
“Nin, kamu mau ke mana? Pagi pagi gini sudah mau pergi saja? tumben nak?” tanya Dewi saat melihat Nindi yang rapih.
“Nindi, mau pergi buk, ada acara sebentar sama temen – temen.”
“Acara apa?” tanya Dewi.
“Ya ada lah buk. Sudah ya buk, Nindi pergi dulu. Daa.. ibuk.” Kata Nindi sambil berjalan menuju Dewi, karena ia akan bersalaman untuk berpamitan kepada ibunya itu.
“Ya hati – hati ya nak, tumben sekali dia pergi biasanya juga di rumah. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja, yang penting dia seneng. Sebab selama di putus dengan Alex, dia sudah tidak pernah lagi tersenyum. yang ada sekarang judes amat."
Akan tetapi, ternyata Nindi pergi ke rumah sakit untuk menemui Kayla. Nindi mengetahui Kayla sudah sadar dari komanya karena Dewi yang menceritakan kalau Kayla sudah sadarkan diri. Nindi sengaja datang lebih pagi dari kakaknya, sebab ia tidak mau kalau Akbar mengetahui dia pergi ke rumah sakit hanya untuk menemui Kayla.
Dirinya mengemudikan mobil dengan sangat cepat. Ia ingin segera bertemu dengan Kayla hanya untuk memaki – maki kakak Iparnya itu.
“Aku sudah tidak sabr ingin bertemu sama dia (Kayla), pengen banget aku caci maki dia! Sebel banget aku tuh. Kenapa sih dia enggak langsung mati saja! terus Alex juga, ngapain masih saja ngejar - ngejar wanita itu. Hih!!” ucap Nindi dari dalam hatinya yang sedasng menyetir mobilnya sendiri.
Tak lama Nindi sampai di rumah sakit. Ia berjalan dengan cepat menuju ruang bangsal dan kamar yang sedang di tempati oleh Kayla itu. dirinya mencari satu persatu nama yang tertempel pada semua kamar yang ada di bangsal itu. Beberapa menit kemudian ia menemui kamar Kayla. ia lalu masuk begitu saja tanpa mengetok pintu kamar itu, sedangan saat itu Kayla masih terbaring di hospital bed dan wajahnya masih terlihat sangat pucat sekali dengan alat bantu pernapasan yang masih menempel di hidungnya. Kayla terbangun karena Nindi mengoyang goyangkan bahunya dengan sangat kasar.
“Heh wanita murahan! Bangun! Bangun kamu!” kata Nindi sembari mengoyang goyangkan bahu Kayla dengan kasar.
Kayla langsung terbangun. Awalnya Kayla pikir, ia sangat senang karena Nindi mau datang ke rumah sakit untuk meneggok ke adaan kakak iparnya itu. akan tetapi kehadiran Nindi di sana hanya ingin mendamprat Kayla, karena ia kesal Alex masih saja berusaha menemui dirinya Kayla itu.
“Nindi.” Ucap Kayla dengan wajah yang senang.
“Syukur aku seneng banget kamu datang ke sini untuk menenggokku.” Kata Kayla lagi.
“Menenggok! Hah! Jangan ngimpi kamu! Kamu itu kalau mau mati ya mati saja sana!”
“Maksud kamu Nin?” tanya Kayla dengan suara yang lirih dan binggung.
“Iya. Aku tuh pengen dengerin kabar dari kamu kalau kamu sudah mati!”
“Nin, kenapa sih kamu tega sekali berkata seperti ini kepada kakak iparmu sendiri?” tanya Kayla sambil mengerutkan ke dua alisnya.
“Apa kamu bilang? Kakak ipar?! Cuh...! jijik aku harus menganggap kamu sebagai kakak iparku! Owh, aku baru sadar, kamu belum tahu ya kalau kak Akbar itu sebenarnya sudah memproses kamu dalam pengadilan agama untuk gugat cerai kamu tahu gak?! Dasar wanita murahan!
“Apa? Kenapa mereka tidak ada yang memberitahu kepadaku soal gugatan cerai dari mas Akbar. Hisk .. hisk.. hisk..” kata Kayla sambil menanggis.
Mereka memang sengaja tidak akan memberi tahu kepadamu soal gugatan cerai kamu di pengadilan Agama?! Ya, mungkin memang mereka tidak mau memberi tahu kamu, karena apa?! Karena kamu itu mau mati!” kata Nindi dengan kasar.
“Kenapa kamu tega sekali berkata seperti ini kepadaku sih Nin?”
__ADS_1
“Apa?! Kamu bilang aku tega?! Heh! Lebih tega siapa, aku atau kamu dasar Pela**r!”
“Hisk... hisk... hisk... Aku minta maaf Nin sama kamu, karena aku sudah menghancurkan hati kamu Nin. Aku sadar dengan kesalahanku ini. Aku sadar Nindi. Hisk.. hisk.. hisk..” ucap Kayla yang menanggis dengan terisak – isak.
“Enak ya cuman hanya bilang maaf! Memang kamu pikir maaf itu bisa mengobati hati aku yang sudah tergores sangat sakit seperti ini?! Hem!”
“Lalu aku harus bagaimana Nin? Aku sungguh - sungguh minta maaf sama kamu Nin.”
“Aku ingin kamu itu segera mati saja! lihat wajah kamu ini! Wajah kamu sudah tidak lagi cantik seperti dulu. Wajah kamu ini sudah peyot menjijikan! Apa lagi lihat tubuhmu ini. Tubuhmu ini sudah seperti mayat yang hidup! Tahu kamu! Kamu tidak malu dengan wajah dan tubuh kamu seperti ini?! Owh, iya aku lupa, aku baru sadar, kalau kamu kan memang orang yang tidak tahu malu. Wanita murahan semurah murahnya!”
“Sudah cukup Nin, cukup. ( sambil menutup ke dua telingganya mengunakan ke dua telapak tangan Kayla) Hisk... Hisk.. Hisk...” Kayla hanya bisa menanggis di saat dirinya menerima semua hujatan dari Nindi. Ia tidak bisa menahan semua hatinya dengan apa yang telah di katakan oleh Nindi. Air matanya pun mengalir membanjiri semua pipi dan wajahnya.
“Ngapain kamu nanggis? Hem! Mau kamu nanggis membanjiri bumi ini pun aku tidak akan peduli! Aku.. aku benar – benar sudah sangat membencimu tahu! Lihat keadaamu sekarang! Sudah jelek, menjijikan, tapi masih saja Alex ke sini utuk menemui mu! Apa sih bagusnya kamu ini! Melihat wajahmu saja aku udah mual! Asal kamu tahu ya, kak Akbar ke sini itu hanya terpaksa karena dia di suruh oleh ibumu, dan bukan dari keinginannya sendiri! Karena Kak akbar sudah tidak lagi mencintaimu.” ucap Nindi.
“Nindi, aku mohon, hentikan. Sudah cukup kamu menghinaku. Hisk.. hisk.. hisk..” kata Kayla sambil menanggis dan memegangi dadanya itu.
Saat itu Kayla hanya bisa menanggis dan menanggis mendengarkan semua hinaan yang Nindi katakan. Beberapa menit kemudian Akbar datang ke kamar Kayla, ia melihat Nindi sedang berada di dalam kamar Kayla dengan melabrak Kayla saat itu.
Ketika itu Akbar datang ke rumah sakit, seperti biasa, dia menemani Kayla di saat – saat terakhirnya karena dia telah berjanji kepada Ida untuk menemani Kayla dikehidupan terakhirnya.
“Nin. Kamu di sini juga?” ucap Akbar.
“Iya, aku sengaja ke sini karena aku ingin marah sama dia kak ( sambil menunjuk wajah Kayla).”
“Ngapain aku kasihan sama pela**r seperti dia kak! Dia itu tidak pantas untuk di kasihani! Dia itu lebih panatas untuk di injak – injak. Karena apa, karena dia itu hanya sampah!”
“Nindi, cukup. Sekarang lebih pergi!”
“Aku juga mau pergi dari sini kak!”
Kemudian Nindi berjalan menuju ke arah pintu untuk meninggalkan kamar Kayla itu. kayla hanya bisa menanggis dan menanggis. Lalu Akbar mencoba untuk menenangkan hati Kayla yang telah menerima caci makian dari Nindi.
“Maafkan adik aku ya Kay, kamu enggak apa – apa kan Kay?” tanya Akbar sambil melihat ke wajah Kayla yang sedang menundukan kepalanya di atas hospital bed.
“Iya, aku bisa menerima kemarahan Nindi kepadaku.” Ucap Kayla sambil menghapis air matanya yang sudah terjatuh di pipinya itu.
“Dia memang belum bisa menerima setelah putus dari Alex. Owh, iya Kamu sudah makan belum?” tanya Akbar.
“(Kayla hanya membalas perkataan Akbar dengan senyuman yang berat atau lesuh) Sudah.” Jawab Kayla yang berbohong kepada Akbar.
Sedangkan saat itu Kayla sama sekali belum sarapan pagi. Makan pagi yang baru saja di antarkan oleh petugas Gizi yang di letakan di atas meja itu terlihat masih sangat utuh dan sama sekali belum di pegang oleh Kayla.
__ADS_1
Kayla kemudian membaringkan lagi tubuhnya di atas hsopital bednya itu. dirinya memiringkan badannya membelakangi Akbar, ia menanggis karena mengingat – ingat perkataan Nindi tadi, sedangkan Akbar duduk di sofa sambil bermaian handponenya dan menghadap tv.
“Memang seharusnya dan lebih baik aku cepat mati, hidupku ini sudah tidak berguna lagi untuk siapa pun. Semua yang di katakan oleh Nindi benar. Aku hanyalah seorang sampah. Aku hanya wanita pelat**r yang tidak tahu malu. Aku tidak pantas hidup. Aku juga wanita yang menjijikan. Aku... aku... hisk.. hisk.. hisk...” gumam Kayla dari dalam hatinya itu. ia benar – benar tak kuasa menahan tangisnya yang selalu membasahi pipinya itu.
Kayla kemudian membalikan tubuhnya, selanjutnya ia mengganti posisinya yang awalnya berbaring lalu duduk dengan di bantu Oleh Akbar.
“Mas.” Panggil Kayla.
“Iya, kenapa?”
“Apakah benar, kamu sudah menggugat cerai aku di pengadilan agama mas?”
“Hem, belum. Nindi ngomong apa saja sama kamu?”
“Nindi tadi ngomong apa aja ya sama Kayla? hadeh... Nindi... Nindi...” ucap Akbar dari dalam hati dan terlihat sedikit gugup mendengar Kayla bertanya seperti itu.
“Katakanlah dengan jujur mas. Aku tidak apa – apa. Karena tadi Nindi, berkata kepadaku kalau kamu sebenarnya sudah mengajukan gugatan cerai kita di pengadilan agama?”
“Emm, sudahlah tidak perlu memikirkan hal itu Kay, yang penting sekarang kamu segera pulih dari penyakitmu ini. Kamu tidak usah memikirkan apa – apa lagi Kay.” Ucap Akbar.
“Mas, apakah kamu sebenarnya jijik melihat aku sekarang?”
“Kamu ini ngomong apa sih Kay.sudahlah tidak usah memikirkan yang enggak - enggak”
“Mas, kanker serviks ini tidak mudah untuk di sembuhkan, apa lagi aku sudah stadium lanjut, entah sampai kapan aku bisa bertahan untuk membuka mata ini mas. Mas, aku bukanlah wanita yang sempurna, aku hanya wanita kotor yang sudah terlanjur mencintai laki – laki yang pernah menjadi suamiku yaitu kamu.
Akan tetapi tiba – tiba Kayla mengucapkan kata – kata yang membuat Akbar seperti bingung dengan apa yang di mau olehnya.
“Kay, sudah ya aku mohon kamu jangan bicara yang membuat kamu menjadi sakit lagi. Lebih baik kita bicarakan yang indah – indah saja ya.”
Kayla pun hanya mengeluarkan senyuman beratnya.
“Mas, aku sangat berharap kalau kamu lah yang ada di sampingku di saat aku akan tertidur untuk selama – lamanya.”
“Iya, aku kan terus menemani kamu Kay.”
“Mas, Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.”
“Iya, aku tahu.”
Kemudian Akbar menggenggam tangan Kayla.
__ADS_1
Bersambung....
❇️❇️❇️❇️❇️