Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
amel pulang


__ADS_3

Sesampai di rumah wajah pelangi dan Kia terlihat binggung karena memikirkan keberadaan Amel. Mereka duduk di ruang tengah sambil menghubungi Amel berulang – ulang kali. Kia kemudian mencari suaminya yang sedang duduk di gasebo belakang rumah dekat dengan kolam renang.


“Mas. Mas.”


“Iya aku di sini.”


“Mas, amel mas.”


“Kenapa dengan amel?”


“Amel enggak ada.”


“Maksud kamu nda?”


“Amel, amel ngilang. Aku tadi sedang joging sama pelangi, terus tali sepatu amel lepas waktu itu. lalu dia berhenti untuk membetulkan tali sepatunya. Dia meminta aku sama Pelangi untuk lari duluan, setelah kami lari dan meninggalkan Amel, tapi ternyata dia sama sekali tidak membututiku atau menyusul kami mas.”


“Kamu udah cari dia?”


“Sudah, aku dan pelangi sudah mencoba mencari dia di mana – mana. Tapi kita enggak nemuin dia mas.”


“coba aku telpon hpnya saja.”


“Sama saja mas, aku dan pelangi sudah berulang – ulang kali menghubungi nonya. Tapi enggak bisa di hubungi nonya mas.”


“Terus kemana sih tuh anak. Kenapa dia bisa ngilang gitu.”


“Mas, kita lapor polisi saja yuk mas.”


“kita tunggu dia sampai nanti malam. Kalau dia belum juga kembali kita langsung lapor ke kantor polisi.”


“Tapi mas, itu kelamaan. Kalau terjadi apa – apa sama Amel gimana mas? Aku takut.”


“Hussttt, sudah diam. Jangan panik. Kalau kita panik nanti kita tidak bisa berpikir jernih. Sekarang sebaiknya kamu ke kamar dan mandi dulu. Kita pikirkan nanti.”


“Iya mas, kalau begitu aku ke kamar ya mas. Semoga Amel enggak kenapa – kenapa.”


“aku yakin amel enggak apa – apa. Mungkin dia bertemu dengan temannya dan dia pergi bersama teman – temannya.”


“semoga saja.” ucap Kia dengan wajah yang murung dan sedih.


Kia akhirnya pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Cleo masih terlihat binggung, dengan keberadaan anak sulungnya itu. Riri tidak sengaja melihat anaknya yang wira wiri di depan gasebo sendiria. Ia kemudian mendekati anaknya dan bertanya tentang dirinya yang seperti sedang sibuk.


“Kamu kenapa Cleo?”


“Owh, bunda.”


“Kamu kenapa? Kok sepertinya sedang memikirkan sesuatu?”


“Iya bun, tadi kia memberikan kabar kalau Amel hilang.”


“Apa?! Hilang?!”


“Iya bun, tidak amel hilang ke mana.”


“Kenapa bisa? Terus? Bukannya tadi mereka pergi bertiga kan?”


“memang bun, tadi kia bercerita kalau tali sepatunya amel terlepas, terus amel meminta  Kia dan pelangi untuk lari duluan. Tapi amel tidak menyusul mereka bun.”


“Kamu sudah lapor ke polisi?”


“Belum bun. Cleo memang sengaja Menyuruh Kia untuk tidak melaporkannya ke polisi. Karena laporan akan di terima setelah 24jam bun.”


“Iya sih, tapi kalau kita tidak melaporkannya. Kasihan amel. Kalau dia kenapa – kenapa gimana?”


“Kita tunggu Amel sampai nanti malam saja bun. Kalau sampai amle nanti malam belum kembali juga. Baru kita laporkan ke polisi tentang orang hilang.”


“Semoga dia enggak kenapa – kenapa. Bunda khawatir sekali.”


“Sama bun. Kami juga.”


“Amel. Amel. Kemana sih kamu nak.” Ucap Riri yang terlihat begitu sangat cemas.


Sore harinya Riri, Kia, dan juga Cleo, mereka menunggu ke datangan Amel di ruang tamu. Kia berulang – ulang kali berjalan mondar – mandir di depan pintu, sedangkan Cleo berulang – ulang kali juga mencoba menghubungi no hp Amel. Akan tetapi, amel masih saja belum bisa di hubungi.


“Mas, sebaiknya kita lapor sekarang saja mas. Aku sangat khawartir sekali. Dia sampai sekarang belum juga pulang dan menelpon kita mas.”


“tunggu saja. aku yakin tidak akan terjadi apa – apa dengan amel.”


“Tapi mas.”


“Sudah kamu duduk saja di sini.”


Kia pun kemudian hanya terdiam. Dia sudah benar – benar merasa cemas dengan keadaan amel. Dia takut kalau terjadi apa – apa kepada putri sulungnya itu.


Terdengar dari dalam rumah suara mobil berhenti. Kia pun langsung meminta kepada security untuk segera membuka pintu gerbangnya. Kia mengira yang datang waktu itu adalah amel.


Akan tetapi yang datang dan baru saja masuk ke dalam rumah bukan amel, melainkan melly. Melly sengaja datang ke rumah Riri karena akan mengajak Amel pergi. Melly pun turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumah tanpa memperdulikan Kia yang sedang menyodorkan tangannya untuk mengajak bersalaman dengan Melly.


“tante.”


“Hem!”


“Kak, ada apa sih? Kenapa kalian semua terlihat bingging?”

__ADS_1


“Amel.”


“Kenapa amel?”


“Amel. Amel hilang.”


“Hilang?”


“Kalian bercanda?”


“Iya tante. Amel hilang.”


“Kok bisa sampai hilang?”


“Dia tadi pergi joging sama Kia dan Pelangi. Terus dia pergi ngilang gitu.”


“Astaga. Ibu macam apa kamu? Kenapa bisa pergi bertiga dengan anak – anaknya, tapi yang satu bisa hilang gitu saja!”


“tante, tante, dengerin dulu ceritanya.”


“tante jangan langsung menyalahkan Kia.”


Kia saat itu hanya menundukan kepalanya. Riri pun juga hanya diam saja, karena di pikiran riri sangat mengharapkan Amel untuk segera pulang ke rumah.


“diam Cleo, kamu enggak usah belain terus istri kamu ini. Kamu harusnya bisa menilai sifat dari istrimu ini. Dia itu hanya sayang kepada pelangi, bukan kepada amel.”


“Tante, tolong dong, tante jangan menambah kekahawtiran kami. Kami ini sedang binggung dengan kehilangan amel. Tapi tante bukannya membuat suasana ini menjadi tenang, justru malah membuat kita semua semakin cemas.”


“Cleo, gimana tante bisa tenang. Dia itu cucu kesayangan tante, tante enggak akan bisa tenang kalai dia sampai belum di ketemukan.”


“makannya kita menunggu sampai Amel datang tan. Kalau nanti malam amel belum juga pulang ke rumah kita akan melaporkan ke kantor polisi tan.”


“Awas ya kamu. Kalau sampai terjadi apa – apa kepada cucu kesayanganku. Lihat saja aku tidak kan pernah memaafkan kamu!” ucap Melly dengan menuding – nuding wajah Kia saat ia sedang berdiri menyandar di depan pintu rumahnya.


Pelangi kemudian keluar dari kamarnya dan ia melihat kalau semua keluargannya sedang menunggu kepulangan amel. Ia kemudian mendekati ayahnya.


“Gimana ayah, sudah dapat kabar dari Amel?”


“Belum nak, ayah dari tadi juga sudah mencoba menghubungi amel tapi no hp amel masih tidak bisa untuk di hubungi.”


“Ayah dan bunda yang sabar ya. Pelangi yakin tidak akan terjadi apa – apa dengan amel”


“Iya nak. Semoga saja amel baik – baik saja.”


Waktu terus berjalan akan tetapi amel sama sekali belum juga terlihat. Sedangklan wajah mereka sudah terlihat tegang. Wajah begitu cemas, khawatir dan juga takut jika terjadi sesuatu kepada Amel, hingga akhirnya kiameminta kepada Cleo untuk pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan amel.


“Mas, ini sudah jam tujuh malam. Sekarang kita laporkan ke polisi saja. aku tidak ingin menunggu dia sampai pagi,”


“Tapi bun,”


“Iya, iya bun, kita akan ke kantor polisi.”


Kemudian, kia berlari untuk masuk ke dalam kamarnya. ia mengambil tas dan juga dompetnya. Sedangakan Cleo mengambil jaket. Ketika Kia dan Cleo akan pergi ke kantor polisi, terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Kia kemudian cepat – cepat berlari melihat orang yang berhenti di depan rumahnya waktu itu.


Ketika pintu gerbang itu sudah dibuka, ia melihat amel sedang bersama dengan dion. Kia pun kemudian mendekati Dion lalu menampar wjah dion.


Plak!


“Kamu ya, sudah tante bilang, jangan pernah kamu ke sini lagi! Apa lagi mengajak Amel untuk pergi!”


“Bun, ini bukan salah dion, ini salah amel.”


“Diem kamu amel! Bunda enggak bicara dengan kamu! Bunda bicara dengan dia!”


“Maaf tante. “


“Maaf – maaf. tante tidak suka kalau kamu mendekati anak tante! Sekarang kamu pergi. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi! Mengerti kamu!”


“baik tante, saya tidak akan membawa Amel atau mengajak amel pergi main lagi.”


“Bagus itu kalau kamu sudah sadar.” kata Kia dengan sangat marah.


“Kalau begitu saya permisi tante , om.”


Dion kemudian menghidupkan mesin motornya.


“Dion, dion, tunggu.”


“Amel, masuk.”


“tapi bun.”


“Masuk bunda bilang.”


Setelah itu amel pun masuk ke dalam rumah dengan di gandeng tanganya oleh Cleo. Kemudia mereka semua masuk ke rumah.


“Bunda jahat. Bunda jahat.”


“Kamu ini ya. Kamu tidak sadar kalau kamu sudah membuat semua cemas?!”


“Bun, aku hanya ingin pergi bermain dengan Dion. Dion itu baik sama Amel bun.”


“Baik, baik, baik dari mana nya sekarang bunda tanya?! Lihat saja, tubuhnya pun penuh dengan tatto seperti orang nakal! Bunda juga sudah melarangmu berulang – ulang kali kan untuk tidak lagi bermain atau berhubungan dengan anak itu!” kata kia yang membentak – bentak Amel di depan semua keluarganya.

__ADS_1


“Sudah Kia, biarkan amel istirahat dulu. Biarkan dia masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya nak.”


“Tapi bun, dia ini sudah keterlaluan. Kia capek harus gimana lagi untuk memberikan pengertian sama dia.” Ucap Kia.


“Sebenarnya ini semua bukan salah Amel. Tapi juga salah kamu Kia!” kata Melly yang membela Amel.


“Tante tolong jangan ikut campur urusan aku dengan anakku. Biar ini aku yang akan menyelesaikan. Jadi Kia mohon tante melly lebih baik diam saja.”


“Kurang ajar ya kamu! Seenaknya saja ngomong seperti itu sama orang tua. Kamu pernah di ajarkan tata krama tidak oleh orang tuamu?! Kok seenaknya saja berkata seperti itu sama aku! Lihat kan mbak menantumu ini! dia yang salah tapi tidak mau di salahkan.”


“Mel, lebih baik kamu sekarang pulang saja. ini masalah keluarga ku. Jadi aku minta kamu tidak usah ikut berkomentar.”


“Mbak aku ini adik kandung kamu loh! Kenapa kamu lebih membela dia dari pada adikmu sendiri?”


“Tante melly, ini kan keadaan sedang panas, karena perbuatan Amel. Biarkan aku dan istriku yang akan mengurus amel.”


“Kamu juga ingin tante pergi dari sini?! Kamu secara tidak langsung mengusir tante kan? Baik tante akan pergi.”


Melly pun langsung menganbil tasnya dan ia kemudian berjalan menuju ke arah Pelangi. Sehingga dirinya berhadap – hadapan dengan pelangi. Ia juga sengaja memberitahukan semua masa lalu kia ke pelangi karena dia ingin pelangi tahu kalau sebenarnya Pelangi bukanlah anak kandung dari Cleo. Sampai akhirnya masalah yang awalnya hanya karena mempermasalahkan kenakalan amel, kini masalah itu menjadi melebar hingga membuat suasana waktu itu menjadi tambah tegang.


“Heh kamu Pelangi. aku sebenarnya sudah lama sekali ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Dan aku juga sudah lama sekali ingin mengungkapkan semuanya sama kamu.” Ucap Melly sambil melotot dengan penuh rasa kebencian.


“Kenapa tan?” tanya Pelangi.


“Tante akan kasih tahu yang sebenarnya. Kamu ini sebenarnya bukan.....”


Ketika itu melly langsung terhenti karena teriakan Kia yang memanggil dirinya. Sebab Kia tahu kalau Melly akan mengatakan bahwa Pelangi bukan anak kandung dari Cleo.


“Tante melly. Hentikan!” teriak Kia.


“Kenapa? Kamu takut kalau anakmu ini tahu yang sebenarnya? Hem! Ini sudah waktunya dia harus tahu! Dan aku tidak bisa melihat amel yang selalu di salahkan karena kenakalannya!”


“Maksud tante gimana? Apa yang akan tante katakan kepada Pelangi?” tanya Pelangi.


“Kamu itu sebenarnya bukanlah anak kandung dari Cleo.”


“Melly!” teriak Riri.


“Biar kak, biar dia tahu yang sebenarnya. Biar dia dan ibunya tahu diri!”


“Apa?!” tanya Pelangi.


“Pelangi sayang. Nak.” Kia pun langsung mendekati Pelangi yang berdiri dengan mata berkaca – kaca.


“bun, apakah yang di katakan tante melly semua itu benar?”


“Emm....” kata Kia, yang tidak bisa menjawab pertanyaan pelangi, dia tidak ingin membuat hati Pelangi menjadi sakit. Sebab yang di pikiran Kia waktu itu adalah ia menginginkan pelangi bisa hidup bahagia tanpa harus mengetahui ayah kandungnya. Karena Sudah cukup penderitaannya waktu dia masih kecil.


Pelangi pun kemudian mendekati ayahnya.


“Ayah, apa benar yang di katakan oleh tante melly, kalau aku ini bukan anak kandungmu? Jawab yah?” tanya pelangi sambil mengoyang- goyangkan tangan Cleo.


“Kenapa kalian diam saja? kenapa kalian tidak mau memberikan jawaban dari pertanyaan pelangi? hem!”


Semua terdiam setelah melly memberitahukan kepada Pelangi kalau dia bukan anak kandung dari Cleo.


“Bun, coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi bun. Tolong bun kasih tahu Prlangi. Ceritakan dengan sesungguhnya, kalau pelangi ini sebenarnya anak siapa? Hisk.. hisk.. hisk...”


“Sayang, maafkan bunda nak. Hisk.. hisk.. hisk..”


“Kakak.” Kata Amel.


“Pelangi sayang, kami memang tidak memberi tahu kan yang sebenarnya kepada kamu nak. Karena kami tidak ingin melihat kamu menderita. Sudah cukup penderitaan yang kamu alami sejak kecil.” Ucap Cleo, sambil membelai rambut pelangi.


“Lalu siapa ayah kandung pelangi yah? Kenapa kalian tidak memberitahukan Pelangi dari awal? Kenapa?”


“Maafkan bunda sayang. Maafkan bunda.”


“Enggak, enggak, pelangi enggak percaya semua ini.” ucap Pelangi sambil berjalan mundur dan berlari menuju kamarnya.


Sedangkan waktu itu Kia pun ingin menyusul anaknya, akan tetapi di saat dirinya akan mengejar Pelangi, Cleo justru menghalanginya. Karena Cleo tahu kalau Pelangi butuh waktu menyendiri dulu untuk menenangkan hatinya.


“Aku enggak menyangka tante sangat tega dengan Pelangi.”


“Apa? Tante tega maksud kamu? Hey, Kia lebih tega siapa tante atau kamu? Kamu lebih menyayangi anak dari laki – laki lain di banding dengan amel yang keturunan dari keluarga yang berada dan juga keturunan dari keluarga yang baik – baik.”


“tan, sudah cukup sekarang lebih baik tante keluar tan. Jangan membuat suasana menjadi rumit dan tegang gara – gara ke egoisan tante.”


“Tenang Cleo, tante melly akan pergi dari sini, jadi kamu tidak perlu khawatir cleo. Dan ada satu hal lagi, yang perlu kamu tahu! Kamu tuhsebaiknya ngaca yang benar kia, lihat diri kamu. Sebelum kamu menikah dengan keponakan saya ini, kamu ini dari keluarga kalangan mana? Hem! Kehidupan mewah yang kamu rasakan saat ini semua itu milik suamimu. Jadi kamu itu tidak usah sok bergaya seakan – akan seperti nyonya besar di sini.”


“Melly. Kamu lebih baik segera pergi dari sini! Cepat! Sekarang kamu pergi!” Ucap Riri dengan membentak Melly.


Melly pun kemudian terdiam dan langsung pergi begitu saja setelah habis habisan membentak dan menghina Kia. Kia pun hanya bisa menanggis setelah mendengar hinaan dari Melly. Dia tidak menyangka kalau melly bisa setega ini terhadap dirinya dan juga Pelangi. Amel merasa tidak tega melihat Kia yang sedang menangis terisak – isak karena perkataan dari Melly. Ia kemudian mendekati Kia.


“Bun. Bunda.” Ucap Amel yang berdiri di hadapan Kia waktu itu.


“Lihat. Kamu sudah lihatkan, dengan membuat semua menjadi seperti ini. kamu senangkan melihat bunda menanggis karena di hina seperti ini.” ucap Kia yang hatinya saat itu sedang terluka karena hinaan dari Melly.


“bunda, maafkan amel bun. Amel...” ucap amel.


“Sudah, sekarang lebih baik kamu mandi dan tidur mel.” Kata Riri sambil menyentuh bahu amel.


 

__ADS_1


Bersambung....


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2