Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Calvin mendapatkan no hp


__ADS_3

Selesai membereskan semua itu Pelangi kemudia brjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu melanjutkan untuk membaca Novel yang siang tadi dia beli. Akan tetapi sebelum dirinya membaca novel, ia tiba – tiba memikirkan sesuatu. Di dalam hatinya ia berkata dan bertanya tentang tante Melly yang selalu membeda – bedakan ia dengan adiknya secara terang - terangan.


“Tapi kenapa ya dari aku masih kecil tante Melly masih saja membedakan aku dengan Amel. Begitu sangat jelas perlakuannya kepada kami.  Tante seperti tidak menyukai ku. Padahal aku juga anak ayah dan bunda. Tapi ya sudah lah. Aku tahu kalau tante Melly benar – benar sayang sama aku. Aku enggak boleh ngiri. Aku harus bisa menerima.”Gumam Pelangi dari dalam hati.


Pelangi kemudian ketiduran sambil memeluk novel di atas tempat tidurnya. Kia melihat dari balik pintu kamar Pelangi sebab waktu itu pintu kamarnya sedikit agak terbuka. Kia kemudian masuk ke dalam kamar, ia kemudian mengambil buku yang di peluk Pelangi itu sambil memnyelimuti tubuh Pelangi.


“Selamat malam sayang. Selamat beristirahat. Tidurlah yang nyenyak. Kamu akan terus menjadi putri dalam hidup bunda. Jadilah anak yang baik ya sayang. Bunda mencintaimu.” Kata Kia di dari dalam hati.


Selesai dari kamar Pelangi, Kia kemudian keluar dan pergi ke kamarnya. Kia lalu duduk di dekat suaminya yang saat itu suaminya sedang mengecek semua laporan kantor. Cleo melihat wajah Kia yang sedang murung itu. kemudian ia menanyakan sesuatu kepada istrinya itu.


“Kamu kenapa bun?” tanya Cleo


“Emm,, enggak apa – apa mas.”


“Bicaralah, dan ceritakan kepadaku apa yang membuat wajah kamu murung seperti ini?


Kia hanya terdiam dan melamun.


“Sayang, kok malah melamun sih? Ada apa? Ada masalah apa? Kamu baik – baik saja kan?” tanya Cleo kepada istrinya itu.


“Iya mas Aku baik – baik saja. sebenarnya aku merasa kasihan kepada Pelangi.”


“Kenapa Pelangi? Apa yang terjadi kepada dirinya?”


“Hemm... Sebenarnya aku melihat cara tante Melly yang begitu terlihat jelas membedakan kasih sayangnya kepada Amel dan Pelangi. Sejak Kecil Amel selalu di manja sama tante Melly. Amel selalu di belikan ini lah itu lah dan semua itu sengaja tante Melly pamerkan di hadapan Pelangi. Mungkin apa karena Pelangi bukan anak kandung kamu ya mas?”


“Ah kamu ini ngomong apa?”


“Mungkin itu semua hanya Perasaan kamu saja bun.”


“Tidak mas, aku pernah melihat dengan mata kepala ku sendiri. Saat Pelangi masih kecil.”


“Memang seperti apa yang pernah kamu lihat bun?”


“Ya, aku melihat ketika Amel, dan juga Pelangi di ajak pergi untuk bermain di taman kompek. Dan tante Melly waktu itu hanya membelikan es cream untuk Amel saja, sedangkan Pelangi hanya bisa berdiri dan menatap adiknya yang sedang menikmati es Crem itu mas.”


“Kenapa kamu baru cerita sekarang?


“Ya aku takut saja mau cerita sama kamu. Aku merasa tidak enak kalau menceritakan perlakuan tante Melly yang membedakan atau memberikan kasih sayang yang berbeda kepada kedua putri kita.”


Cleo kemudia melihat ke bawah saat Kia menceritakan tentang Melly. Sebab ia merasa tidak enak kepada Kia mengenai perihal kelakuan tantenya itu.


“Sudah biarkan tante Melly mau bagaimana. Yang penting kita sebagai orang tuanya tidak membedakan kasih sayang untuk ke dua putri kita. Terlebih aku, di mataku Pelangi atau Amel semua sama, aku tidak pernah membeda – bedakan kasih sayang yang aku berikan kepada mereka. Jadi sayang, sebaiknya kita tidak usah menanggapi sikap tante yang seperti itu.  yang terpenting kita ber-4 bisa bahagia. Ya.” Kata Cleo menengkan hati istrinya itu.


“Iya mas. Ya semoga tante bisa beruh sikapnya kepada Pelangi. Aku sangat berharap seperti itu.” ucap Kia.


**


Pagi hari sang mentari muncul menyinari alam semesta ini. Pelangi bangun ke siangan waktu itu. sebab saat itu Pelangi ada jadwal pagi dengan mata kuliah sosiologi. Apa lagi yang membimbing mata kuliah ini dosennya sangat killer. Pelangi tegesa – gesa untuk berangkat Kuliah.


Di meja makan sudah ada Kia, Cleo, Riri dan Amel yang sedang menyantap sarapan pagi bersama. Akan tetapi Pelangi berlari dari dalam kamarnya menuju ruang meja makan untuk berpamitan dengan seisi rumah. Sembari membenarkan sepatu ket yang saat itu iya kenakan, ia mencium pipi Riri, kemudia Kia dan yang terakhir bersalaman dengan Cleo ayahnya.


“Pagi nenenk, eemmuuaacchh...”


“Hallo sayang, kamu enggak sarapan dulu?”


“Enggak nek, Pelangi ke buru – buru soalnya sudah ke siangan nih. Pagi bunda sayang, pagi ayah. Hallo adek ku yang cantik.” Kata Pelangi sambil menciumi kia, cleo dan adiknya


“Sarapan dulu nak,  sedikit saja.”


“Pelangi udah terlambat bun, nanti biar Pelangi sarapan di kantin saja. Da... bunda, nenek, dan ayah.”


Pelangi kemudian bergegas menuju ke garasi mobil dan pergi begitu saja. ia mengemudikan mobilnya dengan kencang. Sebab dia takut kalau akan terlambat mengikuti mata kuliah yang di bimbing oleh dosen yang kiler.


Sesampainya di kampus dia kemudian berlari menuju kelas yang akan di pergunakan. Akan tetapi dosen kiler itu lebih dulu masuk dalam kelas yang akan dia bimbing. Pelangi mengetuk ngetuk pintu, sehingga semua yang ada di kelas itu pandangannya langsung tertuju kepada pelangi yang berdiri di dekat pintu.


Tok.. Tok.. Tok..


“Masuk!” ucap dosen itu dengan mata yang tajam.


“Permisi pak,”


“Kamu baru datang?!” tanya dosen itu sembari berjalan mendekati Pelangi yang berdiri menundukan kepalanya.


“Maaf pak, saya terlambat.” Kata Pelangi yang masih menundukan kepalanya karena takut kalau dosen itu akan marah – marah kepada dirinya.


“Nah, ini. Macam mahasiswa seperti ini yang membuat bangsa kita tidak pernah bisa maju!” ucap dosen itu sambil menuding – nuding Pelangi dengan wajah yang mengarah ke mahasiswa lain yang sedang duduk di hadapannya.


“Ma.. af... pak.”


“Saya Peringat kan untuk kalian semua!  Saya tidak mau melihat ada mahasiswa yang terlambat datang ketika mata pelajaran saya. Saya ingin sebelum saya datang dan masuk ke ruangan kalian sudah ada di dalam. Mengerti kalian semua?!” ucap dosen kiler itu dengan tegas.


Dosen itu kemudian menyuruh Pelangi untuk duduk di bangkunya.


“Kamu. Duduk!”


“I.. ya.. pak.”


Pelangi pun kemudian duduk di dekat Cici. Pelangi dan Cici mereka saling berbisik – bisik.


“gimana sih lo Ngik, tau dosen kiler gitu. Berangkat kok telat sih.”


“Iya. Gue ke siangan bangunnya. Huft.”


“Kok bisa?”


“Alaram gue mati cik, makannya gue bangun ke siangan.”


“Nyokap lo, kagak bangunin?”


“Enggak.”


Ketika Cici dan Pelangi berbisik – bisik dosen pun sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


Ehem.. ehemm...


“Siapa lagi yang ingin berbisik – bisik atau ngerumpu di sini?”


Semua mahasiswa itu pun langsung terdiam, begitu pula dengan Cici dan Pelangi yang menghentikan bicaranya.


“Sudah datang terlambat, sekarang di ruangan malah ngerupi dan ngobrol dengan santainya. Mau ikut mata kuliah saya atau tidak!” ucap dosen kiler itu.


Pelangi pun merasa sindiran itu di berikan kepada dirinya. Lalu dirinya diam dan menundukan kepalanya lagi sambil melirik ke arah Cici sahabat barunya.


“Iya maaf pak.” Ucap Pelangi.


Mata kuliah itu kemudian di mulai, dan berlangsung beberapa menit. Kemudian Dosen meminta kepada mahasiswanya utuk membuat penelitian dengan di bagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok itu di acak menurut absensi dan kebetulan Pelangi mendapatkan pasangan kelompoknya dengan Brayen lagi.


Dosen meminta tugas itu di buat laporan dan harus di kumpulkan minggu depan. Mata kuliah dosen killer itu pun sudah selesai. Pelangi dan Cici kemudian pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman.


“Hadeh... Akhirnya ya mata kuliah dosen itu udah selesai. Jantungan tahu gak setiap ngikutin mata kuliah dia itu.” ucap Cici.


“Iya, gue juga enggak nyangka kalu ternyata itu dosen killer abis. Sialnya lagi gue pake acara terlambat deh. Kan malu di marahin di sepan teman – teman. Huft...”


“Haa.. haa.. ha... kasihan banget sih lo. Tapi enggak apa - apa sih Ngik, lo kan jadi pusat perhatian semua orang tadi di kelas.”


“Gila lo. Masak pusat perhatian di marahin gitu. Gila aja.”


“Ha.. ha.. ha.. tapi tadi muka loh lucu banget.”


Pelangi pun hanya melihat Cici berkata seperti itu, ia tidak membalas perkataan Cici. Sesampai di kantin mereka lalu memesan makanan dan minuman. Kemudian mereka duduk sembari menunggu makanan dan minuman yang sedang ia pesan barusan.


“Kenapa gue enggak satu kelompok aja ya ma lo cik?”


“Iya Ngik. Eh, tapi lo enak juga bisa satu kelompok sama brayen.”


“Enak apanya? Dia aja kayak patung. Cuek banget.”


“Yah, setidaknya lo bisa sedikit cuci mata sambil mandangin Brayen kan Ngik.”

__ADS_1


“Apaan sih. Lo tuh ya udah punya cowok masih aja Brayen, Brayen yang ada di otak lo.”


“He.. he.. he.. habisnya Ngik, dia itu cakep banget.”


“Emang Cowok lo kagak cakep?”


“Cakep sih, tapi diki. Yang banya di Brayen Ngik.” Ucap Cici sambil tersenyum.


Tak lama makanan dan minuman yang mereka pesan pun di antar oleh pamuniaga di kantin itu. di tengah mereka makan dan minum, tiba – tiba Calvin datang menghampiri Pelangi yang sedang duduk bersama Cici menikmati makanan yang ada di hadapannya itu.


“Hay..”


“Hay juga.” Ucap Cici yang kegenitan menjawab sapaan dari Calvin.


Calvin kemudian hanya tersenyum kepada Cici dan pelangi.


“Kak Calvin ya?” kata Kia dengan menunjuk ke arah Calvin.


“Masih inget ya Ngik sama aku.”


Pelangi kembali tersenyum kepada Calvin. Cici hanya kebinggungan dengan mereka yang sudah saling mengenal itu.


“Kalian sudah saling mengenal?”


Pelangi dan Calvin kemudian kembali membalas perkataan Cici dengan senyuman.


“Boleh aku gabung di sini?”


“Boleh, boleh, boleh. Silahkan mas ganteng.”


“Apaan sih kamu Cik.” Kata pelangi.


“Ngik, kalian sudah dari tadi di kantin?”


“Ya lumayan sih kak. Gimana kak?”


“Owh, enggak apa – apa sih. Kalau kalian masih lama berarti aku masih punya waktu lama supaya bisa ngobrol sama kamu Ngik.”


“Ehem.. Ehem.. Ngik, gue ternyata di jemput sama cowok gue, gue pergi dulu ya. Biar lo di temani sama kak siapa tadi, gue lupa.”


“Tapi Ci...”


“Calvin.” Kata Calvin menyebut dirinya sendiri.


“Owh, iya itu maksud gue, kak Calvin. Udah ya Ngik, lo biar di temenin sama kak Calvin.”


“Tapi Ci, Ci, Ci.”


“Bye.. bye.. Ngik..”


“Sialan Cici malah pergi gitu aja ninggalin gue.” Grutu pelangi dari dalam hatinya itu, sebab cici sahabatnya justru pergi ninggalin dia dengan Calvin berdua di kantin


“Eemm, kamu habis kuliah pagi ya Ngik?”


“Iya kak. Kak Calvin juga habis kuliah pagi ya?”


“Iya. Ngik, aku boleh gak minta tukeran no Hp ya.” Pinta Calvin kepada Pelangi.


“Emm, buat apa kak?” tanya Pelangi.


“Ya buat tambah temen sih. Boleh gak? Boleh ya Ngik?” pinta Calvin lagi sembari memasang raut wajah memohon.


“Owh, gitu. Boleh sih kak.”


“Beneran Ngik? Berapa no telpon kamu? kamu sebutun pelan – pelan ya. Biar aku masukin ke kontak telepon.”


“Owh, iya kak. O81 xxx xxx”


“Coba aku hubungin kamu ya.”


Tak lama hp Pelangi berdering karena Calvin mencoba untuk menghubungi no hp Pelangi.


“Nih udah masuk kak.”


“Iya nih mau aku save.”


“Emm, kamu enggak ke ganggu kan aku duduk di sini?"


“enggak kok kak, he.. he.. he..”


“Ngomong – ngomong rumah kamu di mana sih Ngik? Kamu asli sini ya?”


“Iya kak, aku memang asli sini. Rumah aku tuh di perumahan Permai indah kak. Emm.. kak Calvin tahu enggak perumahan itu?


“Iya tahu lah, dudu aku tuh juga orang sini, tapi waktu aku Smp aku, nyokap, bokap semua pindah dari sini. Aku pindah di luar kota. Akhirnya rumah kami yang disini kosong cuman di rawat sama salah satu penduduk yang di suruh sama bokap Ngik.”


“Owh gitu, ngapain pindah dari kota ini kak?”


“Ya waktu itu bokap sedang ngurusin perusahaan yang ada di kota yang aku tempatin sekarang. Tapi kalau boleh tahu kamu blok berapa Ngik di permai Indah sana?”


“Aku di D11 kak. Emang kenapa?”


“Aku tuh punya teman di sana, namanya Lisa. Kamu tahu gak?”


“Lisa? Blok berapa kak?”


“Nah itu yang aku enggak inget, soalnya dia teman aku waktu kecil sih. Ha.. ha.. ha..”


“ha.. ha.. ha.. kak Calvin bisa saja. tapi kalau kakak nyanya aku tentang Lisa, aku bakal jawab enggak tahu juga kak. He.. he.. he..” ucap Pelangi sambil tertawa kecil.


“Yah, sama aja dong. Ha.. ha.. ha.. Eh, ngomong – ngomong kamu lulusan mana sih Ngik?”


“Aku kelulusan Sma 1 Negri xxx kak. Kak Calvin pasti tahu.”


“Iya pasti aku tahu. Itu tuh Sma favorit semua orang Ngik.”


“Masak sih kak?”


“Beneran. Kalau dulu nih ya, SMA itu tuh buat rebutan semua orang.”


“Haa? Kok bisa?”


“Katanya sih, orang yang kelulusan dari Sma sana tuh katanya orang paling pintar sedunia.”


“Ha.. ha.. ha.. ada – ada aja. Kayaknya sih biasa saja kak.”


“Eh beneran Ngik.”


“Apa in sih kak Calvin tuh. Enggak juga, semua itu tergantung sama orang yang memandang kita dari prestasi yang kita dapatkan kayak apa kan kak? Enggak harus di lihat dari sekolahnya juga kali kak. Ha.. ha.. ha..”


“Eh pelangi tahu gak kamu?”


“Tau apa kak? Maksudnya kak Calvin?” tanya Pelangi.


“Ternyata kamu tuh ya kalau di tersenyun tambah cantik banget. Serius.”


“Kak Calvin plis deh kak. Udah ya yang muji – muji aku kayak gini. Malu tahu.”


“Eh beneran aku enggak bohong Ngik.”


“Udah deh kak. Habisin tuh makanannya. Apaan sih bikin aku jadi malu deh.” Kata Pelangi sambil meminum jus buah yang dia pesan tadi dan dengan pipinya yang terlihat memerah muda.


“Tuh lihat pipi kamu jadi memerah. Kamu beneran malu ya. Ha.. ha.. ha..”


Selesai Calvin menghabiskan makannan nya Pelangi kemudian pamit kepada Calvin kalau dirinya mau pergi ke perpustakaan. Calvin merasa cocok saat ngobrol dengan Pelangi. Mereka pun saling bercerita satu sama lain sehingga membuat pertemuan ke dua kali ini terasa cocok dan nyambung.


“Emm, kak calvin. Aku mau ke perpustakaan nih. Kakak masih mau di sini apa kakak juga mu ikut aku di perpustakaan?


“Ya boleh aku ikut kamu saja ke perpustakaan.”

__ADS_1


“ya udah sekarang kita ke sana yuk kak.”


“Emm,, sebentar – sebentar aku mau bayar makanan sama minuman yang aku minum ini ya. Kamu sudah membayar belum? Kalau belum biar aku bayar sekalian?”


“udah kok kak, tadi waktu pesan sekalian aku bayar.


“kalau gitu Kamu tunggu sebentar aku mau bayar dulu.”


“Iya kak, aku tunggu di sini saja.”


“Oke. Sebentar ya.”


“Iya.” Jawab Pelangi sambil tersenyum.


Calvin pun segera pergi ke penjual yang ada di kantin itu untuk membayar makanan dan minuman yang baru saja dia pesan dan dia nikmati di meja berdua bersama Pelangi. Selesai membayar makanan itu Calvin langsung mengajak Pelangi ke perpustakaan.


“Udah Ngik, yuk sekarang kita ke sana.”


“owh, iya kak.”


Calvin dan Pelangi berjalan berdua menuju ruang perpustakaan.


“Kamu hobi membaca ya Ngik?”


“Iya kak,”


“Berarti kamu anak yang pintar dong?”


“Ah, enggak biasa aja tuh kak.”


“Tapi beneran loh Ngik. Kebanyakan nih orang yang suka membaca buku tuh tergolong orang yang pinter, ya bisa di bilang orang itu jenius.”


Pelangi hanya tersenyum mendengarkan Calvin berbicara.


“Kamu pernah gak denger kata – kata , kalau buku itu adalah jendela Dunia.”


“Iya pernah sih kak.”


“Nah maka dari itu kamu tahu segalanya tentang dunia karena kamu mempunyai hobi membaca. Ya dalam kata lain kamu itu termaksud orang jenius.”


“kak Calvin bisa aja.”


“Ha.. ha.. ha..


Sesampai di perpustakaan Pelangi meletakan tas dan juga buku – buku yang sedang dia bawa atau dia cangking di atas meja, lalu dia letakkan di atas meja yang di siapkan untuk para pembaca buku di perpustakaan tersebut. Pelangi dan Calvin berpisah, mereka mencari buku yang akan mereka baca di sana.


Pelangi mulai mencari secara perlahan - lahan, hingga akhirnya dia menemukan salah satu buku yang akan dia baca. Di saat tangganya akan mengampai buku yang telah di pilihnya itu, tiba – tiba ada tangan laki – laki yang juga akan mengapai buku itu. sehingga tanpa tidak sengaja tangan mereka saling bersentuhan. Pelangi kemudia melihat orang yang mempunyai tangan itu. ternyata dia adalah Brayen. Saat itu brayen juga berada di perpustakaan.


“Brayen.” Kata Pelangi menyebut namanya.


“Pelangi.”


“Em, ambil lah saja bukunya. Aku akan mencari buku lain saja.” kata Pelangi sambil memberikan senyuman kepada Brayen. Akan tetapi brayen sama sekali tidak membalas senyuman yang di berikan oleh Pelangi kala itu.


Brayen hanya terdiam, dan kemudian ia mengambil buku yang sama – sama menjadi pilihan mereka. Ia kemudian mengambil tangan Pelangi dan memberikan buku itu kepada Pelangi. Pelangi terpelonggo melihat sifat brayen yang mendadak memberikan buku itu kepada dirinya.


“Nih, kamu duluan saja yang baca. Aku akan mencari buku lain.” Kata Brayen sembari menyodorkan buku itu dan meletakkannnya di tanggan pelangi.


“Tapi kamu...”


Tetapi sebelum Pelangi selesai berbicara Brayen pergi begitu saja dan berjalan kearah belakang tubuh Pelangi. Pelangi kemudian membalikan tubuhnya untuk melihat brayen yang sedang berjalan di belakangnya itu. ia juga memanggil brayen untuk mengucapkan kata terimakasih.


“Brayen, tunggu.” Panggil Pelangi sembari berlari mendekati brayen yang tidak jauh dari dirinya berdiri sebelumnya.


Langkah kaki brayen kemudian terhenti seketika karena mendengar Pelangi memanggil – manggil dirinya.


“Emm, terimakasih ya atas bukunya.”


Brayen tidak menjawab apapun ketika Pelangi mengucapkan terimakasih. Brayen kemudian melanjutkan langkah kakinya dan berjalan pergi meninggalkan Pelangi.


“Dia itu bisu apa ya? Ada orang ngomong terimakasih, malah dia cuekin begitu saja. dasar, tahu gitu gue ogah ngucapin makasih sama dia. ****, **** banget sih gue. Huft.” Grutu Pelangi yang sedang berdiri sambil memegang buku yang dia pilih tadi.


Tak lama Calvin datang menemui Pelangi yang sedang berdiri itu.


“Ini dia ternyata kamu di sini. Aku mencari kamu ke mana – mana Ngik.”


“Iya ada apa kak?” tanya Pelangi.


“Ngik, udah dapet buku yang mau kamu baca?”


“Owh, udah kok kak, yuk kita duduk kak.”


“Ayuk.”


Pelangi dan Calvin kemudian berjalan lalu duduk di kursi yang di mana telah di letakkan tas dan buku – bukunya. Mereka kemudian mulai membaca buku yang telah mereka pilih. Di tengah – tengah membaca buku tiba – tiba Brayen duduk di depan Pelangi yang bersisihan dengan sebuah meja. Brayen duduk dan meletakkan tasnya di kursi. Ia kemudian membuka buku itu dan membacanya.


Pelangi yang melihat brayen duduk di depannya. Ia langsung melirik ke arah Brayen seperti orang yang sedang curi – curi pandang.


“Iya bener sih apa kata Cici. Aku akui dia memang ganteng, tapi sayang sifatnya dingin dan cuek. Tadi saja ketika kita bertemu, dia sanggat cuek sekali dengan ku, sama tidak membalas kata terimakasih ku untuk dia. Sebel banget aku tuh. Kayak orang bodoh yang bicara sendiri. Gimana besok saat aku mengerjalan laporan dan tugas – tugas dari dosen besok ya? Agh, terserah lah aku pasrah saja. kalau dia mau bicara ya aku ajak bicara tapi kalau dia enggak mau bicara aku akan diam saja. dari pada seperti orang bodoh yang berbicara sendiri seperti berbicara dengan patung atau batu. Huft, kenapa aku bisa satu kelompok sama dia sih.” Grutu Pelangi lagi dari dalam hatinya.


Karena dia serius melamun, sampai - sampai dia tidak sadar kalau hpnya bergetar karena ada panggilan masuk.


“Ngi, Pelangi.” Panggil Calvin kepada Pelangi ketika Pelangi masih melihat Brayen tanpa berkedip.


“Eh, kenapa kak?”


“Tuh ada panggilan masuk. Kamu ngalamunin apa sih? Hp yang bergetar di sebelahmu saja, kamu sama sekali tidak terasa.


“owh, iya kak. Aku enggak melamun sih kak. He.. he.. he.. Aku angkat dulu ya.” Ucap Pelangi yang kemudian keluar dari ruang perpustakaan itu dan mengangkat telepon itu.


Calvin hanya mengangguk anggukkan kepalanya. Dan tak lama setelah menerima panggilan itu Pelangi masuk kemudian duduk kembali di dekat calvin. Ia pamit kepada Calvin karena sudah di tunggu Kia di rumah. Sebab waktu itu Kia meminta tolong kepada Pelangi untuk mengantarkan dia ke tempat Nisa.


“Kak, ternyata bunda yang telepon. Kak Calvin masih mau di sini apa mau pulang?”


“Kamu mau pulang?” tanya Calvin.


“Iya kak, soalnya bunda sudah menunggu aku. Bunda minta tolong sama aku untuk mengantarkan ke tempat nenek.”


“Owh, ya udah, kalau kamu pulang aku juga ikut pulang.”


“Kakak enggak lanjutin membaca?”


“nanti biar aku lanjutin dirumah saja. ya sudah kalau gitu kita keluar dari sini yuk.”


“owh, ya udah kalau gitu kak. Yuk kita pulang.”


Brayen yang saat itu mengetahui kalau pelangi akan pergi dari kursinya, ia kemudia mencuri – curi pandang dan melihat Pelangi yang keluar dari ruang perpustakaan itu.


“mau kemana mereka? Dan siapa laki – laki itu? Apa mungkin dia pacarnya?” gumam Brayen yang melihat pelangi berjalan keluar ruangan itu kemudian ia melanjutkan lagi membaca buku.


Sedangkan Pelangi dan juga Calvin sama – sama berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Sesampai di tempat parkir mobil itu, pelangi masuk ke dalam mobilnya dengan di antar oleh Calvin.


“Hati – hati ya cantik. Em... kapan – kapan bolehkan aku main ke rumah kamu Ngik?”


“Emm, boleh boleh saja kak. Silahkan saja kalau mau main ke rumah ku kak.”


“Beneran?”


Pelangi hanya mengangguk anggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Calvin.


“makasih ya kamu sudah mau berteman dengan aku.”


“Sama – sama kak calvin. Aku pergi dulu ya kak. Bye.. bye..”


Pelangi pun menghidupkan mesin mobilnya lalu ia mengemudikan mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan calvin yang berdiri sambil mengkelakson pelan. Setelah Pelangi pergi, hati Calvin begitu merasa girang, sebab dia hari ini bisa dekat dengan Pelangi, apa lagi bisa mendapatkan no telpon pelangi.


“Akhirnya, gue dapet no telponnya. Gue enggak nyangka bisa dapetin no HP nya. Hari ini gue bisa deket sama dia.  Seneng banget gue, nanti malam aku bakal telpon dia.” Kata Calvin sendiri sambil melihat mobil Pelangi keluar dari pintu gerbang kampus.


 

__ADS_1


BERSAMBUNG....


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2