Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
kia bertemu dengan Akbar


__ADS_3

Akan tetapi di saat akbar tekah di tinggalkan Kia dan pelangi. ia kemudian duduk sambil menyatukan ke dua jari – jemarinya. Ia tidak mneyangka kalau ia akan bertemu dengan pelangi dan kia lagi. sehingga akhirnya ia berpikir, kalau semua ini memang sudah tuhan tunjukan untuk dia, suapaya dia bisa melihat putrinya sekarang.


Dia juga berpikir bagaimana bisa pelangi satu fakultas dan satu kampus. Ia merenenungi sendirian di luar sambil duduk menunggu eva yang sedang masuk di dalam ruang icu untuk melihat anaknya itu. dan setelah beberapa menit kemudian, eva pun keluar dari ruangan itu. ia keluar dengan wajah yang sedih.


“Gimana keadaan brayen sayang?”


“dia belum memberikan tanda – tanda lagi yah,”


“Ya sudah, kita harus sabar ya.”


“Aku tidak bisa melihat anakku seperti ini. Aku ingin brayen segera membaik dan sadar. Kasihan dia. Di mana teman – teman brayen tadi yah?”


“Owh, mereka sudah pulang.”


“kenapa mereka tidak menunggu aku keluar dari ruangan brayen?”


“Sepertinya mereka sedang ke buru – buru tadi. Sudah biarkan saja.”


“owh, mereka baik ya. Mau menjenguk brayen.”


“Iya.”


Sedangkan akbar takut ingin menceritakan kepada eva kalau ternyata wanita yang mengaku teman brayen itu adalah putri kandungnya sendiri.


“maaf ibu, aku belum bisa menceritakan sama kamu sekarang kalau dulu aku juga mempunyai mantan istri selain kayla. Dan aku juga sudah mempunyai anak dari pernikahan ku pertama itu. tapi aku tetap akan mengatakan dan menceritakan sama kamu eva.” Gumam akbar dari dalam hatinya.


**


Malam harinya di mana makan malam itu tiba. Keluarga Cleo semua sedang menyantap makanan yang sudah siap di sajikan di atas meja. Saat pertengahan menyantap makanan itu, pelangi pun hanya membolak balikan nasi dan sayur yang sudah di letakan di piringnya. Sejak awal cleo sudah memperhatikan tingkah pelangi yang seperti sedang kesal. Namun Cleo tidak menanyakan kepada pelangi hal yang membuat dirinya seperti itu.


“Pelangi. nasi sama sayurnya di makan nak. dari tadi ayah lihat kamu hanya membolak balikan nasinya saja. kamu sakit?”


“Enggak yah.”


“Kalau enggak sekarang kamu makan itu makannannya nak.”


“Iya yah.”


Kia hanya terdiam, ia takut kalau cleo tahu, pasti cleo akan marah kepadanya dan membuat suasa makan malam itu menjadi tidak enak lagi.


“Tuh kan. Ayah sama sekali belum melihat kamu memakan satu suap saja nasi yang ada di depan kamu itu nak.”


“Em, yah, pelangi sedang tidak nafsu makan yah. Pelangi mau ke kamar dulu.”


Pelangi pun kemudian meninggalkan meja makan dan piring yang ada di hadapannya itu. Cleo merasa kalau pelangi sedang mempunyai masalah. Cleo juga menduga kalau dia pasti sedang marah dengan Kia.


“Ini anak kenapa sih? Apa dia sakit? Tapi biasanya kalau dia sakit dia tidak seperti ini. Dia seperti sedang mempunyai masalah. Apa dia marah lagi dengan Kia? selesai makan coba nanti aku akan tanyakan.” Gumam Cleo sembari melihat Pelangi yang pergi berjalan meninggalkan meja makan.


Tak lama selesai makan, cleo mengetuk – ngetuk pintu kamar pelangi. pelangi kemudian membukakan pintu itu. dan akhirnya pelangi bercerita kepada cleo tentang dirinya bertemu dengan akbar saat di rumah sakit siang tadi.


“Kamu kenapa sayang?”


“Pelangi kecewa banget sama bunda yah, memang bunda kenapa nak?”


“Yah, pelangi ingin tahu, apa pelangi salah meminta waktu sebentar untuk bertemu dan dekat dengan ayah Akbar?”


“Kamu bertemu dengan ayah akbar?


Pelangi hanya mengangguk – anggukan kepalanya saja dengan melihat ke bawah.


“Di mana?”


“Di rumah sakit tadi siang yah.”


“Bagus itu. kamu sudah tahu kan ayah akbar?”


“Iya yah, tapi...”


“tapi kenapa? Harusnya kamu senang kan sudah bertemu langsung dengan ayah akbar. tetapi kenapa kamu justru bersedih nak?


“Bunda.”


“Ada apa lagi sama bunda?”


“Bunda, tadi ke rumah sakit buat menemani aku di sana. Tapi bunda melihat aku duduk di dekat ayah Akbar. bunda juga tahu kalau ayah akbar sedang berbicara dengan ku yah. Awal aku bertemu ayah akbar, aku mengenalkan diri dengan nama paslu. Aku tidak ingin ayah akbar tahu kalau aku anak kandungnya. Dan aku akan menemui dia atau menceritakan semuanya dan mengaku kalau aku ini anaknya setelah brayen sadar dari komanya. Tapi tadi bunda datang – datang ke rumah sakit langsung menarik tanganku dan mengeret aku untuk pulang yah. Padahal aku masih ingin dekat dengan ayah akbar. dan ayah akbar tahu kalau aku ini pelangi.”


“terus?”


“Ya, pelangi kecewa saja sama tingkah bunda tadi di rumah sakit. Padahal bunda yang bilang kalau dia memperbolehkan aku bertemu dengan ayah Akbar kan yah.”


“sudah sekarang kamu jangan menaggis. Biar ayah yang bicara sama bunda.”


“ayah tolong kasih pengertian buat bunda. Bunda jangan seperti itu sama pelangi. apakah pelangi salah ingin dekat dengan ayah Akbar?”


“Tidak nak. kamu tidak salah. Bunda memang berlebihan sekali.


Di saat mereka sedang berbicara, Kia pun lewat di depan kamar Pelangi. ia juga melihat kalau Cleo sedang ada di kamarnya. Kia pun langsung menghampiri pelangi dan Cleo di dalam kamar.


“Pelangi?” panggil Kia.


Akan tetapi pelangi sama sekali tidak ingin melihat atau berbicara dengan Kia.


“Sini kamu duduk sini dekat aku.” pinta Cleo.


“Kenapa mas?” pelangi sudah cerita apa sama kamu.”


“duduk sini dulu.” Pinta Cleo.


Kia pun menuruti apa yang suaminya katakan.


“Kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan sama kamu?”


“Mas aku tuh cuman nggak mau....”


“hust. Aku sedang bertanya sama kamu. jawab apa yang aku tanyakan tadi.” Kata Cleo dengan tegasnya.


“Iya, aku masih ingat.”


“lalu kenapa kamu seperti itu kepada pelangi? aku ingin mendengarkan kamu menjawab dengan jawaban yang berbeda, bukan jawaban yang sama seperti yang kemarin – kemarin.”


“Mas, coba deh kalian ngertiin posisi aku.”

__ADS_1


“diam! ( betak Cleo kepada Kia ). Sejak kapan kamu berubah seperti ini? Kalau kamu seperti ini terus sama anak kamu sendiri, aku bisa marah.”


“ayah...” ucap pelangi yang sedikit takut melihat ayahnya marah seperti itu. sebab pelangi baru pertama kali ini melihat Cleo marah di depannya.


“pelangi kamu diam dulu nak. biar ayah yang bicara di sini.”


Pelangi pun kemudian terdiam. Sedangkan Kia tidak percaya kalau suaminya bisa marah kepadanya. Pertama kalinya kia melihat Cleo marah kepada dirinya.


“Silahkan kalau kamu masih kekeh dengan sifat mu seperti ini aku tidak akan melarang. Aku akan diam, tapi. Jika kamu tidak mau menemukan akbar dengan anak kandungnya, maka aku yang akan menemukan mereka. aku kemarin memang hanya diam, aku kasih kamu pengertian, tapi kamu sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. dan aku melihat kamu menyepelekan semua perkataanku. Sudah berulang – ulang kali aku bilang sama kamu, aku ini suamimu, jika terjadi sama kamu atau pun anak – anak, aku lah yang akan maju duluan untuk membela kalian. Ingat itu.”


Kia sama sekali tidak membantah apapun apa yang Cleo ucapkan. Ia hanya menundukan kepalanya dan mencerna semua apa yang Cleo katakan.


“biarkan pelangi merasakan dekat dengan ayah kandungnya. Biarkan pelangi mengenal ayah kandungnya sendiri. Dan berikan pelangi waktu untuk bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya. Kamu tidak sadar kemarin bagaimana? Hem! Kalau kita terlambat sedikit saja, pelangi dan brayen saling jatuh cinta lebih dalam lagi. apakah kamu tidak pikirkan semua itu? hapus egomu itu.”


“Iya mas.”


Kia kemudian pergi meninggalkan cleo dan pelangi. ia lalu masuk ke kamarnya.


“Pelangi sayang. ayah ijinkan kamu bertemu dengan ayah akbar. jangan takut, biar bunda menjadi urusan ayah. Pergi dan dapatkan apa yang menjadi hak kamu nak.”


“Terimakasih ayah, pelangi sayang sekali sama ayah Cleo.”


“Sama – sama nak. sekarang istirahat lah. Tidurlah dengan nyenyak ya. Ayah mau ke kamar.”


“Iya ayah.”


Cleo kemudian berjalan menuju pintu kamar Pelangi karena ia akan keluar dari sana. Akan tetapi sebelum Cleo menutup pintu kamar pelangi, pelangi pun memanggil Cleo dan memeluk Cleo. Sebab Pelangi merasa kalau ayah Cleo lah yang selalu bisa membuat dirinya tenang. Dan ayah Cleo lah yang selalu mendidik pelangi dengan berpikir positif.


**


Sedangkan malam harinya di rumah nindi, Nindi membuatkan makan malam untuk dion.


“Hay sayang, anak mama.”


“Malam mah.”


“Sini makan malam. Mama sengaja membuatkan makan malam untuk kamu. lihat, semua ini ke sukakan kamu kan?”


“Makasih ma,”


Lalu, nindi dan dion pun makan malam hidangan yang ada di hadapannya. Nindi sangat senang melihat anaknya yang memakan – makanannya dengan sangat lahap. Ia tersenyum bahagia melihat dion ada bersamanya sekarang.


“loh mama kok tidak makan?”


“Em, mama makan kok sayang, ini.”


“owh, enak mah masakan mama.”


“Kamu mau nambah lagi? mama ambilkan ya.”


“Sudah mah, dion habisin yang ini dulu.”


Nindi pun tersenyum kepada anaknya.


“Em, dion, terimakasih ya. Kamu sudah mau membela mama di depan ayah kamu. sekarang kamu sudah tahukan wajah ayah kamu nak?”


“Iya mah. Sama – sama.”


“Dion juga sayang sekali sama mama.”


“Mama sekarang bahagia sekali, kenapa, karena kamu sudah pulang dan tinggal bersama mama lagi sayang.”


“iya mah. Mah, ngomong – ngomong bang brayen ke mana? Tumben dia belum pulang?”


“Astaga nak, mama sampai lupa memberitahu kamu, kalau brayen tuh kecelakaan, di sekarang di rawat di rumah sakit. Mama juga sampai lupa, mau tanya sama paman kamu, dia sudah ada di rumah sakit apa belum. Sebentar ya nak mama telpon paman kamu dulu.


“Iya ma.”


Nindi kemudian mengambil hpnya dan dirinya menelpon akbar untuk menanyakan kalau dirinya sudah sampai di rumah sakit atau belum.


“Kak, kak akbar sudah di rumah sakit?”


“Iya nin, aku sudah sejak kemarin di rumah sakit. Kamu ke mana sih kok dari kemarin tidak datang ke sini?”


“Maaf kak, karena aku sibuk urus masalahku, jadi aku lupa mau ke rumah sakit.”


“Terus dion gimana? Sudah ketemu?”


“Sudah kak, ini dia sedang makan malam sama aku. kak akbar sudah makan belum sama mbak eva? Kalau belum biar nanti aku bawakan makan ke sana.”


“Besok saja ke sini ya nin, lagian brayen belum juga sadar.”


“Owh, tapi gimana keadaanya sekarang kak?”


“Ya dia sudah membaik, cuman kata dokter kita tinggal menunggu dia siuman.”


“syukur lah kalau begitu. Besok aku sama dion akan datang ke rumah sakit.”


“Iya. Doakan saja semoga brayen cepat sadarkan diri ya nin.”


Kemudian telpon itu Nindi tutup. Karena kondisi Brayen semakin membaik, dokter sudah memindahkan brayen ke ruang inap. Eva selalu ada di samping brayen setiap jam. Malam hari itu jari telunjuk brayen bergerak, dan sinta mengetahuinya. Ia lalu pergi memanggil dokter atau suster yang sedang berjaga.


Tak lama dokter dan suster itu datang menghampiri dan masuk ke dalam ruangan Brayen. Dokter kemudian memeriksa ke adaan brayen. Tak lama brayen membuka matanya secara perlahan – lahan. Ia kemudian melihat ke sekelilingnya. Setelah beberapa menit, dokter memeriksa mata Brayen yang baru saja sadarkan diri itu. dokter lalu menggerak - gerakan tangannya di depan mata atau wajah brayen. Brayen pun merespon pergerakan tangan dokter itu. kemudian brayen bertanya kepada dokter itu.


“Dokter, di mana saya? Aauuww...”


“Tenang ya mas brayen. Sekarang mas brayen sedang ada di rumah sakit. Sebab mas brayen belum lama mengalami kecelakaan.”


“Tangan dan leher saya kenapa dok.”


“Tangan mas brayen patah tulang dan leher nya juga cedera, tapi tidak perlu khawatir, semua bisa sembuh kok.”


“Owh,”


“Lebih baik sekarang mas brayen tiduran saja di kasur ya. Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti akan saya berikan obat, supaya mas brayen besok pagi sudah tidak merasakan sakit di tubuh mas brayen.”


“Iya dok. Terimakasih.”


“Kalau begitu ibu, bapak saya keluar dulu. Obatnya nanti biar di berikan kepada suster saja ya. Tolong pasien jangan banyak di berikan pertanyaan dulu. Supaya pasien bisa tenang dulu ya ibu, dan bapak.”


“iya dokter, terima kasih banyak dok.”

__ADS_1


“Sama – sama.”


“Saya tinggal dulu, permisi.”


“Silahkan dokter.”


Brayen pun sudah terbangun, betapa senangnya hati eva saat itu, karena melihat anaknya sudah membuka matanya. Karena begitu senang melihat kondisi anaknya, ia pun lalu mengusap – usap kepala anaknya. Ia juga mencium anaknya itu.


“Sayang minum obatnya dulu nak, ini. Obat ini baru saja suster antar.”


“Iya bu.”


“Biar ibu bantu kamu untuk meminum obatnya. Ibu ambilkan pipet dulu ya nak.”


“Iya bu. Terimakasih.”


Brayen pun kemudian meminum obat itu. sedangkan akbar waktu itu berdiri di samping Brayen.


“Ayah, dan ibu senang kamu sudah bangun dari tidur panjangmu nak.”


Brayen hanya nyengir kuda kepada ayahnya.


**


Pagi hari itu. di rumah sakit, eva merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. ia menyuapi brayen dengan sepenuh hatinya sehingga brayen mau menghabisi makanan nya walaupun mulutnya masih terasa tidak enak untuk memasukan makanan. Karena permintaan ibunya yang begitu menyayangi dirinya ia pun mau menghabiskan makan paginya. Selesai makan ia lalu minum obat. Karena eva ingin membeli sesuatu di kantin ia pun kemudian pamit kepada akbar kalau dirinya akan keluar sebentar.


“Mas, aku mau ke kantin, brayen sudah makan dan sudah meminum obatnya. Sepertinya dia akan tidur. Aku tinggal sebentar ya mas.”


“Iya sayang. biar aku tunggu brayen di sini saja.”


“kalau gitu aku ke kantin dulu mas.”


“Iya.”


Di saat Eva pergi dan berjalan ke kantin. Kia pun datang di hadapan akbar dengan seorang diri. Kia memang sengaja datang ke rumah sakit hanya untuk mengatakan sesuatu kepada akbar.


“Kia?”


“Hem.”


“ada apa kamu ke sini? Kamu sendiri? Enggak sama pelangi?”


“Enggak, aku sengaja datang ke sini sendiri.”


“Owh. Apa kabar?”


“Baik.”


“Emm..” ucap akbar sambil mengangguk anggukan kepalanya.


“Aku ke sini mau mengatakan sama kamu.”


“Mau ngomong apa?”


“aku minta sama kamu jangan ganggu hidup aku dan pelangi lagi ya.”


“tenang saja, aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku sekarang, jadi kamu tidak usah khawatirkan itu. tapi, soal pelangi, tolong ijinkan aku bertemu dengannya. Sudah sangat lama sekali aku tidak melihat putri kecilku.”


“Aku akan beri kamu waktu untuk bisa bersama pelangi. tapi aku minta kamu jangan ambil dia dari hidupku lagi.”


“Iya, aku janji. Aku tidak akan mengambil pelangi dari kamu. aku hanya ingin pelangi juga mengetahui kalau aku adalah ayah kandungnya. Lagi pula istri ku belum tahu tentang pelangi dan kamu. dia hanya tahu tentang Kayla.”


“aku tidak peduli itu. kalau memang kamu sudah berubah pasti kamu tahu apa yang aku bicarakan.”


“Iya aku paham dengan maksud kamu. aku minta maaf tentang kejadian dulu. Aku sudah menerima balasan atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan ke kamu.”


“Kalau begitu datanglah ke rumahku. Ke alamat rumah mas Cleo.” Ucap Kia sambil memberikan kartu nama kepada Akbar.


“Baiklah.”


“kalau kamu ingin bertemu dengan Pelangi, bertemu lah. Aku akan mengizinkan, tapi kamu harus minta izin dulu kepadaku. Jangan sembunyi – sembunyi dari aku. kamu mengertikan apa yang aku katakan?”


“Iya kia. aku paham.”


“Baiklah, aku akan pergi sekarang. salam untuk brayen semoga lekas sembuh.”


“Terimakasih.”


Kia pun kemudian pergi meninggalkan Akbar setelah memberikan kartu nama itu. sedangkan tak lama eva pun datang mendekati akbar yang sedang melihat atau membaca alamat di kartu nama yang baru saja kia berikan itu.


“Mas, kartu nama siapa itu?”


“Owh. ( dengan suara kaget ). Enggak, ini barusan aku bertemu dengan temanku.”


“Temanmu?”


“Iya, teman kuliah. Gimana sudah dapat yang kamu cari di kantin tadi?”


“Sudah mas, kita makan yuk,”


“Iya, baiklah.”


Akbar dan eva pun masuk ke dalam ruangan Brayen dan menyantap makanan yang telah eva beli tadi untuk makan pagi mereka akan tetapi saat mereka sedang makan, eva melihat akbar melamun.


“Mas.” Kata eva sambil memukul – mukul kecil tangan akbar.


“Hem,” ucap Akbar dengan kagetnya.


“Di manakan makanannya mas, kenapa malah melamun?”


“Owh, iya.” Ucap Akbar.


Akbar memang melamun, karena dia memikirkan apa yang di katakan Kia tadi. Sedangkan dirinya juga ingin sekali bertemu dengan Pelangi.


“Aku ingin sekali bertemu dengan putriku, aku ingin sekali bisa hidup dengan pelangi secara normal tanpa harus bersembunyi – sembunyi di belakang istriku. Apa lagi sudah lama sekali aku berpisah dengan anakku pelangi. Mungkin setelah brayen sudah sembuh total aku akan menceritakan semuanya kepada eva. Aku harus jujur sama eva kalau istriku dulu tidak hanya kayla, tapi Kia juga, dan pernikahan aku dengan Kia telah memiliki anak. Iya, aku harus menceritakan semuanya sama Eva. Aku enggak mau eva salah paham. Aku akan menunggu waktu yang tepat.”Gumam akbar dari dalam hati sambil melihat ke arah Eva.


Setelah itu ia kemudian makan, makanan yang ada di hadapannya. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur lagi seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia juga tidak mau lagi kehilangan orang yang ia sayang selama ini.


bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


 


__ADS_2