
“aku enggak percaya sama semua ini, bagaimana bisa orang yang selama ini aku suka, ternyata dia adalah adik tiri aku. enggak, aku enggak bisa percaya. Kenapa sih harus seperti ini. Sumpah, hancur banget hatiku. Bunda, kenapa bunda tega sama aku. hisk.. hisk.. hisk..” gumam pelangi dari dalam hatinya.
Apa yang sudah ia dengar penjelasan tadi itu membuat dirinya tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dengar. Hati nya di buat hancur gara – gara bundanya. Akan tetapi tidak hanya pelangi saja yang merasakan kekecewaan yang saat ini ia rasakan.
Amel juga merasakan hal yang sama. Amel juga kecewa dengan Kia. karena ia masih belum mempercayai semua ini. Hatinya pun juga terluka karena kia yang selalu menyembunyikan kebenaran dari anak – anaknya.
“Hisk.. hisk.. hisk.. bunda jahat, bunda jahat. Kenapa bunda tega membuat hati anak – anaknya hancur seperti ini. Aku masih belum percaya dengan semua ini. Sulit sekali bagiku untuk menerima kenyataan ini. Aku benci bunda. Benci sekali.” Ucap amel dari dalam hatinya sambil menanggi di kamarnya.
**
Pagi harinya, suasana makan pagi di meja makan terlihat begitu sunyi. Pelangi dan amel sengaja tidak mau sarapan bersama ayah dan bundanya. Mereka sengaja, karena mereka masih belum menerima dengan hal yang telah ayahnya ucapkan.
“Pelangi, em,, bunda sudah siapkan makanan ke sukaan mu. Kita sarapan bersama yuk.”
“Maaf bun, pelangi enggak selera makan di rumah. Pelangi akan sarapan di kantin saja nanti.”
“tapi bunda sudah menyiapkan dari tadi nak.”
“biar ayah saja yang sarapan di rumah. Pelangi ke buru – buru mau berangkat ke kampus.” Ucap pelangi sambil berjalan keluar meninggalkan Kia.
Kia pun merasa sedih karena Pelangi masih marah kepada dirinya. Setelah ia mendatangi kamar pelangi. kia pun kemudian pergi berjalan menuju ke kamar amel. ia juga mengajak amel untuk sarapan pagi bersama – sama. Namun amel pun sama saja seperti pelangi.
“Amel sayang, bundsa sudah siapkan dan masakan makanan ke sukaan kamu nak. Kita sarapan bersama – sama yuk.” Ajak Kia kepada putrinya itu.
Akan tetapi amel sama sekali tidak menjawab apa pun kepada kia. ia hanya melirik ke arah Kia dengan sangat sinis atau sadis. Ia sengaja tidak mau makan bersama karena ia masih marah ke pada Kia. kia pun kemudian menarik tangan amel yang juga akan pergi begitu saja meninggalkan Kia.
“Amel. amel maafin bunda sayang.”
Amel lalu menghentikan langkah kakinya. Ia lalu membalikan badannya dan mengatakan kalau dirinya masih kecewa dengan sikap kia.
“Apa lagi bun? Bun, bunda tahu kan gimana perasaan aku dan kak amel. bunda pasti juga tahu gimana hancur hati kak pelangi yang ternyata kak pelangi mencintai adik tirinya sendiri.”
“Amel, bunda minta maaf sama kamu nak. Awalnya bunda enggak tahu kalau ternyata brayen dan dion itu sepupu.”
“Alah, sudah lah bun, enggak usah bohong. Pantas saja dari awal aku berteman dengan dion bunda selalu melarang – larang aku. ternyata dion itu sepupunya kak Pelangi.”
“Amel, bunda mohon maafkan bunda. Bunda baru tahu kalau dion itu ternyata tantenya kakak pelangi sejak kita berdua datang ke rumah dion waktu lalu nak. Kamu percaya ya sama bunda.”
“Enggak, aku masih belum bisa langsung begitu saja percaya sama bunda. Sudahlah bun, amel mau pergi berangkat sekolah.” Kata amel yang mencoba memaksa melepaskan genggaman dari tangan Kia. setelah ia berhasil melepaskan genggaman dari tangan Kia, amel lalu berjalan begitu saja. akan tetapi kia memanggil amel karena Kia ingin memeluk putrinya itu.
“Amel.” panggil Kia.
Setelah amel berhenti, kia pun langsung memeluk amel begitu saja. ia menanggis sambil memeluk dan mengatakan maaf kepada amel. akan tetapi amel langsung melepas begitu saja pelukan dari kia.
“Bunn.. udah ya, amel mau berangkat dulu. Ini sudah siang amel takut terlambat. Lagi pula pak tono ( supir pribadi keluarga Cleo ) sudah menunggu amel dari tadi.”
“Bunda saja ya yang mengantarkan kamu sekolah nak.”
“Enggak bun, biar pak tono saja yang mengantarkan amel ke sekolah.” Kata amel
“Kamu hati – hati ya nak.” Ucap kia yang berdiri melihat anaknya pergi meninggalkan dirinya itu.
Kia kemudian berjalan menuju meja makan, sedangkan di meja makan sudah ada riri dan suaminya yang akan makan pagi. Kia pun langsung duduk begitu saja dengan wajah yang sedikit melamun karena memikirkan sikap dari ke dua anak – anak kesayangannya itu.
__ADS_1
“Loh, amel sama pelangi mana? Bukannya tadi kamu bilang mau ajak mereka makan bersama di sini?”
“Mereka sudah pada pergi bun.”
“Jadi mereka tidak sarapan dulu?”
“Katanya mereka mau makan di kantin sekolah. Entah bun, mungkin mereka masih marah sama aku bun. Hisk.. hisk.. hisk..”
Cleo yang sedang menyantap makannaya pun terhenti. Ia langsung menoleh ke arah istrinya yang sedang menanggis. Cleo kemudian mencoba menengkan hati istrinya lagi.
“Sayang, berikan waktu untuk anak – anak. Biarkan mereka meredamkan amarahnya. Kamu harus yang sabar ya. Karena anak – anak sekarang bukan lagi anak kecil. Mereka sudah abg dan dewasa.”
“iya mas.”
“Sekarang, lebih baik kita sarapan ya. Biar nanti malam aku akan mencoba bicara pelan – pelan sama anak – anak bun. Jadi bunda jangan bersedih lagi ya.”
Kia kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
“Sekarang bunda temani ayah sama bunda riri sarapan yuk.”
“Iya mas.”
“Yuk, yuk, kamu mau makan pakai apa nak kia? biar bunda ambilkan?”
“Sudah bun, biar Kia ambil sendiri.”
**
“aku enggak sanggup kalau harus bertemu atau berhadpan langsung dengan brayen. Aku belum siap. Masak iya aku mencintai adik aku sendiri. Hisk.. hisk.. hisk.. Agh!” kata pelangi sendirian dari dlam hatinya sembari ia duduk di dalam mobil.
Tak lama terdengar seperti sedang ada yang mengetuk – ngetuk kaca jendela mobil milik Pelangi. di bukalah pintu jendela mobil itu oleh Pelangi.
“Elu cik.”
“Lo ngapain sih di dalam mobil lama – lama.”
Pelangi kemudian membuka pintu mobilnya dan turun. Setelah itu ia turun dan langsung memeluk sahabatnya itu lalu menanggis karena tak kuasa menahan hatinya yang sedang berantakan.
“Hisk.. hisk.. hisk..”
“Heh, lo kenapa? Ada masalah lagi sama orang tua lo?”
“Cici, hisk.. hisk.. hisk.. aku... enggak sanggup.. aku.. emmm... cicik” ucap Pelangi yang masih memeluk sahabatnya itu dengan menangis.
“Sini sekarang lo duduk dan ceritakan, ada apa dan kenapa lo nangis kayak gini?”
“hisk.. hisk.. hisk.. ada sesuatu hal yang enggak bisa gue ceritakan. Sesuatu itu yang membuat hati gue berantakan dan hancur seperti ini ci.”
“Ya udah sekarang lo tenang dulu. Bentar lagi kan mau masuk nih. Apa iya lo masuk ke kelas dengan mata lo yang terlihat sembab seperti ini. Sekarang lebih baik lo hapus air mata lo, terus lo cuci muka. Biar mata lo enggak sembab kayak gini.”
“Iya, lo jagain mobil gue ya. Gue mau ke toilet dulu.”
“He. Em.. aku jagain nih si white biar enggak ilang di gondol kucing garong.”
__ADS_1
Pelangi kemudian ke toilet untuk mencuci wajahnya dan kemudian ia kembali ke mobilnya lalu masuk ke dalam kelas. Di saat mata kuliah sedang berlangsung, pelangi selalu melamun dan melamun sambil sedikit – demi sedikit dirinya melihat atau melirik ke arah brayen.
“Apa iya dia adalah adik tiri aku? mana mungkin aku bisa mencintai adik tiri aku. aku yakin jika Brayen tahu yang sebenarnya ia juga pasti merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Sebab aku dan brayen sama – sama saling suka. Dia juga belum lama menyatakan cintanya kepada ku. Agh! Ini semua gara – gara bunda. Aku benci. Aku benci seperti ini.” Ucap Pelangi dari dalam hatinya.
Setelah beberapa jam mata kuliah selesai, brayen kemudian mendekati pelangi. akan tetapi, waktu itu pelangi sama sekali tidak ingin melihat brayen sedikit pun.
“Pelangi. tunggu.” Ucap Brayen yang memanggil manggil nama pelangi.
Pelangi pun tetap meneruskan langkah kakinya tanpa mengubris atau memeperdulikan panggilan dari brayen. Cici yang ada di samping pelangi memberitahukan dan terheran dengan kelakuan pelangi kala itu.
“Heh, lo di panggil noh ama brayen orang tercakep di dunia.”
“Biarin aja. Aku lagi enggak mau lihat wajahnya. Sekarang lebih baik kita cepetan menghindar dari dia.”
“What? Lo kenapa sih?” ucap cici sambil menghentikan langkah kaki Pelangi.
“Ci, lo mau ikut gue, apa lo mau gue tinggal di sini!” ucap pelangi dengan wajah yang kesal.
“Enggak, sekarang le ceritain ama gue ada apa sebenarnya.”
“Udah nanti gue ceritain.”
Namun saat pelangi akan menghindar dari brayen, langkah kaki brayen justru semakin mendekati Pelangi dan cici yang sedang berdiri tak jauh dari hadpannya.
“Pelangi tunggu.”
“Brayen.”
“kamu baik – baik saja kan?” tanya brayen dengan wajah binggung.
“Iya, aku sedikit tidak enak badan. Jadi aku pergi dulu ya.”
“Enggak aku enggak percaya dengan alasanmu. Kenapa kamu menghindar dari aku? apa aku punya salah sama kamu?” tanya brayen.
“Enggak kok, em..”
“terus apa?”
“Enggak ada apa – apa kok bray, aku hanya ingin pergi saja.”
“Bohong. Jelaskan kepada ku ada apa sebenarnya pelangi? kamu sedang banyak masalah ya.”
“emm, brayen. Bukannya aku mau ikut campur ya, tapi aku minta tolong, biarin pelangi sendiri dulu ya. Mungkin pelangi memang sedang tidak enak badan." ucap Cici yang mencoba menjelaskan kepada brayen.
Bersambung...
⭐⭐⭐⭐⭐
^^^ ^^^
__ADS_1