante benar - benar menyayangimu Pelangi kecil yang cantik." Ucapnya sambil mengelus elus rambut depan Pelangi.


Tak lama, Pelangi terbangun dari tidurnya. Seketika ia membuka matanya, dirinya melihat tante dan juga neneknya yang sedang duduk di samping dia tidur, kemudian Pelangi beranjak dari posisinya yang sedang berbaring untuk duduk. Ia melihat nenek dan juga tantenya sedang sama - sama menangis.


"Nenek? Tante? Kenapa kalian menanggis melihat Pelangi yang lagi tidur?"


"Enggak kok sayang tante sama nenek tidak sedang menanggis." Ucap Dewi sambil menghapus air matanya yang telah jatuh membanjiri pipinya itu.


"Itu buktinya, tante sama nenek keluar air matanya."


"Enggak sayang, ini tadi mata nenek dan tante seperti kemasukan debu." Cakap Nindi.


"Udah di kasih obat tan?"


"Sudah keponakan tante yang pintar."


"Pelangi, di bawah ada seseorang yang sudah menunggu kamu sayang." Ucap Dewi sambil memegangi dagu Pelangi.


"Siapa nek?" Tanya Pelangi.


"Lihat saja sendiri sayang." Ujar Dewi.


Pelangi pun beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri, kemudian dia berjalan ke ruang tamu dan turun ke bawah.


Dengan suara yang melingking nan pekik setelah melihat wajah Kia dan Cleo, ia pun langsung memanggil sambil berlari kecil untuk menuju ke arah mereka.


"Bunda, ayah." Panggil Pelangi.


"Sayang." Kata Kia sambil memeluk putrinya yang telah berlari menghampiri dirinya itu.


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️

__ADS_1


__ADS_2